
Orang yang sedang jatuh cinta.
Takkan pernah mengerti kenapa ia jatuh cinta.
****
Mentari pagi bersinar terang lebih cepat. Jam dinding menunjukkan hari masih pukul tujuh kurang sepuluh menit. Aku berpamitan kepada ibu setelah sarapan.
"Buu, kikan berangkat dulu ya" pamitku
"Hati-hati ya" Ucap ibu berdiri didepan pintu.
Aku mengangguk dan tersenyum. Aku sadar bahwa ibu melepasku dengan perasaan yang dipenuhi harapan. Selain senyum buk mutia. Ibu adalah alasan utama kenapa aku harus berubah dan rajin untuk belajar.
"Jangan lupa bayar uang SPP"
Aku mengangguk sekali lagi. Lalu berangkat sekolah dengan sepeda motor maticku. Jalan lintas sumatra lancar seperti hari-hari biasanya. Tidak ramai dan tidak pula lengang. Jarak sekolahku berada sekitar sepuluh kilo meter dari rumahku. Dan jaraklah yang sering kali menjadi alasanku ketika aku terlambat. Tapi kemudian alasan itu seperti tak mempan lagi semenjak buk det menjulukiku sebagai "Raja telat". Buk det bilang kalau telat sudah menjadi darah daging didalam diriku.
Pukul tujuh lewat delapan menit. Aku memarkirkan motorku sesampai dikantin tek rida. Kantin tek rida adalah kantin yang biasa kukunjungi semenjak kelas sepuluh. Selain makanan yang lengkap, kantin tek rida juga menjual rokok. Itulah kenapa pengunjung kantin tek rida hanya didominasi oleh murid laki-laki. Sebelum tek rida, pemilik kantin ini adalah tek wen, kakaknya tek rida. Namun, waktu kelas dua, tek wen meninggal karna mengidap penyakit jantung. Dan tek rida meneruskan usaha kakanya itu.
"Nando baru saja kebawah" Ujar tek rida yang berdiri didepan pintu kantinnya.
"Iya tek, bell udah bunyi?" Tanyaku merapikan rambutku dikaca spion.
"Udah, baru saja bunyi. Nando palingan juga baru sampai dilokal" Sahut tek rida.
"Yaudah tek, dikan upacara dulu" Ucapku lalu berlari ditengah ruangan bekas sekolah yang sudah tidak lagi dipakai. Dinding-dinding tua itu menjadi pemisah antara sekolahku dengan kantin tek rida.
Suara buk yana terdengar berteriak-teriak melalui microfon. Aku melihat nando sedang bergegas masuk kedalam barisan. Aku segera berlari kelapangan dengan perasaan yang bangga. Hari ini aku tidak telat lagi. Aku meletakkan tasku dibelakang barisan.
"Wiehhh tumben nih" Celetuk windi ketika aku baru saja bergabung kedalam barisan.
Aku hanya tersenyum menanggapi windi.
"Raja telat gak telat lagi" Sambung windi.
"Dikan sudah berubah" timpal aldi dengan menepuk pundakku.
Sebagian barisanku tertawa. Aku hanya diam dan merasa bangga. Aku siap untuk berdiri mengadapi upacara. Walaupun upacara itu terasa membosankan bagiku. Pandanganku terlengah kearah buk mutia yang berdiri dibarisan para guru.
Sungguh aku tak bisa memastikan bahwa ialah wanita yang paling cantik. Tapi, aku mengakui. Diantara guru muda lainnya, buk mutia telah berhasil menghentikan pandanganku. Buk mutia bisa menahanku hanya untuk terus memandanginya. Aku mengagumi semua hal yang ada dalam diri buk mutia.
Dan aku juga tidak bisa membedakan seperti apa wanita yang cantik. Bukankah cantik itu relatif? Bukankah diatas langit masih ada langit. Aku tidak tahu kenapa aku mengagumi buk mutia. Aku telah jatuh hati semenjak pertama kali melihatnya tersenyum didalam kantor. Namun, aku sadar aku takkan bisa memiliki buk mutia.
Upacara yang membosankan itu terasa menyenangkan dengan kehadiran buk mutia. Aku terus memandangi buk mutia. Ada perasaan bahagia ketika aku memandangnya. Buk mutia tak sengaja menoleh kearahku. Dan dia melihat aku terus menatapnya. Aku tersentak. Aku segera menundukkan kepala. Apa dia melihatku sedari tadi menatapnya? Gumanku.
Aku hanya diam dan menyembunyikan keberadaanku dibalik badan nando. Badan nando yang tinggi besar menutupi keberadanku dari buk mutia. Aku bersembunyi dibalik badan nando sampai upacara selesai.
