
Kayu akan menjadi abu bila bermain-main dengan api.
****
Sabtu yang menyedihkan diakhir september. Aku berangkat kesekolah dengan sarapan celoteh dan marahnya ibu yang menemukan delapan paket ganja dalam almari bajuku. Ganja itu adalah punya sandi yang kemarin sore ia titipkan kepadaku. Namun, akan percuma menjelaskan kepada ibu yang sudah lama tahu tentang aku sebagai manusia dalam gelap.
Yah, ini adalah kedua kalinya ibu menemukan ganja didalam kamarku. Dua tahun yang lalu ibu juga menemukan satu linting ganja yang masih dibungkus timah rokok didalam saku celanaku. Dan aku hanya menenangkan amarah ibu dengan berjanji tidak akan mengulangi. Tapi, tadi pagi ibu marah besar setelah menemukan delapan paket ganja saat ia hendak meletekkan kain yang sudah disetrika didalam lemariku.
"Dikan....Hei.. Dikannn..." Bangunkan ibu dengan mengoyang-goyangkan kakiku.
"Apa lagi" Sahutku mendongkol karna ibu kembali membangunkanku. Padahal aku sudah bilang bahwa aku hari ini aku kesekolah jam sembilan.
"Jelaskan ini apa" Kata ibu marah dengan mencampakkan ganja yang dibungkus didalam plastik hitam tepat kedepan mukaku. "Kau tak pernah takut dengan nasehatku" Ujar ibu.
Aku mendongak menatap lemari bajuku yang terbuka. Tak percaya dengan apa yang ibu temukan. Sial, aku akan diusir lagi dari rumah. Gumanku.
"Untuk apa barang haram sebanyak ini kau simpan? Dari mana kau mendapatkannya?" Teriak ibu yang masih berdiri dengan muka yang penuh amarah.
Aku melihat isi dalam plastik hitam. Masih delapan bungkus dengan satu bungkus ganja yang sudah berceceran oleh sobekan ibu yang penasaran dengan isinya. Aku menutup plastik dengan ikatan dikedua ujungnya. Ini bukanlah punyaku.
"Apa menjual ini pekerjaanmu disekolah?" Ujar ibu dengan mengambil paksa plastik dari tanganku. "Apakah kau belajar untuk menjadi pengedar ganja?" Sambung ibu yang berhasil mengambil plastik itu dari tangan kananku.
"Itu bukan punyaku"
"Kau masih membohongiku" Sahut ibu tak percaya "Kau masih menciptakan dosa dengan membohongiku. Siapa yang mengajarkanmu seperti ini?" Sambung ibu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Itu bukan punya kikan bu. Itu punya teman kemarin sore dia nitip" Kataku memelas agar ibu mengembalikan ganja ketanganku.
"Ya temanmu. Beberapa upah yang kau dapat dari temanmu dalam bisnis ini?"
"kikan gak tau, itu bukan punya dikan. Itu..."
"Siapa?" Potong ibu "Pram?" Sanggah ibu menuduh.
"Bukan" Sahutku mendengus. Ibu selalu menyalahkan pram setiap kali tahu bahwa aku adalah manusia dalam gelap. "Namanya sandi. Rumahnya ditanjung ampalu"
"Oh jauh sekali, bagaimana bisa kau mengenalnya hingga dia dengan mudahnya percaya menitipkan ini kepadamu?" Gurau ibu tak percaya.
"Dia teman sekolahku. Kemarin sebelum keseilokek ia menitipkan itu. Dan dia akan mengambilnya kembali" Jawabku.
Ibu menatapku dengan mengertak-ngertakan rahangnya menahan kemarahanya. Matanya berkaca-kaca menahan sakitnya amarah dalam dirinya. Aku begitu takut menghadapi ibu.
"Bodoh. Bagaimana jika ia menelpon polisi, dan dia bersekongkol dengan polisi untuk menjebakmu. Lalu kau dikurung karna barang haram ini" Kata ibu.
"Dia teman baikku bu. Mana mungkin dia"
"Kau takkan pernah bisa kunasehati" Bantah ibu marah serambi berjalan meninggalkanku didalam kamar. Aku terdiam binggung didalam kamar. Bagaimana aku mengakuinya kesandi.
