Ruang Hitam

Ruang Hitam
Bahagia


__ADS_3

Melihatmu dan mendengar tawamu adalah kebahagian. Bahagia itu akan sempurna apabila akulah alasan kenapa kau tertawa.


****


Rasa takut adalah sebuah prasangka dengan dua kemungkinan akan terjadi atau tidak. Dan prasangka itu adalah suara hati agar kita lebih memwaspadai diri. Seperti sandro yang takluk dengan rasa takutnya dan memilih untuk tidak lagi menjadi manusia dalam gelap. Seperti aku yang tidak seberani ipan dan dori yang berhasil mengalahkan rasa takut mereka. Lalu hidup dengan insting dan pikiran yang berperang sebab prasangka, bukankah mungkin saja dori dan ipan masuk penjara, dengan kasus mengkhianati negara. Tapi itulah jalan yang terbaik. Aku berdiri dipersimpangan. Aku tidak mengikuti sandro, aku tetap akan membutuhkan ganja dalam keseharianku. Namun aku terlalu takut untuk menjadi seperti dori dan ipan. Kebebasan jiwa yang beresiko sengsara dengan terkurungnya dalam penjara bertahun-tahun. Aku tidak ingin masa depanku berakhir disana.


Aku pamit setelah menghabiskan sepiring nasi goreng kecap buatan ibu. Ibu berpesan kalau dia siang ini akan keladang dan akan pulang menjelang malam. Ibu menunjukkan letak kunci rumah. Aku melaju motorku dengan pelan. Tidak peduli sudah lewat jam masuk. Udara dingin memaksaku untuk melaju sepeda motorku dengan kecepatan sedang. Tidak ada pelajaran setelah ujian.


Kantin tek rida ramai pagi ini. Kedatanganku tak menghilangkan bunyi ribut banyak suara. Nando menunjukku dari ruang belakang. Anak kelas sebelas dan beberapa orang anak man mendominasi ruang depan. Sedangkan bangku belakang diduduki ketiga sahabatku yang ditemani doris dan nofri.


Aldi dan ijep segera menoleh. Aldi berbisik sesuatu kepada doris. Aku memesan rokok dan teh hangat. Tek rida mengeluarkan sebungkus rokok dalam kantong ajaibnya. Aku mengambil satu batang dan berjalan keruang belakang. Diruang depan, dikiri dan kanan ribut suara obrolan dan tawa.


"Dik. Kekasihmu mencarimu?" Guraun aldi sebagai ucapan selamat pagi.


Ketiga sahabatku tertawa. Aku juga menahan tawa mendengar ledekan mereka.


"Iya dik, tadi buk mutia nanya in loh" Doris bersuara.


"Ya, biarlah" Sahutku bergurau. Mematikan karakter mereka dengan sedikit sombong. Nando dan ijep tertawa. Diruang belakang juga ada zico dan diki. Zico juga tertawa kecil.


"Semalam dori kerumah gua" Ujar zico


"Siapa?" Tanyaku lebih jelas.


"Dori semalam kerumah gua. Numpang menyabu dikamar gua. Gila. Untung gak ada ayah sama ibu gua." Kata zico


Aku mengangguk. Cerita zico masuk akal. Dan aku tidak heran lagi dengan dori. Itu adalah bagian dari strategi pemasaran. Bisa saja nanti zico mencoba dan kecanduan. Lalu menjadi passien tetap dori. Dengan siapa dori?


"Sama bok yan----Rian Admanegara" jawab zico "Lu seharian sama dia kan" tuduh zico.


"Enggak" Bantahku.


"Dori sendiri yang bilang" Zico tahu kalau aku berbohong.


Aku menghisap asap rokokku. "Siang iya" Jawabku serambi menghembuskan asap tebal kezico. Asap indah membentuk lingkaran diudara. Aku merasa kesal dengan apa yang diceritakan zico. Walaupun aku tahu dia hanya bermaksud bercanda.


Zico mengangguk. Doris dan aldi masih tertawa.


