Sahabat Kekasihku Itu Suamiku

Sahabat Kekasihku Itu Suamiku
Mungkin Ini Karma


__ADS_3

Zayn dan Vano memasuki halaman rumah Melvin. rumahnya tampak ramai, sepertinya banyak keluarga yang ada disana menunggu kabar dari tim pencarian


"ayo kita masuk, siapa tau mereka sudah mendapat kabar" ucap Vano yang baru turun dari mobil. Zayn hanya mengangguk dan kemudian mereka berdua berjalan memasuki rumah Melvin


disana mereka melihat ada kedua orang tua Melvin dan juga Yola. terlihat jelas wajah sedih nampak dari kedua orang tua mereka. bagaimana tidak, anak-anak mereka menjadi korban ganasnya kecelakaan pesawat dan tak ada kabarnya


"om, tante. kami turut berduka cita atas kabar kecelakaan yang menimpa Melvin dan keluarganya." ucap Vano dan Zayn saat duduk di samping orang tua Melvin


"iya Van, Zayn terima kasih kalian sudah mau datang kesini. kalian sahabat yang baik untuk Melvin meski om tau saat ini hubungan kalian sedang tidak baik-baik saja" ucap papa Melvin dengan mata berkaca-kaca


"sudah om lupakan saja. bagaimanapun Melvin tetap sahabat kami" ucap Vano. "oh ya, apa sudah ada kabar dari tim pencarian soal Melvin atau istri dan juga anaknya?" sambung Vano lagi


"saat ini belum ada kabar apapun Van, mereka masih terus mencari. semoga ada kabar baik dari mereka" ucap papa Melvin sembari menyeka air mata yang hampir saja terjatuh


"iya, semoga saja om"


Zayn tak banyak bicara, karena sedikit terasa asing saat ini dia berada dekat dengan keluarga Melvin. terkadang masih teringat jelas kesalahan yang di buat oleh Melvin dan keluarganya, tapi bagaimanapun dulu dia dan Melvin adalah sahabat yang selalu bersama dalam suka maupun duka


tak lama mereka ada disana, mereka segera berpamitan untuk pulang.


di dalam mobil Zayn masih terdiam dan itu membuat Vano penasaran.


"kenapa dari tadi kamu diam saja? sakit?"


"tidak. sudah jangan memperhatikan aku, sudah ada Sella yang selalu perhatian padaku. cukup Bianca saja yang kamu perhatikan" jawab Zayn enteng dan sontak membuat Vano mengerutkan dahinya

__ADS_1


"dasar aneh!" Vano mencebikkan bibirnya. sahabatnya yang satu ini memang begitu. Vano fokus kembali pada kemudinya. jalanan agak lenggang karena mungkin faktor cuaca yang buruk jadi orang-orang malas untuk keluar rumah dan memilih menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga


dua puluh menit saja perjalanan dari rumah Melvin ke rumah Zayn. sampai rumah, Vano bergegas mengajak Bianca untuk pulang


Zayn menggendong baby Al dan di ikuti Sella di belakangnya dan menuju ke kamar mereka


"sayang, bagaimana? apa ada kabar dari Melvin?" tanya Sella saat mereka berada di atas kasur bersama baby Al


"belum. masih dalam pencarian dan cuaca buruk juga menghambat pencarian jadi tim tidak bisa bergerak cepat" jawab Zayn sembari bermain dengan baby Al


"kasihan sekali mereka. semoga segera di temukan ya" ucap Sella


"iya sayang. aku tidak berpikiran buruk tapi mungkin ini karma yang harus Melvin dan istrinya dapat karena sudah menyakiti kamu dulu" ucap Zayn, menatap wajah Sella lekat


"iya aku akan mencobanya sayang, meski mungkin tidak mudah juga untukku. kejadian itu masih sangat melekat di pikiranku" ucap Zayn sendu


"iya aku mengerti. kamu coba pelan-pelan. aku yakin, suamiku punya hati yang baik" ucap Sella, dan kemudian tersenyum membuat Zayn bahagia. ia sangat bersyukur memiliki istri yang hatinya lembut seperti Sella


"terima kasih sayang" Zayn mengecup kening Sella dan itu membuat baby Al cemburu. bayi kecil itu menangis saat daddynya bermesraan dengan mommynya. sontak Sella dan Zayn pun tertawa melihat anaknya yang cemburu, anak mereka terlampau menggemaskan


hari ini mereka lalui hanya di dalam kamar, hawa yang dingin membuat Sella dan Zayn malas beranjak dari kasur dan melepas selimut yang melekat pada tubuh mereka. di tambah adanya baby Al membuat mereka betah untuk berlama-lama di dalam kamar


"sayang, apa kamu tidak ada niat untuk membuatkan adik baby Al?" tanya Zayn dan sontak membuat Sella melotot. bagaimana tidak, anaknya saja masih berumur lima bulan tapi suaminya sudah menginginkan anak lagi


"kenapa melotot seperti itu? apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Zayn lagi dengan polosnya

__ADS_1


"iya salah! anak kita saja baru berumur lima bulan. setidaknya tunggu dia umur satu tahun dulu lah sayang. aku mengerti, kamu juga ingin punya anak darah daging kamu sendiri tapi tidak sekarang juga. kita tunggu baby Al agak besar sedikit ya!" jawab Sella dan malah membuat Zayn murung


"aku sudah bilang, baby Al adalah anak aku. dia juga darah dagingku. jangan bicara seperti itu. aku ingin punya anak lagi bukan itu alasannya, tapi memang aku ingin supaya keluarga kita semakin lengkap"


"maaf sayang! maaf aku sudah menyakiti kamu. jangan marah yaa, maafkan aku" Sella segera memeluk suaminya, ia tak mau suami tampannya itu marah karena ucapannya


"yaa aku tak akan marah tapi ada syaratnya" ucap Zayn dengan senyum menyeringai


Sella segera melepas pelukannya, dia penasaran syarat apa yang diinginkan suaminya, "apa syaratnya?"


"kita lanjutkan aktivitas kita yang terganggu tadi, setelah baby Al tertidur" ucap Zayn dengan mengangkat kedua alisnya


Sella yang mendengar keinginan suaminya hanya pasrah saja, karena ia tau bahwa itu kewajibannya


......................


satu minggu sudah kecelakaan yang menimpa Melvin dan juga anak istrinya. tim sudah menghentikan pencarian dan tidak ada satu pun korban yang di temukan apalagi korban selamat dari kecelakaan maut tersebut dan sudah di pastikan bahwa semua penumpang pesawat telah meninggal dunia


sore ini rencananya Zayn dan Sella akan pergi ke rumah Melvin untuk melayat meskipun jenazah mereka tak di temukan tapi setidaknya mereka ingin mengucapkan belasungkawa pada kedua orang tua Melvin


"Zayn, aku ikut kalau kamu mau melayat ke rumah Melvin" ucap Adit saat mereka berdua berjalan ke parkiran mobil


"ayo. kamu ikut ke rumahku dulu. aku harus jemput Sella, karena dia ingin ikut juga" ucap Zayn


"baiklah" jawab Adit kemudian mereka berpisah di mobil masing-masing

__ADS_1


__ADS_2