Ruang Hitam

Ruang Hitam
Pembunuh karakter


__ADS_3

Anak nakal memang tidak belajar tapi bukan berarti kurang ajar.


****


Libur semester telah berakhir. Aku akhirnya bisa duduk dikelas tiga setelah menyelesaikan remedi yang melelahkan. Aku dan nando berjalan dari kantin tek rida menuju kedalam lingkungan sekolah. Aldi, jefri, arif, dan hanif sedang duduk didepan labor komputer. Mereka adalah teman seangkatanku.


"Jiah, dikan. Akhirnya naik kelas juga" Gurau arif setelah melihatku.


Aku tersenyum kecup. Tidak ada yang menyangka aku akan naik kelas. Kenakalan dan banyak nilai yang bermasalah disetiap mata pelajaran membuat orang-orang memprediksikan aku akan tinggal kelas. Namun, usaha dan kerja keras untuk menyelesaikan remedi membuat prediksi itu meleset.


"Apa-apa saja yang merah dik?" Tanya hanif yang bangkit dari duduknya.


"Bahasa ingris sama indonesia" Sahutku dan duduk disebelah aldi.


"Sama gua juga merah bahasa indonesia" Jawab hanif.


"Sama" Kata arif.


"Gua juga" aldi juga menyahuti.


"Apalagi gua" Ijep ikut bersuara.


Aldi tertawa. "Emang parah tuh si raja bengkak" Ujar aldi


"Iya tuh, siguru galak" Sahut arif.


"Ehhh, gua ya" Kata hanif " Cuman tinggal UH-3 aja lagi ngak juga dikasih tuntas" Sambungnya menggeleng.


"Emang tuh siraja bengkak ngak punya belas kasih" Aldi menimpali.


Kami semua tertawa. Siraja bengkak adalah buk nit. Buk nit mengajar pelajaran bahasa indonesia. Kami menjuluki buk nit siraja bengkak sebab buk nit sedang mengandung. Buk nit juga salah satu guru killer disekolah. Sama mereka yang rajin masuk saja buk nit galak, apalagi kepadaku yang memang jarang masuk dan sering bolos sekolah.


"Suhaimi ngak sekolah lagi dik?" Tanya arif.


Aku menggelengkan kepala. Suhaimi adalah teman sekelasku. Kami sering cabut dalam pelajaran hanya untuk bermain futsal. Dan kalaupun masuk kelas kami pasti memilih tidur ketimbang menyimak pelajaran yang membosankan.


"Gegera omongan buk nit ya suhaimi ngak mau lagi sekolah?" Tanya arif.


"Buk rahmi apa buk nit?" hanif meragukan.

__ADS_1


"Gak tau, buk nit apa buk rahmi dik?" arif memastikan.


"Dua-dua nya" Sahutku.


Aku teringat suhaimi yang begitu tragis bila kuceritakan kisahnya. Suhaimi adalah teman karibku, teman yang serasa satu hati dan sejiwa denganku. Dikelas dua ini, aku lebih banyak menghabiskan waktu disekolah dengan suhaimi. Dimana ada aku disitu ada suhaimi. Apabila suhaimi tidak masuk kelas, itu berarti aku juga tidak akan masuk kelas. Aku dan suhaimi begitu dekat. Hingga banyak guru yang menyesalkan sebab menyatukan kami dalam lokal yang sama.


Sebenarnya hampir semua guru disekolah meragukan aku dan suhaimi untuk bisa naik kelas. Namun buk nit dan buk rahmi yang menyampaikan keluhan dan ketidaksukaan nya secara terang-terangan. Nilai akademis dan kehadiran kami disekolah menjadi polemik dikalangan para guru. Waktu penerimaan rapor semester tiga, aku hanya tuntas matematika dan olahraga. Sedangkan suhaimi hanya tuntas olahraga. Dan kehadiran kami sama-sama absen sebanyak 69 hari tanpa keterangan. Hahaha memang kelewatan kenakalan aku dan suhaimi. Tapi aku dan suhaimi sudah berjanji untuk berubah disemester empat.


Setelah libur semester. Kami memulai sekolah dengan ambisi dan perubahan. Kami bertekad untuk selalu masuk dan takkan pernah lagi bolos sekolah. Namun buk nit dan buk rahmi dengan waktu dan hari yang berbeda meragukan dan mematahkan semangat kami. Awalnya buk nit yang mengatakan bahwa kami sudah dipastikan tidak akan naik kelas. Tetapi, kami tidak terlalu memikirkan kata-kata buk nit dan tetap masuk untuk mengikuti pelajaran.


Dan seminggu setelah itu. Giliran buk rahmi yang mengatakan hal yang sama. Buk rahmi juga memastikan kami tidak akan naik kelas. Semenjak itulah suhaimi tidak lagi mau masuk kelas dan sekolah hanya sampai dikantin tek rida. Namun, aku tetap masuk kelas dan membuktikan bahw aku bisa berubah dan pantas untuk naik kelas.


