Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Fokus Dengan Perjodohan


__ADS_3

"Tidak usah repot-repot Kak, Nina bisa pulang sendiri kok!" Nina yang merasa tidak enak dengan Nizam dan kedua sahabatnya itu menolak secara halus. Tapi penolakan Nina malah membuat Nizam menatap Nina dengan mata yang mengintimidasi seakan mata itu tidak menerima penolakan.


Nina di buat bingung dengan keadaan yang ia hadapi, di satu sisi ia tidak berani menolak Nizam lagi. Tapi, di sisi lain dirinya merasa tidak enak dan canggung jika harus semobil dengan tiga pria asing sekaligus. Semobil bersama Nizam saja sudah membuat dirinya bingung tidak karuan.


Bukannya apa-apa, Nina hanya tidak mau timbul fitnah yang mungkin bisa saja terjadi. Mengingat dirinya hidup bertetangga dalam individu masyarakat yang mengedepankan etika perempuan itu yang utama. Perempuan itu awalnya di nilai dari cara mereka berpakaian dan tindak tanduknya. Padahal belum tentu wanita yang berpakaian **** itu suka menjajakan tubuhnya, dan perempuan yang menutupi aurat itu bersih dari dosa. Semua tergantung kepribadian masing-masing yang tidak semua orang tahu ataupun harus di beri tahu.


Meskipun apa yang ia lakukan benar menurutnya, belum tentu benar menurut mereka yang hanya melihat namun tidak tahu kebenarannya. Itulah manusia, menilai dengan hanya melihat. Menghakimi dengan mengandalkan bukti, tapi mereka kadang-kadang mengabaikan hati nurani yang sejatinya lebih mendekatkan diri terhadap Yang Ilahi, yang tentunya lebih bisa menjadikan diri lebih baik lagi.


Akhirnya Nina dengan berat hati menyetujui dengan anggukan kepala serta tersenyum kaku kepada laki-laki di depannya yang mendapat respon begitu antusias dari Hendra yang memang dari tadi ingin berbicara.


"Tidak usah khawatir Nona manis, Kak Nizam mu ini pasti akan menjagamu dengan baik sehingga kau akan sampai dengan selamat menuju rumah!" Ucap Hendra dengan nada tegas namun mengandung bulyan di saat ia menekan kata 'Kak Nizam mu ini' dengan suara yang keras agar Nizam benar-benar mendengarnya.


Arif yang hanya jadi penonton rasanya tidak kuat untuk menahan tawanya melihat Hendra yang sekarang memiliki senjata baru untuk menggoda Nizam. Namun Arif sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak menggema, karna Nizam sekarang seperti harimau beringas yang seakan-akan ingin mencakar mukanya beserta Hendra. Sungguh pemandangan yang indah, baru kali ini ia melihat Nizam mau berinteraksi terhadap lawan jenisnya bahkan ia menawarkan tumpangan terhadap gadis yang baru saja ia ketahui bersama Hendra saat ini.


Nizam terlihat terbuka terhadap lawan jenisnya hari ini. meskipun wajahnya datar tapi sikapnya menunjukkan kepedulian yang penuh dengan gadis di depannya. Karna mengingat masa lalu Nizam dulu, sungguh sulit bagi mereka mempercayai walaupun tempo hari sempat bercerita soal perasaannya yang tiba-tiba berdebar di saat dekat dengan seorang wanita.


Tiba-tiba Arif ingat satu hal, yang membuatnya reflek membisikkan sesuatu kepada hendra yang direspon dengan keterkejutan oleh Hendra serta matanya yang membola menandakan ia membenarkan apa yang baru saja disampaikan Arif lewat telinganya.


"Wow, Nizam! apa jangan-jangan?!" sebelum Hendra melanjutkan kata-kata yang sudah bisa Nizam tebak. Nizam menarik Hendra dan membekap mulutnya untuk menjauh dari Nina agar suara Hendra yang berisik dan akan menimbulkan masalah yang berujung mempermalukan dirinya itu tidak terdengar oleh Nina.


"Diam!" Hardik Nizam kepada Hendra yang di sambut tawa pelan Arif. " Tunggu di sini jangan kemana-mana, nanti aku jelasin!" Titah Nizam memastikan Hendra tidak beranjak dari tempatnya semula. Sedangkan Nizam menghampiri Nina yang sedari tadi menatap bingung kepada dirinya beserta kedua sahabatnya itu. Entah apa yang di fikirkan Nina saat ini. Nizam pura-pura cuek dengan kebingungan Nina.


"Kamu masuk duluan ke dalam mobil, Teman-temanku bawa mobil sendiri jadi jangan khawatir kalau kita akan berempat dalam satu mobil." seakan Nizam tau tentang apa yang di fikirkan Nina tadi, ia menegaskan bahwa Arif dan Hendra pulang dengan mobil mereka.

