Ruang Hitam

Ruang Hitam
Rindu


__ADS_3

Rindu adalah hukum alam dari perasaan jatuh cinta.


****


Desember telah datang sebagai bulan yang mengakhiri tahun. Bulan yang menjadi rangkuman untuk semua yang telah terlewati dalam tahun ini. Dan bulan desember juga datang dengan ujian akhir semester yang membuat para murid dikejar-dikejar deadline. Murid yang biasanya merasa malas untuk membuka buku, kini terlihat semangat membaca buku sebelum ujian dimulai.


Pagi sangat cerah menyambut ujian ketiga. Semua murid menunggu pengawas didepan ruangan ujian. Bell masuk sudah berbunnyi sedari tadi. Tapi belum ada satupun pengawas yang keluar dari kantor. Aku duduk dianak tangga dekat kelas sepuluh tiga. Bercampur dengan segerombolan anak kelas dua belas lainnya. Aku mendapat ruang tiga dengan lokal sepuluh tiga sebagai tempat ujian. Ruangan ujian berjumlah enam belas ruangan yang berurut dengan kelas sepuluh satu sebagai ruang satu.


Aku mengeluarkan blackberry dari dalam tas. Delapan kurang sepuluh menit. Sudah dua puluh menit pengawas ujian terlambat dari jadwal yang sudah ditentukan. Beberpa murid terlihat membaca buku untuk kembali melanjutkan hafalan. Dan ada juga yang mengisi kebosanan dengan mengobrol tentang pelajaran. Sedangkan ketiga sahabatku sibuk berdebat perihal rumus matematika. Ujian dihari ketiga ini adalah matematika dan pkn.


Aku mengotak-atik blacberryku untuk mengusir kejenuhan pagi ini. Aku tersenyum melihat PM mutia dari beranda pembaharuan BBM. Hari ini genap satu bulan hubunganku dengan mutia. Waktu begitu cepat berlalu untuk menjadikan banyak kisah dan peristiwa sebagai kenangan.


Mutia Heriyenti


Happy annive Goblinku😘💙


Tadi pagi sesudah bangun tidur. Mutia berharap agar hubungan kami sampai pada anniversarry yang ke-sepuluh ribu. Aku hanya mengamini harapan mutia dengan tertawa. Beberapa minggu ini aku dan mutia memang sudah saling terbuka dan begitu akrab tanpa ada lagi rasa canggung. Hampir disetiap obrolan kami melahirkan canda dan tawa yang membuatku merasa sehati dan sejiwa dengan mutia.

__ADS_1


Aku melihat history chat dengan mutia yang begitu panjang. Mutia memanggilku dengan sebutan goblin. Mutia pernah mendengar gani memanggilku goblin. Lalu mutia ikut memanggilku goblin setelah kujelaskan. Mutia bilang goblin adalah film drama korea yang sangat disukainya. Dan aku memanggil mutia dengan sebutan tingkerbell. Dan Blackberryku bergetar ketika aku masih melihat obrolan dengan mutia dua minggu yang lalu.


Mutia Heriyenti


"Aku nanti kesekolah kayaknya. Ngurus laporan pkl. Kamu yang semangat ujiannya"


Aku tersenyum meilhat pesan mutia yang baru saja masuk. Ada perasaan senang ketika aku tahu mutia akan datang kesekolah pagi ini. Sudah tiga hari ini mutia tidak datang kesekolah. Guru PKL diberi kebebasan untuk tidak hadir kesekolah selama ujian akhir semester berlansung. Namun kebebasan itu menjadi duka yang membelenggu didalam hatiku. Aku merasakan rindu semenjak mutia tidak lagi hadir beberapa hari ini. Namun aku mengerti; Rindu adalah hukum alam dari perasaan jatuh cinta.


Mutia Heriyenti


Kamu masih main hp didalam lokal. Kamu ujian loh bukan belajar. Nanti ketangkap hp kamu baru tahu rasa.


Sebagian murid mulai berisik memberi tahu bahwa guru pengawas sudah keluar dari kantor. Aku mematikan blackberryku setelah membalas pesan mutia. Buk det dan buk neli berjalan menuruni anak tangga didepan ruangan ujianku. Aldi dan nando satu ujian diruang empat. Sedangkan ijep ujian diruang enam dikelas sebelas, didekat lapangan. Kami berbaris rapi dan menyalami tangan buk det sebelum memasuki ruangan. Buk det menjelaskan kenapa ujian hari ini terlambat setengah jam dari jadwal yang sudah ditentukan. Buk det berbicara serambi membagikan kertas ujian. Anak drumband akan mengikuti lomba tingkat provinsi januari besok. Dan tadi para guru rapat membahas penggalangan dana untuk januari besok. Buk det bilang untuk mengikuti lomba tingkat provinsi itu memerlukan banyak uang.


Aku terbenam dalam keheningan ruang ujian. Otak kiri dan otak kanan saling berperang untuk mencari jawaban dari angka-angka. Aku mengerjakan soal matematika dengan kepala dingin. Ujian matematika akan terasa mudah jika kita tahu dengan rumusnya. Beberapa jawaban hanya asal kuisi sebab aku tidak menemukan jawabanya. Padahal aku sudah yakin kalau aku sudah menggunakan rumus yang tepat.


Hanya empat puluh menit terlewati. Aku melangkah kedepan untuk mengumpulkan kertas ujian. Aku tidak ingin memaksakan kemampuanku. Aku melangkah keluar ruangan setelah menyalami tangan buk det. Belum sampai aku ruangan. Aku melihat mutia yang berjalan melintas didepan ruangan ujianku. Mutia berjalan dengan terburu-buru dan tak melihatku. Mutia memakai rok hitam dengan baju hitam yang dilampisi dengan jacket atau almameter.

__ADS_1


"Buru-buru amat buk" Sapaku berjalan dibelakang mutia.


Mutia menoleh kebelakang dan terkejut melihatku yang ada dibelakangnya. Wajah terkejut mutia berganti mencibir setelah melihatku tertawa.


"Sudah siap aja dikan ujian?" Tanyanya


"Udah" Jawabku setelah sampai didepan mutia berdiri.


"Asal-asal isi aja pasti ujiannya" Ucap mutia berjalan disampingku.


Aku hanya tersenyum dan menatapnya. Alis mata mutia terangkat.


"Ibuk tambah gendut aja" Ucapku menggoda.


Mutia menghentikan langkahnya. Keningnya berkerut. Aku tertawa kecil melihat ekpresinya. Aku terus berjalan dengan bibir yang tersenyum.


"Doa in laporan ibuk di acc ya" Ucap mutia.

__ADS_1


Aku menoleh dan mengangguk. Mutia tersenyum dan hilang didalam kantor. Aku berjalan menuju kantin tek rida untuk makan dan merokok.


__ADS_2