
Entah kenapa, setelah mengetahui bahwa Nizam bertunangan, hatinya merasa tidak tertarik lagi pada perasaannya mau dimiliki siapapun. Untuk saat ini, dia ingin melupakan nama yang pertama kali singgah di relung hatinya dan menorehkan sebuah rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Nina cukup sadar diri siapa orang yang telah mengambil hatinya, dan harapan setinggi langit itu jelas-jelas tidak mungkin bisa ia gapai. Dan sekarang, dirinya harus fokus pada pilihan orang tuanya.
Nina mencoba membuka hati kepada orang yang diyakini ayah dan ibunya bisa menjadi imam dalam hidupnya. Walaupun tantangan yang akan ia hadapi sekarang sepertinya akan membutuhkan kesabaran. Semoga anak dari Pak Alkaf itu bisa ia jadikan panutan hidup.
Nina berjanji akan menjadi seorang istri ynag baik, meskipun ia harus mencoba lagi untuk membuka hatinya pada orang lain. Ia juga tidak mungkin menjadi seorang istri tapi hati dan perasaannya masih dimiliki laki-laki lain.
Malam itu, adalah malam ynag melegakan bagi Bu Aminah dan Pak Anwar. Karena Nina putrinya menyetujui perjodohannya dengan anak Pak Alkaf. Bu Aminah ynag mulanya masih memiliki rasa ragu mencoba benar-benar mengikhlaskan. Mendengar tujuan suaminya yang begitu mulia itu, tidak mungkin dia menjadi seorang ibu yang tak ingin memiliki anak yang berguna dengan menjadi istri seorang yang memang butuh dibina menjadi laki-laki yang sempurna.
Kabar itu langsung disampaikan kepada keluarga Al-gazali oleh Pak Anwar. Pak Alkaf yang malam itu sudah siap untuk membaringkan tubuhnya ke tempat tidur dibuat terkejut dengan suara ponselnya yang bergetar karena nadanya memang dimatikan.
ID nama yang tertera di sana membuatnya cepat-cepat untuk mengambilnya dan mendengar apa yang mau di katakan Anwar sebab menelponnya semalam ini. "Hallo, Anwar. Waalaikumus'salam." Pak Anwar yang mengucap salam di seberang sana sudah mendahului percakapannya.
"Aku cuma ingin memberitahukan, bahwa anakku, Nina, menyetujui perjodohan ini. Dan dia siap menjadi calon istri anakkmu, Alkaf," kabar luar biasa itu membuat Pak Alkaf yang semula rebahan menjadi duduk tegak. Kabar ynag memang saat ini ia tunggu-tunggu itu benar-benar ia dengar.
Ternyata kekhawatiran yang sejak pulang dari rumah sahabatnya itu tidak terjadi. Karena sebelumnya Pak Alkaf sudah berkecil hati dengan kenyataan bahwa Nina pasti tidak akan mau dijodohkan dengan anaknya yang sudah berumur itu.
Tapi, asumsinya ternyata salah. Gadis belia itu memiliki pemikiran dewasa dan tidak membuat orang tuanya kecewa. Setelah berbica panjang lebar melaui sambungan telepon, Pak Alkaf memutuskan percakapan tersebut.
Pak Alkaf yang saat itu memang sedang menunggu snag istri yang sebelumnya berpamitan mengambil air minum itu hendak menyusulnya ke luar. Tapi, Bu Zainiyah sudah datang dengan membawa segelar air di tangannya.
"Bu, ada kabar gembira," Pak Alkaf masih memegang handphonenya. Ia berlari mendekat dan memeluk tubuh sang istri yang kelabakan karena di tangannya masih memegang gelas berisi air dengan satu tangannya.
__ADS_1
"Ada apa ini, Pa?" Berusaha menyeimbangkan tangannya agar air yang ia bawa tidak tumpah. Lalu Bu Zainiyah mencoba menjauhkan tubuh dari suaminya itu serta menaruh gelas di meja dekat pintu.
"Ma, tebak, kabar apa yang baru aku dengar barusan?" bukannya menjawab, Pak Alkaf malah memberikan teka-teki pada istrinya dan itu semakin membuat Bu Zainiyah bingung. Dahinya mengernyit dalam tanda tidak bisa menebak apa yang dimaksud suaminya itu.
"Papa, ini. Bukannya menjawab malah main tebak-tebakan. Seperti anak kecil saja." cetus sang istri dan mencoba naik ke atas ranjang dan disusul ile Pak Alkaf yang masih dengan wajah sumringhnya.
"Nina menyetujui perjodohan ini, Ma. Tadi Anwar menelponku!" dengan mengangkat handphone di tangannya, Pak Alkaf memberitahukan kabar baik itu. Mata Bu Zainiyah membola penuh mendengar kabar itu. Bu Zainiyah juga tidak menduga jika Nina gadis belia itu menyetujui untuk dijodohkan dengan anaknya yang sama sekali belum pernah ia temui.
