Ruang Hitam

Ruang Hitam
Harmoni


__ADS_3

Kadang. Sesuatu yang tidak disangka-sangka bisa saja terjadi dalam kehidupan.


****


Teruntuk wanita pertama dan


satu-satunya.


Teruntuk wanita pertama dan satu-satunya yang mengatakan akulah pria pengecut. Mungkin, dugaan puan ada benarnya. Tapi, bagaimana jika mulutku lebih percaya pada bisu, ketika diri lebih suka untuk bungkam dan terpaku.


Teruntuk wanita pertama dan satu-satunya yang mengenalkan cinta dalam air mata. Ternyata, luka adalah resiko yang menjadi bagian dalam cinta. Namun, bisa memiliki puan adalah sebuah keajaiban. Seperti ketidakmungkinan yang jatuh kedalam pelukan, ataupun hayalan yang seketika menjadi kenyataan.


Teruntuk wanita pertama dan satu-satunya yang telah menjadi kekasih hati dalam kemustahilan. Bersediakah puan mengamini setiap permohonan dikala detak jantung lebih merdu dari siualan burung. Bersediakah puan menggengam erat dalam bimbingan agar harapan tak lagi menjadi angan belaka.


Teruntuk wanita pertama dan satu-satunya yang menjadi impian dan harapan dimasa depan. Tetaplah menjadi penyejuk dalam layunya hati. Hingga kelak nanti, puan menjadi takdir untuk semua lelah dan jerih payah berpulang.


Teruntuk wanita pertama dan satu-satunya yang kucintai. Aku ingin mencintaimu sampai dunia dan waktu berhenti untuk berputar. Jadi bersiap-siaplah untuk menghadapi rintangan dan jalan yang akan panjang. Semoga kita selalu bisa berpulang pada pelukan.


Aku tersenyum setelah membaca puisi yang baru kutulis. Kulipat empat selembar kertas itu sebelum kumasukan kedalam saku seragamku. Aku dan buk mutia sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Semalam buk mutia memintaku untuk membalas puisinya meskipun kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih.


Bel istirahat pertama telah berbunyi. Buk hamda menutup pelajaran dengan ucapan salam. Tak lupa juga buk hamda meingatkan kami untuk ulangan minggu besok. Aku berjalan keluar lokal dengan perasaan yang bahagia. Peristiwa sore kemarin masih terngiang dikepala sebagai kebangaan diruang hati.


"Jep. Bisa minta tolong?" Tanyaku ketika kami sudah sampai disamping labor.


"Apaan tuh" Sahut ijep penasaran.


Aldi dan nando juga menatap kearahku. Aku menahan tawa. Mereka belum tahu kalau aku dan buk mutia sudah jadian. Aku selalu bercerita pada mereka tentang buk mutia. Dan sebulan terakhir ini aku mengeluh kepada mereka bahwa buk mutia tidak mungkin bisa jadi milikku. Mereka pasti akan terkejut jika aku memberi tahu mereka tentang kejadian kemarin sore.


"Berikan surat ini pada buk mutia"


"Kau menembaknya dikan?" Tanya ijep dan mengambil surat yang kuulurkan "Boleh aku baca?" Sambungnya membuka kertas yang terlipat.


"Tidak usah" Aku menahan tangan ijep untuk membaca surat "Kau lakukan saja dulu tugasmu. Nanti akan kuceritakan"


Ketiga sahabatku menatapku dengan tatapan tajam. Aku membalas tatapan mereka dengan tersenyum. Segerombalan laki-laki kelas sebelas menyapa kami sebelum menuju kantin tek rida.


"Mari jep, kutemani kau memberikan surat cinta itu" Nando merangkul ijep.


"Kenapa tidak dari dulu kau begini" Ujar ijep serambi membalik badan dan melangkah.


Ijep dan nando tertawa meninggalkan kami. Aku dan aldi menunggu mereka didekat ruangan tua. Suara keramain berkeliaran dilingkungan sekolah. Cuaca siang ini sangat cerah.


"Kau menembak buk mutia lewat surat dik? Tanya aldi. Tubuhnya yang sama besar denganku itu bersandar pada tiang tua.


"Aku sudah pacaran dengannya" Sahutku setelah tersenyum.


"Hah iya" Aldi terkejut "Kapan kau menembaknya" Tanya aldi.


"Kemarin" Sahutku singkat.


