Ruang Hitam

Ruang Hitam
Ditangkap


__ADS_3

Sebasah apapun kayu akan tetap menjadi abu jika selalu bermain-main dengan api.


****


Ketika usai berdoa bersama setelah zholat zuhur. Buk eni pesma sebagai wakil kurikulum memberitahukan bahwa tim futsal sekolah lolos kepartai final dalam rangka perayaan ulang tahun kodim dimushola. Untuk itu siswa diperbolehkan pulang ataupun menonton pertandingan setelah keluar dari mushola. Seluruh siwa bersuka cita tanpa ada penolakan.


Tim futsal masih tinggal dimushola dengan buk eni pesma, pak angga, dan bang wanda sebagai pembimbing. Kami memakan puding sebelum bertanding; ada jeruk, pisang, dan telur bebek rebus.


"Oh iya, kalau kalian juara ada bonus untuk kalian" Ucap buk eni pesma memotivasi.


"Kami kan sudah mendapatkan juara buk" Sahut tullo.


"Iya, kalau kalian menang difinal. Bonus akan ditambah"


Kami bersuka cita mendengar ucapan buk eni pesma. Setelah berbibcang, kami berjalan menuju kegor montela. Dipartai final kami akan dipertemukan dengan SMA Tujuh yang mengalahkan SMK Lima dengan skor 3-1. Di SMA Tujuh ada sikembar yanda-yandi yang memang disebut hebat dikompitisi LPI. Dari bangku SMP hingga SMA, Sikembar adalah bintang yang diakui hebat oleh banyak orang. Bahkan tim sekelas Semen Padang sudah ada yang tertarik dengan bakat alami mereka.


Pertandingan siang itu berlansung seru. Gor montela dipadati oleh penonton. Dihiasi dengan suporter sekolahku dan warga padang sibusuk. 15 menit pertama skor imbang 1-1. Yanda berhasil mencetak gol kegawang kami lebih dulu. Sebelum gol dari ripo tercipta untuk menyamakan kedudukan. Hanya yanda yang main dipartai semifinal ini. Sedangkan yandi hanya menyaksikan pertandingan dibens pemain. Caknun bilang yandi sedang cedera. Dan diparuh kedua pertandingan saling menyerang. Gemuruh dari penonton membuat suasana panas suasana. Beberapa kali pelanggaran keras bergantian dilakukan. Sekolahku kalah telak 3-1. SMA tujuh memang lebih hebat. Bukan hanya sikembar saja yang hebat. Pemain-pemain lainnya juga tak kalah hebatnya. Seperti leopy randa kiper sekaligus kapten SMA Tujuh. Kami saling berkenalan setelah pertandingan usai.


Diacara penutupan, Panitia acara mulai mengumunkan pembagian hadiah. Yanda maju kedepan dengan bangga sebagai pemain terbaik. Yanda menerima penghargaan piagam dan amplop dari para tentara. Sedangkan TopScore jatuh kepadaku yang mencetak enam gol mengalahkan yanda yang hanya mencetak lima gol. Aku maju berdiri disebelah yanda dengan mendapat penghargaan piagam dan amplop. Juara kedua maju untuk menerima Trophy dan uang pembinaan sebanyak Tujuh ratuh lima puluh. Setelah itu bergantian SMA Tujuh maju sebagai pemenang dan berhak atas hadiah Trophy juara dengan uang pembinaan sebanyak satu juta.


Penonton yang tadi ramai dan penuh sesak kini hanya menyisakan beberapa orang. Annisa duduk dibangku hol diluar lapangan. Aku menghampirinya setelah berphoto bersama dengan Tropy dan uang juara. Aku juga melihat buk mutia dan buk diana. Mereka berdiri dibalik perkumpulan beberapa warga padang busuk. Aku menatapnya panjang, buk mutia juga menatap kearahku.


"Nisa disini loh bang" Ucap nisa.


Aku segera menoleh ke annisa. Aku bahkan mengabaikan annisa demi menatap buk mutia. Aku tersenyum untuk menutupi kesalahanku.


"Annisa nunggu abang" Tanyaku.


"Enggak" Sahut annisa menatap panjang kearah buk mutia.


