Ruang Hitam

Ruang Hitam
Hilang


__ADS_3

Aku memilih hilang dan menjauh.


Agar aku bisa merawat lukaku dengan tenang.


****


Semakin hari aku semakin dekat dengan buk mutia. Hampir setiap malam aku berbincang di BBM dan bertemu setiap hari disekolah. Namun kedekatanku dengan buk mutia tak lebih dari sekedar murid dan guru. Semenjak dua minggu lalu ia mengomentari statusku. Aku dan buk mutia hampir setiap malam berbincang dalam obrolan bbm. Buk mutia jadi obrolan yang menyenangkan. Kami bercerita tentang banyak hal. Aku menjadi tahu banyak tentang buk mutia karna dia memang suka bercerita. Buk mutia orang yang terbuka sekali. Walaupun aku sangat akrab. Aku tetap tidak berani untuk menyatakan perasaanku. Meskipun aku tahu bahwa aku sangat menginginkan buk mutia.


Lewat pesan BBM, buk mutia menanyakan apakah aku suka kepadanya? Pertanyaan yang membuatku tertawa dan merasa konyol. Terlebih lagi selinting ganja malam ini membuat semuanya terasa sempurna. Buk mutia bertanya tentang yang jawabannya sudah ia ketahui. Buk mutia sudah kalau aku suka kepadanya. Buk mutia mengetahuinya dari teman-temanku dan buk asmarni.


Apakah ini kode?


Aku tersenyum membalas pesan dari buk mutia.


"Kalau suka emang iya buk. Jujur, dikan menganggumi ibuk. Entahlah. Dikan ngak tahu datangnya dari mana. Dikan hanya tahu ada rasa kebahagian ketika bertemu dan mendengar ibuk tertawa" Balasku

__ADS_1


Asap-asap yang indah mengepul dari mulutku. Asapnya tetap banyak meskipun aku sudah menghisap dalam-dalam. Kepalaku berdenting, terasa ringan dan lapang. Bius ganja sudah mulai terasa. Menenangkan. Tidak ada yang dipikirkan. Benar-benar terasa kosong. Tidak ada masalah yang terasa mengganjal dikepala. Begitu juga dengan jiwaku. Aku merasakan sangat tenang. Didalam pikiranku hanya ada bahagia kemana pun aku mengarahkan pikiranku. Terlepas aku tahu itu hanya halusinasi. Aku tetap memikirkannya dengan kebahagian.


Bagiku, selinting ganja sudah cukup memenuhi dosisku. Dan sebulan terakhir ini aku hanya melinting ganja didalam kamarku. Setiap seusai sholat magrib, aku mengurung diri didalam kamar. Aku lebih suka menikmatinya sendiri. Sibuk dengan rutinitas didalam kamar. Seperti mengerjakan tugas pelajar sebelum tidur.


Dulu, aku menghisap dua linting ganja dalam sehari. Disekolah, aku dan bojek juga menghisap ganja setiap jam istirahat. Namun, bojek sudah tidak lagi menghisap ganja karna trauma dengan kejadian noval. Akupun tidak lagi pernah menghisap ganja disekolah. Satu linting sudah cukup untuk porsi dopingku.


BlackBerryku berbunyi. Lampu hijau mengedip-ngedip petanda notifikasi bbm masuk. Aku meraih blackberry yang tergelatak diatas lantai.


"Suka dan sayang itu beda. Suka belum tentu sayang, kalau sayang sudah pasti suka" Balas buk mutia. Aku tersenyum tipis,


"Siapa juga yang bilang sama 😁" Balasku singkat.


"Hahahaha ibuk halu ya. Sorry, ibu kira dikan sayang sama ibuk. Hehehe ibuk boleh cerita" Balas buk mutia


Aku tertawa binggung membalas pesan buk mutia. Ini kode atau hanya aku yang terbawa perasaan. Tapi aku lebih setia dengan prinsipku yang tidak ingin berharap lebih kepada buk mutia.

__ADS_1


"Cerita apa?" Balasku singkat.


Malam ini buk mutia menceritakan mantan kekasihnya yang bernama ade. Sebulan lalu, buk mutia juga pernah menceritakan tentang mantannya ketika aku bertanya. Mahasiswa fakultas olahraga UNP yang berasal dari daerah pasisie. Hanya itu yang aku tahu. Namun malam ini buk mutia cerita panjang tentang mantan kekasihnya.