"Masak iya?" Ucap aldi tak percaya "Baru kemarin kau mengeluh karna buk mutia hanya bercanda dengan perasaanmu" Sambungnya


"Bukan aku yang menembaknya. Tapi dia" Ucapku.


Aldi tertawa meledek. Dia tidak percaya kalau buk mutia menembakku. Aku juga tidak percaya dengan apa yang terjadi kemarin sore. Semuanya berjalan seperti mimpi. Tapi begitulah hidup. Sesuatu yang tidak disangka-sangka bisa saja terjadi dalam kenyataan.


"Bagaimana buk mutia menembakmu. Apa yang dia katakan?" Tanya aldi dengan ekpresi yang masih meledek.

__ADS_1


"Dengan puisi" Sahutku. "Disana cinta itu bersemi" Jelasku menunjuk kesamping labor didepan kami.


Aldi tertawa. Dia masih tidak percaya dengan apa yang aku ceritakan. Aku hanya tersenyum. Aku tidak peduli aldi mau percaya atau tidak.


"Kau berbohong jangan tanggung-tanggung dik. Sekalian aja bilang kalau setelah lulus nanti kau akan menikah dengan buk mutia" Ujar aldi tertawa puas.


"Terserah" Ucapku tak peduli


Aldi terus tertawa dengan ketidak percayaannya. Nando dan ijep menghampiri kami serambi mengobrol tentang tugas akutansi yang akan dikumpulkan besok lusa.


"Buk mutia bilang apa jep?" Tanyaku


"Hanya terima kasih" Jawab ijep.


"Kau tidak bilang kalau surat itu dari calon jodohnya" Gurauku percaya diri


Ijep tertawa menatapku. Wajahnya terlihat meremehkan ucapanku. Kami berjalan diruang tua untuk menuju kekantin tek rida


"Apakah kau masih tertidur dikan?" Ujar ijep.


Aldi dan nando tertawa. Sial. Mereka belum percaya kalau aku dan buk mutia sudah berpacaran.


"Kau kira aku seperti kau yang hanya bisa berhayal untuk memiliki winty" Balasku.


Kami tertawa. Ijep merangkulku serambi berjalan.


"Semoga cintamu diterima" Ucap ijep


"Masih zaman ya nembak cewek pakai surat" Potong aldi menetertawakan.


"Mungkin dikan ingin jadi roman picisan kali di" Ujar ijep melepaskan rangkulan


"Lihat ini kalau kalian tidak percaya" Ucapku dengan mengembangkan layar blackberryku.


Aldi mengambil blackberry dari tanganku. Aldi menarik-narik kata-katanya yang tadi meremehkanku. Mereka melihat Blackberryku secara bergantian. Mereka tertawa takjub dengan memberikan ucapan selamat.


Kantin tek rida sudah ramai ketika kami masuk. Tiga orang pemuda warga padang sibusuk sedang duduk didepan pintu kantin. Aku menyapa mereka yang pernah menjadi senior dua tahun disekolah. Salah satu dari mereka membalas sapaanku dengan bergurau tentang suhaimi. Suhaimi sekarang bersekolah dipadang. Aku berjalan keruang belakang setelah berbincang-bincang dengan tiga orang pemuda itu.


"Kau harus traktir kami untuk merayakan hari jadianmu dikan" Ucap ijep yang duduk dibangku paling belakang.


"Pesanlah apa yang ingin kau pesan" Jawabku serambi menyuruhnya untuk bergeser. Tempat ijep duduk adalah spot terbaikku bila duduk dikantin tek rida. Dari sini terlihat jelas kantin tek rida yang memanjang.


"Beneran dik?" Tanya ijep beralih dari duduknya.


"Tapi aku pinjam uang kau dulu untuk membayarnya" Ucapku bergurau


"Sama aja bohong" Sahut ijep


Aldi dan nando tertawa. Kantin tek rida cukup ramai siang ini. Beberapa orang junior yang juga duduk dibangku belakang juga ikut tertawa. Arga, aldi, dan zico. Aku mengenal banyak juniorku disekolah. Apalagi yang sering duduk dikantin tek rida ketika jam istirahat. Aku pasti akan mengenalinya.


