
Jatuh cinta padamu adalah sebuah titipan yang tak pernah kuminta. Kehadiranmu adalah anugerah yang ingin selalu kujaga.
****
Pada siang kamis dan dipertengahan bulan november yang telah mengukir kisah manis. Murid-murid mulai berhamburan keluar kelas ketika bell pulang baru saja berbunyi. Serupa segerombolan semut yang kocar-kacir dari sarangnya yang hancur. Aku dan ketiga sahabatku berjalan menuju parkiran. Matahari bersinar terik menyengat kedalam kulit. Aku mengeluarkan jaketku dalam tas dan memakainya.
Aku pulang diboncengi aldi. Sedangkan nando pulang bersama ijep. Kami menuruni tanjakan dijalan beton zona sekolah didepan gerbang MAN 1 padang sibusuk. Anak MAN masih terdengar belajar didalam lokal. Mereka memang sering pulang lebih lambat dari kami.
Didepan gerbang zona sekolah. Mutia dan buk diana terlihat berdiri dipersimpangan. Buk diana memanggil aldi untuk berhenti. Aldi memberhentikan motornya lima langkah didepan motor buk diana. Buk diana memacu sepeda motornya untuk mendekati kearah kami. Aku menatap mutia. Dia membalas tatapanku dengan wajah tanpa ekpresi. Setelah beberapa hari ini kami memang jarang mengobrol secara lansung dan hanya berbincang lewat pesan BBM.
"Apa buk?" Tanya aldi.
"Aldi ini sok-sok pula gaya nya ndak" Umpat buk diana.
Aku tertawa kecil melihat buk diana. Ekpresinya yang marah hanya alibi untuk bergurau. Mutia juga tersenyum dibelakang buk diana.
"Hah kenapa pula aldi lagi buk" Jawab aldi tertawa menerima semprotan buk diana.
"Ibuk tahu kok kalau aldi itu cowok keren disekolah. Tapi biasa ajalah gayanya sama ibuk" Ucap buk diana.
Aku tertawa mendengar ocehan buk diana. Aldi menggeleng-gelengkan kepalanya, tertawa heran. Buk diana terdengar berbincang-bincang dengan aldi perihal karin. Aku terfokus dengan mutia yang memberikan selembar kertas biru yang terlipat. Puisi lagi?
"Apa ini" Tanyaku
"Jangan lupa dibalas" Ucap mutia "Yuk kak" Mutia mengajak buk diana untuk pulang.
"Ibuk pulang dulu ya aldi playboy sekolah" Kata buk diana melaju sepeda motornya.
Aldi hanya tertawa. Mutia juga tertawa kearah kami. Tertawa terlihat sangat mempesona dan berkesan kearah kami. Aldi melaju sepeda motor mengiringi motor yang ditumpangi buk diana dan mutia. Aku membuka lipatan puisi didalam kertas origami berwarna biru. Tiada yang lebih indah. Aku tersenyum membaca judul puisi dari mutia. Terbesit pertanyaan dikepalaku kenapa mutia selalu menulis puisinya dengan surat berwarna biru.
"Berhentilah senyum-senyum tanpa alasan buk" Ujar aldi.
Aku menoleh kearah tujuan aldi bicara. Mutia tertawa simpul. Aku memasukkan surat dari mutia kedalam saku seragamku.
"Kemana aldi jalan sama karin kemarin?" Tanya mutia berolok.
Aku tertawa kecil. Karin adalah murid kelas sepuluh yang memiliki nama panjang karina putri. Aldi dan karin sudah dua bulan berpacaran. Aldi memang playboy disekolah. Banyak wanita kelas sepuluh yang sangat dekat dengan aldi. Sebelum dengan karin, aldi berpacaran dengan hanifa adiknya zaza yang satu kelas dengan kami. Hanya berselang dua hari setelah putus dari hani. Aldi berpacaran dengan karin. Wanita yang semenjak masa mos sudah menjadi incarannya.
Aldi menambah kecepatan motor hingga berdampingan dengan motor buk diana. Jalanan kampung cukup ramai dengan anak-anak sekolah yang satu arah dengan kami.
"Pasti buk diana nih yang ngomporin" Ucap aldi.
Buk diana tertawa kecil. Dia memasang wajah tidak bersalah. Mutia juga tertawa memperolok aldi.
"Emany iya aldi tuh playboy. Buktinya adik aliza yang menjadi korban kekejaman aldi" Ungkap mutia.
