
" Kalau boleh tau siapa nama wanita yang menemui Kakek Mukti Bu?" tanya Nizam memberanikan diri.
" Nah itu dia saya lupa Namanya. Maaf, tadi Nama anda siapa Anak muda?" tanya balik Bu Dahlia yang sungguh lupa dengan Nama Nizam.
" Panggil saya Nizam saja Bu!" Jawab Nizam yang terus mengikuti paruh baya di depannya.
" Maaf ya Nak Nizam, Ibu memang pelupa. Mungkin Wanita yang berkunjung kemarin juga datang hari ini. Karna dia bilang akan selalu mengunjungi Kakek Mukti."
Tutur Bu Dahlia yang tiba-tiba berhenti di salah satu kamar dengan pintu yang masih tertutup.
Nizam yang masih mengira-ngira dengan semua asumsinya, reflek menghentikan langkahnya di dekat Bu dahlia.
tok..tok..tok...
Suara ketokan pintu yang berasal dari tangan Bu Dahlia itu berhasil membuat sang pemilik kamar membukanya.
" Assalamu'alaikum Kakek." ucap Bu dahlia serta Nizam bersamaan.
" Waalaikumus'salam Nak." jawab Kakek Mukti kepada Bu Dahlia yang belum sadar dengan keberadaan Nizam di samping wanita itu.
Ketiga orang itu masih saja berdiri di ambang pintu, hingga pada akhirnya Bu Dahlia menjelaskan bahwa dia kedatangan tamu yang sengaja datang husus menemuinya.
Pada awalnya Kakek Mukti masih sedikit lupa tentang Nizam karna ingatannya sudah tidak seperti dulu lagi yang di sebabkan faktor usianya sudah tujuh puluh tahun itu.
Bu Dahlia berpamitan kembali ke kantor, setelah memberikan tanda pengenal kepada Nizam sebagai pengunjung resmi panti jompo itu.
Sepeninggal Bu Dahlia Nizam memapah Kakek mukti masuk ke dalam kamar yang berukuran 5x5 cm itu, di sana terlihat ada ranjang susun yang terbuat dari kayu berukuran sedang, dan cukup di tempati dua orang.
Tersedia juga di pojok kamar, sebuah meja makan serta kamar mandi yang berukuran kecil.
meskipun kamar Kakek Mukti tidak terlalu luas, tapi penataan ruangan itu sangat nyaman dengan barang-barang yang masih terawat dan bersih.
" Hati-hati kek." ujar Nizam yang membantu Kakek Mukti duduk di pinggiran ranjang.
" Kamu masih inget Kakek, Nizam?" tanya Kakek Mukti dengan suara seraknya.
" Iya Kek. Nizam sudah menganggap Kakek sebagai Kakek Nizam sendiri sejak pertemuan kita di waktu itu." saut Nizam seraya mengambil kursi di sebelah ranjang agar bisa duduk berhadapan dengan Kakek Mukti.
" Ada apa gerangan sehingga kamu menemui Kakek Cu?" tanya Kakek Mukti seakan tau tujuan utama Nizam mengunjunginya.
__ADS_1
Nizam meraih kedua tangan Kakek Mukti dan menggenggamnya secara perlahan.
" Kek, sebenarnya Nizam ke sini ada yang ingin Nizam tanyakan serta perlu meminta pendapat tentang masalah yang Nizam hadapi sekarang Kek." keluh Nizam yang berharap mendapatkan wejangan yang bisa memantapkan hatinya saat ini.
" Entah kenapa semenjak pertemuan Nizam bersama Kakek, Nizam merasa nyaman bersama Kakek." Ungkap Nizam kepada Kakek Mukti.
" Berceritalah Cu, sebisa mungkin Kakek akan membantu walaupun hanya dengan sebuah kata-kata, yang mungkin bisa kamu jadikan pegangan di dalam perjalan hidupmu." tutur Kakek Mukti sembari melepas genggaman Nizam lalu menepuk pundak yang kekar itu.
Nizam lalu menceritakan semua tentang perjalanan hidupnya hingga dia akhirnya punya kelainan sex yang menyimpang.
Dan semuanya itu membuat keluarganya bersedih karna takut penyakitkan tidak bisa tersembuhkan, semua di kuatkan karna dirinyapun sampai hari ini tidak bisa tertarik dengan lawan jenisnya.
Nizam menceritakan semuanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca karna penyesalan yang benar-benar ia rasakan. Terlihat di wajahnya semburat kesedihan yang mendalam, bagi seorang pria yang seperti Nizam tidak pantas ada air mata di matanya mengingat dia adalah seorang Pria dingin dan terlihat arogan.
