
...Seketika Nizam beradu pandang dengan sang gadis, Nizam tiba-tiba fokus dengan ciptaan Tuhan yang berdiri di depannya. Jarak begitu dekat, membuat Nizam bisa melihat kesempurnaan wajah gadis itu....
...Wanita yang tidak terlalu tinggi jika disandingkan dengan dirinya. Mungkin, cuma memiliki tinggi 160 cm dengan wajah rupawan serta kulit putih bersih bak salju, mata bulet itu dihiasi bulu-bulu lentik dan semakin mempertegas kecantikan tersebut....
...Bibir ranum yang hanya dipoles lip balm terlihat fresh di pandang mata, apalagi pipi yang agak berisi itu terlihat menakjubkan, di saat sang pemilik menyunggingkan seulas senyum, dan detik itu pula lesung pipit itu pun tercipta....
Deg deg deg ....
Detak jantung Nizam berirama tidak semestinya.
..."Kenapa jantungku berdebar begini? apa tiba-tiba aku terserang sakit jantung mendadak! Kenapa hati dan debaran ini terasa aneh?!"...
...Batin Nizam penuh dengan tanda tanya....
..."Maaf Tuan, apa bisa kita bantu kakek ini sekarang?" Suara gadis itu membuyar kan lamunan Nizam....
...Sekita itu pula Nizam mengalihkan pandangannya ke arah kakek renta itu....
...Dengan spontan wajahnya kembali berubah pada sifat aslinya. Dingin dan datar....
...Nizam merutuki kebodohannya karena sempat terhipnotis oleh wajah nan ayu di depannya ini. Lantas, ia turut membantu gadis tersebut. Mereka berdua membantu kakek itu hingga sampai ke seberang jalan....
...Selama berjalan membantu kakek tua itu menyeberang jalan, Nizam masih tidak habis pikir dengan perasaan aneh yang tiba-tiba hadir dalam hati dan menembus jiwanya itu....
...Perasaan yang tidak pernah ia rasakan selama ini, perasaan takjub di saat memandang mahluk Tuhan yang bernama wanita itu. Nizam mencoba menetralkan rasa aneh yang baru ia alami, ia menyingkirkan asumsi yang tidak mungkin ia rasakan semudah itu....
..."Makasih ya, Cu, sudah bantuin kakek menyeberang," ujar sang kakek itu kepada mereka berdua....
..."Sama-sama, Kek," jawab mereka secara bersamaan....
...Kakek itu tersenyum lebar karena jawaban kedua insan yang baru menolongnya itu terlihat kompak....
..."Kakek mau kemana?" tanya Nizam yang diiringi anggukan oleh sang gadis, menandakan bahwa mereka berdua masih khawatir terhadap sang kakek yang di anggapnya tidak bisa berjalan jauh untuk jangka waktu yang lama....
..."Jangan khawatirkan Kakek. Tujuan Kakek sudah dekat kok, itu tempat Kakek," tunjuk kakek itu kepada sebuah bangunan yang sudah tua tapi terlihat masih kokoh. Dengan reflek keduanya melihat arah tunjuk kakek tersebut....
...Tak jauh dari sana terlihat gedung kuno menyerupai sebuah asrama. Halaman luas yang dihiasi dengan macam-macam pot bunga terlihat manis. Gedung yang berdiri dengan dua lantai itu sangat mencolok terlihat, karena gedung itu berdiri di antara rumah warga yang sederhana....
...Ya, tempat kakek itu adalah rumah panti jompo yang selama ini selalu ramai dengan penghuninya....
..."Cu, siapa nama kalian berdua?" tanya kakek itu sembari tersenyum ramah....
__ADS_1
..."Namaku Nizam, Kek," jawab Nizam dengan sopan meski terlihat datar....
..."Nama saya Karenina, Kek," sambung Nina yang sudah menjabat kakek itu, lalu menciumnya sebagai tanda penghormatan kepada sang kakek....
..."Panggil saya Nina aja ya, Kek," ujar Nina menjelaskan....
..."Nina, nama yang tidak buruk," gumam Nizam dalam hati....
...Lagi-lagi Nizam dibuat kagum oleh gadis di depannya itu. Selain mempunyai wajah yang sempurna, hatinya pun begitu lembut....
...Bagaimana tidak, bersama orang yang baru dia kenal saja dia begitu menghormatinya. Apalagi terhadap keluarganya!...
..."Nama Kakek siapa?" tanya Nina....
..."Panggil saja Kakek mukti, Cu," ujarnya. Lagi-lagi tersenyum pada keduanya....
..."Kakek tinggal di panti jompo itu?" selidik Nizam memastikan....
...Kakek Mukti mengangguk serta reflek menepuk bahu Nizam, seakan tahu apa yang dipikirkan pemuda di depannya itu, seraya berkata....
..."Sudah tidak apa-apa, Kakek akan pulang sendiri, 'kan sudah dekat. Kalian tidak usah khawatir lagi, sekali lagi Kakek ucapkan terima kasih ya, Cu, karena Kakek bertemu orang baik seperti kalian. Kakek doakan semoga kalian selalu bahagia," ucap Kakek Mukti....
