Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Berusaha Ikhlas


__ADS_3

Nizam sangat telaten mengolesi kulit tangan Nina yang terkena air panas dengan salep di tangannya. "Lain kali, hati-hati jika melakukan sesuatu," kata Nizam yang masih sibuk dengan meratakan obat oles di permukaan kulit Nina.


"Iya, Kak." singkat Nina deg-degan. Nina merasa hatinya tidak karuan dan jantungnya serasa mau lepas dari rongganya di saat berada sedekat ini dengan Nizam.


Aliran aneh itu langsung menjalar cepat saat tangan yang besar dan kokoh itu menggenggam lembut serta terasa hangat. Sungguh, Nina dibuat meremang hanya dengan sentuhan orang yang diam-diam ia sukai tersebut.


Namun, situasi yang tak menyehatkan jantungnya itu tidak bertahan lama karena Icha yang mampu membuat Nizam melepaskan tangannya secara cepat karena terkejut.


"Nin, kau kenapa?" Icha yang datang tiba-tiba mengagetkan Nina serta Nizam. Icha yang sejak tadi masih ada di belakang langsung berlari saat mendengar dari teman yang lain kalau Nina tersiram minuman panas.


"Nggak apa-apa kok, Kak. Cuma tersiram minuman sedikit panas, dan ini akan cepat sembuh." jawab Nina menunjukkan tangannya pada Icha yang sudah dilepas oleh Nizam.


Icha memperhatikan sikap laki-laki di samping Nina dengan tatapan penuh tanda tanya. Kenapa dia bisa ada di sini? Pikir Icha. Icha masih mengingat sikap Nizam waktu pertama kalinya bertemu dengannya, dan itu tak bisa ia lupakan begitu saja. Pria tersombong dan angkuh, itulah yang tertanam di otak Icha.


Icha menatap tidak suka pada Nizam karena begitu perhatian pada Nina. Apalagi, sekarang Nina sudah bertunangan. Sedangkan Nizam yang mengerti dengan tatapan penuh selidik dari Icha hanya membuang muka dan besikap tidak acuh pada teman Nina tersebut.


Icha buru-buru mengalihkan pandangannya kepada Nina. Sebenarnya ia ingin sekali memberitahukan secara terang-terangan pada Nizam bahwa Nina sekarang sudah bertunangan. Tapi, bukankah itu berlebihan. Sedangkan dirinya hanya tidak menyukai jika Nina dekat dengan pria yang angkuh di hadapannya ini.


"Apanya yang tidak apa-apa, lihat kulitmu sampai merah begini!" protes Icha yang menganggap Nina menyepelekan luka di tangannya. Icha meraih tangan Nina yang terluka dan menatap tak tega.


"Nin, bukannya kau bilang tadi mau menemui seseorang yang spesial itu, kenapa masih bekerja? Apa sudah selesai," kata Icha dengan sengaja tidak mengecilkan suaranya agar Nizam mendengar apa yang diucapkannya.

__ADS_1


Bukannya Icha tidak tahu jika Nizam memiliki perasaan yang lebih kepada Nina, karena feeling-nya pasti tidak akan salah. Cuma, rasa tidak sukanya yang mendominasi kepada Nizam telah membekas sampai sekarang hingga membuat Icha tidak menyukai jika Nizam berusaha mendekati Nina, meskipun tak dipungkiri bahwa Nizam memang sosok laki-laki yang sempurna.


"Kak, ngomongnya jangan kencang-kencang." bisik Nina agar Icha tidak membicarakan hal pribadi di depan Nizam.


Tapi, Nizam yang sangat jelas mendengar itu hanya diam dan terus menelinga percakapan keduanya sekalipun posisinya sekarang sedang memunggungi gadis di belakangnya. Nizam hanya tersenyum getir atas apa yang ia dengar saat ini.


Icha terlihat kesal mendapatkan ultimatum dari Nina. Padahal dia sengaja agar Nizam mendengarnya. "Wow, cincin kamu cantik sekali Nina?"


Icha sengaja mengangkat tangan kiri Nina yang di sana sudah tersemat dua cincin di jari tengah dan jari manis Nina. Cincin itu berbeda namun sama-sama terlihat mewah di jari Nina.


Nizam yang mendengar apa yang dikatakan Icha membalikkan badannya serta memperhatikan tangan Nina yang di angkat tinggi oleh Icha. Kenapa dari tadi ia tidak menyadari cincin itu?


