
Kau tahu, menunggu itu membosankan? Tapi ketulusan akan menjadikan bosan sebagai pemupuk rasa sayang.
****
Sinar matahari menusuk kecelah-celah daun, terasa menyejukkan kala aku dan keempat teman kelasku duduk dibawah pohon durian.
Matahari siang ini sangat terang, seterang hatiku yang terpilih untuk mewakili sekolahku diacara futsal antar kabuhpaten diprovinsi.
"Dikan" Panggil ripo yang berjalan dari lokalnya. Ripo adalah siswa jurusan IPA, dan lokal kelas tiga IPA berada dibawah. "Kau dan aku terpilih mewakili lansek manih dipadang besok" Ujar ripo antusias.
Aku tersenyum. "Iya, aku sudah dengar dari bang wanda" jawabku.
Aku sudah dengar semuanya dari bang wanda tadi pagi. Aku terpilih mewakili sijunjung diacara futsal yang diadakan oleh partai perindo. Dananya dari ketua perindo. Begitu yang aku tahu dari bang wanda.
"Kita akan satu tim dengan yanda-yandi" Kata ripo terlihat semangat.
"Iya, siapa-siapa aja yang terpilih dari sekolah lain?" Tanyaku.
"Kurang tau sih. Tapi kata bang wanda sikembar juga ikut" Jawab ripo "Oh iya jangan lupa ijazah smp, akta, ktp, dan juga baju ganti" Sambung ripo
"Baju ganti?" Tanyaku penasaran.
"Iyaaa, kita akan menginap disana" Sahut ripo "Acara futsalnya diselenggarakan dua hari"
"Nginap dihotel po?" Aldi ikut menanya.
"Ngak, di mess" sahut ripo. "Oh iyaa, lu udah minta surat izin belum kesekolah?" tanya ripo.
"Belum" Jawabku.
"Yasudah, gua kekantor dulu nemuin pak hendra ferry" Ujar ripo dan berlalu.
Siang ini sekolahku merayakan hari jadi sekolah yang ke 34 tahun dengan mengadakan lomba futsal tingkat smp. Ada 16 sekolah diundang dalam acara disekolahku.
"Enak ya jadi dikan sama ripo" Ujar aldi "Sudah dapat izin tidak belajar, bisa jalan-jalan, tidur dihotel mewah lagi" Sambungnya takjub.
Aku tertawa kecup mendengar sanjungan aldi. Ijep dan nando mengamini kata-kata aldi. Diantara mereka tidak ada satupun yang suka dengan futsal. Hanya aldi yang sesekali main futsal. Sedang ijep dan nando lebih suka volly dan basket.
"Ah, kalian saja yang terlalu berlebihan" Sahutku merendah.
" Enggak itu emang fakta loh" Sanggah ijep" Lu mah walaupun nakal disekolah tapi masih bisa membanggakan dalam bidang ekstrakurikuller. Gak kayak kita" Sambungnya.
"Kita?" Aldi menyangkal "Lu aja kali" Ujarnya tertawa.
Aku dan nando tertawa. Ijep menggelengkan kepala melihat kami.
"Iya gua mah apa. Hanya sampah-sampah kuaci" Ucap ijep dengan wajah iba.
"Kalau ijep mah bukan sampah kuaci ya di" Kataku mengajak aldi untuk memperolok ijep.
"Apa. Apa?" Sahut aldi antusias menunggu perkataaanku.
"Tapi kelapa ampo"
"Iyakkkk...Iyaaak" Aldi tergelak.
"Tenggelam enggak, marapung juga enggak"----Ampo
"Iya, sama kayak masuk kelas dapat masalah, cabut juga dapat masalah" aldi tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Penewwww" Ujar ikut tertawa.
Kami tertawa terpingkal-pingkal. Ijep, aldi, dan nando menjadi sahabatku dikelas tiga ini. Aldi adalah orang yang periang sepertiku. Sedangkan nando dan ijep memang agak pendiam. Tapi jika berkumpul, merekalah yang paling jail diantara kami berempat. Kami masih tertawa dengan pengakuan ijep yang tidak dikenali oleh gebetannya.
"Bang" Panggil seseorang tanpa alamat.
"Eh nisaa" Sahut ijep. "Mau ketemu abang ya?" Sambungnya bergurau.
Nisa tersenyum tersipu. "Mau ngomong sama bang dikan bentar" Ucap nisa agak kaku.
"Ohh dikan. Nih bawalah, gak ada gunannya dia disini" Ucap ijep mendorongku berdiri.
Aldi dan nando tertawa. Aku berdiri merutuk ijep. Aku dan anissa berjalan duduk kedepan labor. Teman-temanku masih terdengar berdebat. Kami menyaksikan mereka setelah duduk.
"Ehhh gua masih mending kelapa hampa. Daripada kau, kelapa condong" Ijep dan nando juga ikut berdiri mengikuti langkah aldi.
Annisa tertawa kecup melihat tingkah teman-temanku. Bibirnya yang merah merona menitipkan pesona kepada siapa saja yang memandang. Aku ikut tersenyum melihat annisa yang tersenyum.
"Kenapa abang tersenyum begitu melihat annisa" Ujar annisa menatapku.
Aku terfokus. "Ada apa nyamperin abang" Tanyaku pada point.
"Emang gak boleh ya, nisa nyamperin abang"
"Ya boleh. Tapi kok tumben berani" Aku tersenyum menggoda.
"Kangen" Jawab annisa dengan pandangan yang lurus melihat pertandingan futsal dilapangan.
