
Senyumnya adalah wahana yang menitipkan bahagia kedalam hatiku.
****
Pagi ini, aku terbangun dengan dentuman pintu dan suara dari luar kamar yang sayup-sayup terderngar mengusik ketenangan dalam tidurku.
"Dikan. Sudah jam 7 ini, kau tidak sekolah" Teriak ibu.
"Heuhhhhhh.....aiyaaa" Dengusanku.
Aku menjangkau BB ku yang diatas meja. Ku tatap layar itu masih menunjukkan pukul 05;54 AM. Ah, kebiasaan ibu. Selalu berbohong soal jam agar aku tidak telat sekolah. Aku kembali menenggelamkan wajahku kedalam bantal.
"Dikan, bangunlah" Panggil ibu lagi.
"Iyaa, iyaaa" keluhku. Lalu bangkit dari ranjangku dengan gerakan yang sangat lamban. Badanku terasa berat sekali untuk digerakkan. Aku keluar dari kamar dan duduk dikursi tamu. Mataku terasa berat sekali, aku menyenderkan kepala kekursi. Yang ada pikiranku pagi ini adalah tidur kembali.
"Mandilah lagi. Sudah jam berapa ini" saran ibu.
Aku masih tak bergeming. Mataku masih terasa berat untuk kubukak. Semalam, aku bagadang menyaksikan laga el-clasiko (Barcelona VS Real madrid). Aku mungkin baru tertidur hanya 3 jam, tapi sekarang harus bangun untuk sekolah. Aku ingin bilang kalo hari ini aku tidak ingin sekolah. Atau berpura-pura sakit saja agar aku diizinkan tidak sekolah. Tapi kemudian aku mengenyahkan keinginanku itu.
"Makanya pulang tuh jangan malam-malam. Udah tau besoknya mau sekolah" Kata ibu
Aku hanya diam. Pikiranku masih dalam keadaan setengah sadar. Bius mabuk hari kemarin membuat badanku terasa lelah. Mataku pagi ini terasa berat dan pandanganku berkunang-kunang. Aku ingin tidur lagi.
Mama terus berceloteh memperingatkan agar aku sadar akan kewajibanku sebagai pelajar dan tak lagi harus pulang larut malam. Begitulah mama, ia selalu hanya mencoba mengingatkan tanpa pernah benar-benar melarangku. Dulu, orang tuaku adalah termasuk golongan orang berada dinegeri sunda sana. Bapak punya usaha taylor. Bapak punya banyak kariawan yang mengobral celana dan baju. Dan kami juga punya rumah tiga tingkat disana. Aku pernah tiga tahun yang lalu tinggal dirumah itu selama enam bulan. Sebelum akhirnya dijual karna keadaan ekonomi yang semakin mendesak dikampung. Dan kata abang, sejak kelahiranku ekonomi keluarga mulai menurun hingga akhirnya bangkrut. Tapi mama bilang itu hanyalah tragedi yang bertepatan dengan lahirnya aku kedunia ini.
Aku terus mendengar mama berceloteh dengan mata yang terpejam. Kemarin, seusai main futsal aku bertemu dengan dodi dan sandi yang juga bersekolah di sekolah genji. Dodi dan sandi adalah manusia dalam gelap. Dodi pernah mengajakku kesekolahnya dan memperkenalkan aku dengan sandi. Sandi ternyata juga manusia dalam gelap. Dari sandi aku bisa mengenal banyak orang dalam manusia dalam gelap. Salah satunya bang dedek yang juga menjadi teman bisnisku dalam LGN. Semalam aku, dodi, bang dedek, sandi dan putry--Pacarnya sandi. Menghabiskan malam dengan royal-royal disebuah tempat karoeke didaerah muaro kalaban. Semalam aku mabuk berat dengan minuman kelas kakap. Malam itu sandi sangat royal sebagai perayaan hari ulang tahunnya. Aku seperti merasakan kehidupan malam anak-anak pejabat dan orang kaya.
Ibu sandi adalah dokter umum, dipuskesmas tanjung ampalu. Sedangkan bapaknya petani cabe yang sukses. Tak heran kalau dia bisa menservice kamu dengan menyediakan bir dan miras ternama yang disediakan oleh berbequi. Sandi menyuruh kami untuk memilih minuman masing-masing. Dan kemarin mensen dan cimeng berhasil membuatku menjadi berat. Tapi masih bisa kukendalikan dan terasa damai. Buktinya aku masih menonton partai final liga champion sebagai derbi el-clasico.
"Woi, mandi lah lagi" Ujar mama lagi. "Kamu sudah kelas tiga jangan telat-telat lagi" Sambung mama.
Aku berjalan kekamar dengan perasaan malas. Badanku terasa berat untuk kugerakan. Kupaksakan berjalan kekamar mandi setelah mengambil handuk dari kamarku.
Setelah selesai mandi. Ibu tersenyum kepadaku ketika aku baru saja keluar dari kamarku.
