Sahabat Kekasihku Itu Suamiku

Sahabat Kekasihku Itu Suamiku
Cukup


__ADS_3

Zayn mencari-cari keberadaan Sella tapi ia tak menemukannya di dalam apartemen. ia mencoba menghubungi beberapa kali dan akhirnya diangkat oleh Sella


"sayang, kamu dimana?" tanya Zayn


"ada apa?" tanya balik Sella di seberang sana


"aku mau bicara, kamu dimana?" tanya Zayn lagi


"bicara disini saja, aku sedang tidak ingin di ganggu!" ucap Sella ketus


"papa Bianca ingin mengundang kita dan Adit untuk makan malam, untuk silaturahmi saja, apa kamu mau?" tanya Zayn dengan lembut, ia takut salah bicara pada Sella karena perasaannya masih sensitif apalagi ibu hamil pasti lebih sensitif


"tidak terima kasih. kamu datang saja dengan Adit agar lebih leluasa bisa bertemu Bianca" Sella mematikan sambungan telfonnya membuat Zayn semakin pusing


Zayn memutuskan untuk datang ke undangan papa Bianca karena bagaimanapun beliau adalah salah satu klien besar Zayn. bukan Zayn tak mempedulikan Sella, tapi ia juga harus menghargai permintaan klien yang akan mendukung kemajuan usahanya, toh jika usaha Zayn sukses semua itu juga untuk Sella dan juga anaknya, lagian juga bukan Bianca yang mengundang Zayn jadi tidak masalah meski nanti disana ia pasti akan bertemu dengan Bianca, dan Bianca akan selalu dekat-dekat dengannya tapi setidaknya ada Vano yang ketat menjaga Bianca agar Bianca tidak banyak berulah


Zayn dan Adit sampai di rumah Bianca di sambut hangat oleh pak Ramon papa Bianca. disana juga sudah ada Vano dan Bianca yang ikut menyambut. seperti biasanya, Bianca selalu mencari perhatian Zayn tapi Zayn tak pernah memperhatikannya sama sekali apalagi setelah kejadian semalam meski Zayn belum tau pasti apa yang sebenarnya terjadi


"mari silahkan duduk" ucap pak Ramon


"terima kasih pak" ucap Zayn dan Adit bersamaan


"harusnya pak Ramon tidak perlu repot-repot begini" ucap Zayn lagi setelah mereka berlima duduk


"tidak repot. saya justru senang karena pak Zayn masih mau bekerja sama dengan saya meski bukan saya lagi yang memegang hotel, saya sudah tua waktunya untuk istirahat" pak Ramon terkekeh dengan ucapannya sendiri


"bapak bisa saja, umur boleh tua tapi jiwa tetap muda pak" ucap Zayn disertai dengan tawa dan semua yang ada disitu ikut tertawa, menambah kehangatan yang tercipta


setelah berbincang, pak Ramon meminta Zayn dan Adit untuk segera makan malam, karena itu adalah tujuan utamanya mengundang mereka berdua


Bianca sangat antusias karena ia merasa ini adalah kesempatannya mencari perhatian Zayn.


"kamu mau makan apa Zayn? biar aku yang ambilkan!" ucap Bianca yang sontak membuat semua mata tertuju padanya


"kenapa melihatku seperti itu? ada yang salah?" tanya Bianca lagi seperti tak merasa bersalah

__ADS_1


"sini aku ambilkan nasi!" ujar Bianca lagi, ia mengambil nasi dan ingin menaruhnya pada piring Zayn tapi Vano malah menyerobotnya, sehingga nasi itu bukan ke piring Zayn malah jadi ke piring Vano


"apa-apaan sih Van?" Bianca melotot pada Vano, ia kesal karena Vano terus mencegahnya agar bisa mendekati Zayn. sedangkan Zayn dan Adit hanya bisa menahan tawanya


"ya sekali-kali kan aku sebagai asisten kamu di ambilkan makan seperti ini, benar kan bos besar?" tanya Vano dengan cengar-cengir, ia merasa lega setidaknya caranya bisa membuat Bianca tidak perhatian pada Zayn


"ya benar itu. karena kan Vano banyak sekali membantu papa dan kamu juga" ucap pak Ramon disertai senyuman yang malah membuat Zayn, Adit serta Vano terkekeh


sesuap demi sesuap tak terasa telah mereka habiskan, berikut hidangan penutupnya. Zayn dan Adit berpamitan untuk pulang karena sudah malam juga. niat Zayn untuk melabrak Bianca dia urungkan karena tidak enak dengan pak Ramon yang sangat baik kepadanya dan Adit


Bianca masih tak kehabisan cara agar ia bisa menahan Zayn tidak buru-buru pulang. ia sengaja menumpahkan minuman ke baju Zayn


"astaga, Zayn maaf ya" ucap Bianca pura-pura terkejut


"kamu bagaimana sih Bi? lihatlah baju pak Zayn jadi basah begitu! ayo Vano tolong ambilkan baju ganti untuk pak Zayn!" titah pak Ramon yang melihat baju Zayn basah karena ulah Bianca


