Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Menjadi Kambing Congek


__ADS_3

"Cafe ini tempat nongkrong Zizi bersama teman-temannya, kebetulan waktu itu aku mengantarnya ke sini pas acara ulang tahun sahabatnya. Dan kebetulan aku cocok dengan citarasa makanan di sini serta desain restoran yang nyaman untuk di buat ngopi!" Alibi Nizam pada Arif, meskipun apa yang ia katakan memang benar adanya. Namun, ada alasan lain yang membuatnya ingin selalu datang ke cafe tersebut.


Kedua sahabatnya itu merespon Nizam dengan hanya menganggukkan kepala serta mengedarkan pandangan untuk sekedar menilai dan membenarkan apa yang di katakan Nizam.


"Pantas saja di luar dipenuhi para muda-mudi yang masih belia, ternyata ini tempat anak-anak remaja yang baru tumbuh Zam?!" Hendra yang sedari tadi masih memerhatikan pengunjung di bawah sana yang mayoritasnya masih terlihat umur delapan belas tahun itu. Hendra selalu saja mencoba membangkitkan emosi Nizam dengan kata-kata yang terkesan meledek karna memilih tempat yang menurutnya tidak cocok untuk laki-laki dewasa seperti mereka bertiga. Ya, meskipun ia juga mengakui bahwa tempatnya memang bagus dan nyaman.


"Tidak usah banyak protes Hen! Yang penting kita makan gratis dan kita bertiga bisa berkumpul seperti ini, masalah tempat, itu tidak jadi masalah! Iya kan, Zam?" Sahut Arif mendahului sebelum Nizam mengumpat sebal terhadap Hendra.


Nizam yang hanya diam menatap tajam kearah Hendra yang tertawa puas karna sedari tadi selalu membuat sahabatnya yang emosian itu tersulut terus-menerus. "Kalau kamu tidak suka dengan tempat ini, lain kali aku akan mengajak mu nongkrong di kolong jembatan!" sembur Nizam yang benar-benar kesal melihat wajah Hendra dan Arif yang menurut nya sangat menjengkelkan sedari tadi.


"Sudah, sudah! kalian ini kalau bertemu selalu saja seperti ini, tidak pernah damai. Kamu juga Hen, sudah tau Nizam seperti itu masih saja kamu godain terus-terusan." Arif menengahi Nizam dan Hendra yang masih menyisakan tawa di bibirnya karna benar-benar senang melihat Nizam emosi jiwa di saat ia ledekin. Meskipun Arif juga sependapat dengan Hendra tapi ia lebih memilih diam dan tersenyum dalam menilai keadaan.


ketiganya terlibat obrolan ringan tentang bisnis dan pekerjaan mereke setelah mereka menyelesaikan makan siang barusan, mereka juga sependapat dengan Nizam soal menu makanan yang memang benar-benar enak dan cocok di lidah masing-masing.


Soal makanan, memang Nizam paling pintar dalam memilih, mengingat dirinya adalah pemilik sebuah restauran juga! Jadi ia tidak akan sembarangan dalam memilih dan menilai soal makanan yang menurutnya memang patut mendapat nilai sempurna.


Tanpa disadari, mereka telah melewati waktu berjam-jam di dalam ruang cafe tersebut. Jarum jam di dinding ruangan itu menunjukkan pukul empat sore, yang membuat Nizam mengakhiri percakapan yang sedari tadi tidak ada habisnya itu.


"Arif, Hendra. Ini sudah sore, aku pulang dulu ya, kalau kalian masih ingin di sini tidak apa-apa. Soal Bill, aku yang bayar!" Ucap Nizam seraya mengambil Henphone yang sedari tadi ia letakkan di meja dan memasukkan ke saku celananya serta berdiri menunggu respon Arif dan Hendra.


Mendengar penuturan Nizam, keduanya bersamaan melihat jam tangan mereka masing-masing serta memutuskan untuk beranjak mengikuti Nizam dan pulang bersama.

__ADS_1


Setelah melakukan pembayaran di kasir, Nizam dan Arif serta Hendra bersamaan menuju ke tempat parkir yang kebetulan mobil mereka dalam posisi yang berdekatan. Mereka berjalan beriringan tanpa melihat ke arah depan karna ketiganya masih terlibat pembicaraan.


