
Nizam yang tadinya masih berjalan di posisi paling belakang, mengalihkan pandangan ke arah Papanya yang sudah duduk di ujung sofa yang di ikuti Bu Zainiyah dan juga Zizi.
Lalu Nizam melangkah kan kakinya menuju sofa itu juga, dia duduk bersebelahan dengan sang Adik.
" Maafin Papa Zam, karna tadi malam kebawa emosi." ucap Pak alkaf mengawali pembicaraan.
" Tidak apa-apa Pa, Nizam juga minta maaf. tidak seharusnya Nizam membuat Papa Marah." jawab Nizam sambil menatap kedua orang tuanya.
" Untuk masalah yang tadi malam Papa serahkan Kepadamu, Papa tidak mungkin memaksaan kehendak Papa, sedangkan yang bersangkutan tidak bersedia." Ujar Pak Alkaf penuh kebijaksanaan.
Ya, setelah tadi malam Bu Zainiyah memasuki kamarnya, dia berusaha memberi pengertian kepada Suaminya, bahwa rencana perjodohan Anaknya itu memang harus dapat persetujuan dari Nizam sendiri.
Karna tidak mungkin semuanya terlaksana tanpa adanya kemauan Nizam, dan akhirnya setelah beberapa lama sepasang suami istri itu berdiskusi keduanya setuju untuk menyerahkan keputusan kepada Nizam.
" Tapi Nizam sudah memutuskan untuk mencobanya Pa." ucap Nizam, yang sontak membuat ke tiga Orang itu kaget karna merasa tidak menyangka dengan pernyataan Nizam.
Pak Alkaf dan Bu Zainiyah serta Zizi memandang satu sama lain, mereka masih mencerna Ucapan Nizam.
" Apakah Mama tidak salah dengar Nak?" tanya Bu Zainiyah dengan mata yang sudah berkaca-kaca namun ia berusaha untuk tidak memperlihatkan kepada semuanya.
" Beneran Kak?" saut Zizi juga dengan wajah girangnya sambil memeluk Kakaknya dari samping.
Nizam hanya menyauti Mama dan adiknya itu dengan anggukan saja, namun sudah membuat semuanya tersenyum lega.
Pak Alkaf yang sedari tadi hanya diam tiba-tiba tersenyum sambil menghampiri Anak sulungnya itu, Lalu menarik bahu Nizam untuk berdiri menyamakan tubuh mereka.
Nizam yang reflek langsung mengikuti pergerakan Papanya, dan keduanya berpelukan yang di iringi tepukan pelan di pundak Nizam oleh sang Papa, seraya berkata.
" Papa bangga terhadapmu, kau memang sudah benar dalam mengambil keputusan ini." ucap Pak Alkaf sambil melepaskan pelukannya lalu kembali ke tempat semula.
" Nizam akan lakukan semuanya Ma, Pa sebagai bentuk kesungguhan Nizam untuk berupaya. namun jangan paksa Nizam bersikap seperti orang lain." Ungkap Nizam kepada keduanya agar tidak mempermasalahkan sifat yang dingin dan tidak peka terhadap perempuan di luar sana terkecuali mama dan Adiknya itu.
" Baiklah masalah ini sudah selesai dan kita bisa merealisasikan nya dengan cepat." Cetus Zizi yang masih bergelayut manja di tangan Kakaknya.
__ADS_1
Sangat terlihat jelas wajah bahagia yang di tampakkan Bu Zainiyah dan Pak Alkaf pagi ini, karna keputusan Anaknya itu.
" Kalau begitu Nizam berangkat ke kantor dulu Ma, Pa." Pamit Nizam sambil menyalami keduanya serta meberikan ciuman lembut di masing-masing tangan paruh baya itu.
Pak Alkaf dan Bu Zainiyah hanya mengangguk pelan dan berkata.
" Hati-hati Nak."
" Hati-hati ya Kak, jangan kencang-kencang nyetir mobilnya" teriak Zizi dengan suara cemprengnya, Karna sang Kakak sudah berlalu dari ruangan itu.
Nizam bergegas keluar dari ruang tamu itu menuju ke arah garasi yang di mana mobilnya sudh di siapkan oleh Pak harto selaku supir keluarganya, yang datang di pagi hari dan pulang di waktu malam setelah urusan pekerjaannya sudah selesai.
