
Setiap orang punya kesempatan untuk menyembuhkan diri rasa sakit.
****
Aku permah mendengar ataupun lirik lagu yang mengatakan bahwa cinta tidak juga bisa tidak memiliki. Dan itulah yang kini tengah aku rasakan kepada buk mutia.
Aku kembali kalah oleh rasa pesimis untuk kedua kalinya. Hal serupa juga pernah kurasakan tiga tahun yang lalu terhadap fiona. Aku bukanya tidak berani untuk mengatakan perasaanku yang sebenarnya. Hanya saja, aku merasa tidak yakin bahwa fiona akan membalas perasaanku. Oleh karena itulah aku memilih untuk memendam. Merahasiakan cinta dan luka sedalam-dalam mungkin. Lalu aku menjadi mengerti tentang arti keikhlasan dalam mencintai.
Aku sudah terbiasa hidup dengan rasa sakit. Keluarga yang berantakan cukup menjadi gambaran betapa pedihnya kehidupan yang sedang aku jalani. Namun aku sudah melatih diri untuk tidak mengeluh dan tidak menyerahkan hidup kepada rasa sakit. Aku selalu percaya bahwa setiap manusia punya kesempatan untuk menyembuhkan diri rasa sakit. Maka dengan begitu, patah dalam bercinta bukanlah masalah yang besar bagiku.
Matahari bersinar sejuk disiang selasa. Sinarnya tak terasa panas meskipun sudah masuk setengah hari. Kelasku bersorak-sorai menyambut pelajaran olahraga dijam ke-enam. Doris dan aldi mengganti seragam didalam kelas tanpa peduli dengan murid perempuan yang masih ada didalam lokal. Beberapa teman perempuanku menjerit jijik dan melangkah keluar dari kelas. Aku, nando dan ijep juga ikut mengganti seragam dengan pakain olahrga.
Aku dan aldi berjalan kekantor dengan riang setelah mengganti pakain olahraga. Siswa selalu bersemangat dengan pelajaran olahraga. Didalam kantor buk ida sedang berbincang dengan buk febi, buk ida, dan buk de. Aku dan aldi berjalan masuk kedalam kantor lewat pintu sebelah kiri. Kantor guru memiliki dua pintu masuk dibagian depan. Satu lagi disebelah kanan dekat barisan lokal sepuluh, dan satu lagi disebelah kiri disampang labor komputer.
"Asalamulaikum" Salamku. "Ada pak hendra ferry buk" Aku pura-pura menanya.
Pagi ini pak hendra ferry tidak hadir disekolah karena ada keperluan dimuaro. Pak hendra ferry adalah pelatih atletik lansek manih di porprov tahun ini. Ada lima siswa sekolahku yang menjadi anak didik pak ferry diajang porprov yang akan diselenggarakan dipayakumbuh. Dan tiga diantaranya bisa tampil mengharumkan nama sijunjung sampai tingkat nasional dijakarta timur.
"Pak hendra ferry. Olahraga dikan sekarang?" Tanya buk ida pada kami.
"Iya buk. Kami boleh minjam bola buk?" Aldi bersuara.
"Minta sama buk febi. Buk febi guru piket" Jawab buk ida.
Aku berjalan masuk kedalam kantor. Buk febi lansung berdiri dari duduknya. Buk mutia dan buk diana duduk bersebelahan dipojok dinding dekat pintu. Aku menyapa buk mutia dengan tersenyum. Buk mutia membalas dengan tersenyum. Ada kebahagian yang dititipkan semesta ketika aku melihat senyum buk mutia.
"Kenapa ibuk senyum-senyum sendiri" Tawa aldi menepuk pundakku.
Lesung pipi dari senyum buk mutia hilang dengan seketika. Buk mutia menatap aldi dengan wajah datar. Aku tersenyum melihat ekpresinya yang berubah dengan tiba-tiba. Bahkan saat wajahnya tanpa ekpresi buk mutia tetap terlihat cantik bagiku. Atau mungkin aku saja yang telah menjadi gila karna cinta. Hingga apapun bentuk wajah buk mutia akan terlihat cantik oleh mataku. Buk diana tertawa kecil serambi menggelemgkan kepala melihat aldi.
"Giliran pelajaran olahraga saja guru dicariin kalau ngak masuk" Ucap buk febi.
Aku dan aldi hanya diam. Kami mengikuti buk febi yang berjalan ke arah gudang yang dipojok depan kantor. Langkah kaki terdengar berlari kearah kantor. Doris dan nofri masuk kedalam kantor dengan nafas yang terengah-engah.
