Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Mengantarkan pulang


__ADS_3

Zizi berjalan menaiki anak tangga dengan segudang pertanyaan yang sudah ia siap kan untuk Kakaknya. Setelah ia mengetahui tamu yang di maksud Pak Ali adalah sesosok wanita cantik membuat Zizi senang. Ada harapan baru terhadap Kaknya.


Dia tidak mempermasalahkan gadis itu yang masih terlihat muda bahkan masih seumuran dengan dirinya, yang ada di benaknya sekarang kedekatan kakak nya dengan seorang wanita adalalah kemajuan pesat bagi perkembangan menuju kesembuhan.


Zizi yang masih berjibaku dengan semua pemikiranya sendiri, berjalan secara tergesa-gesa menuju kamar Nizam.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Zizi membuka pintu kamar Kakaknya.


Tanpa permisi ia membangunkan Kakaknya yang lagi berbaring menikmati nyaman nya ranjang yang begitu menenangkan.


" Kak bangun, Ka Nizam banguh ih. Susah amat kalau di bangunin." Ucap Zizi seraya menggoyangkan tubuh Nizam.


Suara Zizi yang berisik mampu mengusik ketenangan Nizam, muka yang masih kucel itu bangun dengan wajah bantalnya namun tidak mengurangi ketampanan seorang Nizam Al-Gazali.


" Apa sih dek, datang-datang berisik dan gangguin Kakak istirahat saja." Gerutu Nizam sambil mengucek mata menyempurnakan arah pandangnya.


" Lagian Kakak sih tidur jam segini, ga boleh tau' tidur di sore hari."


" Iya tadi habis sholat Ashar Kakak rebahan terus ketiduran." Ucap Nizam menyauti ocehan adiknya.


" Eh Kak di bawah ada cewek nyariin Kakak lo, hayo kenapa Kakak gak pernah cerita kalo sudah punya teman cewek?" Cerocos Zizi yang ngomong bagaikan rem yang blong.


"Teman cewek?" Jawab Nizam seraya berfikir karna dia merasa tidak pernah mempunyai teman seorang wanita.


" Ah sudahlah jangan belagak tidak tau Kak, yuk kita temui dia sekarang." Ajak Zizi yang langsung menarik tangan Kakaknya.


Nizam yang belum siap dengan posisinya langsung kelimpungan mengimbangi tenaga sang adik yang cukup kasar itu karna antusias nya mengajak Nizam keluar menemui tamunya.


" Bentar dek Kakak ganti baju dulu" ujar Nizam berdiri dan menuju ke ruang ganti.


Nizam mengambil kaos polos hitam yang terlihat santai dan nyaman.


Mereka berdua berjalan menuruni anak tangga beriringan, Nizam yang bertanya-tanya


dalam hati serasa tak sabar ingin melihat seseorang yang lagi berkepentingan dengannya.


Nina yang yang berada di ruang tamu hanya bisa duduk dan menikmati mewahnya rumah itu, iris mata indah itu menyapu setiap sudut ruangan yang begitu rapi dengan hiasan pernak pernik yang terlihat mahal.


Nina masih dengan pemikiran yang terkagum-kagum oleh kekayaan orang yang ia datangi, hingga sapaan salam dari dalam membuyarkan lamunannya.


"Assalamu'alaikum.."

__ADS_1


"Waalaikumus'salam." jawab Nina seraya menoleh ke sumber suara.


Di sana telah berdiri dua anak manusia yang salah satu di antara mereka tidak asing baginya, dan satunya seorang gadis muda.


Nina yang tidak bisa menutupi keterkejutan nya reflek membulatkan mata sambil menutup mulutnya, sungguh ia tidak menduga bisa bertemu dengan orang yang sama dalam satu hari di kesempatan yang berbeda.


" Tuan, anda yang tadi bertamu ke Caffe kan?"


Tanya Nina yang sudah berdiri dari sofa saking kagetnya.


Nizam yang sedari tadi juga diam mematung dengan berjuta pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya, kenapa gadis asing ini tiba-tiba datang ke rumahnya.


" Huss, di tanyak tu Kak." celetuk Zizi sambil menepuk bahu Kakaknya.


Nizam yang kaget dengan tepukan tangan Zizi langsung menormalkan mimik wajahnya.


Muka itu sudah kembali seperti biasanya, datar dan dingin.


" Iya benar" jawab Nizam singkat.


