Ruang Hitam

Ruang Hitam
Harapan awal tahun


__ADS_3

Kelak, aku akan paham. Bahwa cinta adalah ujian bagi keimanan.


****


Simpang muaro bodi sangat ramai dengan kendaraan. Dua mobil lohan dengan muatan batu bara terparkir dibahu jalan. Pedagang kaki lima berimpitan dengan jamaah sholat isya. Aku berbelok kekanan memasuki jalanan dusun tuo. Bang pram berpesan untuk menjaga rahasia agar teman-teman yang lain tidak sensi sebab aku dan bang pram sudah menyabu.


Rumah bang anes sudah ramai. Api unggun terlihat besar didepan saung. Bang anes dan bang deni sedang mengipas bara ditungku untuk memanggang ayam. Istri bang anes duduk ditepi saung serambi memangku anak semata wayangnya. Sedangkan bang eldom dan bang reno bertugas membuat api unggun. Bang pram meletakkan tiga botol anggur merah yang dibungkus dengan plastik hitam. Aku segera bergabung dengan bang anes dan bang deni yang sedang memabakar ayam.


"Gimana dapat ngak anggur merah nya?" Tanya bang anes


Aku mengangguk. Bang deni sedang menyusun ayam kedalam besi pembakaran. Beberapa potong ayam terlihat sudah dibumbui. Ayam yang dibakar adalah ayam bang anes yang ia bawa dari kampung istrinya.


"Dipadang busuk belinya" Tanya bang anes


"Iya bang"


"Kedai yang dekat tanah lapang itu kan dik" Sambung bang deni.


Aku mengangguk sekali lagi.


"Disitu biasanya lengkap minuman keras" Ucap bang denis.


"Didekat lapangan?" Tanya bang anes tidak tahu.


"Iya ada warung satu jual minuman. Dibelakang bengkel" Bang deni menjelaskan


Bunyi dan lampu motor terlihat datang menghampiri kami. Bang gates memboncengi mila yang menjadi kekasihnya. Bang pram menyambut bang gates dengan guraun selamat datang. Tak lama setelah kedatangan bang gates. Bang febi datang memboncengi seorang wanita dan dua wanita lagi menyusul dibelakangnya dengan motor yang berbeda. Entah siapa yang dibawa bang febi. Kami tak pernah tahu kalau bang febi punya pacar. Wanita itu memperkenalkan namanya masing-masing. Yola adalah wanita yang diboncengi bang febi. Sedangkan dua gadis lagi temannya yola bernama pita dan bunga. Dua teman yola itu sangat akrab dengan bang reno dan bang eldom. Rupanya mereka sudah saling mengenal.


"Masih sekolah dek?" Tanya bang pram pada salah satu gadis.


Gadis itu hanya tersenyum dan menyembunyikan wajahnya dibalik punggung bang febi. Dia terlihat malu ditanya bang pram. Bang pram tertawa melihat tingkah wanita yang katanya pacar bang febi. Tentu itu hanya sebatas pacar main-main saja.


"Masih bang. Kami masih sekolah ketiganya" Jawab seorang gadis bernama pita.


"Masih smp?" Tanya bang pram.


Gadis itu mengangguk. Bang pram menggeleng tidak percaya. Seakan ia heran dengan ketiga temannya yang berpacaran dengan gadis yang jauh dibawah umur mereka. Beberapa dari kami tertawa seakan mengerti apa maksud gelengan kepala bang pram.


"Kau iri saja pram" Ucap bang reno


"Bukannya iri no. Tapi ngak pantas aja kau berpacaran dengan gadis yang usianya sepelantaran dengan adek gua" Sahut bang pram.


"Kau berkata seperti itu karna kau masih saja jomblo. Orang kami saling suka" Sahut bang reno "Iya kan dek" Bang reno meminta persetujuan.


Gadis bernama pita itu mengangguk. Kami semua tertawa melihat bang pram yang kehabisan kata-kata.