Satu jam kemudian, barisan upacara dibubarkan. Aku berjalan didalam kerumanan yang behamburan untuk kembali kedalam lokal mereka masing-masing. Sinar matahari sudah terasa panas. Badanku mulai merasakan gerah dengan keringat yang bercucuran membasahi bajuku.
Aku membuka topiku sesampai dikelas. Anehnya, hanya aku yang terlihat berkeringat pagi ini. Sedangkan temanku juga mengeluh gerah dengan keringat yang hampir tidak terlihat. Kepalaku terasa dingin dengan keringat yang membasahi rambutku. Baju belakangku juga sudah basah. Aku merasakan kepalaku berdenyut. Terasa ngilu hingga aku memaksakan tidur dengan kepala terpaku diatas meja.
Kepalaku masih kian terasa sakit saat aku memaksa untuk tidur. Sementara itu buk net mengucapkan salam yang bersahutan salam dari seisi kelas. Aldi menyiapkan anggota kelas sebelum memulai doa pagi yang menjadi tradisi sebelum memulai pembelajaran. Diawali dengan Al-fatiha, Al-ikhlas, An-nas, Al-falaq, dan diakhir dengan Ayat kursi. Aku masih mendengar dengan kepala tertunduk seolah tertidur. Kepala dan mataku memaksaku untuk tidur. Dan suara lantunan ayat-aya Al-quran terasa mengema ditelingaku. Membuat kepalaku berdenyut-denyut. Terasa ngilu ketika aku memakasakan membuka mata.
"Sakit teguh" ujar buk net dengan mengusap keningku.
Entah apa yang ia rasakan. Entah panas atau dingin yang dirasakan oleh buk net. Tapi badanku memang terasa dingin. Aku seolah menggigil dengan keringat yang menjalar membasahi sebagian atas tubuhku.
Buk net berlalu dan melanjutkan topik pembelajarannya. Aku hanya diam dengan kepala terpaku diatas meja. Sial, ini pasti karna aku kurang tidur semalam.
Kepalaku semakin terasa sakit dengan denyutan terasa menghentak. Aku memaksa mataku untuk tidur. Buk net terdengar membahas materi pelajarannya. Setelah itu hingar-bingar. Lalu aku menjadi tuli dan bisu.
Entah sudah beberapa jam aku tertidur. Aku terbangun oleh panggilan nando.
"Dikan. Dikan" Panggil nando dengan mengoyangkan lenganku.
Aku mengangkat kepalaku. Nando berdiri disamping ditemani ijep. Sakit dikepalaku sedikit mulai terasa reda. Aku mengelap pipiku yang terasa basah. Sebagian teman-temanku terlihat berjalan keluar. Aku terdiam menatap sekeliling. Aku melihat tika, aulia, vingky dan pariti membawa bukena. Aku mengumpulkan kesadaranku sejenak sebelum berjalan keluar lokal.
"Sudah istirahat ndo?" Tanyaku pada nando.
"Iya sudah istirahat yang kedua" sahut nando tertawa.
Ijep juga tertawa "Pulas sekali kau tidur dik" Ucap ijep
Aku berjalan mengikuti nando dan ijep kekantin tek rida. Pantas saja tika dan anak cewek lainnya membawa bukena. Disekolahku, dalam satu hari menyediakan dua waktu istirahat. Dimana istirahat pertama dengan waktu 30 menit. Dimulai pukul 10:15-10:45 dan 12:30-45. Sedangkan istirahat kedua 45 menit sudah termasuk sholat zuhur berjamaah.
__ADS_1
"Demanmu sudah hilang" Ucap nando dengan meletakkan tanggannya diatas keningku.
Aldi, nando, dan ijep adalah temanku dikelas tiga ini. Sesampai dikantin ternyata tek rida sedang membicarakan aku dengan aldi yang telah lebih dulu kekantin.
"Panjang umur nya di" Ucap tek rida setelah melihatku.
"Sudah sadar dia dari komanya tek" Ledek aldi.
Aku duduk disebelah aldi. Aku terlihat bingung. Kepalaku tidak lagi terasa sakit. Tapi aku merasakan mataku sembab karna terridur cukup lama.
"Mimpi apa tadi lu dik, sampai segitu nyenyaknya tidur?" Ledek aldi.
Aku hanya tertawa kecup. Seisi kantin tertawa
"Bagadang semalaman dikan ya?" Tanya tek rida.
"Iya tek, semalam bagadang" Sahutku menjadi alasan.
