Ruang Hitam

Ruang Hitam
Ayah


__ADS_3

Kadang, kita mengingkari apa yang telah kita janjikan terhadap diri kita sendiri. Entah sadar atau tidak. Kita berpotensi untuk munafik terhadap diri sendiri.


****


Memang benar tentang pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Seorang anak akan mewarisi sifat orang tuanya. Akan ada kemiripan yang akan menjadi kehendak bagi seorang anak. Seperti rupaku yang sangat mirip dengan bapak. Hidung, mata dan keningku sangatlah mirip dengan bapak. Tapi kulitku mewarisi kulit ibu yang halus.


Seorang anak akan cendrung mengikuti apa yang telah dipilihkan oleh orang tua mereka. Seorang anak akan tumbuh dengan apa yang telah diajarkan oleh orang tua mereka. Misalnya agama dan etnis yang menjadi kehendak dan turun menurun. Seperti aku yang mempercayai islam untuk keyakinan hidup. Dan minang sebagai ras dan etnis


Meskipun aku terlahir dari rahim perempuan sunda. Aku hidup dan berkembang dalam adat minang. Ibu juga menjadi orang minang yang memiliki suku sebagai golongan. Walaupun nenek moyang ibu adalah orang sunda asli. Namun ibu telah resmi menjadi orang minang setelah melalui tradisi adat yang dinamakan; mangaku induok. Ibu memilih suku melayu sebagai golongannya. Sedangkan bapak bersuku chaniago yang turun temurun dari ibunya.


Aku kecil punya keluarga yang begitu tenang dan indah. Sebelum akhirnya kebodohan bapak merenggut harmoni dan kebahagian itu. Bapak berubah semenjak ia tersisih dari suku dan keluarganya sendiri. Bapak tidak lagi mengizinkan ibu untuk mengunjungi kampung halaman bapak. Ibu juga kurang tahu keseluruhan cerita dari masalah itu. Namun bapak selalu marah besar ketika ibu ingin tahu kenapa ia membenci kampung kelahirannya sendiri. Dan semenjak itulah ibu merasakan perubahan sikap bapak.


"Hatinya telah buta oleh dendam. Dendam membuat hatinya tidak lagi suci hingga enggan untuk sholat. Padahal, dengan sholatlah seharusnya ia membersihkan hati dari dendam" Ucap ibu


Aku hanya duduk memperhatikan ibu dengan khidmat. Aku lebih banyak diam semenjak satu jam yang lalu. Ibu bercerita tentang agama dan adat yang berdampingan dalam kehidupan. Aku tidak paham sepenuhnya apa yang dibicarakan ibu. Tapi aku sangat tertarik untuk mendengarnya.


"Bapakmu terlalu keras kepala. Hanya karena dikhianati oleh saudara dan adatnya sendiri. Bapakmu juga mengkhianati kenyakinannya sendiri. Entah apa yang ada dipikirannya hingga ia melupakan siapa tuhan dalam dirinya sendiri.


"Saudara dan adat?" Tanyaku penasaran.


"Ibu juga tidak bisa menceritakan lebih banyak. Tapi ibu hanya mengeluhkan kebodohan bapakmu sebagai laki-laki minang yang berpegang teguh kepada keyakinannya sendiri" Ucap ibu.


Aku hanya diam. Apa yang dikatakan ibu memang benar. Jika agama lain punya Tuhan yang berwujud untuk disembah. Islam beribadah dengan menyembah nuraninya sendiri. Tuhan seorang muslim hidup didalam keyakinan hatinya sendiri.


"Islam bapakmu hanya tinggal status KTP. Bapakmu menyakini islam tapi tidak mengamalkan islam sebagai tuntunan untuk hidup. Sungguh celaka bagi seorang muslim yang melalaikan sholatnya"


Aku terdiam terpaku. Kata ibu-ibu menusuk kedalam kalbu. Aku sama saja seperti bapak yang melalaikan sholat sebagai kewajiban umat islam. Islamku hanya sebatas ucapan dimulut. Sedangkan perbuatan dan keyakinanku tidak mencerminkan seorang muslim.


"Kau tahu apa itu aki-laki, Nak? Kelak, kau akan memikul tanggung jawab yang lebih besar. Istri dan anak-anakmu menjadi tanggung jawabmu dihadapan Allah. Dan bagaimana nasib anak dan istrimu nanti jika kau saja tidak bisa mempertanggung jawabkan dirimu sendiri" Ucap ibu lagi menutup cerita malam ini


Aku kembali ditekan oleh pikiran-pikiranku sendiri. Mataku terasa sulit untuk terpejam meskipun sudah dini hari. Aku berdebat hebat dengan diriku sendiri. Tapi seperti biasanya perdebatan itu berakhir tanpa kesimpulan. Aku tertidur dengan pertanyaan: Entah kapan aku akan siap menjadi manusia yang menjadi manusia?