"Nih satu lagi ah... Jam olahraga ditukar sama pelajaran MTK" buk ida mencoba untuk bergurau.
Doris dan nofri hanya tertawa dengan menyanjung-nyanjung buk ida. Doris dan nofri adalah anak kesayangan buk ida didalam kelas. Doris dan nofri adalah anak yang pintar dalam pelajaran matematika. Mereka sering menjadi pesaingku dalam kuis matematika. Dalam kuis matematika, Siapa yang lebih dulu menyelesaikan soal akan diberi hadiah berupa uang oleh buk ida.
"Aldi. Aldi masih ada remedi sama ibuk" Ujar buk de.
"Iya buk" Sahut singkat.
"Semester lima, UH satu, UH dua. Kapan mau dituntasin"
"Iya buk, segera" Jawab aldi.
Buk de berceloteh tentang aldi. Buk ida mengamini kata-kata buk de. Sedangkan buk mutia dan buk diana tertawa senang melihat aldi. Aldi tertawa kecil menerima pembalasan dendam buk mutia dan buk diana. Buk febi mempersilahkan kami masuk kedalam gudang untuk mengambil bola. Aldi mengambil bola kaki untuk kami bawa kelapangan.
"Dikan tuh anak yang pintar sebenarnya. Tapi sayangnya dia tidak peduli dengan kepintarannya itu"
Aku mendengar buk ida menyebut namaku setelah keluar dari gudang. Buk mutia menatapku panjang. Kami beradu pandang beberapa detik sebelum akhirnya buk mutia mengalah dan memalingkan mukanya.
"Dia hanya peduli dengan kenakalannya" Buk febi ikut menimpali.
Aku hanya tersenyum kecup. Lalu berlari kebawah menuju kelapangan. Didepan kelas sepuluh empat. Bojek dan teman prianya yang lain sedang duduk diluar kelas mereka. Sepuluh empat mendapatkan jam nganggur setelah jam isirahat. Kami berjalan menuruni anak tangga didepan kelas mereka
"Ada, lawan?" Tanya bojek kepadaku.
"Bukan kau tandinganku" Sahutku tertawa remeh.
"Bilang saja kau takut" Sahut bojek.
Aku hanya tertawa kecil sambil berjalan kelapangan. Bukan mereka tandinganku. Aku tidak sehebat runtuboys yang bisa masuk timnas futsal indonesia. Tapi aku merasa lebih hebat dari bojek dan teman-temannya yang lain.
"Sparing kita di?" Tanya bojek ke aldi yang berjalan dibelakangku.
Aldi terdengar sedang berdiskusi dengan bojek. Aku berjalan dan memainkan bola dilapangan. Doris dan nofri juga ikut berdiskusi dengan mereka. Tak lama setelah itu mereka berjalan menghampiriku kelapangan.
"Kau pecundang dikan" Teriak bojek dari atas.
Aku hanya diam dan tertawa mendengar ujaran bojek. Aku bukannya tidak mau menerima tantangan bojek. Tapi aku merasa lemah dengan kemampuan teman-temanku yang lain. Doris, aldi, dan nofri hanya sekedar bisa bermain futsal. Sedangkan nando dan ijep memang tidak mengerti selain hanya menendang bola kegawang lawan.
"Dik....Terima saja tantangan mereka" Kata doris menyarankan.
Aku mengangguk setelah aldi dan nofri juga bersemangat untuk menerima tantangan mereka. Bojek dan teman-temannya berlari dengan semangat kedalam lapangan. Pertandingan siang ini dimulai dengan enam lawan enam. Tim kami memakai baju olahraga sedangkan tim bojek memakai seragam putih abu-abu.
"Seribu perkepala" Ujar bojek pongah dari gawangnya.
"Dua ribu lah" Aku tidak mau kalah.
"Oke, siapa takut"
__ADS_1
Aku menendang bola keatas langit yang menandakan pertandingan telah dimulai. Nando dan ijep yang kurang bisa bermain bola menjadi gelak tawa dalam permainan siang ini. Pertandingan berjalan seru dengan permainan yang saling menyerang. Bojek berteriak angkuh ketika tendangan kerasku kembali dipatahkan untuk menjadi gol. Tullo mencetak go kedua dengan selisih lima menit dengan gol pertama.
"Dua kosong" Ucap tullo bangga.