"Terus kamu manggilnya dengan sebutan apa dik?" Tanya aldi


"Sayanglah" Nando yang menjawab


Aku hanya tersenyum tanpa menjawap pertanyaan aldi. Mereka akan terus mempermalukanku jika aku menjawab. Semalam aku dan buk mutia menyimpulkan satu perjanjian. Aku tidak lagi boleh memanggilnya dengan sebutan ibuk. Terserah padaku mau memanggilnya dengan sebutan apa. Sayang, cinta, bunda atau panggilan romantis lainnya. Tapi aku memanggilnya dengan sebutan mutia. Lebih jauh. Selama berpacaran aku tidak pernah memanggil pacarku dengan sebutan sayang atau cinta. Aku selalu suka memanggil kamu atau menyebut namanya saja. Aku merasa canggung untuk memanggil sayang. Apalagi didekat keramain banyak orang.


"Iya dik? Kau memanggilnya sayang?" Tanya aldi

__ADS_1


"Apalah yang kau tanya" Keluhku menggeleng tersenyum


"Ibuk sayang kali di" Ijep menimpali


Mereka tertawa. Aku tertawa kecil menanggapi guraun mereka. Tek rida berjalan membawa dua gelas kuku bima susu kemeja belakang. Aku meminum setelah berbasa-basi kepada junior yang duduk diruang belakang.


"Kalau sudah jadian kenapa tidak kau tulis namanya distatus?" Tanya aldi kembali.


"Nanti kalau dia yang meminta baru kulakukan" Sahutku


"Kenapa harus menunggu diminta?"


Aku hanya diam. Satu hal lagi kebiasaan pasangan remaja zaman kini. Menulis nama pasangannya diakun sosmed mereka masing-masing. Entah itu demi kata romantis atau hanya sebatas eksistensi. Tapi kaena pernah bilang kalau itu agar orang tahu bahwa kita sudah punya pasangan dan tidak diganggu.


"Kau juga harus peka jadi cowok. Lakukanlah tanpa dia minta. Agar dia merasa bahagia"


"Iya kalau dia suka? Kalau dia tidak suka gimana? Apakah dia masih merasa bahagia?" Aku tertawa kecil.


Ijep juga tertawa menimpali kata-kataku.


"Ehhhh lu dibilangan tak percaya" Sanggah aldi malas "Itu rahasia kita sebagai laki-laki. Wanita itu lebih memakai perasaannya ketimbang logika. Wanita itu suka diperlakukan dengan hal-hal yang romantis. Seperti menulis namanya distatus misalnya"


"Iya. Tapi ngak harus dengan itu juga. Buat apa diumbar-umbar kepublik. Iya kalau hubungannya bertahan lama. Kalau hanya beberapa bulam sudah putus gimana" Sahutku.


Nando dan ijep ikut tertawa. Mereka ikut mengamini perkataanku.


"Kalau putus ya tinggal dihapus" Ujar nando berbisik


"Dia bilang apa jep" Tanyaku pada ijep


"Ehhh nando tadi gerogi dirayu sama lamce" Ucap ijep tertawa


"Reska kelas sepuluh tiga?" Tanya aldi.


"Iya, dia mintak nomor hp nando dikantor" Ijep terpingkal-pingkal.


Aku dan aldi juga tertawa. Nando tertawa kecil menahan malu. Beberapa junior yang duduk diruang belakang mulai kembali kedalam sekolah.


"Tapi nando ****** malah diam aja" Ucap ijep


"****** gerogi gua. Mana belum kenal lagi" Jelas nando


Aku tertawa. Nando adalah teman semasa kecilku. Aku dan nando sudah berteman semenjak kami disekolah dasar. Namun dikelas lima nando tidak naik kelas. Nando bertubuh gempal itu sangat pemalu. Apalagi menyangkut dengan wanita. Nando akan merasa minder dan gerogi.


"Gadis kristen itu bukan?" Tanya aldi.


Disekolahku ada dua murid perempuan yang beragama kristen. Mereka junior dua tahun dibawahku.


"Iya dia" jawab ijep "Ternyata ada juga orang yang suka dengan beruang kutub ini" Ucap ijep


Aku dan aldi tertawa.


"Brengsek kau *****. Lebih ganteng aku daripada kau" Umpat nando.


"Kenapa gak lu kasih aja nomor hp lu ndo" Ucapku


"Malu gua dik" Sahut nando.

__ADS_1


Bel sekolah petanda istirahat berbunyi. Kami berempat dan beberapa orang junior keluar dari kantin tek rida. Matahari mulai bersinar terik. Buk asmarni masuk kedalam kelas dengan pelajaran sejarah indonesia. Aku terhanyut dengan cerita buk asmarni tentang orde lama dan orde baru.


__ADS_2