
"Kalau kau tidak pernah mencoba untuk memulai sebuah hubungan, sampai kapan pun juga kau tidak akan bisa menerima seorang wanita dalam hidupmu!" seru Pak Alkaf yang tiba-tiba bersuara di tengah kesunyian.
"Meskipun Melisa mengatakan bahwa dia juga tidak memiliki perasaan terhadapmu, tapi setidaknya kau sebagai seorang lelaki bisa mengambil hatinya," lanjut Pak Alkaf dengan wajah penuh kekecewaan pada Nizam yang terlihat tenang.
"Maafkan Nizam, Pa, karena telah mengecewakan Papa dan Mama," ucap Nizam dengan sungguh-sungguh. Sedangkan Bu Zainiyah hanya diam melihat interaksi anak dan suaminya tersebut.
"Papa memang awalnya tidak ingin memaksamu, tapi jika keadaannya sudah seperti ini, sampai kapan pun kau akan terus-menerus dengan sikapmu yang selalu tertutup!" Nizam tahu bahwa papanya sekarang benar-benar marah.
"Papa harap, sudah cukup memberikan waktu untukmu agar bisa beradaptasi melalui Melisa, tapi sekarang biarkan Papa yang menentukan dengan siapa kau akan menikah, jangan pernah protes atau sekali-kali menolak akan keputusan papa sekarang!" suara tua itu penuh penekanan.
"Sabar, Pa, berikan Nizam waktu sedikit lagi," cetus Bu Zainiyah berusaha menenangkan suaminya.
"Papa Malu sama Anton, Ma! ujar Pak Alkaf masih terlihat kesal. sedangkan Nizam tidak punya pembelaan akan dirinya yang memang patut untuk dipersalahkan.
"Nizam, mulai saat ini, Papa yang akan mencari pendamping hidup untukmu, terserah kau suka atau tidak! Yang penting kau harus memiliki istri agar benar-benar bisa belajar secara jasmani dan rohani dalam mengenal dan menerima seorang wanita!" tegas Pak Alkaf.
"Tapi, Pa?" sela Bu Zainiyah yang heran dengan keputusan suaminya yang tiba-tiba, bahkan Bu Zainiyah belum tahu apa rencana suaminya terhadap Nizam.
"Mama tenang saja, serahkan semuanya kepada Papa. Anak kamu yang satu ini harus di beri ketegasan, sampai kapan dia melempem seperti ini kalau tidak punya daya juang sama sekali." suara Pak Alkaf terasa menggema di dalam mobil.
Ingin rasanya Nizam menjawab bahwa hatinya sudah bisa menerima seorang wanita, tapi ungkapan itu hanya bisa tertahan dalam kerongkongan saja.
Bagaimana bisa berterus terang jika gadis yang ia inginkan sudah memiliki tambatan hati. Nizam tidak tahu lagi bagaimana kisah hidupnya sekarang. Di saat hatinya sudah bisa menerima seorang wanita secara kondratnya, ia malah di hadapkan pada kerumitan kisah cinta yang tak pernah ia bayangkan selama ini.
Akhirnya Nizam pasrah dengan apa yang menjadi keputusan papanya. Kalau pun ia harus mempertahankan Nina rasanya itu sudah tidak mungkin, karena Nizam tahu jika hati Nina sudah terisi orang lain.
__ADS_1
*****
Setelah kejadian marahnya Pak Alkaf kepada Nizam di waktu malam itu, Pak Alkaf benar-benar ingin secara langsung mencarikan Nizam seorang istri tanpa harus melalui penjajakan seperti apa yang dilakukan Nizam dengan Melisa.
Namun Pak Alkaf sadar, bahwa mencari anak gadis orang untuk dijadikan menantu itu tak semudah mencari barang di pasar.
Sebenarnya Pak Alkaf juga dibuat bingung, dengan siapa ia akan menikahkan anak laki-lakinya yang notabene adalah seorang mantan Gay, apakah ada seorang wanita yang mau dengan keadaan Nizam dan mau mengorbankan hidupnya untuk membantu kesembuhan anaknya tersebut.
Sebagai seorang ayah, Pak Alkaf tidak mau terlihat bingung dan tidak mampu di hadapan Nizam, sebisa mungkin Pak Alkaf menunjukkan sikap tegar dengan segala apa yang menjadi masalah hidup dalam keluarganya.
Bu Zainiyah yang pagi itu baru saja membuatkan teh panas untuk suaminya dengan langkah perlahan menuju ke meja taman yang ada di sisi kolam renang.
