Ruang Hitam

Ruang Hitam
Kota


__ADS_3

Kota yang ramai hanyalah kesibukkan yang penuh dengan tumpukkan dosa dan kemaksiatan.


****


Setelah satu jam kurang lebih perjalanan aku sampai dikediaman sandi. Aku memarkirkan motorku dihalaman rumah sandi. Rumah sandi lumayan luas dengan dua tingkat.  Perkarangan yang luas ditanam dengan berbagai jenis bunga untuk menghias. Aku menaiki tangga dididepan pintu bagasi yang begitu luas.


Aku terkejut ketika ipan menyambutku dengan membuka pintu. Ipan masih bisa tertawa melihat ekpresiku yang tidak menyangka. Aku kira ipan sudah bersembunyi kedalam hutan atau pergi jauh untuk melarikan diri. Tapi ipan terlihat sangat tenang dengan keberanian untuk menghadapi resiko.


"Suasana boleh saja panas, keadaan memang sangat buruk. Tapi pikiran kita harus tetap dingin agar kita bisa mengambil keputup0plllpl1qqpsan dengan tenang. Jangan panik. Bukankah ini semua sudah menjadi resiko yang harus ditanggung.


Ipan benar, semua yang terjadi hari ini adalah resiko yang seharusnya dihadapi. Siapa saja yang akan bermain api harus siap untuk terbakar kapan saja. Kepalaku yang semulanya panik oleh ketakutan, kini telah terasa lega dengan kedamain. Ipan masih membawa satu gram shabu dan sisa paket ganja. Kami menghisap shabu dan ganja daripada kami buang. Hari itu kami memilih senang-senang dirumah sandi.


Pukul lima sore, kami mengantar ipan kekota padang. Avanza silver sandi melaju dijalanan lintas sumatera. Ipan akan menemui temannya yang juga malah melintang didalam lingkaran hitam. Ipan akan tinggal bersama temannya itu untuk melanjutkan kehidupan. Nama ipan sekarang menjadi buronan nomor satu oleh polisi. Ibunya, Ipan mungkin takkan pulang kerumahnya dalam jangka waktu yang belum bisa dipastikan.


Hal serupa juga pernah terjadi pada orang kampungku lima tahun silam. Nama sibandar besar itu bang ucup, dia menjadi pemasok shabu dan narkoba dikabuhpaten sijunjung. Bang ucup berhasil melarikan diri dan sampai saat ini keberadaanya tidak ketahui oleh polisi. Semenjak kejadian itulah muaro bodi menjadi terkenal dengan kasus narkobanya. Ada tujuh warga muaro bodi yang mendekam dilapas sijunjung.


Lampu kelap-kelip kota padang terlihat ketika kami sampai ditanjakan panjang sitinjau laut. Cahaya remang-remang yang jauh menjadi keindahan daratan kota padang dari kejauhan. Kami sampai akhirnya sampai dikota padang. Mataku liar memperhatikan pemandangan dari jendela mobil. Gedung-gedung dan pusat keramain. Ini pertama kalinya aku kekota padang selama hidupku. Aku berdercak kagum ketika mobil avanza sandi melintasi mesjid raya sumbar. Atapnya yang lonjong seperti melambangkan rumah adat asli suku minang. Kami akhirnya berhenti ditepi jalan utama setelah melewati perempatan. Mobil mewah dengan berbagai warna berjejer disisi jalan. Pintu mobil mereka sengaja dibuka dengan musik disko yang mengalun keras.

__ADS_1


Rumah makan laun ombak terlihat tutup diseberang jalan. Kami duduk dengan merokok serambi menunggu teman ipan yang akan menghampiri disini. Jalan khatib sulaiman. Beberapa orang dari club mobil yang tak jauh dari kami menguji kecepatan mobil mereka dijalanan. Bunyi mobil mereka tedengar keras memacu adrenalin siapa yang mendengarnya. Tak lama kemudian teman ipan yang kami tunggu pun datang.


Pria yang berkulit hitam manis itu mengenalkan namanya dengan menyalami kami. Namanya bang aziz, tubuhnya kurus dengan lebih tinggi sejengkal dariku. Kami melanjutkan perjalanan dengan mengikuti bang aziz kosannya. Kami menyimpang kekanan setelah simpang tinju. Kosan bang aziz sangat luas dengan dua pintu. Sofa, lemari, dan tempat tidur menyisakan banyak ruangan kosong didalam ruangan. Kami beristirahat dengan berbincang-bincang. Bang aziz adalah mahasiswa UNAND dengan jurusan pertanian. Bang aziz asli orang payakumbuh.


Malah sudah larut ditengah kota padang. Namun keramain masih aktif disepanjang jalan. Mobil dan motor terparkir disisi jalan depan axana hotel. Kami sampai diparkiran diskotik teebox. Ratusan mobil tersusun rapi diparkiran yang sangat luas. Kami masuk kedalam ruangan teebox setelah diperiksa secara intens oleh penjaga pintu masuk. Musik keras terdengar ketika kamu baru saja didepan pintu. Lampu hijau, biru, dan merah berkedip-kedip menerpa wajahku. Puluhan orang bergoyang didepan **** jockey wanita yang terlihat semangat.