__ADS_1


Nizam menekan remote mobil, suara alarm itu terdengar nyaring sehingga memudahkan Nina menjangkau tempat dimana mobil Nizam berada. Nina yang mengerti dengan perkataan Nizam langsung menuju mobil yang sudah siap menunggu untuk ia tumpangi.


Sedangkan Nizam kembali menuju kedua sahabatnya yang tidak berhenti tersenyum lebar. Sungguh ia benci melihat temannya itu meremehkan dirinya.


"Hahaha ....!" Suara tawa Hendra dan Arif terdengar serempak di saat Nizam sudah tepat berada di hadapan mereka. Nizam hanya membiarkan keduanya memuaskan tawanya yang terlihat menyebalkan itu bagi dirinya saat ini. Nizam mendecakkan lidah saking kesalnya karna Arif dan Hendra terus saja menertawakannya sampai-sampai sudut mata mereka berair.


"Puas kalian"! seru Nizam kasar.


"Oke, oke. Sekarang jelaskan, siapa gadis itu? Sepertinya kalian sudah saling kenal?" Tanya Hendra yang masih dengan senyum menyebalkan. Meskipun sebenarnya ia sudah bisa menebak siapa Nina, tapi ia ingin mendengar pengakuan Nizam secara langsung.


"Tidak usah bersikap sok bodoh, kau pasti tau siapa dia. Jangan memancing emosiku naik ke level sepuluh!" Cercah Nizam yang menganggap Hendra hanya berpura-pura saja.


"Jadi benar, itu gadis yang kau ceritakan kepada kita, Zam?" Arief mulai masuk dalam percakapan itu dan sekarang ia berkata secara serius untuk memastikan.


"Maksudnya, Rif?" Tanya Nizam.


"Maksudku! Selama ini kamu berhubungan dengan Beni, itu yang di dapat kan dari pola fikirmu yang dangkal dalam menilai tentang perempuan, hingga kau berpindah haluan melabuhkan pilihan terhadap sesama jenis! kalian menganggap semua wanita itu sama seperti wanita-wanita yang kebanyakan ditemukan di luar negeri! Padahal sebenarnya tidak seperti itu, fikiranmu juga memutuskan sendiri untuk menolak kebenaran tentang wanita yang sejatinya adalah kondrat mutlak adalah pasangan bagi seorang laki-laki. Dan sekarang, hatimu memilih pilihannya sendiri walaupun fikiranmu sekarang mungkin masih menolak karna rasa tidak percaya dengan apa yang kau rasakan saat ini. Jadi yang harus kau lakukan, ikutilah kata hatimu, itu akan lebih baik untuk kau memutuskan rasa bimbangmu!"


Arif begitu panjang lebar menjelaskan, seakan kata-katanya mewakili perasaan Nizam yang benar-benar ada di posisi itu sekarang. Sebagai seorang sahabat Arif akan selalu ada buat Nizam agar dia benar-benar menjadi seorang dan laki-laki yang ada pada kondratnya.


Sejenak Nizam mencerna nasehat Arif yang paling bijaksana di antara ia dan Hendra, bagi Nizam. Sejujurnya, ia sangat setuju dengan Arif saat ini.


"Terus bagaimana dengan perjodohan mu denfan Melisa, Zam?" Tanya Hendra di sebelahnya.

__ADS_1


"Aku akan tetap melanjutkan perjodohan itu karna tidak ingin membuat papa dan mama kecewa!" sahut Nizam lemah.


"Terus, bagaimana soal gadis itu?" cetus Hendra yang mengarahkan jarinya ke mobil yang di dalamnya ada Nina.


"Entahlah, aku masih bingung dengan perasaanku, aku tidak bisa memastikan rasa ini, walaupun kehadiran gadis itu mampu mengusik perasaan yang sama sekali tidak pernah aku rasakan selama ini terhadap wanita. Aku tidak mau memberi harapan pada dia ataupun diriku sendiri karna aku takut kedepannya malah akan membuat orang kecewa dengan keputusan yang belum pasti. Biar aku menjalani takdirku saat ini tanpa mengikut sertakan Nina yang baru aku kenal baru-baru ini. Aku akan fokus dulu dengan perjodohan yang telah aku sepakati dengan orang tuaku!" Nizam terdengar lemah dalam mengucapkan perasaannya yang benar-benar ia rasakan.


"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusan mu, kami sebagai sahabat hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu." Arif dan Hendra akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Nizam yang masih berdiri melihat kepergian mereka.


Dengan langkan gontai Nizam berlalu untuk kembali ke dalam mobilnya yang sudah dari tadi di tunggu oleh Nina.


.


.


.


.


.


.


. **Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like & coment ya**!!!


__ADS_2