...Yang langsung disusul tawa Kakek Mukti dengan suara serak, karena merasa lucu dengan keduanya yang sedari tadi terlihat kompak di mata Kakek Mukti....
..."Kalian ini ya, dari tadi kompak terus jawabnya, apa kalian berjodoh?" goda Kakek Mukti yang mampu membuat bingung kedua anak manusia di depannya itu....
...Nina dan Nizam tiba-tiba saling pandang satu sama lain, mereka tidak mengerti kemana arah pembicaraan Kakek Mukti tersebut....
..."Mana mungkin Kek, kami berdua ini belum kenal, dan ketemunya saja baru sekarang." elak Nizam dengan wajah tanpa ekspresi....
..."Iya Kek, bener itu," sambung Nina yang setuju dengan kata yang diungkapkan...
...Nizam....
..."Nizam, Nina. Jodoh dan mati itu rahasia Ilahi, tidak ada yang bisa mendahului atau memundurkan keduanya. Karena dua takdir itu sudah hak mutlak milik Allah. Kita sebagai manusia cuma bisa menjalani peran itu dengan baik, tidak ada yang tidak mungkin. Apabila Allah sudah berkehendak." Nasihat Kakek Mukti kepada dua muda-mudi tersebut....
..."Ya sudah, kalian pergi sekarang saja. Pasti kalian berdua masih banyak urusan, 'kan." Seakan paham dengan keadaan, kakek itu tidak mau merepotkan mereka. Apalagi, keduanya sudah mengantarkannya ke halaman Panti Jompo tersebut....
..."Lain kali, kalian juga bisa mengunjungi Kakek lagi di sini," jelas Kakek Mukti lagi....
..."Baiklah Kek, Nizam pamit dulu ya." ucap Nizam menyalami Kakek Mukti dan mencium tangan renta itu....
__ADS_1
...Kakek Mukti memeluk tubuh kekar itu sambil mengusap punggung tegap Nizam seraya berkata....
..."Jadilah laki-laki yang bisa dibanggakan kedua orang tuamu." bisik kakek Mukti lirih. Namun, masih bisa didengar oleh Nizam....
Entah kenapa, Kakek Mukti seakan begitu dekat dengan Nizam. Padahal, ini adalah pertemuan mereka untuk pertama kalinya.
...Nizam tersentuh oleh kata-kata Kakek Mukti dan refleks merenggangkan pelukan itu, lalu menatap netra mata tuanya....
...Entah kenapa pertemuan yang pertama kali ini dengan Kakek yang asing itu, seakan-akan ada yang beda, ada perasaan damai di saat mendengar suara renta tersebut. Meskipun ia baru bertemu dengan kakek Mukti. Namun, Nizam juga tidak mengerti apa arti dari hatinya ini....
..."Ya sudah Kek, Nizam pamit dulu," pamit Nizam sambil berbalik ke arah Nina dan menganggukkan kepala, tanda dia pamit mau pergi, yang diiringi ucapan salam Nizam. "Assalamu'alaikum."...
..."Wassalamu'alaikum," jawab Kakek Mukti dan Nina bersamaan....
..."Kalau begitu Nina pamit juga ya, Kek," pinta Nina lalu menyalami Kakek Mukti juga, lantas berlalu dari tempat itu dengan tergesa....
..."Semoga kakek masih bisa diberi umur panjang, Kakek ingin bertemu kalian lagi di lain waktu." gumam Kakek Mukti dalam hatinya....
...****...
...Nina yang bejalan dengan tergesa-gesa, menyusuri trotoar yang sedang ramai dilalui lalu-lalang manusia yang bernasib sama dengannya, mengejar waktu untuk bisa datang tidak terlambat ke tempat kerjanya....
...Karenina Sanjaya, yang terlahir sebagai Anak tunggal di keluarga kecilnya, tumbuh mandiri dan dewasa sebelum waktunya. Karena himpitan ekonomi yang harus ia cari sebelum dia lulus dari sekolah menengah ke atas itu. Nina yang masih umur 18 tahun, sudah bisa mencari uang sendiri untuk mencukupi kebutuhan sekolahnya yang sebentar lagi lulus....
...Karena sang ayah yang cuma jadi buruh serabutan sudah tidak bisa mencari nafkah lagi, dikarenakan sakit-sakitan....
...Sedangkan Ibunya yang berprofesi sebagai...
...tukang cuci gosok keliling harus berhenti sementara untuk merawat Ayahnya....
...Berhubung masih libur sekolah, sambil menunggu acara wisuda dan kelulusan. semuanya di gunakan Nina untuk mencari kerja sampingan....
...Untung Nasib baik masih berpihak kepadanya, hingga Nina bisa diterima di restaurant di tempatnya bekerja sekarang sebagai pramusaji atau pelayan resto....
.......
.......
.......
...Bersambung .......
__ADS_1