"Pedofil" Ucap bang pram menggelengkan kepala.


Kami tertawa. Bang anes mulai membagi ayam masing-masing kami dapat satu. Kami duduk menikmati ayam yang lezat dengan obrolan dan tawa. Anggur merah dan ganja menjadi pelengkap dimalam pergantian tahun. Bang pram kembali bercerita tentang masa lalunya dilapas sijunjung selama dua tahun. Sesekali kelucuan bang pram tentang pengalamannya melahirkan tawa.


Sudah lumayan malam. Suara ledakan kembang api terdengar dari kejauhan. Istri dan anak bang anes juga menyalakan kembang api. Letusannya terlihat indah dilangit yang jauh. Kami bersorak riang memeriahkan malam bergantian tahun denga saling bersulang. Bang anes masuk kedalam rumah untuk membawa putranya tidur. Tak lama setelah itu bang anes keluar dengan membawa gitar. Petikan gitar bang anes menambah syahdu suasana. Lagu iwan fals yang berjudul manusia setengah dewa mengalun merdu. Kami bernyanyi bersama-sama dengan mengelilingi api unggun. Malam yang indah.


Blackberryku berbunyi mengusik merdunya senandung malam ini. Aku mengeluarkannya dari saku celanaku. Nama mutia terlihat dilayar ponsel. Ada apa mutia menelponku? Bukannya dia sedang merayakan tahun baru bersama teman-teman kampusnya. Aku sedikit menjarak dari lingkaran untuk mengangkat telpon mutia.


"Iyaa apa" Jawabku setelah mengangkat telpon.


Tidak ada jawaban dari seberang sana. Mutia tetap bisu meskipun aku sudah memanggil namanya beberapa kali. Aku sedikit berjalan mungkin sinyal yang kurang bagus.


"Kamu lagi dimana?" Tanya mutia baru menjawab.


"Lagi ngumpul sama teman-teman. Kamu bukannya lagi ngerayain tahun baru sama sahabat-sahabat kamu?"


"Ngak jadi" Jawab mutia singkat


"Kenapa?"


"Males aja aku ikut"


"Tadi katanya mau pergi ngerayain tahun baru sama putry"


"Ya ngak jadi"

__ADS_1


"Ya kenapa ngak jadi"


"Kan udah aku bilang malas"


"Kok gitu. Padahal tadi sore kamu semangat-semangatnya loh mau pergi ke jembatan siti nurbaya sama putry" Jawabku.


"Males aja aku ikut" Jawab mutia terdengar jutek.


"Kamu sekarang lagi dimana?"


"Dikos sendiri. Nuna juga pergi sama putry"


"Terus dari tadi kamu ngapain aja"


"Nonton film dilaptop. Orang-orang kos sebelah juga pada pergi tahun baruan. Tinggal aku sendiri aja yang ada dikos"


"Lagian kenapa kamu ngak ikut aja sama putry"


"Udah aku bilang aku malas" Jawab mutia sinis.


Aku menghembuskan napas kasar. Mutia terlihat sedang bosan sekali hingga dia bersikap jutek kepadaku. Aku harus bisa bersabar agar tidak terjadi pertengkaran hanya karna masalah sepele. Lebih jauh lagi. Aku paham kalau wanita lebih relatif bersikap ingin dimengerti tanpa ingin menjelaskan. Dan aku mengerti kalau mutia sedang rindu kepadaku.


"Aku nungguin kamu ngechat aku. Tapi dari magrib ngak ada pesan dari kamu" Ucap mutia.


"Kamu sendiri kan yang bilang kalau kamu mau pergi sama putry tahun baruan. Ya aku ngechat kamu karna aku ngak mau ganggu" Jawabku.


