Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Nizam Dan Beni


__ADS_3

Nina menoleh saat namanya terpanggil. Baju yg agak berat menyulitkannya untuk segera membalikkan badan. Butuh beberapa detik untuk Nina menghadap Anggun dengan mengangkat sedikit gaunnya.


"Iya, Tante." masih berkutat dengan beratnya baju. Sedangkan mata Beni yang langsung mengenali wajah di depannya dibuat tidak percaya. Sekarang dia baru percaya dengan sebuah kata yang mengatakan bahwa, dunia tak selebar daun kelor.


Nina diam mematung menatap Beni yang tak berhenti memandangi dengan sorot mata tak terbaca. Namun bibirnya mengulas senyum yang sangat manis di mata Nina. Bagaimana bisa pertemuan ini bisa terjadi?


"Kak Beni?" tanpa sadar, Nina menyebutkan nama yang sudah dikenalnya. Dan itu membuat Anggun kaget karena mereka terlihat saling mengenal satu sama lain.


"Hai, Nina. Apa kabar? Kita ketemu lagi," sapa Beni dengan terus membingkai wajahnya dengan senyuman. Nina hanya menjawab sapaan Beni dengan sekilas senyum. Sampai detik ini, Nina masih heran jika menatap wajah Beni yang baginya lebih pantas menjadi seorang wanita, daripada sebagai pria.


"Apa kalian sudah saling mengenal?" tanya Anggun antusias.


"Pernah bertemu sekali, Ma. Dan ini pertemuan kedua kalinya. Dan ini sangat kebetulan sekali." jawab Beni begitu senang, sangat terlihat dari wajahnya yang menyurutkan senyumannya. Namun, tiba-tiba bibir itu terkatub rapat saat menyadari bahwa Nina saat ini sedang menggunakan gaun pengantin.


Beni melihat sang Mama dengan tatapan penuh tanya. Anggun yang mengerti dengan tatapan putranya itu tanpa diminta langsung menjelaskan semuanya. "Kebetulan sekali kalian sudah saling kenal. Begini sayang, Nina ini sedang melakukan fitting baju. Tapi, calon suaminya masih belum datang. Makanya Mama minta bantuanmu untuk menjadi model sementara Mama. Mama hanya ingin memastikan kecocokan gaun ini."


Beni mengangguk tanda mengerti. Ada sorot lain di matanya yang sulit ditebak. "Kau kenapa, sayang? Tadi begitu bahagia, kenapa sekarang menjadi murung?" tanya Anggun yang melihat perubahan itu pada wajah Beni.


"Itu cuma perasaan, Mama saja. Aku baik-baik saja kok, Ma! Ayo, kita lakukan apa yang ingin mama kerjakan, mumpung saat ini aku sedang berbaik hati."


Ucap Beni dengan wajah yang kembali ceria, namun ada yang lain dari manik matanya. Anggun memakaikan tuksedo yang sedari tadi ia pegang pada tubuh putranya. Anggun juga mengatur Nina dan Beni layaknya sebuah pasangan pengantin yang sebenarnya.

__ADS_1


Sebenarnya Nina merasa sedikit risih saat tubuhnya begitu dekat dengan Beni. Anggun yang saat itu memang mengatur posisi Nina dan Beni layaknya sebuah pasangan, membuat Nina tidak nyaman. Sama calon suaminya saja tidak pernah.


Selain Beni orang yang baru ia kenal, ini pertama kalinya untuk Nina berdekatan seperti ini dengan seorang pria, hingga tubuhnya bersentuhan. Beni yang disuruh Anggun sesekali merangkul tubuh Nina agar lebih dekat untuk menghasilkan foto yang sempurna.


Setelah memastikan hatinya puas dengan model dadakan di depannya. Beni juga tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto selfi dengan Nina, awalnya Nina tidak mau. Tapi, karena merasa tak enak hati akhirnya Nina menyanggupinya.


"Tante, apa boleh aku melepaskans baju ini? Nina mau ke toilet." tiba-tiba perutnya sakit dan ingin segera ke kamar mandi.


"Tidak apa-apa sayang. Sini, Tante bantuin," dua wanita beda generasi itu lalu membuka gaun yang dipakai Nina. Sepeninggal Nina, sosok pria yang sedari tadi ditunggu-tunggu akhirya datang.


"Permisi? Saya Nizam, anak dari Ibu Zainiyah yang sudah mengadakan janji untuk fitting baju di sini. Apa benar Anda yang bernama Ibu Anggun?" sapa Nizam, sekaligus memastikan. Meskipun di depan tadi ia sudah sempat bertanya pada karyawan.


Nizam bersikap datar, namun tak mengurangi kesopanannya. Anggun yang awalnya memunggungi tamunya langsung berbalik arah ke asal suara. Seketika anggun tertegun, menatap lekat pada pria yang terlihat sempurna. Berpakaian formal dengan menggunakan jas yang senada dengan bawahnya.


