
pagi ini Sella sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta beserta Zayn dan Adit. ia membereskan barang yang di bawanya juga barang milik Zayn
"aaaaaarrghh" Zayn terbangun dan memegangi kepalanya yang masih pusing
"kamu sudah bangun?" tanya Sella yang berdiri di samping kasur, menatap Xayn engan sinis
Zayn merasa kepalanya nyut-nyutan. dia bingung kenapa kepalanya bisa sakit seperti ini
"sayang, kepalaku pusing sekali" ujar Zayn sembari mencoba bangun dari tidurnya
"kamu mandi dulu, supaya pusingnya hilang. kita harus segera kembali ke Jakarta" ujar Sella agak ketus
"tok tok tok" pintu kamar Sella di ketuk oleh seseorang yang ternyata Adit
"Zayn sudah bangun?" tanya Adit setelah Sella membukakan pintu
"baru bangun. bersiaplah, kita harus segera pulang, malas sekali rasanya harus bertemu dengan wanita penggoda itu" jawab Sella loyo, seperti tak ada semangat karena kejadian tadi malam
"aku sudah siap." ujar Adit kemudian datang Vano menghampiri mereka
"kalian sudah siap? ayo kita pulang!" ujar Vano
"kalian tunggu sebentar, Zayn sedang bersiap" ucap Sella
"baiklah, kita tunggu di depan" ucap Vano dan kemudian berlalu dari depan kamar Sella diikuti Adit
hanya butuh beberapa menit Zayn bersiap akhirnya ia selesai. tapi ia merasa heran karena pagi ini istrinya tidak seperti biasanya, terlihat lebih cuek
"sayang, ada apa?" tanya Zayn yang melihat Sella duduk termenung di pinggiran tempat tidur
"tidak apa-apa. kita bicara di apartemen saja, sebaiknya kita segera pulang" jawab Sella dan kemudian membawa tasnya. Sella berjalan dahulu tanpa memperhatikan Zayn yang masih bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya, kenapa dia tidak ingat ada kejadian apa hingga membuat istrinya cuek
"ayo Dit, kita pulang sekarang!" ajak Sella setelah ia menghampiri Adit di ruang tamu, yang sedang berbincang dengan Vano dan Bianca di ruang tamu di susul Zayn di belakang Sella
__ADS_1
"kalian tidak sarapan dulu?" tanya Bianca yang seperti tidak ada dosa sama sekali terhadap Sella
"tidak, terima kasih!" jawab Sella ketus, kemudian ia berjalan ke luar villa dengan menarik tangan Zayn. Zayn hanya mengikuti saja kemauan istrinya, karena baginya Sella adalah segalanya
"kita duluan Van, Bi" ucap Adit kemudian menyusul Zayn dan Sella keluar
diperjalanan tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Sella. Zayn sudah beberapa kali mengajak bicara Sella tapi hanya jawaban singkat yang ia dapat dari mulut istrinya itu
Zayn mencoba sabar, karena mungkin ia melakukan kesalahan hingga membuat Sella bersikap cuek kepadanya
pagi ini jalanan tak begitu macet, hingga mereka sampai di Jakarta pukul setengah sembilan pagi. Sella meminta Adit mengantarnya ke apartemen karena alasan ingin segera istirahat padahal ia masih merasakan sesak di dadanya melihat kejadian kemarin
setelah mengantar Sella pulang, Zayn dan Adit segera ke kantor, tak ada waktu lagi untuk mereka sekedar ganti baju karena pasti pekerjaan mereka di kantor sangat menumpuk
sesampainya di kantor mereka menuju ruangan masing-masing dan mereka sudah di sambut dengan tumpukan berkas yang membuat mereka harus memijit-mijit kepala
Zayn dengan segera menyelesaikan pekerjaannya karena ia ingin segera pulang untuk membicarakan masalah dengan istrinya, ia tak mau membiarkan masalah berlarut-larut karena hanya akan menambah masalah menurutnya
"Zayn, ayo pulang" ajak Adit yang baru masuk keruangan Zayn dan duduk di depan Zayn
"apa kamu tidak sadar sudah melakukan hal yang menyakiti hati Sella?" tanya Adit, ia bingung kenapa Zayn tidak ingat dengan apa yang sudah dilakukannya
"aku? menyakiti Sella? menyakiti apa?" tanya Zayn dengan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal
"astaga Zayn, Sella itu memergoki kamu sedang ciuman dengan Bianca di dapur, masak kamu tidak ingat?" cibir Adit, ia merasa kesal dengan Zayn yang tak punya daya ingat bagus
"apa? mana mungkin aku ciuman dengan Bianca? dekat dengannya saja aku sudah alergi" jawab Zayn
"entah, tapi memang itu yang terjadi. sudahlah aku mau pulang dulu. selamat menghadapi amukan macan setelah ini" ujar Adit sembari mendekatkan wajahnya ke arah Zayn kemudian ia pergi dari ruangan Zayn, meninggalkan Zayn yang masih dalam keadaan bingung
Zayn segera pulang setelah mendengar ucapan Adit. ia akan segera menanyakan langsung pada Sella
sesampainya di apartemen, Zayn segera mencari Sella dan ia menemukan Sella di kamar baru selesai mandi dan sedang berdandan
__ADS_1
Zayn tersenyum melihat Sella lalu ia menghampirinya. memeluk Sella dari belakang, mencium rambutnya yang basah beraroma manis.