Kami mengambil meja disisi kiri dari pentas disc jockey. Bang aziz berbisik kepada pelayan teebok. Tak lama kemudian pelayan teebok datang dengan membawa minuman yang telah dipesan bang aziz. Vodka dan tiga botol bir kaleng. Bang aziz menuangkan vodka kedalam teko kaca. Kami meminumnya secara bergilir dan bergantian.


Musik **** jockey membuat pengunjung berteriak dan bergerak dengan antusias. Sandi, dori, dan ipan bergoyang kedepan pentas **** jockey. Lampu kelap-kelip menambah meriah suasana malam ini. Aku duduk di bar dengan menggerakkan badan mengikuti alunan musik. Wanita dan seorang laki-laki didepanku berpelukan. Membuat gerakan dan pandanganku terfokus kepada mereka.


"Apa yang kau lihat" Bisik bang aziz ketelingaku.


Aku menggeleng dan tersenyum. Bang aziz memberikan minuman yang sudah diteguknya kepadaku. Aku meminumnya dan menyisakan gelas kosong diatas meja. Wanita dan lelaki didepanku tadi ikut bergoyang didalam kerumunan didepan pentas. Musik semakin mengalun merdu memanggil pengunjung untuk menggerakan badannya.


Semakin malam musik semakin tedengar asik. Disc jockey ikut bergoyang kedepan pentas untuk menyapa pengunjung. Pengunjung berteriak fanatik dengan bergoyang lebih semangat. Aku menolak ajakan sandi yang mengajakku bergoyang kedepan pentas. Bang azizpun ikut dengan mereka dan meninggalkanku sendiri di bar. Aku menelan ludah melihat wanita dan laki-laki itu berciuman bibir. Dari penampilan laki dan wanita itu, aku bisa menilai mereka adalah pasangan selingkuhan.


Bang aziz menambah minuman kepelayan. Kali ini aku tidak apa minumannya. Gelas-gelas kecil sepanjang jari kanan berjejer empat baris dalam kerangka kaca. Bang aziz meneguk habis minuman dengan memenjamkan mata. Akupun ikut minum setelah melihat sandi minum. Gelas kecil itu sangat pahit ditenggorakan. Mataku lansung terasa bereaksi. Aku menghisap rokok dan bergoyang dikursi.

__ADS_1


"Kau tidak pernah bangkit dari tempat dudukmu. Ayok ikut bergoyang dengan kami" Teriak dori didepanku.


Aku menggelengkan kepala. Aku tidak terlalu suka dengan club malam. Aku lebih suka duduk dipinggir jalan ketimbang bersenang-senang ditempat seperti ini. Bagiku, pergi ke club malam hanya untuk menghabis-habiskan uang. Meskipun sensasinya terasa berbeda. Tapi aku lebih suka minum dipinggir jalan yang terasa lebih tenang.


"Aku tidak bergoyang" Ucapku.


"Ah, kau hanya pura-pura cupu" Sahut dori.


Mereka kembali bergoyang kedepan pentas. Aku dan bang aziz duduk bergoyang duduk dibar. Minuman digelas kecil itu tersisa enam gelas dari dua belas gelas dalam satu kerangka. Kepalaku mulai bereaksi dengan denyutan dan mataku yang berkunang-kunang. Tapi aku masih bergoyang dan menikmati musik malam ini.


Sudah hampir waktu subuh. **** jockey terus memainkan musik seakan tak pernah merasa lelah dengan semalaman bergerak diatas pentas. Wanita didepanku mulai muntah dengan memegang kepalanya yang terasa pusing. Lelaki pasangannya membantunya mengusap-ngusap lehernya agar muntahnya segera keluar. Wanita itu menyerah dengan kepala terpaku diatas meja bar. Beberpa pelaya  menutup muntah wanita itu dengan koran. Lelaki itu menyandang wanita yang berjalan tertatih untuk pulang.


"Minuman ini adalah minuman paling mahal" Bisik bang aziz dengan memberikan segelas kepadaku.


Aku mengangguk. Wanita tadi tumbang karna minuman ini. Aku dan bang aziz bersulang sebelum meneguk minum dalam gelas kecil itu. Aku merasa sempoyong ketika aku bergoyang. Mataku terasa berat dan berkunang-kunang. Tapi aku masih mengendalikan diri.


Kami berjalan pulang setelah menghabiskan minum. Aku berjalan keparkiran dengan kepala pusing. Kami kembali kekosan bang aziz. Aku lansung merebahkan badanku yang berat diatas kasur. Kepalaku terasa berguncang ketika aku memejamkan mata. Dan akhirnya akupun terlelap setelah melawan rasa mabukku.

__ADS_1


__ADS_2