
Nizam bersikap seperti tidak terjadi apa-apa saat wajah paniknya hampir terbaca oleh Beni. Nizam mengarahkan pandangan ke arah luar. "Maafkan aku, sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak bermaksud datang kembali untuk mengganggu kehidupanmu, aku kembali murni karena mama. Lagipula, aku sudah benar-benar ingin melupakan semuanya, meskipun itu sulit, Zam,"
Ucap Beni dengan bersungguh-sungguh. Nizam masih tetap tak menghiraukan Beni. Meskipun pendengarannya tetap menelinga setiap perkataan Beni, namun hati dan jiwanya sekarang sedang meronta-ronta setelah melihat foto Beni dengan wanita yang selama ini telah membuatnya memahami arti dari sebuah perasaan cinta. Wanita yang membawanya keluar dari zona kelam menuju terang.
Tapi sayang, dirinya tidak bisa mendapatkan cinta itu dengan seutuhnya. Karena wanita yang menjadi pelabuhan pertamanya itu memilih pria di depannya ini, itulah kesimpulan yang menguatkan asumsi Nizam saat melihat foto Beni dan Nina yang begitu dekat. Pria yang pernah menjadi alasannya untuk tidak membuka hati pada kaum hawa. Kenapa rasa sakit sangat menghujam itu sangat sesak ia rasakan dengan kenyataan bahwa tunangan Nina yang dimaksud kemarin adalah Beni?
Nizam masih mengatur emosinya yang terselulut oleh kekecewaan akan tunangan Nina. Nizam merasa, dunia tidak adil kepadanya, kenapa harus Beni? Mengapa bukan orang lain yang menjadi calon Nina! Kenapa orang dari masa lalunya itu yang harus menjadi saingannya!
Ingin rasanya Nizam menyalahkan takdir dan juga kenyataan, namun dia masih berpikir jernih untuk menghadapi semuanya. Muka datar Nizam nyaris tak bergerak dengan tatapan kosong. Pikirannya yang berkecamuk membuat Beni merasa sangat bersalah.
Beni merasa, bahwa kemunculannya begitu sangat tak diinginkan Nizam, bahkan melihat wajahnya saja rasanya Nizam tidak sudi. Akhirnya Beni memutuskan untuk meninggalkan Nizam, karena ia yakin bahwa gadis yang di dalam sana adalah calon istri Nizam.
Sebenarnya Beni juga syok saat dirinya menyimpulkan bahwa Nina adalah calon istri Nizam. Bukankah tidak ada wanita lain di boutique nya yang sedang menunggu calon suami. Hanya Nina yang ada di situ, dan itu sudah memperkuat kebenaran atas Nina dan Nizam yang akan menjadi sepasang pengantin.
Takdir memang lucu, Ia dan Nizam serta Nina dipertemukan dalam waktu yang bersamaan. Padahal, Beni memiliki sebuah harapan terhadap gadis yang baru ia kenal tersebut dan Beni juga berpikir tidak akan lagi bertemu dengan Nizam untuk selamanya. Beni menarik nafas panjang dan memutuskan untuk pergi meninggalkan Nizam, tapi sebelum itu, Beni mengucapkan selamat kepada Nizam.
"Sekali lagi aku minta maaf! Dan, selamat karena sebentar lagi kau akan menikah. Semoga kau memiliki rumah tangga yang bahagia." ucap Beni dan hendak berlalu. Namun suara Nizam menghentikannya.
"Bukankah kau juga akan menikah?" kata Nizam dengan tatapan mata yang masih lurus ke depan. Beni mengernyit bingung, berusaha mencerna ucapan Nizam namun tetap saja ia tak mengerti.
"Maksudmu?" heran Beni.
__ADS_1
"Aku senang, jika kau benar-benar bisa melupakan semuanya. Dan aku berharap, ini adalah pertemuan kita yang terakhir kalinya." Nizam merasa Beni sengaja menutupi hubungannya dengan Nina.
"Tentu, aku akan benar-benar berusaha menjadi seperti dirimu. Hidup normal dan juga memiliki istri serta keluarga yang sempurna." sebenarnya Beni masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Nizam. Namun, ia berpikir bahwa Nizam sengaja mengatakan itu semua agar membuatnya segera pergi.
Beni berlalu pergi begitu saja setelah mengucapkan kata terakhir. Nizam yang saat ini terbakar oleh api kekecewaan, ingin rasanya berteriak sekuat mungkin. Nizam tiba-tiba melangkah keluar dengan wajah yang memerah karena gejolak perasaan yang tak bisa ia tahan lagi. Nizam marah karena orang yang sepesial bagi Nina ternyata Beni.
Jadi, orang yang mampu mendapatkan hatinya adalah orang yang ingin ia lupakan, bahkan orang itu sekarang sangat ia benci. Nizam membawa tubuh besarnya masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya dengan begitu kencang. Nizam lupa dengan tujuan utamanya pergi ke boutique yang sudah ditentukan oleh ibunya.