Aku kemarin bagadang. Bukan karna nonton bola. Aku semalam duduk di RGM sampai larut malam. Di RGM, kami memang bubar sering larut malam. Semalam, tuak lebih banyak dibawa oleh tamu---teman bisnis lama pram yang pernah sama-sama menjadi kurir bandar sabu besar. Bg GM namanya, GM adalah kepanjangan dari gendut manis. Pram dan GM bercerita tentang kelamnya kehidupan mereka sewaktu menjadi kurir. Cerita lama membuat kami lupa akan jam dan aku pulang jam dua malam.
"Dikan gak makan?" Tawar tek rida.
"Masih ada nasi goreng tek?"Tanyaku.
"Masih, sengaja etek tinggalin satu porsi buat dikan" Sahut tek rida.
"Yaudah tek, nasi goreng satu" Pesanku.
Tek rida menyalin nasi goreng kedalam piring. Aldi terus meledekku karna seharian tertidur tanpa mengikuti pelajaran. Perutku sudah terasa sangat lapar.
"Mungkin karna sesekali ikut upacara kali ya" Ucap tek rida dengan meletakan sepiring nasi goreng didepanku.
"Bisa jadi tek" Sahut aldi. "Dikan sekarang sudah berubah" sambung aldi serambi menepuk undakku.
Nando dan ijep tertawa mendengar ledekan aldi. Aku terus mengisi perutku dengan sepiring nasi goreng.
Siang ini kantin tek rida hanya ada aku dan ketiga sahabatku, juga ada beberapa orang junior satu tingkat dibawahku. Seperti biasanya istirahat kedua, kantin tek rida lengang dibandingkan istirahat pertama yang selalu ramai.
Afdol, nurfan, dan beberapa teman-temannya terlihat baru datang. Aku memesan rokok ke tek rida setelah selesai makan. Meskipun tidak sekolah disini lagi, nurfan dan afdol kadang menyempatkan untuk main ke kantin tek rida.
"Sudah pulang genji tawuran" Ledekku kepada nurfan.
"Enggaklah, gua anti dengan kekekarasan" Sahut nurfan dan duduk disampingku.
"Goblin" Sapa afdol kepadaku.
Goblin adalah panggilan yang diberikan afdol kepadaku. Panggilan itu ia berikan kepadaku sebab aku sering membulinya yang selalu suka permainan COC. Aku mengatakan bahwa permainan COC hanyalah permainan orang bodoh. Afdol dan suhaimi selalu fokus menatap ke layar ponsel dan melupakan orang-orang disekitarnya. Seperti sudah kecanduan. Dan semenjak itulah afdol memanggilku dengan sebutan goblin. Kata afdol goblin itu adalah karakter dari permainan COC, prajurit dengan karung perum yang sering mencuri emas sebagai rampasan perang.
Nando, ijep, aldi, dan beberapa juniorku duluan kebawah untuk melaksanakan sholat zuhur berjamaah. Sekolahku mempunyai waktu untuk sholat zuhur berjamaah yang dilakasanakan pada hari senin, rabu, kamis, dan sabtu. Sedangkan selasa dan jumat tidak dilaksanakan sholat berjamaah. Didalam kantin kini hanya ada aku, afdol, nurfan, zico dan kiki junior dari jurusan IPS.
Afdol mengajakku untuk bermain futsal antara sekolahnnya dan sekolahku seusai pulang sekolah. Dia bilang suhaimi dan temannya yang lain telah menanti di gor montela. Aku menyetujui meladeni tantangan afdol setelah dapit dan zico menjawab dengan setuju.
Kami lalu bubar dari kantin tek rida yang sudah mau tutup. Aku, zico, dan dapit berjalan kembali kedalam sekolah. Sedangkan afdol dan nurfan menungguku pulang sekolah di gor montela.
"Jangan jadi pecundang ya" Teriak afdol untuk kembali mengingatkan kami.
Aku hanya tertawa kecil menanggapi ujaran afdol.
"So jagoan" Timpal zico yang berjalan dibelakangku.
"Jangan lupa ajak caknun sama gani ya ko" Pesanku kepada zico.
"Siipp" Jawab zico singkat.
Aku berjalan kekantin pak apin menemui ketiga sahabatku yang mengambil wudhu disana. Sedangkan zico menyimpang kekanan dan mengambil wudhu didalam wc mushola.
Didalam kantin pak apin. Aldi terlihat sedang berbincang dengan buk diana dan buk mutia. Juga tek surti(Istri pak apin) yang sedang mengoreng gorengan yang akan dijual.
"Di, hari ini kamu pulang bareng nando ya" Ucapku ketika baru saja sampai didalam kantin pak apin.
"Kok gitu?" Sahut aldi
"Iya tadi afdol ngajakin sparing futsal pulang sekolah" Jelasku dan duduk menyamping disebelah aldi
Aldi hanya terdiam. Aku tersenyum kearah buk diana. Buk mutia lebih dulu tersenyum sebelum aku menatapnya. Senyum buk mutia membuatku merasa gerogi. Aku segera memalingkan muka dari buk mutia.