"Jangan gitulah buk. Nanti iya pula kata orang" Ucap aldi memelas.
Mutia dan buk diana tertawa. Aku hanya tersenyum tanpa tujuan. Bukan pengemisan aldi yang membuatku tersenyum. Tapi melihat mutia tertawalah yang membuat tersenyum. Entah kenapa aku merasa bahagia ketika mendengarnya tertawa.
"Tapi aldi masih mending. Dari pada dikan yang hanya bisa memendam" Ujar buk diana.
Aku melongo mendengar ucapan buk diana. Keningku berkerut. Buk diana tersenyum meledek dengan pandangan lurus kedepan. Buk diana pasti menyindirku yang pengecut. Aku beralih memandang mutia yang tersenyum kepadaku.
"Kenapa mukanya masam gitu?" Ucap mutia.
__ADS_1
Aku tertawa kecil. Dengan menatap wajah mutia saja rasa kesal bisa hilang dengan seketika.
"Ehhh kenapa kamu nulis puisinya selalu dikertas warna biru?" Tanyaku.
"Kamu kamu, panggil ibuk" buk diana menimpali.
Aldi dan mutia tertawa. Aku juga tertawa heran dengan buk diana yang memotong pembicaraan. Tapi aku tahu buk diana hanya bergurau untuk mencairkan suasana. Aldi menancap gas motornya mendahului buk diana untuk menghindari tabrakan. Kami mengalah dengan mobil pick-up yang berlawana arah dengan kami.
Aku menyuruh aldi untuk berhenti ketika kami sampai disimpang lima. Aku turun dari motor dan berdiri ditepi jalan. Buk diana akan menyimpang kekiri menyusuri jalan beton menuju simpang al-furqon.
"Hati-hati dijalan bidadari hati" Ucapku dengan menundukkam kepala.
Buk diana tertawa. Mutia melambaikan tangan yang diiringi senyum termanisnya. Aldi tertawa melihat apa yang baru saja kulakukan. Entahlah. Aku tidak juga tidak berpikir sebelum untuk melakukan hal seperti itu. Kelihatan sangat bodoh memang, tapi sangat berkesan didalam hatiku.
Aku dan aldi melanjutkan perjalanan kami. Motor kami melaju lurus dipersimpangan lima. Hanya berkisaran 200 meter dari simpang lima, kami sampai dikosan ijep. Nando dan ijep tengah duduk didepan kosan. Mereka memetik rokok sebatang masing-masing. Kosan ijep bersebelahan dengan surau tempat anak-anak belajar mengaji. Ijep kadang juga menjadi guru pembantu disurau ini setelah sholat magrib. Ijep memang laki-laki yang rajin sholat dan tahu tentang agama dibandingkan kami bertiga.
Kami duduk sebentar untuk mengobrol dan merokok. Didepan kosan ijep ada pohon rambutan yang sangat rindang. Kami sering singah dan duduk dibawah pohon sebelum pulang kerumah masing-masing. Kami duduk dengan pandangan kearah jalan yang lebih rendah dari kosan ijep. Plang yang bertulis surau bawuah bisa kami jangkau sebab kosan ijep yang sedikit tinggi dari jalan.
Aldi bercerita tentang adiknya aliza--zaza yang sudah menjadi mantan pacarnya. Aldi merasa heran dengan hanifa yang menempatkan posisinya sebagai korban. Hanifa bercerita kepada orang-orang seolah aldi telah meninggalkannya demi karin. Padahal hanifa sendiri yang memutuskan aldi lebih dulu. Kami terus mengobrol tentang keheranan aldi yang hanya bisa berlalu oleh waktu.
Blackberryku berdering petanda ada panggilan masuk. Aku bergegas mengambil blackberry yang kusimpan didalam tas. Tia(Mylife) tertulis dilayar blackberryku. Mutia menelponku. Aku menangkatnya setelah menjauhkan diri dari ketiga sahabatku. Ketiga sahabatku bersorak menertawakanku.
"Haloo" Sapaku setelah membuka panggilan
"Kamu udah sampai dirumah" Tanya mutia dari seberang sana.
"Belum"
"Kok belum?" Tanya mutia heran.
Mutia mungkin sudah sampai dirumah. Sudah lebih setengah jam berlalu ketika kami berpisah disimpang lima. Wajar saja mutia merasa heran kenapa aku belum juga sampai rumah. Aku dan ketiga sahabatku memang lupa waktu ketika mengobrol didepan kosan ijep yang teduh dan sejuk.
