
Nizam bukanlah orang bodoh yang tidak tau dengan kekhawatiran Nina tentang dirinya yang akan mengganggu lingkungan sosial Nina di rumahnya, Bukankah ia juga memiliki adik perempuan yang akan beranggapan sama seperti orang lain di saat melihat adiknya pulang dengan laki-laki asing yang tidak di kenalnya. Alasan klise yang dapat menimbulkan salah paham harus ia luruskan.
Jadi, semenjak Nina menaiki mobilnya, ia sudah berniat mengantarkan Nina sampai ke rumah dan bertemu keluarganya. Berharap niat baiknya yang sederhana itu ada gunanya.
Menganggap Nina sebagai seorang adik, sebenarnya adalah alasan yang kuat untuk dirinya saat ini untuk berlindung dari perasaan yang belum pasti. Ia memang laki-laki dewasa dan pintar dalam bidang segala hal apalagi tentang bisnis. Namun, saat ini ia merasa jadi orang bodoh dan lemah yang kalah terhadap perasaannya sendiri karna tidak mampu mengambil keputusan menyangkut urusan hatinya yang lemah. Niazam berfikir, biarlah semuanya mengalir seperti air yang terus beriak mengikuti hukum alam.
Sedangkan Nina masih saja terbengong karna terlalu lama mencerna ucapan Nizam yang panjang lebar. Ia sebenarnya merasa senang karna Nizam mengerti keadaannya tanpa ia mengatakan apa pun. Dan Ia juga bahagia karna Nizam sudah memedulikan kehormatannya hingga mau repot untuk menjelas kepada orangtuanya tentang dirinya agar tidak menjadi gunjingan para tetangga julid di kemudian hari.
Nina tidak menyangka bahwa Nizam punya niat semulia itu dan bersedia meluangkan waktunya untuk dirinya yang bukan siapa-siapanya. Sungguh wajah Nina terlihat sumringah karna perasaan senang di dalam hatinya yang membuat wajahnya berkata namun mulutnya masih bergeming dengan senyum tipisnya.
Nina sekarang semakin yakin bahwa sebenarnya Nizam adalah orang yang baik dan hatinya lembut. Namun kadang-kadang seseorang memang tidak harus menunjukkan kebaikannya dengan sikap lemah lembut atau kata-kata yang enak di dengar. Mengingat awal mengenal Nizam yang dingin dan kaku serasa ia berhadapan dengan seorang laki-laki arogan yang tidak punya hati nurani.
Tapi, semakin ia mengenal Nizam dengan seiringnya pertemuan yang menurutnya akhir-akhir ini sering terjadi walaupun tidak di sengaja. Ia berkesimpulan bahwa laki-laki di hadapannya ini adalah orang baik meski terbalut oleh muka yang datar dan sikap sombong bagi sebagian orang yang baru bertemu dengannya.
"Kamu tidak keberatan, 'kan? Nizam menyadarkan Nina yang sedari tadi hanya tersenyum dan masih saja bergelut dengan perasaannya senangnya, sehingga ia tidak langsung memberikan jawaban kepastian kepada Nizam.
"I-iya, iya! Boleh, Kak." Suara Nina terlihat gagap karna sadar dengan ulahnya barusan. Tangannya yang masih menggantung di hendle pintu yang sedikit terbuka dan secara cepat Nina menutup kembali daun pintu besi tersebut.
Perlahan Nizam memutar haluan mobil menuju ke arah kanan menuju rumah Nina. Jarak lima puluh kilo meter dari jalan raya itu membuat Nizam tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai pelataran rumah yang terlihat sederhana dengan bangunan rumah yang tidak terlalu besar tapi terlihat kokoh karna rumah itu jelas baru di renovasi. Terlihat dari warna cat dinding yang berwarna coklat muda itu terlihat masih fresh dan bercahaya beserta kusen dan kayu-kayu itu terlihat baru semua. Apalagi atap rumah yang menunjukkan bahwa warna genteng itu masih terlihat merah menyala.