__ADS_1
"Goreng buk" Sapaku kepada buk diana dan mengambil goreng.
"Ya lanjut" Sahut buk diana.
"Buk" Sapa menawarkan kepada buk mutia. Buk mutia terlihat menolak dengan senyuman.
"Udah sehat sakit kepalanya dikan?" Celetuk buk diana.
Aku hanya tersenyum serambi memakan gorengan.
"Aldi ngak hobi suka futsal" Tanya buk mutia.
"Suka buk, tapi orang yang kurang pandai ini mana dipakai orang" sahut aldi merendah
"Ajak jugalah aldi main futsal dikan" Ujar buk diana.
"Aldinya yang gak mau ikut buk" Sahutku.
"Iya buk, aldi kurang pandai main futsal buk. Tapi kalau dikan, dia jadi pemain andalan sekolah di kompetisi LPI buk" Ucap aldi.
"Ohh iya, setiap tahun ada lomba main bola antar sekolah tingkat SLTA se-kabuhpaten mah ndg?" Tanya buk diana.
"Iya, tahun kemarin sekolah kita hanya sampai semifinal" Ucap aldi.
"Emng iya ada?" Tanya buk mutia penasaran.
"Iya, setiap tahun. Biasanya dimulai disemester pertama ya dik?" Tanya aldi.
"Bulan september mulainya kalau enggak salah" Sahutku.
"Dikan juga ikut?" Tanya buk mutia.
"Dikan pemain andalannya buk. Peran dikan tak tergantikan dalam tim sepakbola sekolah" Ucap aldi berlebihan.
"Aldi ngak ikut?" tanya buk diana.
Aldi menggeleng. "Hanya ripo dan dikan yang terpilih masuk squad pemain inti" Sahut aldi.
"Masak iya" Buk mutia meragukan.
"Yah...Ibuk ngak percaya. Dikan kapten sepakbola buk"
"Belum tahu buk. Lombanya aja belum dimulai" Jawabku segera meluruskan pernyataan aldi.
"Tahun kemaren siapa kaptennya?" Tanya buk mutia.
"Bg wanda. Dia sudah tamat" Sahutku
Buk mutia tersenyum. Buk mutia terlihat antusias sekali. Itulah yang aku suka dengan buk mutia. Buk mutia tidak malu untuk bertanya. Meskipun kadang yang ditanyakan hanyalah sebuah dusta dari senda guraun semata.
"Sekarang kelas tiga, siapa-siapa saja yang termasuk kedalam team sepak bola sekolah?" Tanya buk mutia lagi.
"Belum tahu buk, nanti akan diadakan seleksi sebulan sebelum kompitisi dimulai" Aku menjelaskan.
"Seru donk besok nontonnya" Ucap buk mutia.
"Nontonlah buk, biar ada yang bisa bikin dikan semangat" Ucap aldi dan masuk kedalam rumah pak apin.
Buk mutia hanya tersenyum. Buk diana menggeleng dengan apa yang dikatakan aldi. Aku masih melanjutkan obrolanku dengan buk mutia dan buk diana. Buk mutia yang hampir sama tinggi denganku itu tua dua tahun daripadaku. Buk mutia kelahiran oktober 95 dan buk diana setahun lebih tua dari buk mutia. Buk diana juga membercandaiku dengan menyuruhku untuk mampir kerumah buk mutia kapan-kapan. Buk mutia hanya tertawa kecil. Tertawa yang menyembunyikan rasa malunya.
"Yu dik, Wudhu lah lagi. Orang udah azan" Ucao nando yang baru keluar dari dalam rumah pak apin.
"Oh iya" jawabku lalu membuka sepatuku.
"Ngobrol mulu dari tadi" Keluh nando.
"Gara-gara buk mutia nih, keasyikan ngajakin dikan ngobrol" Celetuk ijep.
Buk mutia hanya tertawa heran. Buk diana, dan bik surti juga ikut tertawa. Aku masuk mengambil wudhu didalam kamar mandi pak apin. Aldi, nando, dan ijep sudah tahu bahwa aku menyukai buk mutia. Aku keluar setelah mengambil wudhu. Buk mutia dan buk diana sudah tidak ada lagi selepas aku keluar dalam rumah pak apin.
"Berapa bik?" Tanyaku bersiap untuk membayar.
"Sudah dibayarkan oleh buk mutia" Jawab bik surti.
Aku berjalan ke mushola dengan perasaan bahagia. Kebaikan buk mutia siang ini semakin membuat aku kagum padanya.
__ADS_1