Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Penasaran


__ADS_3

Di jalan raya. Suasana yang sudah mulai padat merayap membuat sesosok pria yang terjebak oleh kemacetan itu terlihat sedikit tidak sabar menunggu lampu yang sejak tadi belum juga berubah warna.


Nizam membetulkan kaca mata hitamnya yang bertengger indah di atas hidungnya yang begitu mancung, untuk menghalau teriknya panas yang membuat matanya silau. Tangannya mengetuk-ngetuk bundaran setir seraya menunggu waktu yang terus berjalan. Rambutnya yang mulai semakin panjang sengaja ia ikat tinggi membentuk sebuh cepolan di kepalanya.


Tapi masih ada sedikit rambut yang masih jatuh menjuntai di bagian-bagian tertentu di belakang kepalanya, dan itu kelihatan berantakan, namun entah kenapa itu semua seakan menjadi daya tarik yang lebih dan menjadikan ketampanan Nizam semakin terlihat sempurna.


Sehingga tidak sedikit wanita yang menoleh kearahnya, seakan terhipnotis oleh magnet ketampanan yang dimiliki oleh Nizam. Mobil Nizam yang memang berada di tengah-tengah padatnya pengendara yang lain itu menyisakan jarak di antara kanan dan kirinya, sehingga masih ada jalan untuk roda dua melaui jalan tersebut bergerak menuju ke arah depan.


Hingga tak sedikit para pengendara yang kebanyakan wanita terlihat curi-curi pandang saat tidak sengaja bertemu dengan wajah Nizam yang tampan.


Nizam tidak menghiraukan pandangan para gadis dan juga wanita-wanita yang sebenarnya membuat dirinya semakin gerah. Kaca mobil yang sedari tadi ia buka itu akhirnya ia tutup untuk menghalangi pandangan-pandangan yang membuatnya risih dari tadi.


Nizam sudah terbiasa menjadi pusat perhatian bagi kaum hawa. Tapi, kendati seperti itu, Nizam selalu risih dan merasa kesal. Tidak seperti Arif dan Hendra. Yang merasa bangga dengan kelebihan yang mereka punya dengan menjadi pusat perhatian bagi semua wanita.


Nizam kadang juga heran dengan saudara serta temannya itu. Mereka hidup normal sebagai seorang laki-laki, tapi kenapa mereka juga tidak ada tanda-tandanya untuk mencoba serius untuk menjadikan para wanita sebagai pendamping hidupnya. Mereka tingal tunjuk saja dengan siapa mereka ingin menikah, karena wanita di luar sana pasti dengan senang hati mau menjadi pasangan hidup dari para sahabatnya yang terkenal mapan dan pasti tampan itu.


Beda dengan dirinya yang memang tidak sempurna mengenai urusan hati yang menyangkut soal wanita. Apalagi Hendra, sahabat yang serasa saudara itu, yang memang terkenal dengan sifat Playboy, dan bergonta-ganti pacar puluhan kali, tapi tidak satupun wanita yang berniat ia seriusin untuk dinikahinya, entah apa yang membuatnya masih bertahan dengan kesendirian sampai sekarang.


Ah, entahlah. Nizam merasa dirinya serta kedua sahabatnya itu akan sama-sama menjadi bujang lapuk hingga saatnya tiba. Dan waktu itu sebentar lagi ia akan alami, yaitu mengakhiri masa lajang di usia yang beranjak kepala tiga. Jadi kangen dengan kebersamaan dengan kedua sahabatnya itu. Pikir Nizam, karena tiba-tiba mengingat Hendra dan Arif.

__ADS_1


Saking asyiknya melamun, Nizam tidak menyadari lampu yang sudah berubah hijau. Suara klakson mobil yang silih berganti bersahut-sahutan di belakang mobilnya terdengar seakan sama-sama tidak sabar untuk melajukan kendaraan mereka masing-masing.


Dengan cepat Nizam menjalankan mobilnya keluar dari hiruk-pikuk kemacetan yang membosankan tersebut. Sepanjang jalan menuju panti jompo, Nizam mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah. Matanya yang mulanya fokus menatap jalan raya yang panas karena sinar matahari semakin beranjak naik itu tiba-tiba teralihkan oleh sebuah mobil berwarna putih yang plat mobilnya sangat ia kenal.


*B*ukankah dia sudah pergi dari kota ini? batin Nizam. Hatinya bergeliat bingung dengan seseorang yang menumpangi mobil tersebut. Nizam sangat mengenal siapa pemilik mobil di depan sana. Pikirannya menjadi resah dan terus bertanya-tanya karena mobil barusan yang membuatnya kembali mengingat seseorang di masa lalunya.


