Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Prolog


__ADS_3

Nizam Al-gazali adalah laki-laki mapan dengan sejuta pesona, di usinya yang sudah berada di angka ke 29 tahun, tak pernah terbesit dipikirkannya untuk melakukan pernikahan sejak kekecewaan dalam dirinya terhadap seorang wanita.


Pria tampan yang memiliki tinggi 183 cm, dengan tubuh begitu gagah nampak begitu sempurna tak tercela. Wajahnya yang memiliki keturunan dari timur tengah itu sangat kental dengan aura laki-laki gurun zahara tersebut.


Nizam sangatlah anti dengan yang namanya cinta, begitu pun dengan kaum hawa. Pria itu tak percaya dengan adanya perasaan ataupun asmara. Kekecewaan telah benar-benar menutup pintu hatinya.


Pernah dikhianati seorang wanita sewaktu masuk kelas tiga SMA, membuatnya membenci kaum hawa. Apalagi, pacarnya tersebut memiliki teman sekelasnya sendiri yang terkenal kaya raya.


Harta yang menjadi pemicu utama waktu itu, membuat wanita yang dicintainya mengkhianati secara terang-terangan, mengunjak harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Jiwa yang labil di msa SMA mbuat Nizam benar-benar menanam rasa sakit hati hingga dewasa, berbekas begitu kuat hingga berdampak negatif pada kehidupan Nizam setelahnya.


Sejak saat itu, Nizam berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melibatkan hati lagi menyangkut perempuan. Jiwa dan hatinya benar-benar terluka dan sakit sekali. Harga dirinya pun ikut tergadaikan oleh wanita tersebut. Tidak ada lagi yang namanya cinta-cintaan.


Dulu, Nizam memang menjadi pemuda sederhana meski dirinya sudah kaya raya sejak lahir. Ia memang tidak ingin menyombongkan diri atas kekayaan yang dimiliki keluarganya. Jadi, semua teman-temannya menganggap Nizam seperti mereka yang memiliki ekonomi standar. Sehingga, wanita yang dipacarinya selama satu tahun itu memilih berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, yang pastinya terkenal dengan harta dan kekayaan dari orang tuanya.


Bisa saja Nizam berkata jujur atas status sosialnya pada mantan pacarnya itu, agar wanita tersebut kembali padanya. Tapi, buat apa? Bukankah dengan kejadia ini ia dapat menilai, seperti apa wanita yang telah sangat ia cintai tersebut!


Sebenarnya, kisah cintanya itu memberikan hikmah yang positif. Dengan begitu, ia bisa menilai siapa teman yang tulus dan wanita yang dapat menerimanya apa adanya, bukan wanita yang melihatnya karena ada apanya.


Namun, pengkhianatan itu meninggal bekas yang mendalam, sehingga kebenciannya terhadap kaum hawa semakin menjadi-jadi setelah ia menempuh kuliah di luar negeri.


Nizam sengaja melanjutkan S2 lagi di luar negeri yang memakan waktu hingga lebih dari enam tahun. Di usianya yg ke 27, Nizam memutuskan untuk kembali ke Indonesia karena desakan dari orangtuanya.


Nizam sebenarnya malas pulang jika tidk mengingat papanya yang sudah berusia senja. Hanya dirinya yang dapat mereka haraokan saat ini. Bukan apa-apa, Nizam malas saja jika di Indonesi, sebab kedua orang tuanya akan selalu membahas soal pernikahan yang sejujurnya sangat ia hindari.


Pergaulan bebas serta hubungan yang bisa saja ia dapat tanpa harus memiliki status, membuat Nizam tambah jauh dari ajaran agama serta didikan keluarga yang regilius.


Meskipun Nisam paham betul tentang agama dan juga dosa, tetapi individu di luar negeri dan juga rasa bencinya terhadap semua wanita di muka bumi ini telah mendominasi di dalam darah yang telah menjadi daging.


Di mata Nizam, wanita itu sama saja. Mereka hanya butuh uang dan dapat dibeli dengan mudah. Di saat ia bosan, kapan pun bissa ia hempaskan. Nizam sudah mati rasa.


Ia menjalani kehidupan dan pendidikan di luar negeri dengan cara dan pikirannya sendiri. Hatinya sudah benar-benar menjadi batu hanya karena satu wanita saja, serta menyamarkan semuanya. Sungguh keterlaluan! Ia bahkan sudah melupakan norma-norma agama dan bermain dengan wanita sesuka hati. Uang benar-benar dapat membeli segalanya.


