
Nina keluar dari kamar mandi dengan piyama panjang yang sudah membalut tubuh. Perasaan malu dan juga canggung masih bergelayut di hatinya.
Wajah Nina sudah segar karena dia sempat membersihkan badan dengan air hangat, rambutnya juga terlihat diikat asal setelah ia selesai berganti baju. Meskipun masih malu akan penampilannya sendiri, Nina berusaha membiasakan diri karena Nizam sudah berhak atas semua apa yang ada pada dirinya.
Rasa tak percaya akan Nizam yang saat ini sudah menjadi suaminya, begitu membuat hati Nina tidak menegerti dengan takdir yang memilih mereka, menjalani kisah rumah tangga yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saat dirinya menerima lamaran dari keluarga Al-Ghazali, harapan untuk terus memiliki perasaan kepada Nizam ia tekan agar sirna dengan seiringnya waktu berjalan. Dengan perlahan ia memantapkan hati, bahwa seseorang yang telah ia cintai sama sekali bukan jodoh yang dipilih Tuhan untuknya.
Meskipun berat, Nina tetap berusaha untuk melupakan Nizam secara perlahan namun pasti. Ia sudah berniat untuk mengabdikan diri dan hatinya kepada calon imam yang sudah dipilihkan Tuhan melalui orang tuanya.
Dan kenyataan ini justru seperti sebuah mimpi yang baru saja dilaluinya. Bahkan karena saking tidak percayanya, Nina sempat mencubit dirinya sendiri untuk meyakinkan bahwa semua adalah nyata.
Perasaan bahagia bercampur haru dan dibalut dengan rasa gerogi itu membuatnya salah tingkah. Saat berada bersama dengan Nizam dalam kamar yang sama.
"Apa kamu sudah selesai?" tanya Nizam memecahkan keheningan. Nina yang melamun sejak tadi hanya berdiri di ambang pintu kamar mandi. Suara itu terdengar mendominasi di dalam kamar yang begitu senyap. Bahkan, denting jam dinding terdengar sangat nyaring.
"Su-sudah, Kak!" Nina gugup, karena menyadari bahwa dirinya terlalu lama di sana.
Nina melangkah ke depan cermin, hendak menyisir rambut yang tidak karuan serta merapikan penampilannya sehabis mandi. Ia membiarkan Nizam menggantikan dirinya untuk masuk ke kamar mandi.
Sama halnya dengan Nina, Nizam juga tidak habis pikir dengan takdir. Membawanya kepada gadis yang selama ini menjadi dambaan hati. Bukan tak bahagia, tapi Nizam masih syok dengan kenyataan yang seakan membuat gejolak jiwa yang akhir-akhir ini menyebabkan dilema.
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan tubuh dari keringat yang terasa lengket, setelah seharian ini menjalani segala macam prosesi pernikahan, akhirnya tubuh itu bisa bernapas lega saat terkena air hangat yang menenangkan. Otot-ototnya yang juga letih itu kembali pulih. Nizam lalu menyudahi acara mandi dan bergegas mengenakan baju bersih yang sempat ia ambil dari koper dan membawanya ke kamar mandi. Tak lupa ia berwudhu sebelum keluar dari kamar mandi.
Pria tampan dengan rambutnya yang basah itu keluar sembari menggosok kepala. Rambutnya yang gondrong ia biarkan tergerai agar cepat kering.
Nina yang berpura-pura menyisir rambut seketika menghentikan gerakan tangannya, saat Nizam sudah keluar dari kamar mandi. Ia menatap suaminya tersebut. Pandangan mereka saling bertemu satu sama lain. Keduanya saling membisu dengan perasaan yang sama-sama mengagumi satu sama lain.
Nina merasa beruntung karena pada akhirnya menikah dengan Nizam. Pria yang memang mendapat tahta pertama di dalam hatinya. Nina tidak bisa berpaling dari wajah Nizam yang terlihat memesona. Apalagi setelah mandi seperti ini, auranya semakin kuat sebagai laki-laki sejati. Bahkan, tidak nampak seklai jika pria di hadapannya ini adalah mantan seorang gay.
Begitupun dengan Nizam. Pria itu merasa takjub melihat penampakan Nina malam ini. Rambutnya tergerai sempurna, tidak ada lagi ikat rambut atau jepit yang menyembunyikan mahkota kebanggaan kau wanita tersebut.
