
Nina yang masih ragu tidak berani membalikkan badannya menghadap Nizam, karna kekhawatiran nya ternyata benar terjadi, sebenarnya Nina langsung bisa mengenali Nizam di saat pintu yang ia buka sudah menampakkan wajah Nizam yang saat ini mampu mengubah irama jantungnya. Nizam memang bisa mengenalinya, dan parahnya lagi, aksi pura-puranya sudah tertangkap basah. Dengan gerakan perlahan Nina mulai menggerakkan tubuh mungilnya agar bisa berhadapan dengan sesosok laki-laki yang akhir-akhir ini mampu membuat jantungnya berdetak lebih dari biasanya.
"Hehehe...." cengir Nina berharap Nizam tidak terlalu mempermasalahkan nya, "Maaf Kak, tadi Nina kurang yakin kalo yang aku layani Kak Nizam, jadi Nina nggak berani menyapa," lanjut Nina beralasan. Nizam hanya berdecak kesal sambil menikmati makanannya, karna wanita di depannya ini berkilah yang tidak masuk akal menurutnya.
"Maaf Kak, apa boleh aku keluar melanjutkan tugasku, karna kebetulan ada acara ulang tahun di caffe ini," ucap Nina berharap ia cepat keluar dari ruangan yang semakin lama semakin tak beroksigen baginya.
Nizam yang memang mendengarkan Nina meskipun fokusnya tetap pada makanan itu reflek menoleh, ia mengingat sesuatu yang di rencanakan oleh adiknya itu apabila bertemu Nina. Otaknya langsung berpikir keras, gimana caranya supaya Nina sama Zizi tidak bertemu, ide brilian tiba-tiba muncul di kepalanya yang secara langsung membuat bibirnya tersenyum tipis.
"Saya juga pelanggan di Caffe ini, jadi seharusnya tidak masalah jika kamu melayani nya bukan, dan saya tidak terbiasa makan sendirin di meja makan atau di manapun, jadi saya minta kamu tetap disini menemani saya sampai selesai, bukankah itu memang fasilitas ruangan ini?" telak Nizam dengan senjatanya.
"Tapi Kak, setidaknya biarkan saya memberitahu temanku, jika aku ada di sini dan tidak bisa membantu mereka." dalih Nina berharap ada celah buat dia keluar dan tidak berinteraksi lebih lama dengan orang yang memintanya memanggil nya dengan sebutan kakak itu.
"Itu ada telepon, tinggal sambungkan dan bicara kalau kamu masih melayani pelanggan yang lain, apa perlu saya yang menelponkan menegermu?" lanjut Nizam seraya menunjuk alat komunikasi yang tersedia di meja pojok ruangan tersebut.
Nina yang sudah kehabisan akal, langsung menjalankan apa yang di perintahkan Nizam, Nina menelpon Aldo atasannya dan menjelaskan bahwa ia tidak bisa membantu acara di luar, karna ada tamu vvip yang minta di layani secara maximal, Aldo yang tidak mempermasalahkan langsung menyetujui dengan tidak banyak bicara.
Setelah selesai berbicara degan Aldo di telepon, Nina meletakkan benda itu ketempatnya, Lalu Nina kembali ke tepat yang semula. Nizam yang terus fokus dengan acara makan malamnya itu hanya melihat pergerakan Nina dari ujung matanya saja.
Nina yang sebenarnya keberatan berada berdua dengan Nizam dalam satu ruangan itu merasa tidak nyaman, entah perasaan apa yang ia rasakan, ahir-ahir ini hati dan fikirannya selalu merasa aneh pabila bertemu dengan seseorang yang bergelar kakak barunya itu. Ya, meskipun cuma sebagai panggilan saja, tapi Nina merasa aneh karna selama ini dia tidak memiliki Kakak laki-laki atau keluarga selain Ayah dan Ibunya.
__ADS_1
Semenjak pertemuan pertamanya bersama pria dewasa tersebut, Nina merasa ada sesuatu yang tidak biasanya ia rasakan, tapi dia juga tidak mau ambil pusing dengan semuanya. Seperti sekarang ini, Nina di buat bingung harus berbuat apa dan melakukan apa di sepanjang ia menemani Nizam bersantap malam.
Dengan langkah pelan Nina kembali ke tempatnya semula, berdiri di sisi kanan Nizam yang masih begitu menikmati makanannya, Nina hanya berdiri seperti patung dan sedikit menundukkan kepala, Namun fikirannya masih saja berkecamuk,
hingga suara laki-laki yang membuat jantungnya deg-degan itu membuyarkan segala lamunannya.