Mulai dari awal perkenalan disebuah warung nasi padang sampai akhirnya putus setelah berpacaran tiga tahun. Pesan buk mutia begitu panjang membuatku tidak ingin membacanya. Buk mutia sering merasa tersakiti sebab sering merasakan diduakan. Beberapa kali mantan kekasihnya itu selingkuh dan terus dimaafkan. Tak terhitung lagi. Buk mutia merasa lelah dan ingin putus. Tap mantannya tidak mau terima dan selalu mengejar-ngejarnya. Sudah enam bulan berlalu, mantan nya tetap menghubunginya meskipun seringkali tidak direspon. Buk mutia ia merasa seperti diteror setiap hari.


Aku menelan ludah. Ganja yang tadinya nikmat berubah pahit saat kutelan. Aku menghisap lintinganku lebih lama. Asap-asap tebal yang hampir keluar kuhisap lebih dalam. Aku menghembuskan lega dengan perasaan yang tenang. Aku kembali menghisap lintingan yang tinggal puntung. Aku mematikannya didalam asbak setelah beberapa kali hisap.


Aku memutuskan untuk tidak lagi membaca pesan buk mutia. Buk mutia masih sedang mengetik. Aku memutuskan untuk lagi membuka pesannya. Aku meletakkan hp ku diatas bopet dan merebahkan badanku diatas kasur. Selain cemburu, aku juga tidak ingin larut dalam euforia dari harapanku dengan kehadiran buk mutia dalam hidupku. Aku tidak ingin terjebak dalam angan-angan yang tak mungkin bisa untuk memiliki buk mutia. Aku tidak membalas pesan buk mutia, juga tidak mengupdate status atau mengganti dp bbm agar aku tidak terlihat aktif.


Semua itu aku lakukan hanya semata-mata untuk menggeruskan luka didalam hati. Aku tidak membuka pesan buk mutia setelah dua hari. 'kalau dikan gimana?' pesan buk mutia yang belum kubaca terlihat dikontak masuk. Aku menghilang dari buk mutia. Disekolah pun aku tidak banyak beredar dan jarang bertemu buk mutia. Aku hanya melihatnya dari kaca jendela kelasku. Ketika ia berjalan dilapangan untuk mengajar kedalam kelas sebelas. Dua hari terakhir ini. Aku hanya duduk dilokal dan menghabiskam jam istirahat kekantin tek rida. Aku sengaja bersembunyi dari buk mutia. Aku ingin tahu apakah dia mencari keberadaanku. Tapi dua hari ini tidak ada pesan baru masuk dari buk mutia.


Aku menghisap lintinganku yang hanya tinggal empat atau lima hisap lagi. Siapa juga aku bagi buk mutia hingga dia mencari dan peduli dengan kabarku. Aku tertawa ketus sendiri didalam kamar. Lihat aku yang memilih untuk menghilang namun juga berharap untuk mencari.


Aku berdiri dan memgambil tas sekolah diatas bopet. Aku mengeluarkan buku catatan PKN dan buku cetak yang dibeli dari sekolah sebagai referensi. Buk de menciptakan ciri khas dirinya dengan dalam memberikan tugas. Tugas PKN itu adalah menyimpulkan dan mencatat materi dalam buku cetak kedalam catatan PKN. Dan aku harus mengejar ketertinggalanku yang baru sampai bab dua dari enam bab yang harus dicatat.

__ADS_1


Aku menelungkup diatas kasur. Sibuk terbenam dalam buku-buku diatas kasur. Penaku mulai menarik diatas kertas yang kosong, mengejar ketertinggalanku yang jauh. Kesibukkan tugas PKN membuatku lupa akan buk mutia. Tapi tak pernah benar-benar lupa. Sebelum tidur, aku masih sering memikirkan buk mutia. Kadangkala, aku mengusir benci pikiranku sendiri. Aku merasa itu hanya ilusi.


Malam ini aku tertidur dengan perasaan tenang. Aku mafhum bahwa cinta tidak bisa dipaksa. Dan aku mengerti bahwa kadang seseorang memilih hilang dan menjauh agar ia bisa merawat lukanya dengan tenang. Atau seperti yang ibu lakukan; Memilih diam agar bisa berdamai dengan dirinya sendiri.


__ADS_2