"Kau lihat sekarang dikan. Lain kali jangan pernah lagi meremehkan kami" Teriak bojek dari gawangnya.
Aku hanya tertawa kecil. Aku sedang dibawah kendali mereka. Mereka hanya butuh satu gol lagi untuk mengunci kemenangan mereka.
Pertandingan kembali dilanjutkan. Aku menggocek bola dan melewati beberapa lawan dengan sendirian. Namun lawanku memang memiliki kehebatan yang sama rata denganku. Aku sudah tidak heran lagi dengan kehebatan anak-anak nagari padang sibusuk dalam bermain futsal. Mereka sedari kecil sudah melatih diri dengan bermain di gor montela. Sedangkan aku hanya bermain bola disawah.
Gol akhirnya tercipta dengan tendangan keras dari tengah lapangan. Tambakanku berhasil membuat bojek mati langkah. Skor berubah menjadi 2-1. Pertandingan menjadi sengit. Aldi sebagai kiper mati-matian menahan serangan mereka. Aldi mengoper bolanya kepadaku setelah berhasil menepis tembakan tullo. Dengan skill ala neymar aku melewati tiga pemain lawan. Aku berhadapan dengan bojek. Aku membagi bola kepada doris setelah didepan gawang. Bojek terkecoh dan mengeluh. Doris berselebrasi layaknya pemain bola profesional. Tangannya yang dibentangkan seperti sayap pesawat. Doris berliuk-liuk ditengah lapangan dengan selebrasinya. Buk mutia dan buk diana tertawa kecil melihat selebrasi doris.
"Kemana ibuk?" tanyaku pada buk mutia.
"Tempat pak apin. Ikut dikan ngak?" Sahut buk mutia.
"Mau. Tapi bayarin yah" Ucapku bergurau
Buk mutia mengangguk dan tersenyum. Aku juga membalasnya dengan senyum. Lalu kembali kedalam permainan. Buk mutia dan buk diana berjalan kedalam kantin pak apin. Pertandingan akhirnya dimenangkan oleh bojek dan teman-temannya. Aku dan aldi berlari kedalam kantin pak apin. Nando, ijep, nofri, dan doris ditahan oleh bojek dan teman-temannya. Mereka meminta uang taruhan sebagai pemenang.
Dikantin pak apin hanya ada buk mutia dan buk diana. Mereka berdua baru saja siap sarapan dengan piring kotor didepan mereka. Buk mutia tersenyum ketika aku dan aldi masuk kedalam kantin pak apin. Aku lansung memesan minuman dingin kepada bik surti.
"Kenapa ibuk senyum-senyum sendiri dari tadi" Tanya aldi.
Aku tertawa melihat ekpresi buk mutia. Buk mutia imut sekali dengan bibirnya yang mengerucut. Aldi duduk didepan buk mutia. Sedangkan aku duduk disamping aldi. Buk mutia menatap aldi dengan wajah cemberut.
"Mungkin. Buk mutia lagi bahagia di" Sahut buk diana menatap aldi lalu menatap kearahku.
"Bahagia kenapa ibuk? Sampai-sampai senyum sendiri?" Aldi membuka bajunya olahrganya. Keringat mengalir dibaju dalamnya yang putih.
"Serba salah ibuk sama aldi nih. Senyum salah, marah-marah juga salah" Sahut buk mutia.
"Iya kenapa ibuk senyum-senyum terus dari tadi. Jadian ibuk sama pak fadlan?"
Buk mutia semakin cemberut dengan keningnya yang ikut berkerut. Aku menatap buk mutia. Apakah buk mutia juga dekat dengan pak fadlan? Tapi aku merasa bahagia melihag buk mutia yang dibikin kesal oleh aldi.
"Bang aldi. Bayarlah bang" Ujar junior berjalan kedalam kantin pak apin.
"Aldi ini sudah kalah tidak mau bayar" Gurau doris dibelakang adan.
Aku tertawa kecil melihat ada menagih uang taruhannya. Aldi dengan mengeluh mengambil uang didalam sakunya.
Adan lansung pergi dari kantin pak apin setelah menerima uang yang diberikan aldi.
Junior itu hanya menoleh dan terus berjalan. Aku tertawa melihat juniorku yang tidak menghiraukan perkataan doris. Takkan ada yang berani meminta uang taruhan kepadaku. Aku memang disegani disekolah.
"Takut dia minta sama dikan kali" Kata nofri.
"Kalian taruhan dengan kelas sepuluh?" Tanya buk mutia.