"Emang kamu lagi dimana?"
"Dikosan ijep. Sama aldi dan nando juga" Jelasku
"Ohhh. Aku ganggu kamu ya berarti" Ucap mutia tak enak hati diseberang sana.
"Enggak kok. Ada apa emang kamu nelpon?" Tanyaku. Ini pertama kalinya aku berbicara dengan mutia lewat telpon.
"Emang gak boleh aku nelpon?" Jawab mutia sinis.
"Ya bukan gitu. Tumben aja. Biasanya gak pernah nelpon"
"Karna aku nungguin kamu yang nelpon dulu. Tapi gak pernah ditelpon" Sindir mutia karna laki-lakilah yang seharus memulai.
"Tapikan setiap malam kita chat di bbm" Jawabku melindungi diri
"Bedalah dikan chat sama nelpon. Kalau nelpon, aku bisa denger suara kamu lansung"
"Iya, besok-besok aku telpon ya"
Mutia terdengar tertawa diseberang sana. Aku juga tertawa meskipun aku tidah tahu kenapa alasanku tertawa. Mendemgar mutia tertawa aku merasa bahagia hingga refleks ikut tertawa.
"Kamu mah disindir dulu baru peka orangnya" Ucap mutia.
__ADS_1
"Kamu nelpon cuman buat ngajak aku berdebat" Ucapku mengalihkan topik agar mutia tak mengkaji kesalahanku.
"Lah kok kamu sinis" Sahut mutia.
"Bukan sinis. Gak ada sinis" Jelasku segera agar mutia tak salah paham.
"Yaudah aku cuman mau jawab pertanyaan kamh tadi. Aku tulis puisi itu dengan kertas warna biru karna aku tahu kamj suka dengan warna biru" Ucap mutia.
Aku tersenyum. Haru dan bangga memenuhi dadaku. Mutia mungkin tahu warna kesukaanku dari bio twitterku. Aku belum pernah menceritakan warna kesukaanku kepada mutia. Aku suka warna biru yang berarti kedamain. Hanya fiona, kaena, dan mutia yang tahu betapa aku sangat suka dengan warna biru.
"Kamu juga suka warna biru?" Tanyaku
"Enggak. Aku suka warna hitam sama kuning. Sudah ya aku mau makan dulu. Kamu lanjutlah ngobrol sama sahabat-sahabat kamu"
Aku hanya diam. Aku berpikiran apakah mutia marah kepadaku?
"Lansung pulang loh nanti jangan mampir-mampir lagi dijalan" Ucap mutia lagi.
"Iya iya ibuk mutia yang cerewet" Sahutku.
Mutia tertawa. Aku tersenyum mendengarnya tertawa. Itu berarti mutia tidak tersinggung dengan ucapanku tadi.
"Okelah murid yang paling nakal disekolah. Ohhh iya jangan lupa makan" Ucap mutia.
"Siap buk" Sahutku riang "Kamu juga yang banyak makannya ya" Sambungku.
"Oke pak laksanakan" Sahut mutia.
Aku tertawa. Mutia mematikan teleponnya. Aku kembali ketempat sahabat-sahabtku duduk. Mereka memperolok-olokku dengan wajahku yang terlihat bahagia. Tak lama setelah itu. Aku, aldi dan nando pamit pulang kepada ijep.
Diperjalanan pulang, aku tak berhentinya untuk tersenyum mengingat hatiku yang sangat bahagia. Aku membuka puisi yang tadi diberikan mutia. Aku penasaran dengan kata-kata yang didalam kertas warna biru.
Tidak ada yang lebih indah
Tidak ada yang lebih indah
Saat langit membawa pesan
Menitipkan melodi dan irama yang begitu syahdu
Tidak ada yang lebih indah
Ketika suara hati menghapus semua keraguan
Mulai minitik beratkan rasa pada kata rindu
Tidak ada yang lebih indah
Ketika bahagia itu terangkul dalam imajinasi
Menyusun wacana dengan esok hari yang cerah
Tidak ada yang lebih indah
Saat aku terjatuh pada tatapan tajam matamu
__ADS_1
Hingga kebahagian mulai bertumpu pada kehadiranmu
Aku tersenyum sekali lagi. Aku kembali pulang dengam perasaan yang bahagia. Mutia membuat hidupku terasa menjadi sempurna.