"Apa kau akan terus berdiri seperti manekin hidup di situ?" suara Nizam memprotes seraya mengambil minuman yang dari tadi ingin ia nikmati. Nizam yang sudah selesai dengan makan malamnya lalu mengambil tisu dan mengelap area mulutnya yang di rasa kotor.
"Tidak sopan bagi Nina Kak, jika menemani tamu dengan juga berduduk santai di dalam satu ruangan, lagipula memang seperti inilah saya harus bersikap kepada setiap pengunjung yang meminta layanan ruangan Kak, jadi alangkah baiknya saya seperti ini sampai Kakak tidak membutuhkan saya." tutur Nina sopan berharap Nizam tidak mempersulit keadaannya dengan selalu bertanya apapun yang ia tak sanggup menjawabnya.
Nizam masih berfikir apalagi cara untuk menahan Nina di ruangan tersebut, sedangkan makan malamnya sudah selesai. Otaknya terus berputar mencari ide agar Nina tidak bertemu dengan adik cerewetnya itu, karna itulah tujuan utama Nizam menahan Nina, hingga satu ide konyol terlintas di benaknya yang mau tidak mau harus ia realisasikan. Ya, meskipun harga dirinya harus di korbankan demi ide itu.
Meskipun hatinya sudah ada rasa penasaran terhadap Nina dan semua tentangnya, tapi Nizam masih belum siap untuk memantapkan bahwa rasa itu sebuah ketertarikan yang selama ini ia harapkan untuk kesembuhannya.
Bagi Nizam, tidak ada rasa yang instan. Semua butuh proses, begitupun rasa yang akhir-akhir ia tepis. Ya, meskipun hati dan fikirannya tidak sinkron, maka itu Nizam tidak mau gegabah untuk mengiyakan Zizi menjodohkan dia dengan Nina. Ia hanya ingin memantapkan hati dan perasaannya. Untuk saat ini mungkim tidak mempertemukan Zizi dengan Nina adalah hal yang tepat, sambil dia menyelami perasaannya sendiri dan berfikir apalagi tindakan yang harus mengokohkan asumsinya.
"Boleh minta tolong? Temani saya sampai pulang, karna saya merasa kepala saya sakit, setidaknya sampai rasa sakit ini sudah mendingan, baru kamu bisa tinggalkan saya.'' pinta Nizam tanpa melihat ke arah Nina.
Sebelum Nina sempat menjawab Nizam lagi-lagi menggemakan suaranya dengan permintaan yang terkesan semaunya. ''Emm... maksut saya, seandainya terjadi sesuatu terhadap saya, setidaknya ada orang yang tau. lagipula, selama saya di sini, bukankah keselamatan saya juga tanggung jawab pihak Caffe ini kan?" lanjut Nizam yang sudah tidak perduli dengan harga diriya, yang terpenting misinya menahan Nina saat ini sempurna. Ya, meskipun alasannya itu tidak logis sama sekali.
__ADS_1
Nina yang bingung hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, tapi otaknya berfikir keras, ' Perasaan wajahnya baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda bahwa dia tidak sehat. kok tiba- bilang sakit kepala ya? Ah entahlah bingung aku dengan apa kemauwan orang kaya', suka seenaknya saja.' batin Nina yang terus saja berperang dengan semua pertanyaan yang tidak mungkin ada jawabannya.
Nizam menegakkan tubuhnya kesandaran sofa yang menyangga tubuh kekarnya, ia meggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri agar terlihat kalau ia benar-benar mengalami gangguan sakit di area kepala itu.
Sedangkan Nina hanya diam dengan posisi yang tetap berdiri dengan kepala yang masih tertunduk, sampai suara Nizam yang memecah keheningan mampu membuatnya menatap sumber suara tersebut. "Mau sampai kapan kamu berdiri di situ, bisa-bisa kakimu kram dan kesemutan, duduk!!" perintah Nizam. "Saya tidak mau ada penolakan lagi." lanjut Nizam yang mengetahui bahwa Nina pasti akan menolaknya.
.
.
.
.
.
.
.Bersambung....
__ADS_1
Maaf ya kalo ceritanya terkesan bertele-tele.
tapi saya hanya menulis dgn apa yg saya fikirkan, mohon di maklumi ya guys🤗