Nizam pergi ke suatu tempat, ia ingin menenangkan gejolak jiwanya yang sekarang sedang kacau. Sedangkan di boutique, Nina yang baru saja keluar dari kamar mandi terlihat lega karena yang membuatnya tidak nyaman sudah ia buang.
Nina kembali ke tempat semula, pandangannya mengedar ke semua sudut. Namun, tidak ada orang sama sekali. Tempat itu sepi. Nina mencari Beni atau Anggun yang sedari tadi menemaninya. Nina melirik jam tangan yang ia pakai. Jarum itu sudah menunjukkan waktu yang cukup lama akan dirinya di boutique tersebut.
"Iya, kebetulan tadi Tante suruh Mbak yang tadi ke lantai atas. Kalau Beni ada di depan. Ayo, kita lakukan fitting bajunya. Calon kamu sudah datang. Dia laki-laki yang sangat tampan sekali. Kalian terlihat sangat cocok.
Tutur Anggun berbinar senang seraya menarik tangan Nina menuju ke ruangan depan di mana Nizam dan Beni berada. Nina mengikuti ke mana Anggun membawanya.
"Nak, ini calonmu sudah datang." ucap Anggun tanpa memastikan keberadaan orang di ruangan tersebut. Seketika Anggun terdiam saat menyadari bahwa ruangan itu kosong.
"Kemana mereka?" guman Anggun tapi masih di dengar oleh Nina. Nina yang sedari tadi merasakan jantungnya berdetak semakin cepat karena dirundung rasa penasaran akan wajah dari sosok yang sudah lama ia tunggu-tunggu.
Ini adalah pertemuan pertamanya dengan sang tunangan. Wajar saja jika Nina gugup dan merasa gerogi 'bukan? Nina meremas tangannya yang semakin berkeringat dingin. Sungguh, jantungnya serasa mau copot dari tempatnya.
__ADS_1
"Kamu tunggu sebentar. Tante mau tanya Beni dulu." Anggun berlalu pergi dari sana dan menuju ke ruangan. Setelah beberapa saat, ia datang dengan wajah dan terlihat kecewa. "Beni tidak tau sayang. Tadi Bemi bilang sempat bicara sebentar, dan Beni pergi. Namun, kata Beni tunangan kamu masih ada di sini."
Raut wajah Nina berubah kecewa. Walaupun ada rasa lega karena debaran jantung yang ia rasakan sedikit berkurang. Namun, perasaan Nina jadi bertanya-tanya, kenapa calon tunangannya itu menghilang dengan tiba-tiba? Sesaat Nina merasa dirinya seperti wanita yang tak berguna. Lagi-lagi calon suaminya itu pergi begitu saja saat sudah berjanji ingin bertemu dengannya.
Nina semakin yakin jika sang tunangan memang sengaja tidak ingin bertemu dengannya, entah apa alasannya. Dengan kejadian ini, Nina tidak yakin dengan pernikahan ini. Akankah pernikahannya akan berjalan lancar dan rumah tangganya bahagia. Entahnya, seketika kepalanya menjadi pusing.
Anggun merasa prihatin karena sejak tadi Nina sudah menunggu calon suaminya. Anggun juga tidak tahu apa alasan anak Bu Zainiyah itu pergi tanpa meninggalkan pesan. Anggun hendak menghubungi Bu Zainiyah, tapi Nina mencegahnya.
"Tante, jangan hubungi mertuaku. Mungkin tunanganku memiliki urusan yang dadurat sehingga tidak sempat berpamitan." mencoba berlapang dada dengan keadaan.
Sedangkan Nizam yang sudah sampai di rumah tidak menghiraukan sekitarnya. Pikirannya sudah diliputi kekewaan yang membuatnya emosi dan tak bisa berpikir jernih. Nizam melangkah dengan lebar ingin segera sampai ke dalam kamar.
Bu Zainiyah yang ada di ruang keluarga sedang membantu sang suami meminum obat heran dengan kedatangan putranya. Bukankah Nizam masih di boutique nya Anggun? Lalu kenapa sudah pulang. Bu Zainiyah merasa heran.
"Nizam, kenapa kau sudah pulang? Apa fitting bajunya sudah selesai?" Bu Zainiyah yang memang sudah membawa suaminya itu langsung pulang setelah mendapat persetujuan dari dokter pribadinya. Nizam yang hampir menaiki tangga terpaksa berhenti.
Nizam tak menyangka jika kedua orang tuanya itu sudah tiba di rumah. "Maaf Ma, Nizam tidak jadi melakukan fitting baju. Tapi...?" Nizam menjeda ucapannya.
"Nizam ingin pernikahan ini dipercepat. Kalau bisa, besok juga tak masalah. Lebih cepat lebih baik. Aku serahkan semuanya sama Mama. Pokoknya, Nizam mau cepat menikah!"
Nizam berlalu naik setelah mengucapkan kata yang membingungkan itu pada kedua orang tuanya. Pak Alkaf dan Bu Zainiyah hanya bersilang pandang akan keputusan Nizam yang mendadak memajukan tanggal pernikahannya. Bu Zainiyah menatap kepergian Nizam dengan banyak pertanyaan di benaknya.
__ADS_1