Nizam sengaja tidak mengejar mobil yang membuat pikirannya gundah. Nizam melajukan mobil dengan cepat ke arah panti jompo, agar dirinya segera sampai ke tempat Kakek Mukti. Tempat yang menjadi tujuannya dari awal.


Nizam berusaha membuang jauh-jauh perasan gelisah serta rasa penasaran yang timbul secara tiba-tiba gara-gara sebuah mobil yang tidak sengaja dilihatnya jalan raya. Nizam berusaha melupakan sekelebat bayangan yang bisa saja terjadi jika kemungkinan buruk itu menghampiri hidupnya yang saat ini sudah jauh lebih baik.


*****


Nina menyalakan motor dan melajukan motornya dengan pelan setelah ia memasang helem sebagai standar keamanan pertama dalam berkendara. Nina mulai mempercepat laju mesin setelah masuk ke jalan raya, namun ia teringat dengan janjinya yang ingin membelikan coklat untuk ia berikan kepada Icha.


Nina sekilas melihat jam tangannya. Masih ada waktu 20 menit untuk ia pergi ke supermarket terdekat guna membeli coklat buat Icha. Nina menepikan motor dan bergerak ke halaman supermarket yang banyak sekali ditemui di sepanjang jalan raya tersebut.


Dengan terburu-buru, Nina masuk dan hendak mendorong dua pintu kaca yang terbuka berseberangan tersebut. Tanpa melihat ke arah depan, Nina begitu saja mendorong hendle pintu sehingga ia tidak menyadari ada seseorang yang juga mau masuk di sebelahnya.


Karena kurang konsen dan kurang teliti, ternyata Nina mendorong pintu yang seharusnya ia tarik. Jadi kejadian memalukan itu pun terjadi, dengan terus mendorong secara berulang-ulang, Nina memaksa pintu agar bisa terbuka. Tapi tetap saja puntu itu tidak akan bisa dibuka, karena ia salah dengan caranya. Hingga suara seorang pria yang mempersilahkannya masuk menyadarkan dirinya akan kelakuannya yang memalukan itu.

__ADS_1


"Silahkan lewat sebelah sini, Mbak," kata pria asing ynag sontak membuat Nina bingung serta menatap tulisan yang terpampang jelas di depannya. Nina menepuk jidatnya serta tersenyum kikuk karena merasa sangat mau dengan apa yang terjadi. Tidak ada yang bisa ia katakan selain kata maaf serta ungkapan terimakasih untuk menyembunyikan rasa malunya.


"Maaf, Kak. Terima kasih." ucap Nina melangkah masuk melalui pintu yang dibuka lebar oleh sesosok pria yang berdiri jangkung tersebut.


"Sama-sama, Mbak," sahut pria itu dengan senyum yang sangat manis dan mengikuti langkah Nina untuk masuk ke dalam supermarket tersebut.


Pria yang terlihat sudah dewasa itu berjalan pelan di belakang gadis yang membuatnya tersenyum terus menerus. Untuk pertama kalinya ia bertemu dengan gadis yang berbeda menurut pandangannya. Hidup di kelilingi wanita-wanita cantik dan glamor membuatnya sudah terbiasa dan itu tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi dirinya.


Melihat kecantikan wanita yang dibalut dengan makeup yang super tebal membuat ia sukar dalam menilai, mana kecantikan alami secara natural dan yang tidak. Dan kecantikan yang seperti itu sangatlah jarang ia temukan di ibukota metropolitan seperti ini.


Tapi, wajah gadis di depannya itu membuat pandangannya berubah, ternyata masih ada gadis yang berpenampilan apa adanya, tidak memakai makeup tebal yang justru menutupi kecantikan alami itu sendiri. Dan ia merasa penasaran dengan gadis di depannya saat ini.


Nina berjalan begitu cepat menuju rak yang di sana telah menyediakan berbagai macam aneka coklat dengan varian rasa. Tapi langkah Nina berhenti sebelum mencapai tujuannya. Nina merasa pria yang membuat wajahnya memerah karena rasa malu barusan sedang mengikuti langkahnya. Hingga Nina dengan tiba-tiba berbalik badan dan itu membuat pria di belakangnya terperanjat saking terkejutnya.


.


. BERSAMBUNG.


HAYOOOOO, SIAPA ITU YA?

__ADS_1


__ADS_2