Sejak awal, Nizam tidak pernah melihat Nina menggerai Rambutnya. Gadis itu selalu mengikat tinggi atau menekuk sebagian rambut dengan jepit yang sudah dianjurkan dari pihak kafe, agar terlihat ringkas dan rapi, sebagai tuntutan di mana ia bekerja saat ini.
Nizam masih begeming. Tetap mematung di ambang pintu kamar mandi dengan tatapan yang tak berpaling dari Nina. Hanya melihat kecantikan Nina seperti ini, membuat hatinya kembali bergetar hebat. Jantungnya mulai bekerja tidak sesusai dengan ritme yang seharusnya.
"Apa Kakak sudah shalat isyak?" Akhirnya Nina memberanikan diri untuk menanyakan hal yang sejak tadi ingin ia tanyakan.
Ia menaruh sisir yang sebenarnya sejak tadi selesai digunakan. Cuma, Nina sengaja berlama-lama di depan cermin karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Apalagi dirinya belum sholat.
Ia sengaja menunggu Nizam selesai untuk mengajaknya melaksanakan shalat berjamaah. Kebetulan, Nizam memang belum menunaikan shalat isyak. Dan niat awalnya pria itu keluar dari kamar mandi untuk mencari sajadah serta peci yang ia simpan di dalam koper. Tapi malah terbengong oleh pesona istrinya sendiri.
"Belum. Apa kamu sudah shalat?" tanya Nizam balik. Nina hanya menggeleng dan berjalan menuju kopernya, ia mengambil perlengkapan shalat dan membentangkan dua sajadah di atas permadani di sana. Karena gadis itu sengaja menyiapkan dua sajadah di dalam koper.
__ADS_1
Tindakan Nina membuat Nizam mengerti, bahwa istrinya itu mengajak shalat berjamaah tanpa harus dikatakan. Nizam mengurungkan untuk mengambil sajadah. Ia hanya mengambil peci putih lalu mengenakannya setelah menutup koper itu kembali.
Keduanya mengambil posisi masing-masing. Sama-sama khusuk dengan niat yang disempurnakan. Melakukan tugas wajib sebagai umat islam yang sejati
"Allaaaaa Akbar!" Suara takbir terdengar menggema. Sepasang pengantin itu melaksanakan shalat berjamaah dengan status yang sudah menjadi sepasang suami-istri.
Nizam menjadi iman untuk pertama kalinya terhadap wanita yang baru saja sah menjadi istrinya tersebut. Pria itu begitu lancar dan fasih dangan melafalkan setiap bacaan Al-Qur'an di dalam shalatnya.
Nina merasa hatinya bergetar saat suara merdu sang suami melantunkan ayat-ayat suci tersebut mengalun indah, menenang jiwa serta menentramkan diri.
Jiwanya menjadi basah setiap kali mendengar suara itu melafalkan Asma Allah yang Maha Agung. Nina begitu terhanyut dalam sebua kekhusuan. Keduanya melaksanakan shalat dengan tumaknina. Mereka melakukan shalat dengan niat hati yang penuh kemantapan dalam menghadap Sang Kuasa.
"Assalamualaikum." Nizam mengakhiri shalatnya setelah melakukan serangkaian gerakan dengan benar tanpa rasa gerogi sedikitpun. Karena niatnya menghadap Allah dan tak mempermasalahkan siapa makmumnya di belakang. Meski setelah ini, jantungnya dijamin bakal jedag-jedug lagi.
Meskipun ini adalah kali kedua Nina menjadi makmumnya, tapi perasaan yang ia rasakan sekarang berbeda dengan yang pertama kali sewaktu menjadi imam wanita tersebut di rumahnya. Karena statusnya saat ini lah menjadi seorang imam yang sesungguhnya. Di dalam shalat, maupun dalam rumah tangganya..
.
.Bersambung!
Hai semuanya. maaf baru bisa ngintip di sini. Berhubung saya Sedang nulis di pf lain, jadi melupakan couple N. Tapi, bulan ini saya sudah terakhir daily di aplikasi Paizo. So, di bulan Agustus saya akan up lagi. Terima kasih buat yang masih setia dengan ceritaku ini.
__ADS_1