Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Mengantarkan kerja


__ADS_3

" Masuklah Cu, kebetulan di dalam juga ada tamu." ajak Kakek Mukti seraya melangkah ke dalam di ikuti oleh Nina.


Nina yang belum sadar dengan keberadaan Nizam, hanya berjalan tanpa menhiraukan sekitar.


" Cucuku, duduklah." pinta Kakek Mukti sambil menaruh rantang makanan di atas meja, yang sebelumnya sudah berpindah ke tangannya.


Nina yang sudah berada di ruangan itu langsung mengangkat kepalanya, sebelumnya dia tidak perduli dengan tamu yang di maksud Kakek Mukti.


Tapi setelah iris matanya tertuju dengan sesosok laki-laki tampan di depannya, hatinya terperanjat kaget. Namun sebisa mungkin ia menyembunyikan raut wajah gugupnya.


" Kak Nizam." kata yang spontan itu keluar dari mulut Nina, meskipun suaranya lirih tapi Nizam masih bisa mendengarnya.


" Duh kenapa harus ketemu Kak Nizam lagi sih, lihat tuh wajah nya serem amat. Kok ada ya orang berwajah dingin tanpa ekpresi begitu, jangan kan bertatap mata melihat wajahnya saja sudah takut duluan, jantung kamu diem ya jangan lompat-lompat."


Guman Nina dalam hati sambil mengidikkan bahunya ngeri atas kejadian yang ia banyangin barusan.


Nizam yang memang sedari tadi memerhatikan gerak tubuh Nina secara diam, tidak sedetikpun melepaskan fokusnya dari objek di depannya.


Meskipun wajahnya terlihat dingin dan datar, namun beda dengan hatinya yang sebenarnya bingung dan kacau setiap kali bertemu dengan gadis yang bernama Karenina itu.


Setelah Kakek Mukti kembali duduk di ranjang yang bersebelahan dengan Nizam, sedangkan Nina duduk di kursi kosong yang berada tidak jauh dari keduanya.


" Nizam, Nina. apakah kalian sudah mengenal satu sama lain?" tanya Kakek Mukti dengan gerak mata memerhatikan Nizam dan Nina.


" Kami belum kenal Kek, cuma tau Nama saja waktu menolong Kakek itu." elak Nizam.


Nina hanya diam memerhatikan interaksi kedua manusia di hadapannya yang beda generasi itu.


Lalu Kakek Mukti mulai membuka obrolan, guna mencaikan suasana, Kakek itu menceritakan masa mudanya hingga pada akhirnya dia berada di panti jompo ini.


Nina hanya terus menunduk tak berani ikut nimbrung namun tetap menyimak perbincangan mereka, dan lama kelamaan diapun ikut menyahuti pertanyaan di waktu Kakek Mukti menayakan sesuatu padanya, karna Kakek mukti yang pintar membuat suasana menghangat akhirnya ketiga orang itu asyik mengobrol meskipun di situ Kakek Muktilah yang dominan berbicara.


Sedangkan Nina dan Nizam hanya menyahuti semua pertanyaan-pertanyaan Kakek Mukti. Di sela-sela obrolan itu terlihat Nizam yang curi-curi pandang terhadap gadis di depannya yang hanya cenderung diam.


Dan tingkah Nizam itu tak luput dari mata tua Kakek Mukti, Kakek itu menarik sudut bibirnya hingga menimbulkan senyum tipis yang bermakna.

__ADS_1


Sedangkan Nina yang terlihat gelisah karna tidak tau harus memulai dari mana untuk berpamitan kepada Kakek mukti hanya bisa meremas tangannya pelan. Kakek Mukti yang sudah tau gelagat Nina langsung menanyakan sesuatu yang ada dalam benaknya sekarang.


" Nina Cucuku, apakah kamu mau berangkat kerja sekarang?" tanyak Kakek Mukti berbasa-basi.


" Iya Kek!" jawab Nina kikuk karna Kakek itu tau dengan maksud hatinya.


" Kalau begitu Nina pamit ya kek, jangan lupa makannya di makan." ucap Nina lalu meraih tangan renta itu sambil menyalaminya.


" Oh iya Kek rantangnya taruh di sini saja karna Nina bakalan sering datang mengunjungi Kakek." lanjut Nina yang mulai melangkahkan Kakinya.