Kehidupan yang hancur selama di luar negeri tentunya tanpa sepengetahuan orang tuanya. selama beberapa tahun mengenyam pendidikan, Nizam menghiasi hidupnya dengan yang namanya wanita malam, alkohol serta hal-hal mudharat yang jelas-jelas dilarang oleh agama. Namun, hati yang sakit serta noda hitam yang menguasai jiwanya sudah membuat Nizam lupa daratan serta terhanyut oleh kesenangan dunia yang penuh dosa.


Kebiasan buruk yang terus menjeratnya ke dalam liang dosa lama kelamaan menjadi kebiasaan yang tak dapat dilepaskan begitu saja. Dan itu berlanjut di saat Nizam kembali ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri.


Mata dan hatinya sudah buta oleh nikmat dunia yang fata Morgana. Sehingga, Nizam membawa kebiasaan itu ke tanah air dan sulit sekali untuk tidak memenuhi kebutuhan biologis dengan cara membeli wanita sesuka hati.


Dunia gelap serta kebiasaan yang menimbun dosa itu akhirnya diketahui oleh pihak keluarga dan tentunya, kedua orangtuanya marah besar tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Mengingat, Nizam sudah dewasa dan pastinya bisa bersikap semestinya.


Awalnya, kedua orang tua Nizam begitu marah dan kecewa, tetapi keadaan itu tidak akan berubah menjadi lebih baik jika tidak hadapi. Sebagai orang tua yang bijak, tentunya papa dan mamanya Nizam tidak membiarkan putranya itu terus berada di lembah dosa seumur hidup. Mereka akan menjadi orang pertama untuk meluruskan jalan putranya. Dan, mereka kompak untuk menuntun Nizam kembali ke jalannya Allah. Asalkan, Nizam berjanji untuk tidak kembali pada jalan menyesatkan tersebut.


Sebagai seorang ibu, Bu Zainiyah tentunya orang yang paling hancur dan bersedih di saat mengetahui perangai Nizam yang bejat.


Namun, bukankah ia akan menjadi orang tua yang ikut berdosa jika membiarkan putranya tidak lepas dari belenggu hitam yang dikuasai setan? Bu Zainiyah yakin, jika suatu saat nanti, hati Nizam akan melunak oleh bekunya kebencian serta dapat menerima seorang wanita di sisinya.


Keyakinan itu semakin kuat dengan adanya dukungan dari sang suami-Alkaf Al-gazali, yang selalu memberikan support penuh untuk membawa Nizam menjadi seperti dulu lagi.


Sepasang suami istri itu terus berusaha dan berdoa tanpa kenal lelah, agar Nizam dapat meninggalkan kebiasaan yang penuh dosa. Mereka juga tak lupa meminta pada Allah, agar hati anaknya yang sudah terkunci rapat pada seorang wanita itu, kembali terbuka

__ADS_1


Setelah aibnya diketahui keluarga besar, Nizam mulai berusaha untuk tidak lagi melakukan perbuatan tersebut. Meski tidak langsung dan sulit, tetapi Nizam sudah memiliki niat dan itu sudah cukup sebagai modal untuk menjadi lebih baik. In sha Allah.


Sebagai penerus tunggal dari keluarga besar Al-Ghazali yang notabene keturunan pebisnis kuliner handal, tidak sulit bagi Nizam untuk meneruskan usaha yang sudah turun temurun dilakoni keluarga besarnya. Dengan begitu, Nizam punya cara untuk menyibukkan diri agar tak lagi kembali pada dunia kelamnya.


Semenjak Nizam menyelesaikan studi keduanya di London, dia berniat fokus untuk meneruskan usaha restoran yang memiliki menu ciri khas ala Timur Tengah milik keluarganya.


Dengan kepintaran serta wibawa yang sudah melekat dalam diri Nizam Al-Ghazali, usaha keluarga besarnya kini mampu bersaing dikancah internasional di bidang kuliner. Dan kedatangannya di dalam perusahaan semakin memperlebar lahan bisnis yang dikelola Alkaf Al-Ghazali dan tentunya, Nizam lah yang akan menjadi penerusnya kelak.


Dalam kurun waktu beberapa bulan saja, tak dipungkiri jika Nizam telah memberikan dampak besar yang luar biasa. Dan, Alkaf Al-Ghazali langsung menyerahkan kursi kepemimpinan itu kepada putranya tersebut.


Jadi, Nizam kini telah menjadi pengusaha muda kaya raya di Jakarta, orang tuanya yang sudah memasuki usia senja, membuat Nizam menyuruh sang papa beristirahat total dari yang namanya pekerjaan. Sudah seharusnya beliau pensiun dan menikmati hari tua bersama sang mama.


Nizam begitu menyayangi kedua orang tuanya dan berjanji akan mengemban tanggung jawab yang dipikul Alkaf Al-Ghazali dengan baik, dan beban itu, kini telah beralih di atas pundaknya.