Hingga sebuah tubuh tiba-tiba menabrak bahu Nizam dari belakang yang membuatnya terhuyung karna hilang keseimbangan, untung Arif dan Hendra sigap menahan tubuh tegap Nizam agar tidak terjatuh. Sontak kejadian itu menarik perhatian ketiganya, apalagi Nizam yang kaget tiba-tiba emosi karna ia menganggap orang yang menabraknya sembrono dan tidak bisa menggunakan matanya dengan baik sehingga badan Segede gaban miliknya masih saja di terobos.


Nizam sudah membuka mulutnya untuk mengeluarkan umpatan kesal atas emosinya yang sudah terpancing. Namun Arif menahan dada Nizam untuk tidak melanjutkan kekesalannya karna yang akan menjadi sasaran kemarahan Nizam saat ini tidaklah pantas untuk mendapatkannya.


Nizam melihat kedua sahabatnya yang matanya masih tetap fokus kedepan, sontak Nizam mengikuti arah pandang keduanya. Mulut Nizam tiba-tiba mengatup rapat, emosinya yang tadi bergejolak berangsur mereda di saat ia tau siapa pelaku yang telah membuatnya naik darah.


"Maaf Kak, Maaf! Tadi saya terburu-buru karna takut ketinggalan angkot." tutur gadis muda yang terlihat takut karna merasa bersalah terhadap Nizam. Terlihat jelas dari gesture tubuhnya yang gemetar sambil meremas kedua tangannya karna tadi sempat melihat wajah Nizam yang memerah karna amarah sebab ia telah menabraknya walaupun itu tanpa ia sengaja.


Sedangkan kedua laki-laki di sebelah Nizam masih saja termangu menatap wajah gadis yang menurut mereka cantik secara alami, walaupun terlihat sederhana tanpa di poles makeup, namun aura kecantikannya tetap tidak bisa di pungkiri. Mereka baru sadar di saat pundak keduanya di tepuk kasar oleh Nizam.


Arif dan Hendra ingin memrotes perlakuan Nizam, karna rasanya kulit mereka sedikit panas saking kerasnya tepukan Nizam barusan. Tapi, nada Nizam yang terdengar rendah menyapa gadis yang baru saja jadi pusat perhatian itu mengalihkan keduanya.


Ya, gadis yang telah menabrak Nizam tak lain adalah Nina. Gadis itu memang sedang mengejar waktu untuk bisa mendapatkan angkot terakhir yang beroperasi di depan cafe tersebut. Kalau ia terlambat, maka dirinya harus mengeluarkan uang lebih untuk membayar ojek online atau taxi yang menurutnya lumayan mahal.


"Iya, Kak! Barusan adalah angkot terakhir, tapi Nina sudah ketinggalan. Sekali lagi Nina minta maaf Kak!" Ucap Nina yang mulai bisa bernafas lega karna raut wajah Nizam terlihat tidak marah seperti tadi.


"Terus kamu pulang naik apa?" Selidik Nizam ingin tahu. Sedangkan Arif dan Hendra hanya menyaksikan interaksi Nizam dan gadis yang bernama Nina itu. Mereka berdua seperti kambing congek yang terlihat bodoh. Kasihan sekali mereka.


"Nina mau naik ojek online saja Kak! Ya sudah, Nina pulang duluan ya, Kak!" Pamit Nina sembari tersenyum dan hendak melangkah meninggalkan ketiga pria dewasa yang sedari tadi menatapnya sehingga ia merasa tidak pede dan ingin segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Tapi, sebelum kakinya terayun, suara Nizam yang memanggilnya menghentikan gerak tubuhnya.


"Nina!"


"Iya, Kak!" Nina memusatkan pandangan kearah Nizam yang terlihat ragu untuk berbicara.


"Aku akan mengantarmu pulang, tunggu saja di mobil sebentar. Aku masih ingin bicara sama mereka dulu." meskipun merasa ragu, akhirnya Nizam mengutarakan niat hatinya untuk mengantarkan Nina pulang. Meskipun fikirannya masih gengsi karna sekarang ada Arif dan Hendra yang tidak akan tinggal diam, dan ia yakin sebentar lagi dirinya akan menjadi bulyan bagi sahabatnya itu serta akan ada hujan pertanyaan yang harus ia jawab setelah ini.


.


.


.


.


.


.


. Bersambung......

__ADS_1


Bagi semua yang masih setia membaca karyaku ini, harap bersabar ya mentemen, karna mungkin alurnya terasa berbelit-belit. Tolong di maklumi ya, karna ini karya pertamaku. Jadi aku masih dalam tahap belajar dalam menjabarkan semuanya, mulai alur diksi dan mungkin penjelasan dalam sebuah keadaan begitu membosankan bagi kalian. Terimakasih


__ADS_2