"Apa salahnya kamu ngechat walaupun aku lagi sama putry. Itu tandanya kamu peduli. Ini enggak. Aku nunggu kabar kamu sampai akhirnya aku bosan dan mutusin buat nelpon kamu dulu"


Aku kembali menghembuskan napas kasar. Beginilah sifat asli wanita. Egois. Apapun alasan yang akan kuberikan takkan bisa menenangkan ego mutia. Tapi wanita lebih memakai perasaannya ketimbang logikanya. Mutia akan luluh jika aku meminta maaf.


"Aku kangen" Ucap mutia setelah aku meminta maaf.


"Aku juga. Kamu yang sabar ya" Jawabku.


"Aku enggak ikut sama putry karna aku kangen sama kamu. Ya aku kepikiran aja, seandainya kamu disini pasti malam pergantian tahun akan terasa sempurna" Ucap mutia.


Aku terdiam sejenak. Kejujuran mutia membuat hatiku tersentuh. Aku merasa bersalah karna aku tidak berada disampingnya untuk menemaninya dimalam pergantian tahun. Dimana banyak pasangan menjadikan malam ini sebagai hari yang romantis dengan harapan akan tahun yang baru.


"Aku sabar meskipun kamu sering ngak ada kabar"


"Kamu kalau lagi kangen nyebelin ya" Ucapku mencoba mencairkan suasana.


"Biarrin. Walaupun aku nyebeliin tapi kan ngangenin"


"Iya juga sih"


Aku terkejut ketika seseorang memanggil namaku. Bang eldom berjalan menghampiriku. Bang eldom memegang kepalanya yang berat sebab minum.


"Ngapain kau disitu" Tanyanya.


Aku menggelengkan kepala sebagai isyrat tidak ada apa-apa. Bang eldom berdiri disampingku dengan membuka resleting celananya. Buang air kecil.


"Kau mau tidak antarkan bunga pulang. Kepala abang pusing sekali rasanya" Ucap bang eldom.


"Enggaklah bang. Antarin lah sama abang" Sahutku menolak.


"Kau perginya sama febi dan reno. Kau juga bisa main dengan bunga jika kau mau"


"Enggak ah. Ada-ada aja abang ini" Ucapku menolak.


Bang eldom tertawa. Sedangkan mutia bertanya dengan cerewet siapa itu bunga. Bang eldom kembali kedalam lingkaran setelah selesai buang air kecil. Mutia marah-marah karna aku tidak menjawab pertanyaannya. Bang eldom membuat keadaanku makin sulit untuk mengakhiri telepon dengan mutia.


"Pacarnya temanku. Bukan siapa-siapa. Kamu ngak perlu curiga dan marah-marah gitu"


"Ngapain dia minta anterin pacarnya sama kamu"


"Kepalanya pusing karna kebanyakan minum"


"Kamu disana minum-minum yang enggak"


Keningku berkerut. Aku menyesali apa yang baru saja aku katakan. Kesadaranku yang sudah dipengaruhi oleh obat dan alkohol membuatku lepas kontrol.

__ADS_1


"Enggak. Dia minum ngak disini. Dia baru datang" Ucapku terpaksa berbohong.


"Dikan" Teriak bang reno dari kejauhan "Ngapain kau mengurusi wanita yang jauh disana. Mari sini minum, akan kucarikan wanita untukmu" Sambungnya.


Teman-temanku terkekeh dengan ucapan mabuk bang reno. Aku mendengus kesal. Mutia pasti mendengar apa yang dikatakan bang reno. Aku pasti akan mendapat masalah karna telah membohonginya. Mutia hanya diam. Sedangkan aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa.


"Mutia" Panggilku.


"Aku minta kamu pulang" Jawabnya mutia diseberang sana.