Meskipun Nizam tahu, jika orang tuanya masih marah, tapi Nizam tetap menghormati keduanya, karena dia sadar letak kesalahannya ada pada dirinya sendiri.


Tok..tok..tok


"Kak Nizam, buka pintunya dong! Naysila udah telat nih." Suara cempreng anak perempuan di balik pintu sangatlah nyaring di pendengaran.


Naysila Al-Ghazali-yang akrap dipanggil Zizi itu adalah adik Nizam yang berusia 18 tahun masih berstatus pelajar SMA. Tahun ini, Zizi hanya tinggal menunggu detik-detik kelulusan saja, karena satu minggu yang lalu Zizi baru saja menyelesaikan ujian akhir sekolah.


Kletek!


Terdengar suara handle pintu dibuka. "Ada apa? Pagi-pagi sudah berisik! Kakak masih ngantuk, nih." Dengan muka bantal dan rambut acak-acakan, Nizam keluar dari kamar pribadinya, namun keadaan yang berantakan itu tak mengurangi kadar ketampanannya sama sekali, malah terlihat begitu natural.


"Tapi nggak pagi-pagi juga, Dek! Kakak masih ngantuk." Respon Nizam terlihat begitu malas untuk keluar sepagi ini. Ngantuk tentunya. Ia tertidur setelah shalat subuh. Sekalipun ia belum sepenuhnya dapat meninggalkan kebiasaan buruknya, tetapi Nuzam sudah berusaha menjadi muslim yang taat seperti dulu.


Bukankah, seburuk apa pun manusia di muka bumi ini, mereka tidak boleh meninggalkan shalat? Terlepas mereka seorang pembunuh, penzinah, pencuri, peminum, serta pendosa-pendoaa lainnya. Dan itu juga dilakukan Nizam saat ini.


"Memangnya tadi malam Kakak, ke mana? Ke klub lagi ya?!" tebak Zizi.


Ya, Meski Nizam sudah tidak lagi membeli wanita malam, tapi kebiasaannya menegak alkohol begitu sulit ia tinggalkan dan sesekali membeli minuman haram tersebut jika rasanya sudah tidak kuat untuk tak mencicipi.


Bukannya Nizam masih berproses untuk meninggalkan kebiasaan itu? Dan prakteknya ternyata tidak mudah dilakukan.


"Kalau bicara pelan-pelan, nanti terdengar oleh mama," bisik Nizam. Hanya Zizi yang tahu rahasianya itu, jika ia masih meminum cairan haram tersebut.


"Kapan sih, Kakak insyaf syngguhan? Ingat, Kakak itu udah janji sama kita semua untuk benar-benar berubah. Buktikan, doooong!" Raut kecewa itu tergambar jelas di wajah imut sang adik yang sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Cantik dan tak membosankan.


"Makanya, cari pacar sana, biar tidak lari pada minuman itu terus, Kak," cerocos Zizi lagi dengan suara keras.


"Hush, Jangan kencang-kencang, dibilangin juga! Nanti ada yang dengar. Dasar, mulut anak kecil tidak ada rem!" seru Nizam sembari menjitak pelan kening Zizi.


Ia tahu, meski Zizi terlihat tak setuju dan kecewa padanya, adiknya itu tidak akan mengadukan semuanya pada kedua orang tuanya. Karena, Zizi paham betul jika dirinya sudah berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan perbuatan tercelanya tersebut. Namun, bukankah semua butuh waktu?!


"Zizi sudah besar Kak, bentar lagi kuliah 'kan?!" protes Zizi tak terima karena dikatai anak kecil. Mulutnya terlihat monyong lima senti, cemberut sebagai pelampiasan rasa kesalnya lewat bahasa tubuh.


"Bagi Kakak, sebesar apa pun kamu, tetep adek kecil yang manja di mata Kakak," ujar Nizam sambil mengacak-acak rambut adiknya yang sudah rapi. Ia gemas dan begitu sayang pada gadis di depannya ini.

__ADS_1


"Kakak ...." teriak Zizi semakin kesal diperlakukan layaknya anak kecil sungguhan. Paria itu langsung menutup pintu saat berhasil menjahili sang adik yang sudah rapi.


Nizam tertawa puas di dalam sana dengan Zizi yang terus mengumpat kakaknya dari luar pintu. Ia menggerutu sendiri dan pada akhirnya menyerah, turun untuk pergi ke meja makan.


Pertengkaran kecil di antara dua bersaudara itu memang selalu terjadi di rumah besar Al-Ghazali. Sudah menjadi hal biasa dan sangat dirindukan, seandainya salah satu dari mereka tidak ada di rumah tersebut, dan justru membuat rumah tersebut sepi dan hampa.


