
"Tak apa, Kak. Aku juga barusan datang, kok," sahut Melisa menanggapi Nizam yang terlihat tidak enak hati karena terlambat datang.
"Mbak, tolong tunggu sebentar. Karena calon saya sudah datang, saya pesan makanannya sekarang saja," lanjut Melisa yang melihat Nina masih berdiri diambang pintu.
Nina hanya mengangguk seraya mendekat kearah Melisa dengan hati yang sedari tadi penuh tanda tanya, berharap apa yang ada dalam benaknya sekarang tidaklah benar.
"Ini Nona." Buku menu yang sebelumnya sudah Nina ambil ditempat yang sudah disediakan diruang tersebut, lalu ia serahkan kepada Melisa dengan wajah yang sedikit menunduk.
Nina tidak tahu harus bersikap apa dengan perasaannya sekarang, seharusnya ia sudah tahu diri dengan siapa sekarang telah melabuhkan hati. Dirinya hanya seorang remaja yang baru berusia belasan tahun, gadis yang tidak pantas mengharapkan pangeran seperti Nizam yang sempurna dalam segala hal. Laki-laki dewasa yang tak mungkin memiliki perasaan kepada gadis seperti dirinya.
Ia hanya gadis miskin yang menggantungkan nasib dari pekerjaan yang belum jelas kedepannya. Dari segi materi dirinya sudah tidak pantas bersanding dengan Nizam, apalagi dari segi umur. Tentu Nizam akan memilih wanita dewasa dan mapan seperti wanita yang sedang makan malam bersamanya saat ini.
Ternyata, pertemuan pertamanya dengan Nizam telah membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama, apalagi sikap Nizam yang dingin namun mengandung perhatian itu membuat perasaannya semakin bertambah dan subur.
Sekarang ia merasa menjadi korban dari kesalahpahaman-nya sendiri, karena telah mengartikan perhatian Nizam yang sebelumnya adalah sebuah rasa yang lebih dari sekedar perikemanusiaan saja.
Dengan hati yang sedikit ragu, ia memantapkan niat untuk bersikap profesional dalam pekerjaan. Mungkin ia memang harus berhenti memupuk rasa sebelum benar-benar menjadi asa.
Baiklah, aku harus bisa membuat rasa ini pergi sebelum aku terlalu jauh merasakannya. Lagi pula memang tak sepantasnya aku memilikinya 'bukan?
Hati Nina bergejolak sendiri dalam memerangi perasaannya yang harus kalah dan mundur sebelum berperang, memang terlihat pengecut, namun rasa sadar dirinya-lah yang membuatnya melakukan itu.
__ADS_1
Nizam yang sebelumnya membelakangi Nina akhirnya duduk dengan santai seraya mengambil alih buku menu yang di sodorkan pelayan kepadanya serta Melisa.
"Kak, Menu Melisa samakan saja dengan yang Kakak pesan," pinta Melisa yang masih membolak-balik buku Menu yang menurutnya sangat menggiurkan semua sehingga dirinya merasa bingung dalam menentukan pilihan.
"Mbak, aku pesen makanan favorit biasannya ya, dan minumnya ...,"
Sebelum Nizam sempat menyelesaikan kalimatnya Nina sudah menyebutkan minuman yang hendak di pesan olehnya, "Cappucino panas dengan sedikit gula." Dengan senyum yang yang diurai beserta lesung pipit Nina menyebutkan kata yang mampu membuat Nizam kaget dan langsung menatap pemilik suara yang sejak tadi telah satu ruangan dengannya, dan itu tanpa ia sadari.
Nizam memang sengaja memilih kafe ini untuk menjadi tempat makan malamnya bersama Melisa, di samping ia memang sudah lama tidak ke kafe tersebut dan juga sangat ingin menikmati makanan favoritnya, Nizam memang ingin bertemu Nina yang sebulan ini sudah membuat otaknya benar-benar lelah.
Nizam bermaksud ingin melihat Nina dan memperhatikannya dari jauh tanpa harus bertemu dengan Nina untuk melepas jerat rindu yang sekarang ia rasakan dan ia telah memutuskan bahwa dirinya benar-benar mengakui bahwa hatinya telah jatuh cinta kepada gadis belia tersebut. Namun, ia seakan lupa bahwa kafe ini adalah tempat Nina bekerja, tentu saja Nina akan melayani setiap pengunjung termasuk Melisa dan dirinya.
Adegan didepannya tak luput dari perhatian Melisa, "Terimakasih Mbak!" Nizam menanggapi Nina yang benar dalam menyebutkan apa yang diinginkannya.
Melisa menganalisa keadaan dengan memerhatikan keduanya. Kalau dilihat dari pelayanan didepannya, tidak ada yang aneh. Gadis pelayan itu terlihat profesional dalam tugasnya, ramah, sopan, dan itu memang keharusan sebagai seorang pramusaji, 'bukan? Dan juga cantik!