"Kalau dia gak percaya coba deh lu liattin dor" Tunjuk aldi.


Doris mennggapai blackberrynya disaku seragamnya. "Kalau lu gak percaya" Ujar doris membuka blackberry lipatnya.


"Kata dori dia hanyalah wayangmu. Kau lah dalang yang menggerakkannya" Ungkap zico.


Sial. Apa maksud zico? Doris memperlihatkan hp nya tepat diwajahku. Aku melihat jelas chat dengan mutia heriyenti "Lagi chat ngucapin selamat pagi. Nyampe sekolah dia nanyain loh dik. "Jelas doris.


"Ya, biarlah" Kataku santai dan meneguk teh panas didepan nando.


Mutia hari ini datang kesekolah. Tadi pagi, melalui pesan BBM. Ucapan selamat pagi menyambut dengan harapan sampai ketemu disekolah.


Telponan semalam masih menjadi keanehan didalam benak pagi ini. Semalam mutia bercerita tentang ade. Mantannya yang masih mengejar-ngejarnya. Dia tetap bercerita panjang. Walaupun dia bertanya aku tidak apa-apa? Tapi aku berkata yakin bahwa aku tidak apa-apa. Itu masa lalunya, seharusnya menjadi miliknya. Begitupun masa laluku. Sakit membuatku penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Sampai aku merasakan hatiku ditusuk jarum ketika mutia bercerita tentang ciumman pertamanya. Jarum itu berdarah cemburu pada masa lalu yang masih mengejar-ngejar mutia. Meskipun tidak pernah lagi dihiraukan mutia sebab sudah seringkali dikecewakan. Tapi tetap saja, aku merasa tidak aman dengan kehadiran seseorang yang tidak mau menjadi masa lalunya itu.


Mutia juga bilang bahwa orangtuanya belum memberi izin mutia untuk pacaran. Itulah kenapa aku mengantarnya rabu lalu tidak sampai depan rumah. Hanya sampai depan sd 05.


"Ayah yang paling melarang. Katanya wisuda dulu. Baru pikirin pacaran. Bukan kamu saja. Dua mantanku juga tidak pernah kuajak kerumah" Jelas mutia semalam.


"Ditikung sama dikan ya doris" Ujar nando.


Mereka tertawa. Doris menggeleng " Gebetan nanya pacarnya" Cetus doris berjalan kedepan. Tertawa semakin meledak. Zico dan diki juga tertawa.


"Sakit ya pasti" tanya aldi.


"Jangan ditanya lagi. Bayangin saja hati ibaratkan ditusuk ribuan jarum" Gurau doris "Yuk lah pri" Doris mengajak nofri.


"Dihhhh. Tapi hatinya ngak patahkan?"

__ADS_1


"Enggaklah" Sahutnya "Masih ada buk sintya" Guraunnya serambi berjalan.


"Yok lah pergi main volly kita kebawa lagi" Ajak nofri.


"Apa-apa aja clasmeeting" Tanyaku.


"Vollyy dan basket"


"Kata siapa?" Tanya aldi.


"Joko tadi bilang" Sahut nofri. "Lomba futsal ngak diadain lagi" Keluh nofri.


"Iya. Futsal diganti sama bola daster" Jelas aldi.


"Besok ya mulainya" Tanya nofri "Besok bola daster sama perang bantal" Nofri berdiri dari duduknya. "Ya gua duluan dik, di, jep, ndo" Pamit nofri.


Aku mengangguk. Suasana hening sejenak.


"Wieh perang bantal. Seru besok tuh" Antusias aldi memecah keheningan dengan tawa.


Obrolan terus membahas tentang classmeeting. Beberapa menit kemudian penghuni kantin mulai meninggalkan kantin. Aku dan ketiga teman sekelasku berjalan kedalam lingkungan sekolah. Murid-murid masih berkeliaran didepan kelas mereka. Anggota osis terlihat sedang menyiapkan speker dan meja sebagai perkakas untuk lomba dilapangan basket. Didepan labor, seseorang memanggilku namaku.