Mentari cerah menyinari pagi senin dipertengahan bulan desember. Ujian semester ganjil telah berakhir sabtu kemarin. Siswa-siswa berkeliaran bebas tanpa aktivitas. Anggota-angota Osis sibuk mengatur dan menyusun acara untuk lomba akhir semester. Aku duduk termenung ditangga depan kelasku. Ketiga sahabatku sibuk mengerjakan remedi mereka didalam kantor. Aku memperhatikan orang-orang bermain bola volly dan basket dilapangan. Lomba akhir semester akan dimulai besok hari.


Sudah seminggu ini aku tidak menghisap ganja. Ganja pemberian sandi sudah habis. Aku berencana untuk berhenti dan mengurangi kebiasaanku menghisap ganja. Tapi rencana hanyalah sebuah rencana disaat aku masih membutuhkan ganja didalam hati. Aku seperti munafik terhadap diriku sendiri. Sejenak, aku larut dalam pikiran yang telah bergantung kepada ganja.


Aldi datang dengan rasa kesalnya terhadap buk rahmi. Aldi berceloteh tentang remedi ekonomi yang tidak diterima buk rahmi. Aku hanya tertawa kecil melihat kekesalan aldi. Aldi kembali fokus dengan buku dan pena. Mengulang semua remedinya dari awal. Blackberryku berbunyi petanda BBM masuk.


Mutia Heriyenti


"Ayah sama ibu kamu berpisah?"

__ADS_1


Sudah sebulan lebih aku dan mutia berpacaran. Namun mutia baru mengetahui kalau orang tuaku sudah bercerai. Mungkin mutia tahu dari puisi untuk ayah yang kubagikan di twitter. Puisi yang kurangkai kemarin malam.


Mutia tidak hadir disekolah selama ujian ini. Terakhir kali aku bertemu mutia adalah hari rabu kemarin sepulang ujian. Tapi besok pagi mutia akan kembali hadir disekolah. Ada tiga hari lagi untuk melihat mutia sebelum waktu mengakhiri status mutia sebagai guru muda.


Mutia Heriyenti


"Malang sekali aku ini sebagai kekasih. Kenapa aku tidak pernah tahu tentang itu. Aku bahkan tidak akan tahu kalau kamu tidak memposting puisi itu ditwitter"


Aku tersenyum dan membalas pesan mutia dengan salera humor. Twitter adalah rumah untukku berkeluh kesah. Disaat galau, kecewa, dan merasa bosan. Aku selalu melampiaskan dengan kata-kata lewat status ditwitter. Sedangkan mutia juga memakai twitter jauh sebelum kami saling kenal. Mutia mengetahui twitterku dari ScrenShoot tweet yang pernah kujadikan DP BBM. Dan keberanian mutia mengirim surat cinta itu muncul setelah melihat status galauku ditwitter.


Mutia Heriyenti


"Aku benar-benar minta maaf karna aku tidak pernah tahu selama ini. Aku pikir kamu masih punya orang tua yang lengkap. Kamu juga sih, kenapa gak pernah cerita kepadaku?"


Aku tersenyum membaca pesan mutia. Mutia selalu menuntut agar aku menceritakan semua masalah kepadanya. Mutia bilang masalahku adalah masalahnya juga. Dan begitu juga sebaliknya.


Dikan Alendra


"Sudahlah. Tidak usah dibahas lagi. Lagipula kamu sudah tahu sekarang"


Aku tidak tertarik untuk membahas percerain ibu dan bapak. Dikepalaku sekarang hanya berisi ide-ide untuk menghisap ganja. Tapi berakhir buntu. Aku tidak punya cukup uang untuk membeli satu paket limpul. Selain itu aku juga tidak punya jaringan untuk mengetahui siapa bandar ganja saat ini. Aku harus bersabar hingga nanti malam berkumpul dengan RGM. Dan aku merasa muak menanti malam yang masih lama.


"Kantin tek rida yuk dik" Ajak aldi.


Aku mengangguk. Aku berharap suasana kantin tek rida bisa merubah keadaan hatiyang tak menentu. Aku berjalan serambi mendengar ocehan aldi tentang buk rahmi. Aldi masih kesal dengan tugas remedinya yang harus diulang hanya karna tulisannya tidak rapi. Aldi merasa kesal karna harus mengulang untuk mencatat remedinya hampir dua lembar.


Dibangku paling belakang. Aku sibuk mempertanyakan bagaimana kabar dori. Apakah dia masih menjadi manusia dalam gelap. Aku tidak pernah bertemu dengannya setelah beberapa bulan yang lalu. Aldi memperhatikanku dengan tatapan yang lekat. Dia seperti menebak kenapa aku banyak diam hari ini. Dengan sadar aku menoleh menatapnya.