" Maaf tuan saya ke sini mau mengembalikan SIM anda, tadi saya menemukan benda ini di area Caffe."


Ucap Nina sambil menyerahkan benda yang ia maksud ke arah Nizam yang sudah duduk berhadapan dengannya yang di dampingi Zizi.


" Iya benar" jawab Nisam tanpa ungkapan terimakasih.


" Hemmm, boleh aku tau Nama Kakak?" celetuk Zizi memecahkan keheningan.


" Nama saya Karenina, panggil saja Nina. dan satu lagi jangan panggil saya Kakak karna sepertinya kita seumuran." jawab Nina ramah.


" Nama aku Nayzila bisa di panggil Zizi, tapi Zi sukanya panggil Kak Nina dengan sebutan Kakak." Ujar Zizi yang sok akrap.


Zizi yang memang dasarnya Anak yang kepo tentang semua yang berurusan dengan Nizam, tidak melewatkan waktunya bertanya kepada Nina, kenapa bisa kenal dengan Kakak ke sayangannya.


Entah mengapa Zizi merasa nyaman ngobrol dengan Nina yang nyambung dengan semua pembahasan dan obrolan itu.


Nizam yang hanya duduk diam menatap dua wanita yang terlihat akrab itu hanya mendesah pelan, di dalam obrolan keduanya tak luput Nizam mencuri-curi pandang ke arah gadis yang pertama kali mampu menciptakan gelanyar aneh di hatinya.


Bibirnya tersenyum tipis bahkan hampir tidak terlihat.


" Zi maaf kalo Nina lancang, apa boleh Nina numpang sholat? sepertinya waktu Maghrib hampir habis." tanya Nina sedikit ragu.

__ADS_1


" Sangat boleh Kak Nina." Mari Zizi antar.


Kedua wanita itu berlalu pergi dari ruang tamu menuju musholla yang berada di salah satu ruangan di rumah mewah itu, yang biasa buat berjama'ah bersama.


Nizam hanya geleng-geleng kepala menatap tingkah laku adiknya yang tidak sok akrab itu.


" Sebenarnya dia tamu siapa, yang kepo siapa." gumam Nizam lalu pergi menuju ke kamar untuk menunaikan shalat Maghrib.


Beberapa menit berlalu, dan dua perempuan itu sudah berada di ruang tamu, sedangkan


Nizam masih saja di kamarnya entah apa yang ia lakukan sehabis sholat.


" Zi, Nina pulang dulu ya? takut ayah sama ibu kepikiran kalau pulang terlalu malam." Pamit Nina kepada teman barunya.


" Tunggu Kak, biar Kak Nizam yang mengantar pulang ya, itung-itung ucapan terimakasih dari kami." ujar Nina seraya pergi memanggil Kakaknya.


" Zizi tidak usah repot-repot, Nina pulang sendiri Zi," teriak Nina dengan penolakannya,


Namun tidak mendapat respon dari Zizi yang sudah berlalu pergi.


Lima menit kemudian Nina datang beserta Nizam yang sudah rapi dengan celana jeans dan kemeja lengan panjang warna dongker,


ujung lengan yang di tekuk sampai siku menambahkan Aura ketampanan Nizam terpancar kuat.


" Tuan tidak usah repot-repot, saya pulang sama bang ojol saja." tawar Nina yang merasa sungkan.


Sepersekian detik keduanya bertatap mata, Namun Nizam secara cepat mengalihkan dorot matanya ke sembarang arah.


" Tidak apa-apa kak, lagian kak Nizam mau ketemuan sama teman-teman nya habis ngantar Kak Nina. iya kan kak?" Cerocos Nina melancarkan Aksinya.


Ya, semuanya tak lepas dari campur tangan sang adik, sebenarnya Nizam tidak mau, karna malam ini dia ada janji sama Hendra dan Arif.


Namun bukan Zizi namanya kalau tidak bisa membujuk sang Kakak, Zizi yang dengan sejuta akalnya mampu membuat Nizam menuruti semua kemauan nya.


Lagi pula mungkin Adiknya benar dalam hal ini, dengan belajar membuka hati untuk lebih dekat dekan seorang wanita, mungkin penyakitnya akan berangsur sembuh.


*Bersambung.....


Haii...apa kabar semuanya semoga kakak semua sehat selalu🤗


Jangan lupa selalu dukung karya fahad ya

__ADS_1


like commet rite serta vote nya ya kakak😍


Salam hangat dari fahad🤗*


__ADS_2