"Banggg dikaan"


Aku menoleh kebelakang. Annisa. Dia berdiri dan menghampiriku. Ditangannya ada buku dan jaket hitam. Mungkin dia akan mengembalikannya padaku.


"Abang sampai lupa kalau jaket abang sama nisa" Ujarku menghampiri.


Annisa memberikan jaket itu kepadaku "Sudah nisa cuci itu" Katanya.


Aku mencium jaketku. Pewangi parfum paris tercium. Harum "Kok masih bau" Gurauku.


"Hidung abang yang bermasalah kali" Sahut nisa tertawa. "Nih catatan pkn abg sudah siap" Katanya memberikan buku bersampul coklat.


"Makasih ya" Ujarku tersenyum. Tugas mencatat pelajaran PKN ku sudah siap berkat nisa. Dibarisan kelas sebelas, Mutia sedang berdiri disamping tiang, dia melihat kearahku. Aku tersenyum melihat mutia yang sepertinya sengaja mematai-mataiku dari jauh. Annisa pun melihat ke arah mutia.


"Lah kok buru-buru?"


"Nanti buk mutia cemburu" Kata annisa dengan bibirnya menahan tawa.


Aku menggeleng. "Tidak usah dipikirkan" Jawabku. Mutia melenggahkan pandangan ketika dia tahu aku sedang melihat kearahnya. Aku tersenyum sekali lagi.


"Sejak kapan abang jadian sama buk mutia" Tanya nisa.


"Sebulan setelah putus dengan nisa" Jawabku.


Nisa mengangguk. Dibawah. Mutia terlihat menunjuk-nunjuk murid kelas sebelas ips satu. Sesekali dia melihat kearahku. Aku bisa sekali mencium bahwa mutia sedang menahan amarah. Tapi aku senang melihat tingkahnya. Lagipula aku hanya tidak ada apa-apa dengan annisa.


"Yaudah bang. Nisa kelokal dulu" Pamit annisa.


"Ohh iya sekali lagi makasih" Ucapku


Annisa menoleh dan tersenyum. Aku berjalan kedalam lokalku dan meletakkan tasku diatas mejaku. Didalam lokal, dua sejoli dan aldi sedang berdebat dengan lola perihal remedi. Semua orang yang menyaksikan perdebatan mereka akan merasa terhibur karna celoteh mereka. Aku berjalan keluar kelas. Nando mengikutiku. Kami duduk ditangga depan kelas ips.


Dilapangan, joko sebagai ketua osis membuka acara clasmeeting dengan kata-kata salam. Lomba basket dimulai dengan mempertemukan kelas sepuluh dua melawan sepuluh satu. Dan pertandingan bola volly mempertemukan kelas dua belas IPA satu melawan kelas dua belas IPS satu (Kelasku).


Teman-teman sekelasku berlari menuju lapangan. Aku berjalan dengan nando menuju lapangan. Aku terus berjalan melewati lapangan volly. Aku ingin menemui mutia. Wanita yang seminggu ini menitipkan rindu sebagai beban didalam benakku.


"Dik, mau kemana?" Tanya nando yang menyimpang dilapangan volly.


"Kantin pak apin" Sahutku terus berjalan.


"Lu ngak ikut dik?" Tanya aldi yang sedang bermain volly.


"Enggak. Lanjut aja" Jawabku tanpa menoleh.

__ADS_1


Disudut barisan lokal sebelas. Mutia terlihat berjalan dikoridor. Aku tersenyum dari kejauhan. Dia memasang wajah masam. Pasti cemburu karna melihat aku dengan annisa tadi.


"Enak ya ketemu mantan" Ujar mutia yang berjalan disampingku.


Aku tertawa kecil "Jadi cemburu nih" tanyaku


"Enggaklah. Ngapain juga aku cemburu" sahutnya tanpa menoleh kearahku. Bagaimana mungkin tidak cemburu dengan wajah masam begitu? Dasar cewek. Apa susahnya buat berterus terang.