Aku hanya diam. Aku tak mampu merespon perkataan annisa yang tiba-tiba bilang kangen dengan keberadaanku yang tanpa kabar beberapa hari ini. Jujur saja, setelah sebulan berpacaran aku tidak memiliki perasaan apa-apa kepada annisa. Aku tidak berani untuk jujur kepada annisa. Aku tidak bisa meyayanginya. Suasana hening sejenak. Sorak-sorai dilapangan terdengar meriah ketika salah satu tim mencetak gol. Aku tertawa melihat selebrasi gol dilapangan.
"Abang tahu, kalau menunggu itu membosankan?" Ucap nisa lagi-lagi tanpa menoleh kearahku.
Tertawaku mereda. Aku merasa bersalah. Tapi aku benar tidak ingin membalas pesan nisa kemarin. Entah karena apa. Hingga sampai saat ini bbm nisa juga belum kubukak
Annisa terdiam. Aku sadar bahwa annisa akan mudah membaca kalau aku berbohong. Pesan nisa pasti ceklis dua. Dan jika aku tidak ada paket akan ceklis satu.
"Masalah juga banya dirumah" Aku mengklarifikasi.
"Setidaknya abang kan ngabarin. Ini enggak, nisa telpon sering gak diangkat. Malahan abis itu gak bisa dihubungi lagi. Abang mau pake alasan HP mati?"
"Ya emang mati, nis. Waktu itu abang"
"Tapi besoknya nisa telpon tetap aja ngak abang angkat" Sanggah nisa.
Aku terdiam. Aku memang tidak pernah mengangkat telepon dari nisa. Bahkan aku mematikan hp agar nisa berhenti mengusik dengan nyinyirnya.
"Nisa tahu abang dipadang. Dan nisa juga tahu abang kena marah sebab ibu nemuin ganja yang dititip bang sandi"
Annisa nisa menoleh. Aku dan annisa bertemu pandang
"Nisa tahu semuanya masalah abang" Nisa kembali menatap kelapangan.
Aku hanya diam. Tidak ada yang dapat kukatakan lagi. Annisa tahu dari sandi. Mungkin dia menelpon sandi dan sandi meceritakan semuanya. Tapi, kenapa sandi tidak pernah bilang kalau annisa menelponnya?
"Nisa nelpon bang sandi setiap hari hanya untuk mengobati rasa khwatir nisa. Nisa sengaja minta bang sandi untuk tidak memberitahunya ke abang. Nisa ngerti, mungkin abang memang butuh waktu sendiri. Tapi, setelah pulang dari padang pun, abang ngak pernah ngehubungin nisa. Segitu tidak pentingnya nisa bagi abang?"
"Bukan begitu. Abang hanya tidak ingin diganggu saat itu. Maafff, abang yang salah karna tidak ngabarin nisa. Tapi bukan berarti annisa tidak penting. Abang emang butuh waktu sendiri"
"Iya. Tapi apa salahnya jawab telpon nisa sebentar agar nisa gak cemas karna abang kenapa-kenapa. Atau memang nisa ini hanya penganggu bagi abang?" Tanya nisa sensitif.
__ADS_1
Aku menghembuskan napas kasar. "Iya maaff, abang tahu abang salah"
"Nisa pacar abang lo bang"
"Abang tahu"
"Tapi kenapa nisa merasa abang tuh ngak memperlakukan nisa seperti pacar abang"
"Nisa. Maaf. Abang lagi banyak masalah"
"Nisa cuman butuh kabar bang" Sahut nisa menatapku.
Aku hanya diam menghembus nafas kasar. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Aku memang salah.
"Abang sengajakan menghilang dari annisa" Mata annisa berkaca-kaca
"Abang tahu abang salah. Dan abang minta maaf. Bukannya tidak mau cerita. Tapi abang belum saatnya abang untuk menceritakannya kepada nisa. Mengertilah, masalah abang cukup banyak. Dan abang tidak punya masalah dengan nisa" Kataku menenangkan annisa.
"Nisa cuman tidak ingin ada yang abang tutup-tutupin. Masalah abang, masalah nisa juga. Nisa cuman ingin abang melibatkan nisa disetiap masalah abang" Ucap nisa menatapku tajam.
Aku tertegun. Perasaanku ditusuk dalam. Annisa begitu tulus. Dan mensia-siakannya.
"Iya, abang janji" Ucapku tersenyum dengan dua jari.
Annisa tersenyum menahan tawa. Aku tertawa melihat sikapnya.
"Padahal kalau abang cerita, nisa pasti bisa bantu" Ucapnya mengalihkan pandangan dariku.
"Jadi, dimaaffin gak ini?"
Annisa hanya diam dengan pandangan yang lurus kedepan. Aku melihat annisa sedang menahan senyumnya. Petanda ia tidak lagi marah.
"Yehh malah senyum. Dimaaffin gak nih"
"Tapi janji loh gak bakal diulangin"
"Iya" Jawabku riang
"Yaudah. Awas kalau diulangin" Ujar nisa mengancam.
"Iya, jangan manyun gitu donk" Sahutku "Kan udah maaffin"
"Apa sihh" Kata annisa tersipu serambi menepuk lenganku pelan.
"Awwwh sakit" Gurauku.
"Lebay" Ujar nisa tertawa.
"Cinta emang harus lebay"
Dilapangan, pertandingan berakhir dengan tim berkostum biru langit bersorak-sorai merayakan kemenangan. Aku dan annisa menatap kebahagian dilapangan.
"Dikan" Panggil ripo dari depan kantor "Yehh malah mejeng" Ujar ripo "Dipanggil pak hendra ferry"
"Iya" Jawabku.
"Ada apa dengan pak ferry" Tanya annisa tercengang.
"Abang ikut lomba futsal dipadang" Sahutku. "Abang nemuin pak hendra feri" Kataku dan berjalan kearah kantor.
__ADS_1
"Kapan berangkatnya?"
"Besok"