
Setelah kepergian pelayan wanita itu, Nizam menegakkan duduknya seraya meraih makanan yang masih berkepul asap tersebut,
tapi sepintas ia ingat sesuatu, dengan cepat Nizam keluar mengejar pelayan yang di yakininya masih ada di sekitar ruangan itu.
Benar saja, pramusaji wanita itu masih berada tidak jauh dari ruangan yang ia tempati, dengan suara agak keras ia memanggil pelayan tersebut, "Mbak, Mbak. Sini!" sontak orang yang ada di sekitar itu menoleh ke asal suara tak terkecuali pelayanan yang Nizam maksud.
"Saya Tuan?" tunjuk pelayan itu kepada dirinya sendiri seraya melangkah ke arah Tuan yang menurutnya sangat sombong, "Ya iyalah kamu, siapa lagi." jawab Nizam sedikit kesal karna acara makan malamnya sedikit terhambat menurutnya.
"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayanan wanita itu secara sopan dan menundukkan kepalanya untuk menghormati setiap pengunjung yang katanya adalah raja, mungkin itu falsafah yang biasa jadi pedoman para pelayan.
"Saya pesan Cappucino panas dengan sedikit gula. Ingat, yang panas ya, cepat tidak pakek lama!!" perintah Nizam dengan menegaskan kata cepat, lalu beranjak masuk ke tempatnya semula. Sedangkan pelayan yang masih terbengong belom beranjak dari tempatnya, hingga kesadarannya kembali dan langsung menggerutu, karena mendapatkan pelanggan yang super sombong. Ya, meskipun tampan tetep aja jengkel kalau sikapnya menyebalkan, menurutnya.
Sedangkan di lantai bawah para pelayan semuanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, tak terkecuali Nina. Perempuan cantik itu masih tetap saja semangat meskipun sudah sedari tadi hilir mudik melayani para tamu yang berdatangan ke Caffe tempatnya bekerja, belum lagi dia selalu naik turun tangga mengantarkan makanan yang sudah waktunya ia antarkan ke lantai atas karna adanya pesta ualang tahun yang lagi berlangsung.
Hingga tepukan ringan di pundaknya mengalihkan perhatiannya kearah belakang "Nin, kamu nanti standby di atas ya, biar nggak bolak-balik naik turun tangga. Kamu duduk dekat bartender aja, temenein Icha kalo lagi butuh bantuan." pinta Aldo kepada Nina.
"Jadi nggak apa-apa ini Pak, saya naik ke atas? tugas saya kan cuma mengantarkan makanan saja, apalagi saya masih baru bekerja di tempat ini Pak" jawab Nina merasa tidak enak sama temen-temennya yang lain, karna menurut yang ia ketahui, karyawan yang seniorlah yang biasanya bertugas menjamu pabila ada event atau acara-acara resmi lainnya.
"Saya yang punya wewenang di sini, dan saya bebas memerintahkan siapapun yang patut saya tempatkan di atas, tak terkecuali kamu." tegas Aldo yang mengetahui kekhawatiran Nina. Aldo sengaja menegaskan kata wewenang agar Nina tidak menolak, karna ia tau sifat Nina yang selalu mengutamakan perasaan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Meskipun tidak akrab dengan Nina dan belum terlalu jauh tentang kepribadiannya. Namun, Aldo sudah bisa menilai karakter gadis belia itu, yang selalu mengutamakan orang lain daripada kepentingannya sendiri.
"Baik Pak," lirih Nina yang langsung melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga, Aldo yang masih berdiri di tempatnya semula, terus mengamati kepergian Nina yang akhirnya hilang di ujung tangga. Aldo tersenyum tipis, karna tanpa ia sadari rasa suka itu semakin berkembang biak di sanubarinya. Tapi ia tidak mau gegabah mengambil keputusan, karna ia tau siapa orang yang sekarang ia sukai, anak belia yang masih belum waktunya memikirkan hubungan serius.
__ADS_1
Dan belajar, itu yang masih jadi prioritas utama bagi Nina. Fikiran semacam itu yang sekarang Aldo pertimbangkan, mengingat Nina yang bercerita kepada Icha, tanpa sepengetahuan mereka berdua Aldo mendengarkan Nina menggebu-gebu mengungkapkan tentang impiannya, bahwasannya tujuan hidupnya hanya satu, belajar yang sungguh-sungguh agar bisa mendapatkan beasiswa dan melanjutkan kuliahnya agar bisa memperbaiki ekonomi keluarganya kelak.
Atas dasar itu, Aldo membiarkan Nina meraih cita-citanya, agar dia bisa sukses seperti impiannya saat ini. Jadi Ia mengenyampingkan perasaannya daripada egonya sendiri. Cukup menjadi pengagum Nina dalam diam dan melihatnya setiap hari, itu sudah cukup bagi Aldo.