Nizam tidak sadar dengan reaksi tubuhnya yang spontan menghadap Nina karena dorongan rasa keingintahuannya untuk memastikan apa yang ia dengar. Nizam menatap datar pada jari tangan Nina yang di sana memang telah melingkar dua cincin menghiasi jari-jarinya.


Nizam menarik nafas panjang berharap kegundahan akan sebuah kekecewaan itu bisa terbuang bersama hembusan nafasnya. Nizam memutuskan untuk pergi dari tempat itu karena sepertinya wanita yang menunggunya sudah pergi sejak tadi.


"Baiklah, aku pergi dulu. Sepertinya temanku tidak bisa datang." Nizam berlalu pergi begitu saja setelah berpamitan pada dua gadis tersebut, dengan membawa kegundahan serta rasa kekecewaan yang terpendam.


Sebelumnya, hatinya merasa sangat bahagia saat berjumpa dengan Nina. Tapi, kenyataan baru itu telah membuktikan bahwa ia memang tidak boleh memiliki harapan lagi, dan harus mengubur sebuah rasa yang saat ini sudah menjadi asa.


Nizam berjalan dengan langkah yang berat seiring rasa gundah gulana di hatinya. Mungkin, ia memang harus fokus dengan hubungan baru yang sudah dijalin oleh orang tuanya dengan seorang wanita yang sudah menjadi calon istrinya saat ini.

__ADS_1


Nizam mulai bertekad bahwa ia akan berdamai dengan perasaan yang baru pertama kali ia rasakan. Dan, pertama kali juga harus mendapatkan kekecewaan akan sebuah tak keselarasan akan sebuah cinta yang tak dapat memiliki seutuhnya.


Meskipun sebenarnya kata-kata tadi ia tujukan pada Nina sebagai salam perpisahan, namun Nizam tidak menatap wajah gadis yang masih mematung memandangnya. Ia sengaja tidak ingin beradu kontak pada netra yang mampu melemahkannya dan memutuskan untuk segera pergi.


Nina tidak menjawab dan hanya memandangi kepergian Nizam dari kafe itu sampai hilang ditelan arah. Icha yang melihat sikap Nina itu buru-buru mengalihkan perhatiannya dengan menepuk pelan bahu Nina.


"Hei, ada apa denganmu? Jnagan bilang kau juga mulai suka sama pria sombong dan arogan itu!" cetus Icha dengan wajah kesal yang tersisa.


"Apa si, Kak. Siapa juga yang suka." Nina mengelak serta beranjak berdiri.


"Aku bukan anak kecil, Nina. Bahasa tubuh kamu sangat terlihat jika kau itu tertarik pada dewa sombong itu." rasanya tidak sah kalau Icha tak mengumpat Nizam dengan kata-kata yang sudah paten ia sematkan.


Apa iya? Masak sikap aku yang suka sama Kak Nizam bisa terlihat? Apa Kak Nizam juga menyadarinya? Ah, betapa malunya aku ini. Bodoh! Nina merutuki dirinya sendiri akan sikapnya yang mungkin saja terbaca oleh Nizam.


"Aku hanya sekedar kagum, Kak. Bukan suka. Sama seperti kita kagum sama seorang idola. Ngak lebih!" lagi-lagi Nina mengelak dengan perasaannya.


"Terserah kamu saja. Ingat, kau sekarang sudah punya tunangan. Dan, kau harus buang jauh-jauh perasan itu!" Icha memperingati Nina akan statusnya saat ini yang memang sudah terikat.


Sikap Icha yang memang menganggap Nina layaknya adiknya sendiri itu mampu membuat Nina merasa seperti memiliki sosok seorang kakak perempuan yang selama ini tak pernah dimilikinya.


Perhatian dan sikapnya yang sering mendominasi itu dianggap Nina sebagai bentuk kasih sayang yang ia dapatkan dari Icha. Sama-sama hidup di dalam keluarga yang sederhana membuat Icha cepat akrab dan menganggap layaknya saudara.

__ADS_1


"Iya, Kak, iya! Nina tidak akan lupa." sahut Nina seraya mengimbangi Icha yang mulai melangkah. Icha menyuruh Nina istirahat di tempat karyawan di belakang. Suasana kafe yang tidak begitu rame itu membuat Nina menuruti apa yang dikatakan Icha.


__ADS_2