"Aku telah gagal membesarkanmu" Teriak ibu dari luar kamar. "Malang sekali aku mendapatkan anak. Apa karmaku dimasa lalu" Rutuk ibu.
Aku hanya membisu. Aku mulai menyesali diriku sendiri. Mengapa dilemari aku menyembunyikan ganja itu? Ketakutanku akan ibu membuatku merasa marah sendiri kepada keadaan. Tapi aku hanya bisa pasrah dengan segala perasaan bersalah.
"Daarrrr" Suara pintu. Ibu menutup pintu kamarnya keras.
Aku keluar dan berdiri didepan pintu kamar ibu. "Bu. Itu bukan punya kikan bu. Itu punya teman. Dia akan mengambilnya lagi bu" Kataku masih memelas.
Tidak ada jawaban dari ibu. Hanya terdengar hening tanpa pergerakan didalam kamar. "Bu, kembalikan"
"Tidak" Teriak ibu. Lalu ibu membuka pintu kamarnya. "Ini uang jajanmu untuk sekolah. Kata ibu meletakkan uang diatas meja tamu. "Kalau benar ini punya temanmu, suruh dia datang untuk menjemputnya" Kata ibu dan menutup pintu kamarnya keras.
__ADS_1
"Mana mungkin dia berani menghadapi ibu" Sahutku "Ayolah bu, itu bukan punya kikan" Pintaku memohon.
Ibu hanya diam. Aku masih berdiri didepan pintu. Suasana hening sejenak.
"Bu.."
"Taarrrr" Suara pintu berbunyi keras mengagetkanku. "Aku bilang tidak ya tidak" Teriak ibu keras "Dari pada nanti kau bisa kubunuh"
"Tapi bu."
"Tarrrrrr" Suara pintu bervunyi keras lagi. Entah apa yang dilemparkan ibu kearahku hingga mengahasilkan bunyi sekeras itu. Aku berjalan kedalam kamarku dengan perasaan bersalah yang menekan diriku sendiri. Bagaimana aku mengatakannya kepada sandi?
Pagi ini aku berangkat kesekolah tidak dengan annisa. Aku sengaja berangkat sekolah cukup siang karna hari ini adalah jadwal semifinal turnament futsal. Kedatanganku dimontela disambut dengan suka cita atas keberhasilan kami yang lolos kepartai semifinal.
"Mari kita balas dendam. Sekarang giliran kita untuk lolos ke partai final" Kalimat untuk pembakar semangat. Sekolahku bertemu dengan Sma Nine dipartai semifinal. Setahun yang lalu dikompitisi Liga Pelajar Indonesia, Sma Nine pernah mengalahkan sekolahku dipartai semifinal. Dan hari ini menjadi ajang untu membalaskan dendam.
Partai semifinal mempertemukan sekolahku dengan Sma Nine dan SMK 5 berhadapan dengan Sma tujuh. Pertandingan pertama mempertandingkan sekolahku dengan Sma Nine. Pertandingan berlansung seru hingga aku sejenak melupakan masalahku sebagai manusia dalam gelap.
Peluit panjang dibunyikan sebagai petanda bahwa pertandingan telah berakhir. Sekolahku menang 4-2 dan berhak lolos ke final berhadapan dengan pemenang antara SMK 5 dan Sma Tujuh. Kami berjalan keluar gor dengan sorak-sorai sepanjang jalan menuju kesekolah.
Aku dan teman-temanku yang lain duduk untuk sejenak melepaskan penat dikantin tek rida. Aku memesan teh es. Sedangkan partai final akan dilaksanakan setelah sholat zuhur. Masih ada empat jam lagi untuk beristirahat. Aku teringat akan sandi. Aku menelponnya untuk mengabarkan berita buruk yanh kualami tadi pagi.
"Iya dikan" Sapa diseberang sana.
"San, lu lagi dimana?" Tanyaku.
"Lagi disekolah nih bareng dori. Kenapa dikan?"
"San, cimeng yang kemaren ketangkap sama ibu" Kataku dengan perasaan penuh bersalah.
"Kok bisa?"
"Terus lu gimana?" tanya sandi.