Nina yang baru saja sampai di lantai atas, mencari keberadaan Icha, yang sepengetahuan nya berada di bartender. Tapi, ternyata kakak seniornya itu tidak ada di tempatnya. "Kemana Kak Icha ya" gumam Nina sambil mengedarkan pandangannya ke lautan manusia di sekitarnya, yang asik menikmati musik sambil bercekrama bersama temannya yang lain. Berharap orang yang ia cari ada di antara para penikmat pesta tersebut.
Hingga matanya tertuju pada sesosok yang lagi berjalan tergesa-gesa di ujung sana yang menuju ke arahnya, "kenapa Kak, kayak panik gitu?" tanya Nina yang belom mendapat respon dari temennya yang sedari tadi ia cari tersebut.
"Bukan hanya panik Nin, tapi kesel aku tuh, amit-amit deh aku ngelayani pelanggan seperti itu tiap hari, bisa-bisa aku uban sebelum waktunya tau," cerocos Icha yang melampiaskan kekesalannya pada buku yang ia pegang dan melemparkan ke meja bartender.
"Nina yang masih belum tau masalahnya hanya diam dan mengernyit, masih menebak apa yang telah di alami kakak seniornya tersebut, "Ada apaan sih Kak? kok bete banget gitu," tanya Nina lagi yang benar-benar penasaran apa yang sudah di alami sahabat barunya itu.
Dengan perasaan yang masih kesal, Icha menceritakan semuanya, Nina terus fokus mendengarkan ocehan Icha sambil tergelak dan merasa lucu sendiri, membayangkan wajah sahabatnya itu tak berdaya di depan pelanggan yang memang kadang-kadang banyak yang bersikap seenaknya saja. Hingga pada cerita terahir Icha yang menyebutkan pesanan pelanggan tersebut, Nina langsung berhenti tergelak dan menatap serius ke arah Icha, seakan-akan ia salah dengar.
"Hah, Cappucino panas sedikit gula"? ulang Nina sambil mengingat-ingat, berharap tidak ada kebetulan untuk sekian kalinya. "Memang ada di ruang apa itu pelanggan nya Kak?" cecar Nina yang berusaha meyakinkan fikirannya yang kemana-mana.
Icha menjelaskan lagi, sekaligus menyuruh Nina membuat pesanan tersebut dan mengantarkan ke ruangan yang sudah ia ceritakan tadi, Icha beralasan malas pabila bertemu dengan orang yang sudah bikin moodnya kacau. Nina yang tidak punya alasan menolak, mau tidak mau melakukan nya.
Dengan berat hati Nina melangkah kan kakinya ke tempat yang sudah ia tuju sekarang, sambil membawa nampan yang berisi Cappucino, Nina sebenarnya was-was berharap apa yang ia fikirkan salah, tanpa ia sadari dirinya sampai ke tempat yang dituju, dengan setengah hati ia mengetuk pintu.
tok tok tok....
__ADS_1
"Masuk," terdengar suara dari dalam yang ia yakini pelanggan sombong yang Icha ceritakan tadi, sekaligus suara orang yang sejak tadi berkelebat dalam benaknya, dengan perlahan Nina membuka pintu dan masuk untuk meletakkan pesanan sang pelanggan.
"Silahkan Tuan, ucap Nina pura-pura tidak tahu dengan orang yang duduk di depannya, yang masih fokus menikmati makanan yang sudah tinggal separuh itu. Nina berharap orang di depannya tidak menoleh kearahnya, agar dia bisa cepat keluar dari tempat ini, pikir Nina.
"Permisi Tuan," pamit sopan Nina, yang mengambil langkah seribu buat cepat-cepat kabur dari ruangan tersebut, dengan langkah pelan tapi pasti, Nina berjalan agar bisa terbesas dari orang di depannya itu. Tapi, baru saja kakinya melangkah keluar dari pintu itu, suara bariton di belakang menghentikan langkahnya.
"Mau kemana kamu, kenapa pura-pura tidak mengenali Saya? apa tiba-tiba kamu terkena amnesia dadakan?" pertanyaan yang di bumbui tuduhan itu secara refleks keluar dari bibir Nizam yang sejak tadi memerhatikan sikap Nina dari ekor matanya.
.
.
.
.
.
.
.Bersamabung.....
__ADS_1
Buat pembacaku, kalau kalian punya keluhan tentang tulisan Fahad, Monggo di katakan, nanti Fahad akan memperbaiki mana-mana yang memang tidak layak, sebisa mungkin saya betulin dengan kemampuan saya yang minim ini, tapi sebelumnya maaf kalau tulisan Fahad masih berantakan. mohon di maklumi.