"baik pak" jawab Vano


"tidak usah Van, lagian kan sudah mau pulang" ucap Zayn yang masih mengelap bajunya yang basah dengan tissu


"Zayn, kamu ke toilet dulu nanti aku antar bajunya kesitu ya!" kata Vano sambil menunjuk toilet dekat dengan kamar tamu. dan Zayn pun mengiyakan kata Vano karena ia ingin mempersingkat waktu. Zayn segera melepas bajunya dan terdengar pintu diketuk


"Bianca? kamu ngapain disini? mana Vano?" tanya Zayn setelah membuka pintu toilet. Zayn berfikir itu adalah Vano yang akan memberikan baju, ternyata Bianca yang datang


Bianca tak mengedipkan mata sama sekali melihat pemandangan indah di depannya


"Bi, mana Vano?" tanya Zayn lagi agak keras hingga membuat Bianca terkejut


"aku kunci dia di kamar, supaya aku bisa bicara sama kamu karena aku yakin kalau tidak begini kamu tidak akan mau bicara denganku kan? salah dia sendiri sih karena dia selalu mencegah aku untuk bisa dekat dengan kamu jadi a.." belum selesai bicara Zayn menggebrak pintu kamar mandi, membuat Bianca terdiam dan tak berkutik. untung saja rumah itu besar jadi pak Ramon dan Adit yang ada di ruang tamu tak mendengarnya


"cukup Bi, cukup kamu mengganggu hidupku, cukup kamu mengganggu rumah tanggaku. gara-gara kamu Sella marah besar sama aku. sekarang juga kamu jelaskan padaku apa yang sudah kamu lakukan sampai aku tidak sadar hingga bisa mencium kamu?" tanya Zayn yang sudah di selimuti amarah


"aa..aa..aku.." ucap Bianca terbata-bata karena takut


"cepat Bi, apa yang sudah kamu lakukan?" sekali lagi Zayn menggebrak pintu

__ADS_1


"aku tidak melakukan apapun Zayn, aku..aku hanya memberikan kamu teh dan setelah itu kamu menciumku, dan aku tidak tau kenapa kamu bisa memciumku. itu kemauan kamu sendiri, bukan aku" ucap Bianca


"alah bulshit, dasar pembohong! oke baiklah, kalau sekarang kamu tidak mau jujur, aku akan mencari tau sendiri. dan jika aku sudah tau, aku akan bilang masalah ini sama pak Ramon" ancam Zayn yang sangat emosi saat ini. kemudian ia menutup pintu kamar mandi, memakai kembali bajunya yang basah karena Vano terkunci jadi ia tak bisa membawakan baju untuknya.


selesai memakai bajunya, Zayn segera keluar karena ia ingin segera pulang untuk menemui istrinya, ia khawatir terhadap istrinya yang merajuk


"pak saya permisi pulang dulu. ayo Dit!" ucap Zayn setelah sampai di ruang tamu menemui pak Ramon kembali


"Loh pak Zayn tidak jadi ganti baju?" tanya pak Ramon yang melihat baju Zayn masih basah.


"tidak pak, ukurannya tidak ada yang pas. baiklah saya permisi pak, terima kasih untuk jamuannya" Zayn menjabat tangan begitupun Adit.


"sama-sama pak, jangan kapok datang kesini ya" pak Ramon membalas jabatan tangan Zayn kemudian Zayn dan Adit pulang


Zayn dan Adit membawa mobil sendiri-sendiri jadi mereka ke arah yang berbeda. Zayn melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di apartemen dan hanya butuh waktu 20 menit saja Zayn sudah sampai di apartemen.


ia segera masuk ke apartemen tapi lampu sudah padam


pasti Sella sudah tidur. batinnya


ia segera menuju ke kamarnya dan lampu juga padam saat Zayn membuka pintu kamarnya, hanya ada cahaya dari balik jendela kaca besarnya. ia melihat Sella sudah terlelap di kasur berbalut selimut sampai ke rambutnya


untunglah dia mau tidur disini. batin Zayn lagi, lalu ia segera mengganti bajunya yang basah dan juga celananya tadi dengan kaos oblong dan boxer, kemudian menyusul Sella ke kasur


Zayn naik ke kasur pelan-pelan karena ia tak mau sampai mengagetkan Sella, nanti bisa-bisa Sella tak mau ia peluk kalau terbangun


Zayn menyelimuti tubuhnya dan pelan-pelan memeluk Sella dari belakang tapi Zayn merasa aneh karena rasanya tak seperti biasa ia memeluk Sella, ada yang berbeda dengan badan Sella


kenapa empuk sekali? batinnya lagi


karena ia penasaran jadi ia membuka selimut yang menutupi tubuh Sella dan betapa terkejutnya saat Zayn tau apa yang di peluknya tadi ternyata bukan Sella


"hah? guling? jadi dimana istriku?" Zayn bertanya-tanya sendiri di balik kebingungannya


hahahha, lucu ya Sella ngerjain suaminya. bisa ajaaa 😂

__ADS_1


__ADS_2