Kedua paruh baya itu berpelukan karena merasa sangat bahagia. Meskipun semuanya belum terlaksana, tapi dengan mendengar kabar itu saja sudah membuat mereka berbunga-bunga.
Dengan tidak sabar mereka berdua sepakat untuk memberitahukan kabar itu kepada Nizam. Mereka juga tidak perduli dengan anaknya itu, sudah tidur apa belum.
Seperti anak kecil yang sedang mendapatkan mainan baru, Pak Alkaf dan Bu Zainiyah melangkah menuju kamar Nizam dengan tergesa-gesa dan senyum yang sedari tadi tak lepas dari bibir keduanya.
Pak Alkaf mencoba memegang hendle pintu yang sebelumnya sudah diketuknya, namun tidak ada sahutan dari dalam. Lalu, Pak Alkaf membuka benda tersebut yang memang ternyata tidak terkunci. Keduanya melangkah masuk ke kamar Nizam yang sudah terlihat dengan lampu yang remang-remang.
Pandangan keduanya mengedar ke tempat tidur yang di sana masih kosong dan rapi, sepertinya anak laki-laki mereka itu belum merebahkan tubuhnya sama sekali. Pak Alkaf mencoba mencarinya ke kamar mandi, namun di sana juga tidak ada siapa-siapa.
Pintu balkon yang terbuka dengan angin yang terlihat kencang menerpa korden tipis itu menari-nari tertiup hembusan angin malam. Dan itu membuat mereka bisa menebak bahwa Nizam pasti ada di luar sana. Keduanya berjalan menuju balkon dan menyibak tirai tipis yang menjadi penghalang jarak pandangnya ke luar kamar.
Nizam yang terlihat melamun dengan tubuh yang berdiri menjulang tinggi di pinggir balkon. Rambutnya yang sebahu ia biarkan tertiup angin malam yang menusuk badan. Celana pendek dan kaus tipis yang membungkus tubuhnya itu membuat dia kelihatan lebih muda dari umurnya.
Jika setiap harinya tubuh itu dibalut dengan baju formal serta jas yang tak pernah lepas dari badan. Tapi penampilannya yang sekarang terlihat santai namun semakin menawan. Nizam yang saat itu belum menyadari kehadiran orang tuanya masih menatap lurus ke arah bintang yang jauh di atas sana.
__ADS_1
"Nizam," suara Pak Alkaf membuyarkan lamunanNizam yang saat itu merasa terkejut dengan kedatangan orang tuanya yang tiba-tiba. "Mama. Papa?" seru Nizam kaget.
"Ada apa, Pa?" tanya Nizam bingung. Tiba-tiba saja orang tuanya itu datang malam-malam begini? Tapi, kenapa mereka kelihatan sangat senang sekali? tergambar jelas di wajah orang tuanya yang sedari tadi memang menyematkan senyum tiada henti.
"Anak Anwar menyetujui perjodohan ini, Nak!" ucap Bu Zainiyah mendahului sebelum sang suami berkata. Nizam tidak memberikan respon apa pun akan kabar yang dibawa orang tuanya itu.
Pikirannya sekarang tidak lagi memikirkan perjodohan yang menurutnya tidak akan ada pengaruhnya bagi hidupnya saat ini. Nizam merasa nahwa hidupnya sudah ia pasrahkan kepada orang tuanya tersebut.
Nasib asmaranya yang sudah kandas sebelum berlayar itu membuat semangat hidupnya patah. Mungkin sekarang saatnya ia harus benar-benar mencoba membuka hati pada yang lain, setelah hati itu sempat terisi oleh seseorang namun tidak tepat sasaran.
Wajah Nizam datar menanggapi apa yang dikatakan orang tuanya. Rasanya ia sudah lelah dan ingin mengistirahatkan tubuhnya. "Terserah, Mama dan Papa saja, bagaimana baiknya. Nizam ikut saja!" berlalu pergi meninggalkan Pak Alkaf dan Bu Zainiyah yang berdiri di balkon kamarnya.
Nizam naik ke atas ranjang dan merebahkan diri dengan posisi ternyaman. Kedua paruh baya yang memperhatikan sikap putranya itu hanya saling pandang. Biarlah Nizam bersikap demikian, yang penting anaknya itu mau dan tidak menolak perjodohan tersebut. Pikir mereka.
.
.
Bersambung.....
JANGAN LUPA KOMENTAR, YA! JIKA KALIAN MAU AUTHOR UP SETIAP HARI. USAHAKAN SETELAH MEMBACA TULIS KOMENTAR KALIAN. TERSERAH, MAU KRITIK ATAU JUGA SARAN. KARENA APA YANG KALIAN TULIS ITU KADANG-KADANG MENJADI SEBUAH IDE BAGI SAYA SEBAGAI AUTHOR.
TERIMA KASIH. SEHAT SELALU KALIAN YANG MEMBACA....
__ADS_1