"Tapi aku lagi ngumpul"


"Aku gak mau tahu. Pokoknya kamu harus pulang"


"Kamu ngak bisa seenaknya gitu. Aku lagi ngumpul sama teman-teman. Gak enak kalau aku pulang duluan"


"Kamu ngak mau nurut sama aku"


"Kamu kok egois gini sih tia"


"Aku egois demi kebaikan kamu juga"


"Kebaikan apanya mengekang kayak gitu"


"Kebaikannya kamu ngak minum-minum. Terserahlah. Pokoknya aku minta kamu pulang"


Aku mendengus kesal. Aku merasa bimbang sekali dengan permintaan mutia. Aku merasa segan untuk pulang dari perkumpulan sebelum tahun berganti. Namun, jika aku mengikuti permintaan mutia pasti ini akan menjadi masalah yang besar.


"Yaudah aku pulang"


"Sebaiknya gitu. Ngapain kamu disana" Jawab mutia jutek.


"Sudah ya. Nanti sampai rumah aku telpon lagi"


"Ngak usah dimatiin"


"Aku mau pamit pulang dulu sama teman-teman aku mutia" Ucapku sedikit kesal.


"Ya pergilah. Tapi telpon ngak usah dimatiin"


Aku berjalan mendekati perkumpulan dengan perasaan kesal. Nyanyian iwan fals yang berjudul umar bakri sedang mengalun merdu dalam kebersamaan. Bang pram meroling segelas anggur merah kepadaku. Aku dengan terpaksa meminumnya dan merolingnya kepada bang febi yang ada disebelahku. Aku harus menanti musik berhenti sebelum pamit pulang.


"Bang, aku pulang dulu ya" Ucapku setelah musik berhenti.


"Lah, kok buru-buru sekali kau dikan" Ucap bang anes.


"Iya bang. Ibu hanya sendirian dirumah" Sahutku.


"Kalau sudah menyangkut soal ibu kami tidak bisa melarang kau dik" Jawab bang deni


"Gak ada itu. Dia disuruh pacarnya pulang itu. Kalau ngak pulang diputusin" Ujar bang pram.


Beberapa orang tertawa. Aku juga tertawa kecil dengan tuduhan bang pram yang tepat sasaran. Tawa dan ledekan para teman-temanku mengiringi langkahku pulang. Aku melaju motorku meninggalkan rumah bang anes.


Pintu rumah belum dikunci ketika aku sudah pulang. Ibu masih menonton sinetron kesukaannya. Masih pukul setengah sebelas dijam dinding. Aku memasukkan motorku kedalam rumah.


"Kamu ngak pergi ngerayain tahun baru" Ucap ibu yang duduk didepan tv.


"Ibu ngusir aku?" Jawabku menutup pintu.


"Tumben aja kamu ngak pulang pagi" Ucap ibu dengan matanya yang tak beralih dari tv.


"Malam tahun baruku membosankan" Jawabku membuka pintu kamar.


"Kalau mau tidur jangan lupa pake soffel. Sekarang lagi musim deman berdarah" Teriak ibu.


Aku menyahut perkataan ibu dan menutup pintu kamar. Aku melewati malam pergantian dengan menelpon dengan mutia. Harapan-harapan pada tahun yang baru lahir dari perbincangan kami malam ini. Aku tidak bisa memastikan bahwa mutia adalah jodoh yang dikirim tuhan untukku. Aku hanya bisa menyakini semua harapan dan berupaya dengan doa-doa agar dikabulkan. Namun, jawaban yang sebenarnya masih tersimpan didalam rahasia takdir.


Mutia telah kembali kepada kesibukkan kuliahnya. Itu berarti hari-hari kami jalani dengan mengalahkan jarak. Dan mutia bilang yang paling penting dalam hubungan jarak jauh adalah kabar dan komitmen.


Aku lelaki yang setia. Aku selalu belajar untuk setia. Dengan siapapun aku menjalin hubungan, aku bersumpah tidak ingin mendua. Aku ingin hidup dengan satu cinta, satu wanita. Aku belajar untuk tidak seperti bapak. Bagiku, cinta adalah kesempurnaan diri. Dan bapak telah menodai kesempurnaan itu dengan kemunafikan diri. Tetapi, kelak aku akan mengerti. Cinta adalah ujian bagi keimanan.

__ADS_1


__ADS_2