Namun itu tak berarti apa-apa di saat dia berada di depan Kakek sepuh itu.
Dengan tangan rentanya Kakek Mukti mulai membelai rambut Nizam yang entah sejak kapan sudah berada dipangkuannya, dengan tubuh yang sudah duduk di lantai.
" Cucuku bangunlah, duduklah di sini." ucap Kakek mukti menepuk kasur di sampingnya lalu mengarahkan Nizam berdiri dan duduk di sebelahnya.
Kakek mukti Naik ke atas ranjang dengan posisi duduk yang bersila, guna menyamakan tatapan nya ke arah Nizam.
Nizam hanya menganggukkan kepalanya serta mengikuti cara duduk sang Kakek.
" Dengarkan Kakek Cu, penyakitmu itu bukan penyakit lahir, semuanya terjadi karna lingkungan dan akan sembuh dengan lingkungan pula."
" Kamu terlahir dengan kodrat seorang laki-laki dan itu tidak bisa di rubah oleh manusia, Kalau di hati kamu sudah ada niat untuk sembuh, Allah akan menuntunmu untuk kembali ke jalannya."
" Lakukanlah yang di minta keluargamu, karna itu adalah sebuah usaha juga, mungkin dengan perlahan kamu bisa menyesuaikan dirimu dengan seorang wanita."
Ucap Kakek Mukti panjang lebar dengan segala nasehatnya, Nizam hanya bisa tertunduk sambil mendengarkan secara seksama ucapan Kakek Mukti.
" Terimakasih Kek, setelah Nizam menceritakan semuanya kepada Kakek, hati Nizam semakin mantap untuk menerima dan mencoba perjodohan itu." ujar Nizam sambil menatap dalam mata tua di hadapannya.
Kakek Mukti yang tau dengan kegundahan Nizam, hati kecilnya prihatin dengan Pria tampan nan gagah itu.
" Ingat Cu, Kakek yakin kamu bisa sembuh. Apalagi kelak kamu bisa menemukan perempuan yang menerimamu apa adanya dan sanggup membantumu sembuh dari kelainanmu ini. dan percayalah dialah wanita yang mulia di dunia dan akhirat."
Ucap Kakek Mukti sekali lagi sambil turun dari ranjang menuju meja untuk mengambil air minum lagu meneguknya. Setelah itu dia kembali lagi menuju Nizam, namun sebelum dia sampai dan duduk kembali, langkahnya terhenti oleh suara ketukan pintu.
__ADS_1
Kakek Mukti menoleh ke arah asal suara yang di ikuti Nizam yang mengangkat kepalanya melihat ke arah pintu yang memang tidak sepenuhnya ditutup itu.
Kakek Mukti berjalan untuk membuka pintu kamarnya untuk memastikan siapa orang yang berada di balik pintu.
Dengan perlahan pintu itu terbuka oleh tarikan pelan tangan Kakek Mukti. Di sana terlihat seorang gadis cantik yang masih berdiri dengan satu tangan memegang sebuah rantang makanan.
Gadis itu memakai celana jeans hitam yang di padu padankan dengan kemeja putih membuat penampilan gadis itu lebih fress. Makeup tipis yang ia poles di wajahnya semakin membuat aura gadis itu bercahaya dan menonjolkan kecantikannya, sedangkan rambutnya ia kuncir seperti ekor kuda.
" Assalamu'alaikum Kakek?" suara gadis itu mengucapkan salam sembari meraih tangan renta Kakek Mukti lalu menciumnya.
" Waalaikumus'salam Nina!" jawab Kekek mukti.
" Kamu ke sini lagi Cu, bukannya kamu harus bekerja di jam segini?" tanya Kakek Mukti yang sudah tau jadwal kerja Nina, karna Nina yang sebelumnya memang sudah mengunjungi Kakek Mukti dan menceritakan tentang kehidupannya.
Sedangkan Nizam yang masih duduk di atas ranjang serasa tak percaya kalau akan bertemu lagi dengan sesosok wanita di hadapannya itu, yang mampu memberikan getaran lain di hati dan jiwanya.
.
.
.
.
Bersabung...
Jangan lupa dukung FAHAD terus ya All..
Dengan cara VOTE, LIKE, dan BINTANG LIMANYA ya😍
Dukungan kalian adalah semangat buat
FAHAD,
Terimakasih buat yang selalu setia baca karya FAHAD yang ecek-ecek ini ya🤗
ILOVEYOU ALL
Salam hangat dari saya🤗
__ADS_1