"Gimana bagaimana?"
"Iya lu gak diusir lagi kan dari rumah?"
"Enggak sih. Tapi ibu marah-marah tadi"
"Syukurlah" Sahut sandi "Masalah cimeng yang ketangkep itu gak usah dipikirin" Sambungnya.
Aku merasa lega setelah sandi mengatakan itu. Setidaknya aku tidak harus mengganti cimeng yang satu paketnya 50 ribu, kalau delapan paket berarti totalnya 400 ribu. Setidaknya, masalahku berkurang dengan hanya menghadapi kemarahan ibu.
Ibu? Seperti apa kau menghadapi seorang ibu? Atau bagaimana kau menanggapi kemarahannya, ketika kau seakan disudutkan dengan perasaan bersalah. Dalam kenyataan, kau memanglah tersangka yang harus diadili.
Aku benar-benar takut menghadapi ibu. Apalagi aku punya kesalahan yang membuat amarah ibu meradang. Dan marahnya ibu, memang hanyalah kata-kata nasehat seperti ceramah yang tak berjudul. Tapi kata-kata ibu selalu tajam menusuk dan menekanku. Tapi satu hal yang kupahami, marahnya ibu adalah arti bahwa ia peduli padaku. Dan aku telah mengecewakan ketulusan hatinya dengan mengutukku aku sebagai anak yang durhaka.
Aku memang tumbuh dan besar dengan kenakalan. Masa kecilku dihiasi dengan kriminal. Waktu kelas satu smp. Aku pernah ketahuan mencuri uang bendahara kelas sebanyak satu juta untuk. Aku membelikan separuh uangnya kemobil-mobil remot yang ku idam-idamkan.
"Kemana kau habiskan uang sebanyak itu?" Tanya ibu yang mempertanyakan uang satu juta yang kucuri hanya tersisa 700 ratus dalam sehari.
"Kikan belikan mobil-mobil remot" Sahutku terpakasa menjawab karna ibu mendesakku.
Dan ibu hanya menasehati dengan kata-kata. "Ibu tidak melarang kamu untuk mengingkan sesuatu. Maafkan ibu karna tidak bisa menuruti keinginanmu. Tapi kau tidak boleh mengambil hak orang lain sekalipun kau terdesak"
Aku hanya diam dan mendengarkan. Apalagi yang bisa kulakukan selain itu.
"Jangan biasakan mencuri kata ibu. Kendalikan diri kamu. Sesekali lawanlah hawa nafsumu agar kau selamat. Tidak semua apa yang kau inginkan jadi kenyataan" Nasehat ibu mengakhiri ceramah tanpa judulnya.
__ADS_1
Kemarahan ibu seperti itu hanyalah bukti bahwa ia menyayangiku. Semenjak itu aku tidak lagi mencuri. Selain takut membuat ibu marah, apa yang dikatakan ibu adalah benar. Dan ibu memang benar. Sedangkan akulah yang bersalah. Tapi aku tidak suka ibu menyalahkan temanku atas semua kenakalanku.
Waktu smp, kenakalanku memang luar biasa. Adalah adik, yang menjadi sejoliku selama smp. Aku dan adik tidak pernah ikut upacara, ataupun kultum. Lebih parahnya lagi. Kami menyusup kedalam kelas yang kosong, dan mencuri uang didalam tas junior. Hahahaha, aku memang parah. Tapi lebih parah lagi, ketika kami tidak mencuri disekolah saja. Aku dan adik juga pernah mencuri gota, kopi coklat, dan padi yang bisa menghasilkan uang. Dan saat itu ibu juga menyalahkan adik. Adiklah yang membuat aku untuk mencuri. Padahal kenyataannya, akulah yang membujuk adik untuk mencuri. Akulah dalang yang membawa adik untuk bolos sekolah dan mencuri.
Dan tadi pagi, ibu menyalahkan pram atas aku yang jatuh cinta pada keterpurukan dalam dunia hitam. Ibu melarangku untuk berteman dengan pram. Apakah aku harus mrnjauhi pram?
"Bg" teriak seseorang tanpa alamat.
"Dikan" Suara serentak bersahut-sahutan membuyarkan lamunanku.