" Iya Cu, terimakasih ya kamu sudah repot-repot membawa makanan buat Kakek." ujar Kakek mukti yang beranjak berdiri menyusul Nina yang mulai mendekat kearah pintu.


Sedangkan Nizam hanya bisa memandang kepergian Nina dengan jiwa yang entah kemana, jujur hatinya senang dan bahagia di saat bertemu gadis itu, namun sikap dan perbuatan nya bertolak belakang dengan apa yang ia fikirkan.


Yang membuat dia frustasi atas gejolak yang baru ia alami akhir-akhir ini.


Nizam terus saja berkutat dengan pemikirannya tentang Nina, dan suara Kakek Mukti yang menghentikan langkah Nina mampu membuyarkan dilema di hatinya.


" Nina tunggu Nak, kalau kamu berangkat di antarkan Nak Nizam tidak keberatan kan?"


Nina yang sedikit terkejut atas permintaan Kakek Mukti reflek membalikkan badannya mencoba menatap ke arah Nizam untuk mengetahui reaksinya, namun wajah datar itu tetap saja tak menampakkan apapun, yang membuat Nina ingin menolak tapi sungkan terhadap Kakek di depannya.


" Tenang saja, Nizam Tidak keberatan kok. Iya kan Nizam?" seloroh Kakek Mukti yang bisa menebak fikiran Nina.


" Iya Kek." jawab Nizam dengan mimik muka yang masih setia dengan aura dinginnya.


Nina hanya bisa pasrah terhadap permintaan Kakek yang akhir-akhir mulai menyita perhatiannya itu.


" Kalau begitu Nizam pamit juga ya kek." pinta Nizam lalu beranjak dari duduknya melangkah ke arah Kakek Mukti yang sudah berdriri di samping Nina.


Nizam menyalami Kakek mukti dan tak lupa meninggal sedikit uang untuk di jadikan pegangan yang sewaktu-waktu bisa di gunakan untuk keperluan tak terduga.


Tindakan Nizam yang di lakukan barusan membuat Nina tau sisi lain dari seorang Nizam Al-Gazali, laki-laki yang terlihat sombong dan dingin di matanya itu, namun punya sisi kepedulian yang tak terlihat.


" Terimakasih kasih Cucu Cucuku, kalian begitu baik kepada Kakek yang bahkan tidak punya hubungan darah ini." Ungkap Kakek Mukti yang memandangi keduanya dengan sorot mata penuh keharuan.

__ADS_1


"Sama-sama Kek." jawab Nina dan Nizam kompak tanpa di sengaja.


Kakek Mukti hanya tersenyum melihat dua insan yang beda jenis itu, ada sebuah harapan di mata itu namun tidak bisa ia utarakan.


Nizam dan Nina akhirnya pergi meninggalkan kamar kakek Mukti setelah sebelumnya mereka memberikan pelukan hangat terhadap


Kakek yang sudah lanjut usia itu.


Nizam dan Nina melangkah meyusuri area panti itu dengan sama-sama mengunci mulut masing-masing, tidak ada suara yang terdengar kecuali dentuman sepatu yang mereka gunakan.


Nizam yang melangkah di arah depan terus saja berjalan tanpa menoleh ke kanan dan kekiri, wajah tampan itu hanya fokus ke depan dengan ekpresi datarnya. Sedangkan Nina yang mengikutinya dari belakang hanya menunduk sambil menggerutu pelan dalam hati.


" Haduh suasana apa ini, lama banget sih nyampeknya, sungguh aku tidak bisa berlama-lama dengan keadaan jantung yang berdebar seperti ini"


Nina yang memang selalu gerogi pabila berdekatan dengan Nizam membuatnya ingin cepat-cepat sampai ke tempat kerjanya.


Tak terasa mereka berdua sampai di halaman panti jompo itu dan Nizam langsung menuju ke tempat mobil yang ia parkirkan.


Namun sebelum dia masuk ke dalam mobil, Bu Dahlia memanggil dari arah belakang yang membuat Nina dan Nizam membalikkan tubuh mereka.


Bersambung....


.


.


.


Maaf ya All tidak bisa Up tiap hari.


Saya masih repot merevisi bab satu sampai selesai biar tulisan saya lebih rapi serta enak di baca. Maaf yang sudah menunggu lama, dan terimakasih krna selalu setia dengan karya saya🙏


SALAM HANGAT DARI SAYA🤗


ILOVEYOU semuanya😍

__ADS_1


__ADS_2