Ruang Hitam

Ruang Hitam
Membiarkan kepergian


__ADS_3

Cinta hanyalah basa-basi sebelum akhirnya menjadi basi. Orang asing saling mengenal dan jatuh cinta namun berakhir dengan tidak menyapa.


****


Matahari baru sepenggalah naik dipagi kamis, aku duduk menyaksikan keseruan lomba akhir semester dari depan labor. Permainan tarik tambang dilapangan terlihat meriah dengan murid yang bersorak-sorai. Aku menatap sejenak sebelum kembali berkutat dengan buku dan hafalan remedi.


Aku membolak-balik buku paket untuk mencari halaman yang sudah diberitahu oleh guru PKN. Halaman 109. Aku menelan ludah. Aku harus menghafal pengertian demokrasi dari semua ahli. Itu berarti aku harus mengahafal dua halaman diluar kepala. Sial. Aku merasa malas sekali untuk menghafal sebanyak itu. Namun, kejadian semalam memaksaku untuk menghafal dan mengalahkan rasa bosanku.


Harapan ibu hanya ingin melihatku lulus dari bangku SMA. Sebab harapan itulah ibu banting tulang untuk membiayai sekolahku. Ibu adalah pedagang grosiran baju dipasar. Usaha kecil yang ternyata cukup untuk menghidupi kami bertiga. Sedangkan bapak hanyalah contoh sebagai lelaki yang memikirkan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan anak istrinya. Ah, aku tak ingin membahas tentang bapak. Karna aku tidak ingin seperti bapak. Bapak lebih setuju dengan pendapatku yang tidak ingin lagi melanjutkan sekolah setelah tamat dari SMP. Tapi itu adalah bukti dari keegoisan bapak yang tidak memikirkan nasib anak-anaknya. Hal itu pulalah yang membuatku merasa benci melihat ibu yang keras hati untuk menyekolahkanku.


"Bu, dikan ngak usah nyambung ya ke SMA. Dikan udah bisa kok cari kerja. Kumpulin uang buat nanti buka usaha. Lagian, kalau dikan sekolah, dikan hanya bikin ibu kecewa" Ungkapku ketika seusai tamat dari bangku SMP


Ibu luluh dan membiarkan aku bekerja jauh kepulau jawa. Aku disana tinggal bersama adik kandung ibu sebelum akhirnya aku pindah kejakarta. Namun, belum sampai setahun aku merantau, ibu menyuruhku pulang dan memintaku untuk kembali melanjutkan sekolah. Awalnya aku menolak dan tidak setuju. Selain tidak niat sekolah, aku juga tidak mau merepotkan ibu dengan biaya SPP yang harus dia tanggung setiap bulan. Tapi ibu tidak ingin aku seperti bang syuja yang harus menggadaikan pendidikannya hanya karena keterbatasan ekonomi.


"Lihatlah abang kamu. Dia luntang-lantung dinegeri orang karena gak punya ijazah SMA. Sekarang cari kerja harus tamat SMA" Ujar ibu dua tahun lalu.


Dan akhirnya aku menuruti keinginan ibu. Aku sekolah di nagari tetangga yang lumayan jauh dari rumahku. Aku memang terkenal sebagai anak nakal disekolah. Di kelas sepuluh, lokal kami dijukuki lokal neraka oleh guru-guru. Itu terbukti dengan hampir semua siswa laki-laki di lokal kami yang sering masuk buku kasus. Ketangkat tidak upacara, bolos tanpa keterangan, dan cabut dalam jam pelajaran adalah hal yang biasa kami lakukan. Namun, itu hanya disemester satu saja. Disemester dua aku selalu masuk kelas dan tidak pernah bermasalah dengan buku kasus.


Disemester tiga kemarin, raporku juga banyak yang merah dan kehadiranku juga banyak alfa tanpa keterangan. Ibu hanya marah dengan menasehati dengan kata-kata. Namun, kemarin malam ibu menangis setelah bertemu dengan buk de (Guru PKN) yang tinggal satu kampung denganku. Ibu sangat cemas aku tidak akan naik kelas dengan remediku yang banyak belum kuselesaikan. Dan aku akan membuktikan bahwa aku bisa berubah tanpa harus menjauhi teman-temanku.


"Dikan" Panggil seseorang gadis memecah konsentrasiku.


Aku menoleh dan tersenyum kepadanya. Gadis itu adalah vingky. Teman satu kelas denganku. Vingky berjalan menghampiriku.

__ADS_1


"Dikan sudah tahu, kalau alpin dan riska balikan?" Tanya vingky.


"Emang iya?" Tanyaku penasaran.


Alpin adalah mantan vingky. Sedangkan riska adalah mantanku. Alpin dan riska pernah berhubungan sebelum berpacaran dengan kami.


"Begitu kudengar dari indri" Jawab vingky dan duduk disebelahku.