"Jawablah pertanyaanku buk. Kenapa ibuk bahagia?" Tanya aldi lagi memperolok-olok buk mutia.
Kami tertawa mendengar ucapan aldi. Wajah buk tadinya mulai berseri kembali masam melihat aldi. Doris dan nofri pamit berjalan kedalam lokal untuk mengganti baju seragam.
"Ceritalah, bahagia kenapa ibuk. Abis ketemuan ibuk sama pacar ibuk?" Aldi mendesak buk mutia.
"Apalah aldi ini. Aneh" Ucap buk mutia dengan wajahnya yang manyun.
Aldi tertawa. Doris dan nofri kembali kedalam kantin pak apin. Entah kenapa mereka tidak jadi mengganti baju. Mereka memesan minuman dingin kepada bik surti. Dan duduk kursi dibelakangku.
"Sama siapa di Buk mutia jadian? Sama pak fadlan" Tanyaku memancing untuk memastikan.
"Iya, buk mutia lagi deket sama pak fadlan" Jawab aldi meneguk minumannya.
Aku menatap kearah buk mutia. Wajahnya tampak kesal dan tidak suka.
"Aldi nih tukang gosip. Dari mana aldi dapat gosip murahan seperti itu" Tanya buk mutia mengeluh.
"Pak fadlan sendiri yang bilang kalau dia suka sama ibuk" Sahut aldi tertawa dan berdiri dari duduknya.
"Jangan gitulah bercandanya. Nanti kalau orang lain dengar gimana" Keluh buk mutia dengan wajah yang serius.
"Kalau iya apa salahnya?" Ucapku.
Aldi mengamini kata-kataku dan berjalan kedalam rumah pak apin. Kami semua tertawa. Buk mutia memasang wajah masam menatapku. Aku tersenyum melihat buk mutia. Buk mutia mengalihkan pandangannya dariku.
"Tapi kalau pacar ade itu bukan gosip kan?" Tanyaku menggoda.
Buk mutia menghembuskan nafas kasar. Kelihatan sekali wajahnya kesal dengan pertanyaanku. Tapi aku malah lebih suka menggoda buk mutia.
"Dari mana pula dikan tahu ibuk pacar ade?" Kata buk mutia.
__ADS_1
"Dari status ibuk" Sahutku singkat.
"Iya ibuk pernah pacaran dengan yang namannya ade. Tapi udah putus tiga bulan yang lalu" Jelas buk mutia
"Terus kenapa status ibuk masih nama dia? Masih berharap?" Tanyaku.
"Dikan baru semalam berteman dengan ibuk di BBM. Tapi sudah sok tahu" Ucap buk mutia dengan wajahnya yang tetap manyun.
"Dikan lihat sebulan yang lalu didepan labor buk. Ibuk waktu itu lagi main hp terus dikan ngak sengaja lihat status ibuk dengan nama Ade Spd" Jelasku.
"Tanyalah doris sama nofri yang sudah lama berteman dengan ibuk di BBM" Ucap buk mutia "Doris, emang ada status ibuk nama cowok?" Tanya buk mutia ke doris.
Doris menatap kearahku. Aku mrngedipkan mataku agar doris membantuku untuk membuat buk mutia kesal
"Iya ada.. Siapa ya namanya.... Lupa" Sahut pura-pura berpikir.
Aku tertawa melihat sandiwara doris. Buk mutia dan buk dian juga tertawa. Doris juga ikut tertawa dengan kebohongannya sendiri.
"Doris nih sama aja tukang bo'oongnya" Ucap buk mutia menyandarkan punggunya kedinding kursi.
"Emang iya ada... Ibuk yang bohong karna ada dikan kan" Ucap doris menuduh.
Buk mutia tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah doris.
"Iya ada tuh.. Aleksander ade kalau ngak salah nama pacar buk mutia" Nofri ikut menimpali.
Seisi kantin tertawa. Buk diana bertanya apakah doris dan nofri satu kampung. Aku kembali mengarahkan pandangan kepada buk mutia. Buk mutia menatapku tajam. Dari mata buk mutia aku seakan bisa melihat diriku yang jatuh sangat dalam. Doris dan nofri saling bercerita dengan buk diana. Sedangkan aku mengobrol dengan buk mutia.
Buk mutia menjelaskan kalau ade itu hanya nama panggilan mantan pacarnya. Seperti nama nando yang memilili nama lengkap akbar deliando. Aku bertanya kepada buk mutia kenapa hubunganya bisa berakhir. Namun buk mutia hanya tersenyum kepadaku.