"Selamat datang, Nak. Jadi kamu anak Zainyah? Tampan sekali, kalian memang pasangan yang cocok. Calon istrimu juga sangat cantik dan menggemaskan." mata Anggun berbinar dengan sepasang pengantin yang baginya sangat serasi.


"Terima kasih, Tante." singkat Nizam, matanya menyisir seluruh ruangan mencari seseorang yang ingin ia lihat.


"Calon istrimu masih ke toilet, tunggulah sebentar." seakan tau dengan apa yang dicari, Anggun mengatakan jika Nina berada di kamar mandi.


Nizam hanya menganggukkan kepala merespon penjelasan wanita paruh baya yang seumuran dengan ibunya tersebut. "Kamu tunggulah di sofa, Tante mau mengambil sesuatu dulu. Beni, tolong temani customer kita dulu, Mama mau ke ruang kerja sebentar."

__ADS_1


Anggun menyuruh Nizam duduk sementara menunggu sang calon istri. Anggun juga meminta Beni menemani Nizam. Beni yang saat itu berada jauh dari ibunya menoleh, saat mendengar suara sang ibu memanggilnya. Beni tau ada tamu yang datang, tapi karena posisinya yang sedikit jauh dia tidak dapat mendengar jelas percakapan ibunya dengan sang tamu.


Beni melangkah semakin mendekat dan niat hati menghampiri tamu yang sudah duduk di sofa. Tapi, mata Beni dibuat terkesiap saat menyadari siapa customer yang datang ke boutique ibunya.


"Nizam!" lirih Beni namun masih terdengar oleh Nizam yang sebelumnya fokus memainkan ponsel ditangannya. Nizam mendongak memastikan suara yang ia kenal sampai saat ini. Nizam menjatuhkan ponselnya saking terkejut dengan Beni yang tiba-tiba ada di hadapannya.


Bibirnya terkatup rapat, organ ditubuhnya tiba-tiba memanas dengan kedatangan Beni yang sudah berbulan-bulan ini sudah ia lupakan. Sosok yang pernah menjadi teman dalam kisah hidupnya itu muncul lagi serta mengingatkannya atas kesalahan serta dosa besar yang pernah ia lakukan.


"Untuk apa kau datang lagi? Bukankah aku sudah bilang untuk menjauh dari kota ini!? Kenapa kau datang lagi?" dengan emosi yang tiba-tiba menjalar di setiap aliran darahnya. Nizam mencoba bersikap tenang tapi dengan sorot mata yang mulai berkobar.


Butuh beberapa saat untuk menjawab Nizam. Beni masih tidak percaya dengan pertemuan ini. Siang dan malam ia lakukan dengan menangis sejak pertama kali Nizam memutuskannya. Sakit, kecewa dan putus asa sudah dirasakan. Dan setelah berbulan-bulan lamanya akhirnya ia sedikit demi sedikit bisa melupakan Nizam, walaupun tidak mudah.


"Aku sudah pergi dari hidupmu, aku sudah tinggal di Bandung sejak hari itu. Tapi mamaku memintaku untuk datang lagi ke kota ini untuk membantunya mengelola bisnis boutique ini. Jangan pernah berpikir jika aku ke sini untuk mengganggu hidupmu lagi."


Beni tidak terima dengan perkataan Nizam yang seakan-akan menuduhnya. "Aku juga berusaha kuat untuk terbebas dari rasa yang pernah ada, dan itu sangat sulit." mata Beni berembun, entah kenapa perasaannya yang salah itu masih bercokol di hatinya. Padahal selama ini ia yakin sudah bisa menerima perpisahannya dengan Nizam.


Beda dengan Beni, pria yang semakin tampan di matanya itu hanya diam tak bergeming, namun matanyanya menyiratkan bahwa dirinya menahan gejolak baru saat pertama kali bertemu Beni setelah kejadian memalukan tempo dulu.


Jiwanya marah, hatinya menolak Beni hadir lagi. Meskipun jauh di lubuk hatinya ia rindu. Tapi, kenapa ada perasaan lain yang beda? Tidak ada lagi getaran itu, getaran yang dulu selalu ia rasakan pada pasangan yang sudah menjerumuskannya pada jurang kesesatan.


Nizam memungut ponselnya yang terjatuh. Lalu ia mengabaikan Beni yang duduk di seberang sana. Beni meletakkan ponsel yang sedari tadi ia pegang di atas meja. layar ponsel yang masih menyala itu menyita perhatian Nizam.

__ADS_1


Mata Nizam dibuat membola saat menyadari foto wallpaper yang digunakan Beni. Apa itu? Nizam sampai menegakkan tubuhnya untuk memastikan apa yang ia lihat adalah benar dan nyata.


__ADS_2