
Hei, kalian sudah sampai dibagian ini. Disinilah kisah percintaan dikan dan buk mutia guru sejarah dimulai. Jangan lupa vote dan saran ya. Biar saya bisa belajar. karna saya hanya pemula. Bacalah. Ini hanya sebuah cerita.
****
Dunia hanyalah kehidupan yang penuh dengan sandiwara. Akhiratlah kehidupan yang sebenar-benarnya.
****
Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Makhluk hidup yang diberi akal dan perasaan untuk menjalani kehidupan. Kehidupan? Seperti apa kita mengartikan sebuah kehidupan. Dan bagaimana pendapat tentang kehidupan setelah mati?
Dunia terlalu ambigu untuk dipahami oleh manusia. Sebab itulah agama lahir sebagai pedoman hidup. Agama adalah sebuah kepercayaan. Keyakinan yang kuat bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan. Alam semesta, nyawa, roh, semua yang ada dimuka bumi ini adalah pemberian dari----Yang kita sebut dengan Tuhan. Ada tujuh agama didalam sejarah dengan nama Tuhan dan ajaran yang berbeda. Tapi semua agama membenarkan; Akan ada hari kiamat sebagai tanda berakhirnya kehidupan didunia. Hanya orang kafir(Yahudi) yang tidak percaya dengan adanya hari kiamat.
"Kamu jangan pernah hilang iman. Agar sejauh apapun kamu menghilang. Kamu ingat kemana kamu akan pulang. Percayalah, Nak. Akhirat itulah kehidupan yang nyata. Dunia ini hanyalah senda gurau belaka" Kata ibu semalam ketika kami berbincang-bincang.
Semalam, sepulang aku latihan bola. Ibu pulang maghrib dari mushola. Dimeja makan, ibu menceritakan tentang bapak yang ternyata akan kawin lagi, itu berita yang terasa aneh, secara faktanya surat cerai saja belum keluar. Tapi bapak sudah berani meminta izin kepada ibu. Bapak yang bilang lansung kepada ibu lewat telpon. Bapak terang-terangan mengaku bahwa ia telah bersama wanita itu selama dua tahun. Hal yang sangat menyakitkan. Ibu bilang ayah tersesat. Entahlah, aku benci bercerita tentang ayah. Aku hanya mengamini doa ibu. Semoga dia selalu dalam lindungan Allah. Ibu sabar sekali, ia memilih memaafkan agar ia bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Tapi, aku membenci bapak dengan keras kepalanya. Ibu benar mengatakan bapak egois. Bahkan dengan dirinya sendiri dia egois. Ibu bilang bapak rela menggadaikan imannya dengan hal yang sia-sia. Bapak telah melalaikan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Sebagaimana pantun berkata "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" Maka, jangan salahkan anaknya jika tidak sholat, kalaulah bapak saja tidak sholat?
Aku membenarkan ibu, bukan berarti aku menyalahkan ayah sepenuhnya. Disetiap pertengkaran, ibulah yang selalu mulai menyerang bapak dengan kata-kata. Bahkan hanya karna masalah kecil, kecerewetan ibu bisa menjadikannya besar. Tapi akhirnya aku mafhum, ibu sengaja memancing emosi dengan masalah sepele, lalu diluapkan dengan kemarahan yang besar. Bapak kalah telak, yang dibicarakan ibu benar. Bapak adalah islam KTP, orang yang berstatus islam tapi menjalani hidup seperti yahudi, yang dengan sengaja meninggalkan sholat sebagai kewajiban umat islam. Dan bapak pasrah. Menerima kekalahannya dengan diam. Lalu pergi ketika ibu yang masih terus mengoceh.
__ADS_1
"Ibu bersedih. Dia telah melanggar sumpahnya sendiri. Dia mengkhianati pernikahan dengan kebohongan. Tapi ibu tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Mungkin, ini takdir yang digariskan kepada ibu. Ibu ingin berdamai dengan diri ibu sendiri. Sebab itu ibu memilih memaafkan bapakmu"
Aku diam tertegun. Mataku berkaca-kaca. Haru dan bangga memenuhi dadaku. Haru karna bapak menyakiti ibu dan rasa bangga akan ibu yang memilih memaafkan. Untuk apa mendendam? Hanya menyiksa diri sendiri.
"Ibu percaya. Surga dan neraka itu ada. Kelak kita kan berakhir disana. Kehidupan hanyalah perihal menunggu ajal datang. Aneh memang, kita mati untuk hidup kembali. Tapi kamu harus percaya. Akhirat itu nyata. Kita akan pulang kesanan. Itulah kehidupan yang abadi. Dunia ini hanyalah perjalanan sebelum mati. Dan lihatlah, betapa banyak manusia yang terlenan. Seperti bapakmu. Nauuzubillah min zalik" Ibu mengucap, memintan ampun atas apa yang dikatakannya.
"Kamu tidak ingin seperti bapakmu, jadi sholatlah mulai sekarang. Agar kau tua takkan seperti bapakmu" Ujar ibu dan mengakhiri obrolan malam itu. Aku mengingat kisah minggu malam yang terasa buram itu. Jujur saja, malam itu terasa syahdu dengan perasaan yang baru kurasakan. Tapi kenikmatan itu tak sebanding, gengsiku meninggi, aku menelan kebodohan yang pahit. Perjaka ku diambil oleh gadis rasa janda. Sial.
Aku sudah putus dengan annisa. Malam kemarin, setelah mendengar ceramah tanpa judul dari ibu, aku meminta putus dengan annisa.
"Abang mau ngomong jujur. Tapi annisa jangan marah"
"Janji dulu ngak bakalan marah"
"Ya apa dulu?"
"Abang takut nisa marah. Tapi abang mau jujur. Abang mau putus. Abang ngak bisa mencintai nisa. Abang sudah mencoba"
__ADS_1
"Abang kenapa? Kok tiba-tiba minta putus?"
"Abang hanya ingin jujur. Abang hanya ingin putus"
Annisa hanya melihat dan tak membalas pesanku. Akupun tidak lagi ingin berkata apa-apa. Apakah dia marah? Terserah aku memang ingin putus.
Hingga tadi pagi ketika aku bangun. Lampu notifikasi BB ku menyala warna merah petanda pesan bbm masuk. Annisa mengamini permintaanku untuk putus.
"Yaudah, kalau itu yang terbaik menurut abang. Lagian nisa juga ngerasa kok, abang tuh ngak sepenuhnya pake perasaan. Tapi ya mungkin memang cinta tidak bisa dipaksa" Pesan nisa 43 menit yang lalu. Aku tersenyum dipagi hari.
"Kita temenan aja ya dik" Balasku.
"Abang berangkat kesekolah bareng nisa?"
"Hmp, ngak usah. Abang bawa motor aja nanti"
"Ayolah untuk terakhir kalinya" Balas annisa memelas.
__ADS_1
Aku berangkat dengan annisa kesekolah. Tapi bukan lagi sebagai kekasih. Hanya sebatas mantan yang kembali berteman. Dan sepertinya aku juga akan pulang dengan annisa sore ini.