"Iya, annisa tadi ngembaliin jaket yang kemarin dipinjam" Ujarku "Sekalian sama catatan pkn"


Kantin pak apin lengang. Hanya ada bik surti disana. Dia tersenyum hangat saat kami masuk.


"Lontong satu tek" Pesan mutia.


"Iya tunggu sebentar ya" Sahut bik surti "Dikan enggak?" Tanya bik surti.


"Enggak bik. Udah makan tadi dirumah" Jawabku. "Bikinin frenta cola aja bik" Pesanku.


Mutia menatap kearah luar jendela. Dilapangan pertandingan basket akan segera dimulai. Aku memakan gorengan bakwan yang masih hangat. Mutia melengah kearahku. Dia menatapku dingin.


"Kenapa liattin aku terus" Tanyanya


"Enggak. Cuman pengen liattin aja. Kangen soalnya" Sahutku terus mengunyah bakwan.


"Yeh, kangen. Kangennya ngak usah sama aku. Sama annisa aja sana" Ujarnya menatap keluar jendela.


"Kok annisa sih?" Protesku.


"Iyakan kamu baru aja tuh ngelepasin kangen-kangennya" Ujarnya menatapku dengan wajah marah.


"Kan cuman balikin jaket sama tugas aja. Ngak ada apa-apa juga. Kamu ngak boleh gitu donk. Mantan gak harus musuhan kan" Ujarku dengan wajah yang juga marah.


"Ngapain kamu minta tolong dia" tanya mutia dengan ekpresi wajahnya yang dingin.


Aku mendengus. Ayolah. Ini bukanlah hal yang harus menjadi perseoalan. "Aku tuh minta tolong waktu aku masih jadi pacarnya. Udah lama. Dan dia baru ngembaliinnya sekarang. Cuman itu. Gak ada apa-apa" Jelasku.


"Sudah. Sudah. Jangan berantem disini" Ujar bik surti dengan menaruh sepiring lontong didepan mutia.


"Tau nih bik dikan. Gak bisa jaga perasaan orang" Jawabnya mengambil sendok dan garpu.


Keningku berkerut. Bik surti tertawa kecil "Makanya mutia jangan terlalu berharap sama cowok" Ujar bik surti "Kalau terlalu berharap resikonya harus siap dikecewakan" Sambung bik surti.


"Iya bik. Emang semua cowok sama aja" Ujar mutia menatapku dengan tawa yang sengaja ditahan.


Aku menghembuskan napas. Sabar. Wajah mutia yang semulanya masam kini kembali berseri-seri. Aku lebih memilih diam. Dia sedang bercanda. Tapi, bercandanya tidak lucu.


"Bik. Ada ya cowok ngambekkan" Teriak mutia.


"Apa sih" Keluhku.


"Cowok kalau ngambekkan berarti bencong" Jawab bik surti dari pintu rumahnya.


Mutia tertawa senang "Kamu bencong"


"Iya iya aku bencong" Sahutku mengalah "Buruan dimakan lontongnya"


"Kamu ngak makan"


"Suappin ya"


"Sama annisa aja sana" Ujar mutia tertawa lagi.


Aku mengerecutkan bibirku. Meskipun aku merasa kesal dengan mutia yang membawa-bawa nama annisa. Aku tetap bahagia bisa mendengarnya tertawa. Lebih jauh lagi. Bahagia itu terasa sempurna sebab akulah alasan mutia tertawa.


Aku dan mutia berbincang-bincang tentang remediku. Dia menyuruhku untuk segera menyelesaikan remediku walaupun hanya tingga dua pelajaran lagi. Setelah makan. Kami beralih duduk dan menyaksikan lomba dilapangan.

__ADS_1


Siang ini, aku kembali mengantarkan mutia pulang. Tapi sama seperti hari kemarin. Aku tidak mengantarkannya sampai depan rumah. Mutia bilang dia tidak boleh pacaran oleh mama dan papanya. Alasan yang kurang masuk akal bagiku. Tapi aku percaya saja bahwa mutia tidak akan membohongiku.


__ADS_2