Sella yang tiba-tiba di peluk hanya diam, dia sudah hafal jika pasti suaminya yang melakukannya. ia tak menolak juga tak merespon, ia justru melanjutkan kegiatannya berdandan
"sayang, kamu marah sama aku?" tanya Zayn yang mendapati Sella mengacuhkan dirinya
lagi-lagi Sella tak menjawab, masih jelas terlihat bayangan kejadian suaminya berciuman dengan Bianca. air mata tak tahan untuk terjatuh apalagi saat suaminya tak mengingat apapun yang di lakukannya
"sayang, dengarkan aku! aku sama sekali tidak ingat apapun yang aku lakukan semalam hingga membuat kamu marah seperti ini, tolong beritahu aku letak kesalahanku!" ucap Zayn yang masih setia memeluk Sella. ia melihat dari pantulan cermin jika saat ini Sella sudah menangis, membuatnya semakin merasa bersalah. ia memeluk Sella semakin erat, hatinya hancur telah menyakiti orang yang sangat ia cintai
"sayang, maaf jika aku salah. tapi aku benar-benar tidak ingat apapun." ucap Zayn lagi
Sella semakin terisak, ia sudah tak tahan lagi untuk tidak meluapkan emosinya pada Zayn
"kamu bilang tidak ingat? saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kamu sangat menikmati ciuman Bianca, kamu bilang tidak ingat? dimana perasaan kamu Zayn? bulshit kalau kamu tidak ingat apa yang sudah kamu lakukan!" ucap Sella dengan penuh amarah kemudian melepas pelukan Zayn dan ingin pergi tapi Zayn buru-buru meraih tangannya
"tapi aku benar-benar tidak ingat apapun, yang aku ingat aku hanya mengambil minum karena haus dan aku meminum teh yang di berikan oleh Bianca lalu.." belum selesai Zayn berbicara Sella sudah menyelanya
"oooh jadi kamu janjian dengan Bianca bertemu di dapur saat aku tidur? dan kamu berlagak lupa atas kesalahan yang sudah kamu lakukan, iya? maaf Zayn, aku perlu waktu sendiri" ucap Sella kemudian ia pergi dari kamarnya, meninggalkan Zayn yang masih diselimuti rasa bersalahnya
"aaaaaaaaaaarrrrgghhh" teriak Zayn dengan mengusap wajahnya kasar, frustasi dengan situasi yang terjadi. ia tak bisa jika harus dimusuhi oleh istrinya sendiri, ia lebih memilih dimusuhi oleh teman-temannya dari pada istrinya yang memusuhi
"semua ini gara-gara Bianca, aku harus mencari tau apa yang sudah dia lakukan" guman Zayn kemudian ia menuju kamar mandi, ingin menyegarkan tubuhnya yang sudah terbakar emosi
tak lama Zayn berada di kamar mandi karena perutnya sudah keroncongan, meminta segera diisi
"dreeeettt, dreeeett" ponsel Zayn bergetar, tertera nama Vano di layar ponselnya
"halo Van, ada apa?" tanya Zayn saat mengangkat telfonnya
"bos besar ingin mengundang kamu, Sella juga Adit untuk makan malam, apa bisa?" tanya Vano di seberang sana
"kebetulan sekali, padahal aku sudah berencana untuk datang ke rumah Bianca meminta penjelasan sama dia, gara-gara dia Sella marah besar denganku" jelas Zayn
__ADS_1
"sabar Zayn, ini bos besar yang mengundang, bukan Bianca. bos besar ingin menjalin silaturahmi saja dengan kamu, karena saat ini beliau belum mengetahui permasalahan yang semalam" jelas Vano balik
"ya aku akan usahakan Van, nanti aku kabari" ucap Zayn yang kemudian mematikan sambungan telfonnya