
Nizam bergabung dengan beberapa rekan bisnis setelah sebelumnya berbicara panjang lebar dengan sang ayah. Nizam menyapa semua tamu undangan dan juga beberapa koleganya yang turut hadir.dan juga para koleganya yang lain.
Nizam juga tak lupa meminta maaf mewakili sang istri yang tidak bisa menemaninya karena kejadian sebelumnya. Kondisi Nina yang kurang baik dan sempat jatuh pingsan membuat moment bahagia itu sedikit terjeda.
Nizam terus menyalami tamu di sana. Bibirnya tak henti tersenyum dengan perasaan yang berbunga-bunga. Meski rasa bahagia itu tidak bisa ia ungkapkan. Namun, bahasa tubuh itu tidak dapat menutupi rasa senangnya saat ini.
Para tamu terlihat sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang mengobrol, makan dan bersenda gurau dengan teman yang tidak sengaja bertemu dan menjadi tamu undangan keluarga besar Al-gazali.
Nizam menghampiri Pak Anton. Di sana juga ada Melisa dan ibunya. Mereka sedang duduk di meja khusus tamu undangan. Keduanya berbincang dengan menikmati hidangan.
Tapi, tidak dengan Melisa yang terlihat kurang bersemangat saat ini. Wajahnya ditekuk, minuman manis yang ia teguk tidak mampu membuat suasana hatinya ceria.
"Hai, Om, Tante. Apa kabar? Terima kasih sudah menyempatkan hadir," sapa Nizam.
Pasangan suami istri itu menoleh ke arah Nizam yang menarik kursi dan duduk di antara mereka. Begitu pun dengan Melisa yang awalnya fokus terhadap ponsel, ia langsung menatap pria yang saat ini sudah berstatus menjadi suami orang.
"Hai, Zam! Selamat ya, Nak. Akhirnya kamu bisa menikah. Kami doakan semoga pernikahanmu langgeng sampai maut memisahkan." Bu Indah berkata dengan tulus. Ia sudah melupakan masalah tempo dulu dan bersikap seperti sedia kala kepada keluarga sahabat karibnya tersebut.
"Om bangga kepadamu. Ternyata kamu bisa mengambil sikap hingga ke tahap ini. Tunjukkan bahwa kamu laki-laki sejati. Semua orang memiliki masa yang kelam. Namun, bukan berarti itu menjadi halangan untuk kita merubah diri dan meraih masa depan yang indah," timpal Pak Anton kemudian.
Kedua paruh baya itu menjabat tangan Nizam sebagai ungkapan selamat. Sedangkan Melisa salah tingkah. Entah kenapa saat ia tahu Nizam menikah, ada sesuatu yang berubah pada perasaanya.
Padahal dulu, ia sudah merasa tidak apa-apa saat perjodohan itu dibatalkan. Bahkan ia sangat mendukung Nizam yang berbicara apa adanya dengan apa yang ia rasakan saat itu. Tapi, kenapa sekarang menjadi berbeda seperti ini?
"Mel, kamu nggak mau ngucapin selamat pada Nizam?" tanya Bu Indah yang menyaksikan anaknya itu melamun.
"Eh, iya. Apa ma?" Jawabnya gugup tanpa sadar. Pikiran yang ke mana-mana membuatnya jadi kurang fokus. Apa yang sedang terjadi? Melisa jadi bingung sendiri.
"Kamu itu, dari tadi ngelamun saja. Itu ada pengantin baru, malah dicuekin." Bu Indah menggoda Nizam tapi Melisa yang terbawa perasaan.
Melisa merasa gerah dengan kata pengantin baru, yang mana itu menunjukkan bahwa yang dimaksud sudah tidak sendiri lagi. Resah? Iya. Itulah yang Melisa rasakan.
__ADS_1
"Hai, Kak. Selamat ya!" Cuma itu yang keluar dari mulut Melisa dengan senyum yang dipaksakan.
Nizam hanya tersenyum dengan kepala mengangguk. Ia menatap Melisa dengan seksama. Wanita itu telah membantunya banyak hal. Lalu Nizam tersenyum samar. "Terima kasih ya Mel. Kau sudah banyak membantuku selama ini, kamu juga bisa mengerti dengan keadaanku," ujar Nizam dengan tulus.
"Sama-sama, Kak. Tidak ada kata terima kasih dalam pertemanan. Kita teman 'kan?" tanya Melisa dengan tegas.
"Aku juga ikut senang jika Kak Nizam sekarang benar-benar bisa memiliki rasa itu," imbuhnya kemudian.
Melisa mengatakan itu dengan muka yang berpaling agar wajah merahnya tak terlihat Nizam. Entah ada apa dengannya. Bukan kah hubungan setelah perjodohannya dengan Nizam berakhir dengan baik-baik saja?
"Baiklah, aku senang kamu mau datang," lanjut Nizam lagi.