"Masukkinlah baju" Ibu berjalan kearah meja makan.
"Iya, nanti disekolah dimasukkin kok"
Aku duduk diruang tamu dan memakai sepatuku.
"Dasi sama topi jangan sampai lupa?" Teriak ibu.
"Sudah kok"
"Nih, sarapan dulu" Tawar ibu dengan menyodorkan piring yang berisi nasi dan telur mata sapi diatasnya.
"Enggaklah" jawabku menolak.
"Eh makan dulu lah, biar kuat upacaranya"
"Nanti disekolah juga bakalan makan kok dikantin" jawabku.
__ADS_1
"Iya, dirumah makan dulu, nanti disekolah juga makan"
Begitulah ibu. Ia selalu memaksa. Padahal, aku sendiri tidak mau makan. Dan ibu takkan berhenti memaksa sebelum aku memakan sarapan itu.
Aku tersenyum mengambil sepiring sarapan dari tangan ibu. Ibu juga tersenyum dan duduk dikursi didepanku. Nampak jelas dari raut wajahnya bahwa ia terlihat bahagia ketika aku mulai memakan sarapan yang tadi dibuatnya.
"Kamu sudah kelas tiga loh sekarang" Kata ibu "Jangan bikin masalah lagi disekolah" sambungnya.
Aku hanya mengangguk dan melanjutkan makan.
"Banyak guru yang bilang kalau kamu itu anak yang pinter. Cuman ya tertutup aja sama kenakalan kamu"
"Ah ngak perlu sekolah pinter-pinter. Bisa naik kelas saja sudah cukup" jawabku.
"Ya harapan ibu cuman satu. Kamu bisa tamatin SMA." Ibu berdiri dari duduknya "Yang penting jangan sampe kelewatan batas aja bandelnya kamu" sambungnya dan meninggalkanku diruang tamu.
Ibu adalah alasan kenapa aku mati-matian untuk menuntaskan remedi. Disaat suhaimi teman sekelasku mulai pasrah bahwa ia tidak akan naik kelas. Aku berubah total hanya karna tidak ingin tinggal kelas dan membuat ibu kecewa.
Aku pernah meminta untuk berhenti sekolah. Selain tidak ada niat. Aku juga merasa kasihan dengan ibu yang berjuang sendirian untuk membiayai sekolahku. Aku ingin bekerja dan tidak lagi menyusahkan ibu. Tapi ibu ngotot dan memohon agar aku tetap bersekolah. Setidaknya aku bisa tamat SMA walaupun tidak berlanjut keperguruan tinggi.
Tapi aku juga tidak bisa mengontrol diriku sendiri untuk tidak melakukan hal yang aku suka dan membuat ibu kecewa.
Jalan dusun tuo didepan rumahku mulai ramai dilewati kendaraan. Aku mengambil tasku didalam kamar dan siap untuk berangkat kesekolah.
"Bu, dikan berangkat dulu ya" Pamitku dari ruang tamu.
"Iya, hati-hati dijalan"
"Oke"
"Iya ibu yang cerewet" Gurauku
"Jangan lupa juga tutup pintunya"
Aku tersenyum kecup. Aku berangkat kesekolah dengan perasaan yang bahagia. Meskipun bahagiaku tidak lengkap tanpa adanya kehadiran bapak.
****
Aku melirik jam ditangan kananku ketika aku baru saja sampai digerbang zona sekokah. Pukul 7 lewat 20 menit. "Sial, pasti sudah telat ini" Rutukku. Aku menambah kecepatan motorku dijalan beton zona sekolah. Didalam zona sekolah terdapat beberapa sekolah diantaranya SMA 4, MAN 1, SMP, SD, dan MTSN.
Suara rem motorku terdengar hingga membuat semua mata mengarah kepadaku.
"Dikan, masih telat juga kamu" teriak pak chato-satpam yg duduk di kedai tek nur.
Aku hanya menoleh tanpa menghiraukan perkataan chato. Masa bodo denganya. Toh, aku juga sedang berusaha untuk tidak terlambat. Ditanjakan sesudah pertigaan. Aku kembali menambah gas motorku.
"Tit.....tit. Tiiiiitttt" bunyi klaksonku ketika soerang cewek yg berjalan agak ketengah. Cewek itu tersentak dan kemudian lansung menghindar ketepi jalan. Aku menoleh kebelakang. Aku melihat gadis itu memasang wajah masam melihatku congo. Siapa gadis itu? Dia berpakain seperti guru? Apakah dia PL disekolahku juga? Tapi aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Aku masih ingat wajah dan nama mahasiswa yang PL disekolahku. Sepertinya dia bukan guru PL disekolahku. Dan itu bagus.
Aku memarkirkan sepeda motorku didepan kantin tek rida.
"Tuh dikan" Kata tek rida setelah melihatku.
"Apa tek?" Sahutku.
__ADS_1
"Konsi you mencari" Jawab tek rida.