Alpin adalah senior sekaligus teman akrab ku disekolah. Perkenalan aku dengan alpin bermula pada balap jalanan yang rusuh tiga tahun yang laku. Ketika itu aku masih kelas tiga smp. Aku dan beberapa temanku melihat pertunjukkan balapan liar jalan tol yang selalu ada setiap malam minggu. Jalan tol yang biasanya dihiasi dengan balapan berganti dengan perdebatan yang membuat gaduh suasana.


Dua geng itu saling berselisih memperebutkan menang dan kalah. Ego dan gensi mereka membuat mereka tidak mau mengakui kekalahan. Hingga darah muda yang mengalir dalam diri mereka membuat balapan menjadi pertunjukkan tinju bebas yang menghibur.


Dua geng itu berasal dari nagari koto baru dan nagari mundam sakti. Sebenarnya kami tidak ada kaitan dalam pertengkaran mereka. Namun anggota dari salah satu geng membuat kami ikut campur dalam perkelahian itu. Adalah pemuda nagari mundam yang tak sengaja menabrak bagian belakang motor temanku. Pemuda mundam itu lari begitu saja tanpa tanggung mau jawab. Dan kami ikut mengejar anak mundam yang lari bersembunyi kedalam kampungnya.


Setelah kejadian itulah aku mengenal alpin. Perkenalanku dengan alpin semakin dekat setelah kami dipertemukan disekolah yang sama. Aku sebagai murid baru, dan alpin sebagi murid pindahan. Aku dan alpin sering berangkat sekolah bersama.


Sedangkan kedekatanku dengan riska berawal dari mention-mention ditwitter. Aku sering meledekki riska dengan twit galaunya tentang alpin. Mulanya aku hanya sebagai teman curhat dari kegalauan riska yang ditinggalkan alpin. Namun, semakin hari kami hubungan kami semakin dekat. Kedekatan kami menjalar hingga kami saling menukar nomor telpon. Sampai pada suatu hari riska mengajakku bertemu untuk pertama kalinya.


Dipertemuan pertama itulah riska menyatakan perasaannya. Riska bilang dia merasa nyaman denganku. Aku bilang aku juga merasakan hal yang sama. Namun aku menggantung jawaban riska dan menanyakannya ke alpin. Tapi alpin tidak ada masalah dengan semua itu. Dan aku dan riska resmi berpacaran.


Namun setelah satu bulan hubunganku dengan riska. Aku merasakan perubahan dengan sikap alpin terhadapku. Alpin tidak pernah lagi hadir dikantin tek rida. Tapi alpin berkilah dengan mengatakan dia tidak lagi merokok.


Dan hubunganku denga riska berakhir setelah dua bulan. Kami putus hanya karena sebuah photo aku dan vingky yang begitu dekat. Waktu itu aku, vingky, dan dua teman laki-laki diusir dari kelas ekonomi karena tidak membuat tugas. Lalu kami memutuskan untuk pergi ke danau biru--lubang bekas tambang didaerah tanjung ampalu. Kami berphoto-photo hingga aku punya photo berdua dengan vingky. Dan riska cemburu dengan photo itu. Jelas saja itu cemburu buta, riska bahkan sudah tahu bahwa aku dan vingky sudah berteman semenjak smp. Namun, segala penjelasanku tak berhasil membuat emosi riska mereda. Dia selalu bilang aku berbohong. Dan aku merasa muak dan mendiamkan riska begitu saja. Awalnya riska meminta break. Tapi tiga hari kemudian dia memutuskanku lewat sms 'Kita lebih baik putus saja'.

__ADS_1


"Ternyata kita cuman pelampiasan saja" Ucap vingki.


Vingki benar. Aku hanyalah sebagai pelampiasan dari amarah mereka.


"Kau kecewakan bukan mendengar mereka balikan?" Tanya vingky lirih.


Kecewa? Satu-satu yang aku kecewakan adalah keangkuhan alpin yang mengakui bahwa dia tidak lagi cinta kepada riska.


"Kau masih cinta kan dengan riska?"


Cinta? Sungguh aku tidak bisa menyimpulkan perasaanku kepada seseorang yang jelas-jelas sudah mengkhianatiku. Riska adalah bunga yang layu saat kutemukan. Kuhibur dan kurawat agar ia tak merasa kesepian. Namun saat ia mulai mekar dan kembali berbunga. Riska mengkhinatiku dengan kembali memberika kepercayaan kepada kumbang yang pernah membuatnya hampir mati.


"Kau patah hati kan?"


Patah hati? Tidak. Aku tidak pernah merasa patah hati karna putus cinta. Cinta bagiku hanyalah basa-basi sebelum akhirnya menjadi basi. Orang asing saling mengenal dan jatuh cinta namun berakhir dengan tidak menyapa.


"Dikan, kau patah hati bukan" Vingky mengulangi pertanyaannya.


"Ngky, kita terlalu kecil untuk mengerti patah hati" Sahutku serambi berdiri.


"Kau mau kemana?"


"Remedi" Jawabku dan meninggalkan vingky dibawah pohon durian.

__ADS_1


__ADS_2