"Ah apa" Kataku kaget.
"Ngelamun" Cetus dapit tergelak.
"Kesekolah yuk, istirahat didalam mushola" Kata ripo.
Aku berjalan tanpa menyahuti ripo. Dimushola kepalaku terasa sejuk, mataku dingin, dan aku tertidur.
****
Sesudah sholat zuhur berjamaah. Seusai berdoa bersama buk eni pesma selaku wakil kurikulum memberitahukan bahwa tim futsal sekolah lolos kepartai final dalam rangka perayaan 43 tahun kodim. Untuk itu siswa diperbolehkan pulang setelah keluar dari mushola.
Tim futsal masih tinggal dimushola dengan buk eni pesma, pak angga, dan bg wanda sebagai pembimbing. Kami memakan puding sebelum bertanding; ada jeruk, pisang, dan telur bebek goreng.
"Oh iya, kalau kalian juara ada bonus untuk kalian" Ujar buk eni pesma memotivasi.
Dipartai final kami bertemu Sma Tujuh yang mengalahkan SMK 5 dengan skor 3-1. Di Sma tujuh ada sikembar yanda-yandi yang memang disebut hebat dikompitisi LPI, dari smp hingga Sma, kembar yanda-yandi adalah bintang yang diakui hebat oleh banyak orang.
Pertandingan siang itu berlansung seru. Gor montela dipadati oleh penonton. Dihiasi dengan suporter sekolahku dan warga padang sibusuk. 15 menit pertama skor imbang 1-1. Dan diparuh kedua sekolaku kalah telak 3-1.
Diacara penutupan, Sma Tujuh keluar sebagai pemenang dengan hadiah trophy + uang pembinaan sabanyak satu juta. Dan sekolahku berhak mendapatkan uang pembianaan sebanyak tujuh ratus lima puluh ribu. Sedangkan pemain terbaik dan top score mendapat penghargaan piagam dan uang pembinaan sebanyak tiga ratus ribu. Yandi dan aku maju sebagai penerima penghargaan.
Setalah pulang, disimpang PGA aku bertemu bojek yang bergegas dengan motornya. Bojek berhenti dan menghampiriku disimpang PGA.
"Noval dan Bento" tertangkap polisi ujar bojek panik.
"Hah iya" Sahutku kaget " Kapan?"
"Tadi sebelum zuhur"
"Dimana?"
"Dimuaro kalaban"
"Dodi dan ipan mana?"
"Bg dodi dirumah, ipan sudah kabur"
Bojek berlalu karna ia bergegas. Aku menelpon dori berkali-kali tapi tidak diangkat. Kemudian aku menelpon sandi. Didering kelima diangkat.
"Halo san" Sapaku panik. "Dimana?" tanyaku.
"Dirumah sama dodi"
Aku lansung melaju motorku menyusuri jalan pamuatan untuk sampi kerumah sandi. Aku panik sekali. Noval dan bento adalah teman-temanku dilingkaran manusia dalam gelap. Aku mengenal noval dan bento dari ipan. Ipanlah yang mengenalkan ganja dan shabu kepada noval dan bento. Dan sekarang noval dan bento tertangkap oleh kasus shabu dengan barang bukti satu gram kepemilikan shabu.
Setelah setengah jam kurang lebih perjalanan aku sampai dikediaman sandi di nagari tanjung ampalu. Aku memarkirkan motorku dihalaman rumah sandi. Rumah sandi lumayan luas dengan satu tingkat. Ada juga bagasi untuk avanzanya disimpan.
Aku terkejut ketika ada ipan didalam rumah sandi. Ipan masih bisa tertawa ketika melihatku. "Jangan panik. Bukankah ini sudah bagian dari resiko? Kayu akan menjadi abu bila bermain dengan api" Kata ipan.
__ADS_1
Ipan takkan pulang kerumahnya dalam jangka waktu yang takkan pernah bisa ia pastikan. Namanya sedang menjadi buronan nomor satu oleh polisi. Ipan masih membawa dua gram shabu dan sisa paket ganjanya. Kami mimilih untuk menghisap daripada kami buang. Hari itu kami memilih senang-senang dirumah sandi.