Hawa sejuk di pagi hari yang menenangkan itu membuatnya semakin terlihat berseri meskipun wajah tuanya sudah termakan senja.
"Ini tehnya, Pa," Bu Zainiyah menyajikan secangkir minuman ke atas meja seraya mengelus bahu suaminya yang sedang membaca koran hariannya.
"Entahlah, Papa juga bingung! Jangankan memilihkan calon, memiliki gadisnya saja Papa tidak punya, Ma," ******* nafas panjang terdengar perlahan dari Pak Alkaf.
Bu Zainiyah tahu apa yang sedang dirasakan suaminya yang selalu bersikap kuat di hadapan Nizam, padahal suaminya itu juga kebingungan dalam menyelesaikan masalah Nizam.
"Pa, kita sudah lama tidak berkunjung ke rumah Anwar dan Aminah, bagaimana kalau kita ke sana saja?" usul Bu Zainiyah yang membuat Pak Alkaf berpikir sejenak lalu menyetujui untuk mengunjungi rumah Pak Anwar, orang yang selama ini menjadi teman baru yang mereka anggap sebagai saudara selain dengan Anton.
Pagi beranjak cepat menuju siang, setelah sopir pribadinya mengantarkan Zizi pergi ke kampus untuk kuliah, Pak Alkaf meminta Pak Harto untuk mengantarkan dirinya ke rumah Pak Anwar.
Sedangkan Nizam yang selalu berangkat pagi dan pulang malam membuat kedua orangtuanya itu jarang bertemu dan bertatap muka langsung dengan Nizam. Selain ingin menghindari percakapan yang ujung-ujungnya tentang pernikahan, lebih baik Nizam menyibukkan diri dalam pekerjaan.
__ADS_1
Nizam sudah pasrah apa pun yang akan dilakukan oleh kedua orangtuanya terhadap hidupnya, semenjak hatinya patah sebelum mengatakan tentang perasaannya kepada Nina, Nizam merasa menjadi orang yang bodoh dalam urusan percintaan dengan seorang wanita.
Sore itu, Nizam pulang cepat dari kantor karena merasa kepalanya sedikit pusing. Sesampainya di rumah Nizam langsung menuju memasuki ruang tamu, tidak ada orangtuanya di sana, hanya Zizi yang terlihat sedang menikmati drama Korea kegemarannya.
"Kok sendirian, Dek?" tanya Nizam seraya duduk sambil merenggangkan dasi yang sedari pagi terasa mencekik lehernya. "Kemana Mama dan Papa?" lanjut Nizam bertanya.
"Entahlah, Kak, aku datang rumah sudah sepi," sahut Zizi sembari memasukkan camilan yang dari tadi ia makan dan memenuhi permadani yang menghiasi lantai di depan TV.
Nizam yang duduk tepat di atas Zizi yang bersila di atas lantai memudahkannya untuk merampas makanan yang dipegang adiknya. Sontak sang pemilik barang langsung merenggut kesal.
"Kakak ini kebiasaan," seru Zizi yang cemberut namun tetap membiarkan Nizam memakan camilannya. Zizi jadi teringat ada sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada kakaknya.
"Kak, Melisa boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Zizi, yang langsung di jawab oleh Nizam sebelum Zizi menanyakannya
"Soal perjodohan Kakak sama Melisa, 'kan?" Zizi mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Nizam.
Nizam menceritakan semua yang menyangkut Melisa terhadap Zizi dan tentang kemarahan sang papa. Tapi Nizam tidak menceritakan tentang perasaannya kepada Nina. Cukup dirinya saja yang mengetahuinya.
Di rumah Pak Anwar, suasana terlihat sedikit rame dari pada hari-hari biasanya. Rumah minimalis yang hanya di huni tiga orang itu biasanya sepi karena hanya ada Pak Anwar dan Bu Aminah saja, sedangkan Nina sering ada di luar rumah karena kuliah atau pun sedang bekerja.
Kedatangan Pak Alkaf dan Bu Zainiyah membuat Pak Anwar sangat senang karena merasa menjadi orang yang beruntung sebab bisa mengenal keluarga yang baik hati serta dermawan. Apalagi selama ini Pak Alkaf telah banyak membantunya dalam segi materi.
.
. BERSAMBUNG.
__ADS_1
Sambil menunggu karya ini UP, silahkan mampir ke karya Author yang lain di bawah ini ya