Zizi turun ke lantai bawah, bergabung dengan kedua orang tuanya yang sudah berada di sana. "Nak, mana kakakmu?" tanya Bu Zainiyah.


"Masih mandi, Ma," jawab Zizi singkat.


Di ruang makan itu sudah terlihat sebuah keluarga yang begitu harmonis dan hangat. Kasih saya Bu Zainiyah dan juga Pak Alkaf begitu terlihat pada Zizi dan juga Nizam. Meskipun mereka tahu jika putranya itu telah membuat mereka kecewa.


"Memangnya, kamu mau pergi ke sekolah ada acara apaan, Sayang, 'kan ujian sudah selesai, tinggal nunggu pengumuman wisuda bulan depan saja?" tanya Bu Zainiyah kembali, sambil menyiapkan roti dibalur selai untuk kedua anak dan suami tercinta.


"Nggak ada si, Ma, cuma ngumpul sama teman-teman dan meminta maaf kepada guru-guru untuk terakhir kalinya," sahutnya santai sembari menegak susu hangat pemberian sang mama.


"Kenapa kamu ngajak kakak kamu, Zi?" timpal Pak Alkaf seraya menikmati sarapan yang sudah disodorkan sang istri.


"Memang itu tujuan Zizi, Ma, Pa. Zizi mau memperkenalkan ke teman-teman, bahwa Zizi itu punya kakak yang super tampan, hehehe." Gadis itu tersenyum jail.


"Hus, ga boleh gitu, itu namanya sombong, Sayang," kata Bu Zainiyah menasehati sang anak yang sedari tadi senyam-senyum, membayangkan semua rencananya berjalan lancar sesuai yang ia harapkan.


"Papa rasa bukan itu tujuan utamamu, Zi," sela Pak Alkaf yang sudah menghabiskan sarapannya.


"Hehehe, Papa tau aja deh," jawab Zizi cengengesan. Ia kalah telak dengan pria yang menjadi cinta pertamanya itu.


"Kamu itu anak Papa, jadi Papa tahu apa yang ada di pikiran kamu, Sayang." senyum tersungging di wajah laki-laki paruh baya tersebut.


Sebenarnya, Pak Alkaf sudah bisa menebak akal-akalan anak gadisnya itu. Pak Alkaf tahu, jika Zizi mengajak sang kakak ke sekolah tak lain dan tak bukan, untuk mengenalkan sang kakak pada teman wanitanya.


Kesibukan Nizam saat ini di dalam kantor begitu menyita waktunya. Sampai membuat pria itu melupakan urusan asmaranya yang selama ini menjadi batu sandungan untuk bisa menjadikan Nizam hidup normal.


Padahal, seorang pasangan adalah support sistem yang paling utama. Mungkin, dengan begitu Nizam dapat membuka hatinya pada kaum hawa kembali jika sering diajak berkumpul dengan gadis-gadis cantik seperti temannya di sekolah. Karena, kalau nunggu inisiatif Nizam sendiri tidak akan kesampaian memiliki teman seorang wanita.


"Apa bener yang papamu pikirkan 'Nak?" selidik Bu Zainiyah.


"Iya, Ma!" jawab Zizi sambil menunjukkan senyum termanisnya.


"Mama dan Papa turut bangga sama kamu. Setidaknya, keluarga ini kompak untuk membuat hati kakakmu yang keras itu kembali mencair," ujar Bu Zainiyah dengan hati yang sungguh-sungguh, penuh harapan.


"Zizi janji Ma, bakal bantuin Mama dan Papa untuk membawa Kak Nizam sehangat dulu." Mereka bertiga berpelukan haru.


"Mama yakin, suatu saat nanti Nizam yang dahulu akan Mama dapatkan kembali." Tanpa sadar, Bu Zainiyah menitikkan air mata yang langsung dihapus oleh sang suami.


"Sudahlah, Ma, jangan berlarut-larut seperti ini! Semuanya sudah menjadi garis takdir buat keluarga kita, cukup berdoa dan ikhlas agar kita bisa melaluinya bersama-sama." Pak Alkaf memberikan kekuatan kepada sang istri yang selalu sensitif jika mengingat apa yang terjadi pada Nizam selama ini.


"Iya Ma, Papa bener," sela Zizi yang juga ikut merasakan kesedihan atas apa yang terjadi dengan kehidupan Nizam, penuh kegelapan dengan hati yang sudah mati rasa. Mereka berpelukan sebagai simbol menyemangati satu sama lain.


"Sudah, sudah. Biarkan Zizi pergi, Ma." Pak Alkaf adalah orang pertama yang melepaskan pelukan itu karena tak sadar terbawa suasana.

__ADS_1


__ADS_2