Buk mutia dan buk diana mulai berjalan keluar gor. Annisa tidak tahu kalau aku pernah menyukai buk mutia. Aldi yang bilang kalau dia merahasiakan tentang buk mutia kepada annisa. Tapi annisa menatap cemburu kearah buk mutia.


"Terus kenapa belum pulang. Kalau gak nungguin abang" Ucapku.


Annisa menatapku. Kami beradu pandang. Dari annisa menatapku dia tidak menampilkan wajah marah. Aku tersenyum untuk menggoda annisa. Aku tidak ingin buk mutia jadi bahan masalah yang akan memancing perdebatan diantara kami.


"Dikan. Kami duluan ya" Pamit teman setimku bersahut-sahutan.


Aku mengangguk dan melambaikan tangan. Pak hendra ferry berpesan agar aku segera pulang. Teman-temanku tertawa dengan olokkan mereka.


"Coba lihat" Ucap annisa merebut piagam dari genggamanku.


Annisa membaca tulisan dari piagam. Aku duduk dilantai dan membuka sepatuku. Sebagian warga padang busuk juga berangsur pulang. Sedangkan sebagian lagi beralih duduk dilantai dua montela.

__ADS_1


"Liga pelajar kapan mulainya bang" Tanya annisa


Aku mengherdikkan bahu "Biasanya september sudah bergulir" Ucapku lalu berdiri mengambil tasku dipinggir lapangan futsal.


Dari semenjak aku SMP sampai SMA. Setiap tahun ada ajang sepakbola untuk pengembangan bakat untuk para pelajar. Liga pelajar indonesia atau disingkat dengan LPI. Biasanya kompitisi LPI sudah bergulir diawal semester. Namun aku mendengar kabar miring kalau tahun ini kompitisi LPI tidak akan diadakan. Tidak ada informasi yang pasti kenapa info itu bisa beredar. Tetapi, kompitisi LPI memang tidak pernah lagi bergulir bahkan beberapa tahun setelah aku lulus dari bangku SMA.


"Tahun kemarin SMA tujuh juga yang juara emang?" Tanya annisa.


Aku menggeleng dan memasukkan sepatu futsallku kedalam tas. Annisa mendekat dengan memberikan piagam kepadaku. Aku menerimanya dan memasukkannya kedalam tas.


"Bang sandi itu bukannya sekolah di SMA Tujuh juga?" Tanya annisa.


"Sudah pindah" Sahutku dan berdiri menyandang tasku.


Annisa dan sandi saling kenal sebelum mereka bertemu kemarin siang. Sandi bilang annisa dulu pernah pacaran dengan teman satu kampungnya. Namanya gio fernandes, gio adalah teman sekelas sandi waktu masih bersekolah di SMA tujuh. Dan gio juga ikut wakili sekolahnya diacara kompitisi futsal dimontella. Tapi aku dan gio tidak saling mengenal.


"Kemana?" Tanya annisa.


"Ke MAM tanjung ampalu" Sahutku. "Nisa tanya sandi atau gio" Godaku.


Annisa memasang wajah heran. Aku tertawa kecil untuk menggodanya. Annisa malu dan mendorong lenganku. Kami berjalan kearah pintu gor.


"Berapa lama dengan gio?" Tanyaku menggodanya.


"Lah emang gak boleh abang nanya?" Aku terus menggodanya.


Annisa mengerucutkan bibirnya. Aku tertawa kecil melihatnya. Aku terus menggoda annisa sampai keparkiran.


"Nisa gak suka ya, itukan masa lalu" Ucap nisa kesal diatas motor.


Aku terus tertawa meskipun nisa kesal kepadaku. Aku terus menggodanya dengan menatap bibir yang kerucut. Annisa juga tersenyum menahan tawa.


"Gak suka tapi ketawa" Ucapku dan berjalan mengambil motorku.


"Apasih bang. Bercandaanya gak lucu" Ucap nisa.


"Iyalah, cuman annisa yang lucu" Sahutku menoleh.


"Gak. Buk mutia yang lucu" Ujar annisa.