"Besoklah ibuk ceritain" Sahut buk mutia "Oh iya, jadi karna itu dikan kemaren menjauh dari ibuk?" Tanya buk mutia berbisik.
"Enggak ah... Emang kapan dikan ngejauhin ibuk?" Sahutku canggung.
Buk mutia mengangguk-anggukan kepala dan tersenyum. Aku merasakan senyum buk mutia sedang menertawakanku. Buk mutia peka kalau aku menjauhinya kemaren sebab dia sudah memiliki kekasih. Aku berdiri dan melangkah kedekat pintu pak apin. Doris dan nofri sedang berdebat dengan buk diana perihal pelajaran ekonomi. Doris dan nofri juga pintar dalam pelajaran akutansi.
Buk mutia masih tersenyum menatapku ketika aku melengahkan pandangan kearahnya. Aku merasakan diriku sangat kaku siang ini. Bell sekoalah terdengar meraung untuk pergantian jam. Pelajaran olahrga masih tersisa satu jam pelajaran lagi. Kami akhirnya bubar dari kantor pak apin untuk mengganti baju. Buk mutia dan buk diana juga terlihat berdiri untuk meninggalkan kantin.
"Buk mutia yang bayar bik" Ucap doris serambi berlari meninggalkan kantin.
Buk mutia tertawa melihat doris. Nofri juga berlari mengejar doris setelah buk mutia juga bersedia untuk membayarkannya.
"Masa cuman mereka buk" Ucap aldi juga memelas
"Iya ibuk bayarin. Berapa semua bik?" Sahut buk mutia.
"Dihhh baiknya ibuk lagi. Semoga rezeki ibuk semakin murah. Amiin" Ujar aldi.
Kami tertawa. Buk diana menggelengkan kepala melihat sikap aldi.
"Begitulah kalau ada maunya" Ucap buk mutia.
Aldi tersenyum. Bik surti menghitung jumlah pesanan yang harus dibayarkan buk mutia. Aku berdiri dibelakang buk mutia untuk membayar utangku.
"Dikan ngak kamu bayarin mut" Ucap buk diana.
"Oh iya, dikan apa-apa saja tadi" Tanya buk mutia.
Aku menggelengkan kepala "Biar dikan yang bayar sendiri buk" Sahutku tak enak hati.
"Gak papa kok. Biar ibuk aja sekalian" Jawab buk mutia.
Aku menggelengkan kepala. Aku tidak enak hati harus dibayarkan oleh buk mutia. Lagipula buk mutia sudah membayarkan utang teman-temanku. Aku punya uang untuk membayar belanjaanku sendiri.
"Jadi semuanya delapan belas ribu dengan punya dikan" Ucap bik surti.
Buk mutia mengeluarkan uang dua puluh ribu dari sakunya. Aku terpaksa mengalah dan membiarkan buk mutia membayarkan pesananku hari ini. Aku tersenyum melihat buk mutia yang begitu baik.
"Cieee dikan malu nih" Ujar buk diana menertewakanku.
Aku hanya tersenyum dan memalingkan muka dari buk diana. Aldi tertawa melihatku yang malu dengan olokan buk diana. Aku dan aldi melangkah keluar untuk meninggalkan kantin pak apin.
"Dikan" Panggil buk mutia.
"Iya" Jawabku berhenti dan menoleh.
"Dimuaro bodi ada nggak pelaminan?" Tanya buk mutia serambi berjalan dibelakangku.
"Ada, Emang kenapa buk?"
"Ada ya" Buk mutia tersenyum "Berarti ngak susah-susah besok kalau kita nikah" Ucap buk mutia.
__ADS_1
Aku tertawa mendengar gombalan buk mutia. Berani sekali buk mutia bercanda dengan gombalan maut seperti itu. Buk mutia dan buk diana menyimpang kekiri dilapangan. Sedangkan aku dan aldi memilih lurus untuk berjalan menuju lokal.
Siang ini aku menjadi yakin dengan prasangkaku sebelumnya. Buk mutia tidak mempunyai perasaan seperti apa yang kurasakan terhadapnya. Gombalannya siang ini adalah bukti bahwa buk mutia hanya sekedar menghargai perasaanku yang mengaguminya. Bukankah wanita memiliki ego yang sangat tinggi jika jatuh cinta? Dan aku merasakan buk mutia tidak mencintaiku dengan keberanianya siang ini.