Melisa akui, gadis didepannya ini memang sangat cantik secara natural, tanpa dipoles makeup pun wajahnya terlihat ayu dan mempesona, apalagi ia berpenampilan seperti dirinya. mungkin gadis ini akan lebih cantik darinya meskipun dia tidak cukup tinggi dalam postur tubuhnya.
Tunggu, tunggu! Bukan itu yang membuat Melisa menilai gadis pelayan tersebut. Matanya sontak melihat Nizam yang berpaling kearah lain seakan menghindari kontak mata dengan pelayanan tersebut. Apa jangan-jangan?
Tidak, tidak! Itu mungkin perasaannya saja, Melisa menepis perasaan yang berasumsi yang bukan-bukan, Tak mungkin juga jika Nizam akan terpikat dengan gadis pelayan didepannya apalagi mengingat Nizam adalah mantan Guy. Sampai saat ini pun Melisa belum tahu apakah Nizam sudah bisa memiliki perasaan terhadap kaum hawa termasuk dirinya juga.
__ADS_1
Sedangkan Nizam dengan setengah mati berupaya agar sikapnya tidak terlihat mencolok didepan Melisa. Nizam berusaha bersikap biasa-biasa saja. Padahal hatinya sangat bahagia saat ini karena rindu yang terbedung itu akhirnya membuncah namun tidak bisa ia luapkan secara nyata.
"Semua pelayan sudah mengenalku, karena disini memang menjadi tempat baruku beserta teman-teman!" Nizam berkata terlebih dahulu sebelum Melisa mengajukan pertanyaan.
"Tidak masalah, Kak. Semua orang pasti memiliki tempat favoritnya masing-masing," jawab Melisa santai dengan terus menatap gerak-gerik Nizam. Namun kata-kata Melisa barusan bermakna sangat dalam bagi Nizam. Apa mungkin Melisa bisa menebak bahwa ia ada rasa terhadap Nina. Ah, tidak mungkin! Ini hanya perasaannya saja.
"Baiklah, Tuan dan Nona. Saya akan proses pesanan Anda. Mohon bersabar dalam menunggu." Ucap Nina dengan formal dan terlihat sangat profesional, tak luput senyum tipisnya yang mengakhiri percakapan tersebut dan melangkah pergi menuju dapur kafe untuk menyerahkan pesanan tamunya.
Semua interaksi Melisa san Nizam barusan sungguh sangat membuat Melisa menjadi resah. Sudah jelas bahwa mereka berdua bukan hanya sekedar teman makan malam bersama. Tapi tekadnya sudah bulat. Ia akan berhenti berharap jika Nizam memang sudah memiliki calon istri. Cukup menjadi pengagum dalam diam tanpa harus bermimpi memilikinya.
Nizam bernafas lega saat Nina benar-benar pergi dan lenyap dibalik pintu yang tertutup, dan Melisa yang sedari tadi ingin mengajukan pertanyaannya sudah tidak dapat lagi menundanya.
"Kakak, kenapa? Melisa lihat agak tegang dan gelisah?" Tanya Melisa yang membuat Nizam bingung untuk menjawabnya karena ia baru saja menetralkan degup jantungnya.
"Tak apa, Mel. Mungkin tadi kakak tergesa-gesa dan itu membuatku sedikit tegang. Apalagi tadi aku pikir kamu kesasar jadi aku buru-buru ingin tahu apakah kamu benar-benar sampai ke tempat ini!" Jawaban yang sedikit membuat Melisa percaya dan masuk akal.
"Bagaimana pekerjaan kamu sekarang?" Nizam mengalihkan topik dengan menanyakan kesibukan Melisa saat ini.
"Akhir-akhir ini aku sangat sibuk, Kak. Kakak tahu sendiri, 'kan? Aku sering keluar kota untuk melakukan pemotretan. Apalagi tempatku bekerja sekarang lagi kebanjiran orderan baju pengantin yang saat ini seakan menjadi trending paling teratas dalam grafik pemesan konsumen," curhat Melisa yang mendapakan respon mengejutkan dari Nizam.
"Mungkin sekarang lagi musim kawin!" Celetuk Nizam tanpa sadar dengan tangan yang masih berkutat dengan benda pipihnya.
__ADS_1
"Apa Kakak juga tak ada niat untuk kawin?" Tiba-tiba Melisa mengajukan pertanyaan yang membuat Nizam berhenti dengan benda di tangannya karena pertanyaan Melisa telah menyita konsentrasinya.
"Apa maksudmu, Mel?" Bukannya menjawab, Nizam malah bertanya balik seakan pertanyaan Melisa bukan topik awal yang mereka bahas sebelumnya. Begitulah kalau berbicara dengan orang yang tidak fokus. Di tanya apa, jawabnya apa!