"Kalau begitu, aku pamit dulu, mau menemui tamu yang lain. Kamu nikmatin saja pestanya," ucap Nizam
"Mari, Om, Tante. Saya permisi." Nizam berpamitan lalu melangkah menuju pada segerombolan tamu yang lain.
Pak Anton dan Bu Indah mengangguk melihat Nizam meninggalkan kursi. Meskipun berada dalam satu meja, tapi percakapan Melisa dan Nizam barusan tidak dapat terdengar oleh mereka.
Nizam menyapa semua orang, dari meja satu ke meja yang lain. Mengobrol banyak hal dengan beberapa teman yang ia kenal. Sedangkan sepasang mata sejak tadi menyaksikan semua yang dilakukan Nizam dan terus memantau pergerakan pengantin baru tersebut.
Hati Nizam sangat bahagia, mendapatkan seseorang yang awalnya sama sekali sudah tak mungkin ia jangkau. Seakan berada di tempat lapang nan tandus, Nizam menemukan sumber mata air. Menghilangkan dahaga panjang yang membuatnya serasa kering dengan gersangnya hati tanpa tujuan.
"Ma, Melisa mau ke toilet dulu ya," pamit gadis cantik yang tinggi semampai itu pada ibunya.
"Jangan, lama-lama Mel. Habis ini kita pulang setelah mempelai wanita keluar." Bu Indah memperingati anaknya.
Melisa mengangguk dan berlalu pergi menuju toilet hotel yang agak jauh dari tempat pesta. Karena acara outdoor, Melisa harus berjalan agak jauh dari sana.
Melisa keluar dari kamar mandi setelah air yang sejak tadi ia tahan terbuang. Perasaan lega membuatnya tidak sadar dalam melangkah karena terlalu fokus dengan benda di tangannya.
Brak!
__ADS_1
"Aaaa ...!" Tubuhnya terhuyung ke belakang. Namun, sesaat tertahan saat sebuah tangan besar menangkapnya. Melisa sudah menutup matanya saat ia merasa akan jatuh ke lantai.
Matanya terbuka lebar karena merasakan hangatnya tangan yang mendekapnya. Ia menatap wajah di depan yang saat itu sangat dekat dengan tubuh yang terasa mepet maksimal.
Keduanya bersilang pandang dengan posisi yang tak berubah. Melisa yang menyadari keadaan itu langsung melepaskan diri dari pelukan pria asing tersebut.
"Maaf, maafkan saya Mbak. Saya reflek melakukan itu karena takut Anda terjatuh," ucap pria itu yang juga baru menyadari bahwa dirinya telah memeluk wanita cantik tersebut.
"Saya yang minta maaf, Mas. Jalan tidak lihat-lihat," sambung Melisa dengan menahan rasa malu.
"Baiklah." Keduanya menjawab dengan kata yang sama secara bersamaan.
Pria berparas tampan itu tersenyum dan begitu pun dengan Melisa.
"Kenalkan, namaku Beni," ujar pria asing itu mengulurkan tangannya.
Ya, Beni memang hadir dalam pesta pernikahan Nizam dan Nina. Meskipun tak diundang Beni sengaja ingin menyaksikan pernikahan dari seseorang yang pernah sepesial dalam hidupnya.
Beni yang datang dengan ibunya-Anggun sengaja tak menampakkan dirinya di dalam sana. Karena ia masih mengingat ancaman Bu Zainiyah saat terakhir bertemu untuk pertama kali dan itu menjadi yang terakhir kalinya. Kejadian waktu itu masih sangat mengingat wajah Pak Alkaf dan Bu Zainiyah.
Saat fitting baju pengantin, Beni sangat syok saat mengetahui Nina adalah tunangan Nizam. Lebih syok lagi saat ia menyadari bahwa Bu Zainiyah adalah teman dekat mamanya.
Dari situ, Beni terus memantau perkembangan pernikahan Nizam dan Nina lewat ibunya. Beni tidak menyangka jika ia akan dipertemukan lagi dengan orang di masa lalunya. Dan sekarang, ia harus bersembunyi hanya untuk menyaksikan pernikahan Nizam.
Jauh di lubuk hati Beni, ia juga ingin menjadi laki-laki sejati. Sama halnya seperti Nizam saay ini. Namun, itu bukanlah hal mudah. Tinggal di Bandung dan benar-benar berusaha untuk melupakan Nizam membuatnya tahu satu hal, bahwa merubah diri kembali pada jalan yang benar itu sangat sulit ia lakukan.
Melisa menerima uluran tangan putih yang runcing menyerupai perempuan. Rasanya ia tak percaya jika fisik pria di depannya ini tidak kalah dengan dirinya yang selalu menjalani perawatan pada sekujur tubuhnya.
"Melisa," ujarnya dengan seulas senyum.
.
__ADS_1
.Bersambung.