" Pak Harto apakah mobil saya sudah selesai di bersihkan?" tanya Nizam yang masih berdiri di teras Rumah sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
" Sudah Tuan Muda, ini kuncinya."
Jawab Pak Harto seraya mengambil kunci yang ia simpan di kantong celananya lalu memberikan kepada Anak majikannya itu.
Nizam meraih kunci itu lalu pergi menuju mobilnya, dia menyalakan mesin lalu tancap gas keluar dari halaman Rumahnya.
Nizam mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar, di dalam mobil Nizam teringat sesuatu yang harus ia lakukan selepas pekerjaanya selesai.
Setelah beberapa detik panggilannya tersambung, dan suara di seberang sana meresponnya.
" Hallo Boss, apa anda akan datang ke Kantor hari ini?" Suara itu terdengar santai mengawali pembicaraan.
" Iya Ran, siapkan semua berkas yang harus Aku tanda tangani, serta akumulasi pemasukan dan pengeluaran bulan ini dari semua cabang. Aku mau cek secara detail."
Tutur Nizam kepada Asisten pribadinya itu yang sekaligus sebagai sekertarisnya.
Nizam memang menolak Randy mencarikan sekertaris yang cenderung di minati oleh kaum wanita. Karna memang Nizam tidak suka dengan perempuan yang bekerja di sekelilingnya.
" Baiklah Boss saya akan siapkan sesusai perintah anda, apa ada yang lain yang harus saya lakukan?" tanya Randy di seberang sana.
" Tidak ada, cukup itu saja karna saya nanti pulangnya agak awal Ran, ada orang yang harus aku temui setelah pekerjaan beres."
Ujar Nizam menjelaskan kepada Asistennya.
__ADS_1
" Ok Boss, kalau begitu saya tutup dulu teleponnya." Ucap Randy yang sekaligus menutup sambungan telekomunikasi itu.
Mendengar telepon yang sudah terputus ia lalu menaruh benda pipih itu ke dalam saku jas nya, Nizam mengendarai mobil itu dengan sejuta fikiran yang berkecamuk di otaknya.
" Mungkin beliau bisa menjawab keresahan yang ku alami sekarang, tidak ada salahnya aku meminta pendapat dan petuahnya."
Guman Nizam pelan di dalam mobil.
****
Di rumah Pak Anwar, aktifitas pagi yang biasa di lakukan mereka adalah bahu membahu mengerjakan pekerjaan Rumah. Nina yang mempunyai tugas membersihkan rumah dan halamannya, sedangkan Bu Aminah dengan tugas wajibnya yaitu memasak untuk keluarga kecilnya.
Kalau Pak Anwar memang sudah tidak boleh mengerjakan apapun oleh Anak dan Istrinya,
cukup beristirahat dan jaga kesehatan agar tidak drop lagi seperti kemarin-kemarin.
Pak Anwar yang tidak bisa menolak hanya duduk santai di depan Rumah sambil melihat Ayam peliharaanya yang terletak di seberang sana.
Ya, semenjak dia tidak bisa jadi buruh serabutan lagi, yang menuntut adanya kekuatan fisik yang kuat, Pak Anwar iseng-iseng memelihara Ayam, karna ia fikir kegiatan itu tidak memerlukan tenaga fisik yang berlebihan,dan semuanya itu di setujui oleh Bu Aminah dan Nina yang di rasa sebagai obat bosan karna selalu berdiam diri di rumah.
Selain hobi dengan berternak, Pak Anwar juga rajin dan ulet dalam berbagai hal dan sifat itulah yang ia turunkan kepada putri semata wayangnya itu.
" Nin, kamu tidak berangkat kerja Nak?" tanya Pak Anwar sambil berjalan ke arah kandang ayam yang di bersihkan Nina.
" Nina masuk siang Yah, tapi nanti Nina ijin berangkat lebih Awal karna mau menemui Kakek Mukti!" jawab Nina memberitahukan
kepada Ayahnya.
" Siapa Kakek Mukti Nak?" ujar Pak Anwar sedikit heran menatap Nina sambil memberi makan Ayam-ayam nya.
Bersambung.....
Semua pada gak sabar ya guys...
Sabar ya kalau penyembuhan Nizam masih dalam proses..dan mejelaskan itu harus butuh kesabaran ya Kakak-Kakakqu...
Makasih yang madih setia dengan karya saya🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
SALAM HANGAT DARI SAYA
🤗🤗🤗🤗