"Dikan" Panggil seseorang dari dalam kantin. Itu suhaimi. Dia duduk ditemani afdol dan nurfan. Hanya mereka penghuni kantin tek rida pagi ini.
"Ada apa?" tanyaku lansung
"Duduklah dulu" Tawar afdol. "Buru-buru amat" Sambungnya.
"Iyalah, gua mau upacara ini" Sahutku.
"Upacara apa-apaan orang udah mau siap lu baru datang" Jawab nurfan.
"Nanti ada spring futsal dengan anak MAM, rombong afdol sama nurfan. Lu ikut ngak?" Tanya suhaimi.
"Eh enggak lah, lanjut aja, gua ngak mau bolos lagi" Jawabku.
"Bah, lemah amat lu sekarang. Biasanya juga lu ngajakin kita-kita futsal" Ujar nurfan.
"Kapan-kapanlah, gua gak mau kena masalah lagi. Yah lu tau lah fan. Sekarang cuman tinggal gua sendiri. Jadi gua ngak mau kena masalah lagi"
"Yaelah culun amat lu sekarang" Ujar afdol
"Suka-suka lu dah" Jawabku dan tertawa.
Aku sudah berjanji sama diriku sendiri bahwa aku akan berubah. Setidaknya aku tidak lagi cabut dan bolos sekolah. Aku akan berusaha untuk masuk dari pagi sampai pulang walaupun itu akan terasa sangat membosankan. Yah, paling tidak itu hanya tinggal setahun lagi. Tapi pagi ini aku kembali tidak mengikuti upacara.
Afdol dan nurfan bercerita tentang sekolah baru mereka. Mereka bilang sekolah mereka adalah sekolah yang bebas. Masuk atau tidak mereka tetap akan lulus. Ya jelas saja. Toh, sekolah mereka adalah sekolah penampungan anak-anak yang tinggal kelas. Sedangkan suhaimi masih mengurus surat pindahnya ke SMA PGRI dikota padang.
Aku terlalu asik mengobrol dengan suhaimi, nurfan, dan afdol. Hingga aku lengah dan tak melihat pak ferry--guru olahraga yang bertugas mencari murid yang tidak ikut upacara. Aku tersentak melihat pak ferry yang sudah berdiri didepan pintu kantin. Tidak bisa aku untuk mengelak lagi. Dengan segera aku membuang rokokku kelantai.
"Teguh mau bapak pindahin juga kesekolah afdol?" Ujar pak ferry sambil berjalan kearah kami.
"Tidak pak, tadi telat bangun pak" Sahutku malu.
"Pindah aja lah ya, biar kalian tetap bisa bareng-bareng" kata pak ferry
Aku hanya diam. Lalu berdiri. Afdol, nurfan, suhaimi tertawa puas. Dulu, kami berempat sering dikejar-kejar pak ferry karna tidak mengikuti upacara. Ada rasa senang walaupun akhirnya kami mendapat hukuman hormat bendera selama dua jam. Tapi kini, aku merasakan begitu takut menghadapi pak ferry sendirian.
"Ayookk kantor" Ujar pak ferry.
Aku berjalan mengikuti langkah pak ferry. Afdol dan nurfan melambai dan tertawa puas. Sial, aku akan hormat bendera lagi selama berjam-jam.
Sampai didalam kantor. Pak ferry menyuruhku duduk dikursi tamu. Didalam kantor hanya ada dua orang guru. Sebagian guru lagi masih mengikuti upacara dilapangan. Buk asmarni tengah sibuk berbicara dengan seseorang wanita yang cukup muda. Buk asmarni tersenyum kepadaku.
"Masih dikan lagi, ngak bosan-bosannya" Ujar buk asmarni dan berjalan meninggalkan kantor.
Aku hanya tersenyum malu. Buk asmarni adalah guru yang baik. Jika sebagian guru merasa kesal dan marah kepada anak-anak nakal sepertiku. Buk asmarnilah yang merangkul dan mengajak kami untuk berdiskusi.
Musik drumband yang menyanyikan satu lagu wajib nasional terdengar melantun didalam kantor. Sekilas pandanganku terlengah kepada wanita yang tadi berbicara dengan buk asmarni. Wanita tersenyum. Entah kepada siapa dia tersenyum. Didalam kantor kini hanya ada aku dan wanita itu. Senyumnya sungguh memukau dengan lesung dikedua pipinya yang dalam. Wanita itu terus tersenyum walaupun aku menatapnya.
"Kenapa?" Tanyaku heran.
Dia lansung menundukkan kepalanya. Seperti ia malu denganku. Siapa wanita muda itu? Apakah dia guru PL juga? Tapi aku baru kali ini melihatnya. Kelak aku akan memiliki cerita dengan wanita itu. Baca saja.
__ADS_1
Pak ferry datang dengan membawa buku kasus. Aku memberikan tanda tanganku. Lalu pak feri menyuruhku berjalan kelapangan dan melakukan ritual atas keterlambatanku.