"Tapi lola kenapa bisa naik kelas ya, kan lola otaknya juga kosong" Tanya nando


"Lola otaknya kosong. Tapikan rajin masuk" Jawab aldi "Sedangkan suhaimi kalaupun masuk kelas pasti tidur"


Mereka semua tertawa. Suhaimi memang termasuk murid yang kurang pandai. Selain pemalas suhaimi juga dikenal sulit untuk memahami pelajaran meski menyimak sekalipun. Pada dasarnya, guru mengambil penilaian dari sikap dan akademik murid. Dan suhami adalah murid yang bermasalah dengan keduanya. Namun, suhaimi adalah keluarga broken home. Dan buk nit ataupun buk rahmi, tanpa mereka sadari, cara mereka mendidik suhaimi telah membunuh karakter suhaimi.


"Kalau afdol dan nurfan pindah naik ke MAM ya dik?" Tanya arif


Aku mengangguk. Afdol dan nurfan adalah teman seangkatan yang beda lokal denganku. Mereka tinggal kelas dan memilih pindah kesekolah swasta yang terletak di kenagarian TanjungAmpalu. Afdol dan nurfan juga dua sejoli seperti aku dan suhaimi, kami berempat sering bolos dan memilih tanding futsal dengan sekolah lain atau senior kami sendiri.


"Sekolah genji" Jefri tertawa.


"Iya, sekolah genji" Sahut aldi "Masuk ngak masuk tetap bakalan lulus" Sambungnya.


"Enak juga ya sekolah disana" Jawab ijep kagum.


"Yaudah pindah aja kesana jep" Ledek arif


"Iya, nando, mendingan kita sekolah disana aja. Gak perlu repot ngurusin remedi" Ajak ijep.


Kami tertawa. MAM adalah sekolah swasta yang baru berdiri dalam beberapa tahun ini. MAM menjadi penampungan untuk anak-anak yang tinggal kelas. Muridnya pun tidak sampai seratus orang. Dan lokalnya pun tidak sebanyak sekolah formal lainnya.


Suasana diam sejenak. Bunyi motor terdengar mendekat dan parkir tak jauh dari tempat kami duduk. Wanita berpakain batik itu turun dan menghadap kekami dengan wajah menebar senyum.


"Buk" Sapa arif.


"Iya arif" Sahut wanita itu dan berjalan kedalam kantor.

__ADS_1


"Siapa itu" Tanya aldi yang masih menatap punggung wanita itu.


"Buk sintya. Guru PL geografi" Jawab arif.


"Bahenol nya" Aldi kagum melihat bodi wanita itu.


"Wiehhh enak itu digoyang" Sambung ilham yang baru datang.


"Yahhh, ilham. Mulai ngeres" Gelakku.


"Tau nih otak mesum" Kata aldi menepuk kening ilham. Ilham meringis kesakitan. Ilham dan aldi saling berkejaran. Aldi dan ilham satu lokal denganku dikelas sepuluh. Aldi dan ilham memang sering bercanda gurua seperti yang mereka lakukan sekarang.


Disemester ganjil, beberapa orang mahasiswa STKIP PGRI  memilih praktek disekolahku. Tahun kemaren ada buk defni yang selalu kugoda dengan suhaimi setiap pelajaran. Juga ada buk sinta dan buk debi waktu aku masih kelas sepuluh. Arif bercerita tentang buk sintya. Buk sintya adalah orang asli padang sibusuk. Guru PL disekolahku tahun ini ada enam orang, lima wanita dan satu laki-laki. Dan laki-laki itu adalah pacar buk sintya.


"Kayaknya ngak belajar yah hari ini" Tanyaku.


"Enggak" Jawab hanif.


"Palingan guru rapat menyusun pelajaran dan lokal" Ucap arif


Ijep dan nando berharap mendapat wali kelas yang mereka inginkan. Setidaknya bukan lagi buk rahmi, buk det, ataupun buk nit yang begitu mereka takuti. Aldi dan ilham terlihat berjalan kearah kami.


"Ehhh jalan-jalan yuk. Lihat junior, siapa tau ada yang ngena"  Ajak aldi.


"Cantik-cantik anak kelas satu sekarang" Sambung ilham.


"Ayok" Sahut hanif antusias "Sambil cuci-cuci mata" sambungnya.


Kami berdiri dan bersiap jalan kearah lokal kelas sepuluh yang sedang mos. Seseorang berteriak memanggilku dari belakang. Wajah lelaki itu kurang jelas dari kejauhan.


"Dikan" Panggil pria itu lagi. Aku menoleh kearah pria yang sedang berdiri disebelah tiang tua disamping labor. Pria itu melambaikan tanggannya dan menyuruhku menghampirinya.


"Apa?" Jawabku setelah menghampirinya.


Pria itu dapit juniorku. "Dipanggil afdol dan nurfan di montela" Katanya.


"Oh iyaaa" Jawabku.


Aku melihat teman-temanku tidak lagi ada didepan labor. Aku pergi kemontela untuk menyusul afdol dan nurfan. Disana juga ada suhaimi. Aku bermain futsal dan setelah itu pulang.

__ADS_1


__ADS_2