"Perpisahan guru PL hari juma'at ya? Tanya aldi.


"Serentak dengan pemberian hadiah classmeeting" Jawabku  setelah mengangguk.


"Gua kira lo galau karna ngak ketemu mutia" Ucap aldi tersenyum


"Maksud nya?" Tanyaku tidak mengerti. Keningku terangkat.


"Enggak, gua cuman ngetes. Siapa tahu lo galau karna buk mutia" Ucap aldi tertawa kecil.


Sialan. Aldi bahkan bisa merasakan kegelisahanku. Aku menyalin minuman aldi kedalam gelas kosong. Apa aku harus jujur kepada aldi? Mengatakan bahwa aku tidak galau karna mutia. Tapi galau karna ganja.


"Dari tadi lu murung aja gua lihat. Apasih yang lu pikirin?" Ungkap aldi.


Aku hanya diam. Aku tidak tahu apa yang akan kukatakan kepada aldi. Asap rokok yang keluar dari mulutku adalah jawaban kalau aku hanya ingin sendiri.

__ADS_1


"Lu semalam bagadang lagi?" Tanya aldi.


Aku mengangguk.


"Gua ingin pulang. Lu bisa kan sama nando?" Tanyaku


"Iya, Duluan aja. Gua bareng nando aja. Nando juga remedi katanya tadi"


"Absen gua gimana ya nanti?"


"Ngak bakalan ada guru yang mengambil absen hari ini. Pulanglah, tidak usah dipikirkan" Ucap aldi


"Entarlah. Habiskan rokok dulu" Jawabku malas


"Sekarang ajalah" Ajak aldi


Aku dan aldi berjalan keluar dari kantin tek rida. Aldi kembali kedalam sekolah dan melanjutkan remedinya. Sedangkan aku melaju sepeda motorku dijalan lintas sumatra. Ditepi jalan lintas sumatra yang tak jauh dari cafe ririn. Seseorang berteriak memanggil namaku dari seberang jalan. Sandro? Dia berdiri didepan rumahnya. Dia melambaikan tangannya untuk menyuruhku menemuinya diseberang jalan.


Sandro adalah teman dori dan ipan. Dia juga pernah menjadi manusia dalam gelap. Aku mengenalnya dirumah dori. Sandro adalah sepupu satu suku dengan dori. Aku sudah lama tidak bertemu dengan sandro. Bahkan aku tidak mendengar kabarnya dikejadian tertangkapnya noval dan bento.


Laki-laki berkulit sawo itu tersenyum kearahku. Tubuhnya yang lebih tinggi dariku menunduk. "Bagaimana kabar tuan tamu?"


Aku tertawa. Sandro memanggilku dengan kebiasaannya ketika aku bertamu dirumah dori. Sedangkan aku memanggil sandro dengan sebutan tuan muda sebagai balasan pengehormatannya. Aku berjabat tangan dan merangkul sandro.


"Sudah lama aku tidak bertemu kau tuan muda" Ucapku


"Aku lebih suka menjadi anak rumahan sekarang. Hitam ternyata juga bisa menakutkan. Dan aku tidak ingin merubah teror itu menjadi mematikan. Lebih baik aku berhenti. Hidup normal juga mendamaikan"


Sandro tertawa. Aku juga tertawa. Kejadian yang menimpa noval kemarin berhasil menjadi bencana yang menakutkan. Beberapa teman yang sering berkumpul dirumah dori telah berhenti menjadi manusia dalam gelap. Seperti sandro dan bojek yang telah merubah haluan mereka.


"Itu lebih baik ndro. Untuk apa berpikiran panjang. Jika tidak berani menghadapi resiko" Sahutku.


"Aku lebih baik jadi pecundang dikan" Sandro tertawa.


"Jangan bicara seperti itu. Kamilah pecundang yang masih suka hidup didalam rasa takut" Ucapku


"Kau takkan bisa berhenti dikan. Kau sama saja dengan dori dan ipan. Kalian tidak ada takut-takutnya"


"Bagaimana kabar beruang bodoh itu sekarang?" Tanyaku kepada sandro.


Sebuah motor berhenti didepanku. Lelaki itu tersenyum. Aku membalas tersenyum. Aku mengenalnya, tapi tidak tahu namanya.


"Dia sudah menjadi beruang yang pintar sekarang. Kau lihat sajalah dia dirumahnya. Dia berpikir kalau kau juga sudah berubah haluan. Dia merindukanmu" Kata sandro dan naik keatas motor temannya.

__ADS_1


"Kau buru-buru sekali"


"Aku memancing dulu. Kau temuilah dori dirumahnya. Dia merindukanmu" Sandro berlalu dengan bunyi motor yang menjauh.


__ADS_2