Aku berhenti. Buk mutia? Annisa berkilah dengan jawaban yang tidak bisa disalahkan. Entah. Aku menyalakan motorku dan menghampiri annisa.


"Nisa ngomong apa tadi. Buk mutia?" Tanyaku.

__ADS_1


"Entah. Ayolah pulang" Annisa menyalakan motornya.


Aku dan annisa pulang dengan beriringan. Annisa tetap bungkam perihal tentang buk mutia. Aku penasaran kenapa annisa membawa nama buk mutia. Apakah aldi sudah menceritakan yang sebenarnya? Tapi penasaran itu hilang seiring buntunya jawaban dari annisa.


Jalan lintas sumatra sangat ramai disimpang PGA. Aku terhenti cukup lama menunggu mobil puso yang melaju beriringan. Bercampur dengan roda dua dan kesibukan aktivitas simpang PGA disiang hari. Aku bertemu bojek yang memacu motornya dengan terburu-buru. Bojek berbalik setelah aku memanggilnya. Bojek tidak hadir ketika kami bertarung dipartai final tadi. Annisa memacu motornya lebih dulu dijalanan lintas sumatra.


"Noval dan bento tertangkap polisi" Ucap bojek.


Aku terkejut. Noval dan bento adalah teman dalam lingkaran manusia dalam gelap. Aku mengenal noval dan bento dari ipan dan dori. Ipan lah yang mengenalkan ganja dan shabu kepada noval dan bento. Dan sekarang noval dan bento berurusan dengan polisi.


"Tadi sebelum zuhur" Jelas bojek.


"Seriua lah" Sahutku masih tak percaya dengan apa yang dikatakan bojek.


"Alahhh" Keluh bojek "Untuk apa aku berbohong kepadamu" Ucap bojek dengan wajah yang meyakinkan.


"Dimana tertangkapnya" Tanyaku


"Dimuaro kalaban. Ipan sekarang saja sudah kabur" Ungkap bojek.


"Kemana?" Tanyaku panik.


"Mana aku tahu. Yasudah aku harus sedang ada urusan"


Bojek berlalu meninggalkanku. Aku memacu sepeda motorku dengan pikiran yang kacau tak menentu. Jika ipan tertangkap, berarti aku akan terseret kedalamnya. Tapi tidak mungkin ipan akan menyeretku kedalam kasusnya. Jikapun ipan tertangkap, ipan pasti akan melindungiku dengan menyembunyikan identitasku. Entahlah, pikiranku gamang tak menentu.


Sebelum simpang simancung, aku berpamitan dengan annisa untuk pulang cepat. Aku beralasan dengan perutku sakit. Annisa memberi izin dengan membiarkanku untuk lebih dulu pulang. Aku sangat cemas. Belum selesai masalahku dengan ibu, aku sudah mendapat masalah baru. Aku kembali tertekan oleh pikiranku sendiri. Rasa takut membuat pikiran tak tentu arah.


Rumahku terlihat kosong. Ibu tidak ada dirumah. Aku membuka pintu setelah mengambil kunci dari tempat rahasia. Ibu dan aku punya peraturan untuk meletakan kunci rumah dibawa alas kaki ketika rumah ditinggal kosong. Ibu kemana, apakah ibu masih marah?


Aku merebahkan badanku diatas kasur. Aku menelpon dori berkali-kali tapi tidak diangkat. Kemudian aku iseng menelpon nomor ipan. Tidak aktif. Ipan mungkin sudah mematikan Hpnya. Kemudia aku menelpon sandi. Didering kelima diangkat.


"Halo san. Dimana?" tanyaku.


"Dirumah sama dodi"


"Bisa berikan pada dori" Pintaku.


"Ada apa. Dori lagi disebelah gua nih" Ucap sandi.


Belum sempat aku menjawab. Suara dari seberang lansung menutup mulutku kembali.


"Kalau ngak lesini ajalah dik" Suruh sandi.

__ADS_1


Dori juga terdengar membujukku dengan memberi tantangan game Playstation. Aku mengganti baju seragamku. Setelah itu lansung melaju motorku menyusuri jalan raya pamuatan untuk sampai kerumah sandi di kompleks pasar Tanjung ampalu.


__ADS_2