__ADS_1
Ya, setelah pasca kecelakaan yang di alami ayah dan ibunya dan kejadian itu secara tidak sengaja telah mempertemukan kedua orangtuanya dengan keluarga baik hati yang selama ini telah banyak membantu dirinya orangtuanya.
Orang yang ia kenal sebagai Pak Alkaf dan Bu Zainiyah itu sungguh manusia yang berhati malaikat baginya. Bagaimana, tidak! Pak Alkaf dan Bu Zainiyah telah memberikan bantuan secara cuma-cuma tanpa mau di bantah yang berupa uang untu kelangsungan hidup mereka.
Pak Alkaf sebagai kepala keluarga sangat tersentuh hatinya melihat keadaan keluarga Pak Anwar yang jauh dari kata layak dalam menjalani kehidupan. Apalagi Bu Zainiyah sebagai seorang wanita yang hatinya memnag tercipta sangat sensitif dan mudah tergerak untuk saling membantu sesama terlepas status sosial mereka.
Bu Zainiyah langsung menyetujui niat suaminya yang ingin membantu keluar Pak Anwar yang baru mereka kenal. Jadi setelah keesokan harinya pasca kecelakaan itu, keduanya sepakat mendatangi kediaman rumah Pak Anwar setelah semalam berdiskusi tentang tindakan yang akan mereka realisasikan waktu itu.
Pak Anwar yang awalnya sangat menolak bantuan tersebut tidak membuat Pak Alkaf dan Bu Zainiyah pasrah dan menyerahkan begitu saja. Justru itu membuat mereka semakin yakin bahwa Pak Anwar adalah orang yang tepat untuk mereka bantu. Di jaman sekarang tidak sedikit orang yang langsung hijau melihat uang yang sudah ada di depan mata dan itu akan membuat mereka melakukan hal yang tidak terduga walaupun harus menjatuhkan harga diri mereka.
Tapi itu tidak berlaku untuk Pak Anwar, malah ia merasa lemah dan bersalah karna selam sisa usianya, dirinya tidak mampu kuat untuk mendapatkan lembaran uang yang bertumpuk banyak seperti yang ada di depannya untuk membahagiakan istri dan anaknya setidaknya memberikan rumah yang layak di huni untuk mereka bertiga.
Pak Alkaf dan Bu Zainiyah memang tidak punya alasan khusus karna telah mengeluarkan banyak uang hanya untuk keluarga Pak Anwar yang baru sehari ia kenal. Cukup hatinya yakin dalam membantu orang yang baik dan memang pantas mendapatkan bantuannya.
Lagipula, kekayaannya tidak akan habis tujuh turunan dengan hanya memberikan sedikit hartanya berupa uang kepada Pak Anwar yang akan menjadi perubahan besar bagi keluarga yang sangat memprihatikan tersebut.
Rumah reot dengan atap bocor di sana sini sedangkan Pak Anwar sebagai kepala keluarga sudah tidak mampu mencari nafkah apalagi kondisi fisiknya yang sering sakit-sakitan. Kelangsungan hidupnya hanya bergantung melalui istrinya yang kadang-kadang menjadi buru cuci sementara di sela-sela waktu istrinya
dalam merawat dirinya di saat sakit.
__ADS_1
Sebagai orang yang menjunjung tinggi sikap perikemanusiaan. Pak Alkaf tidak butuh alasan lainnya, bukan?
Akhirnya, dengan terpaksa Pak Anwar menerima bantuan karna melihat ketulusan yang sangat ikhlas terpancar dari aura kedua manusia yang berhati malaikat di hadapannya.
Air mata Pak Anwar tidak terasa menetes karna terharu yang juga di rasakan istri dan anaknya-Nina.
Berulang kali ketiganya berucap sukur kepada sanga maha kuasa karna telah mengirimkan rezeki yang tak terduga melalui manusia yang berhati malaikat tersebut. Serta mereka juga tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih kepada Pak Alkaf dan Bu Zainiyah.
.
.
.
.
. Bersambung.
Maaf belum sempat revisi, habis ngetik auto kirim ya! kalau banyak typo harap di maklumi. Orangnya lagi semangat ngetik soalnya hehee...
__ADS_1
Insyaallah habis ini up satu lagi ya.