Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Kabar kecelakaan Pesawat


__ADS_3

Zizi pergi menuju kamarnya setelah mengecup sayang sang mama yang begitu ia cintai. Tidak beberapa lama ia sudah terlihat segar dan wangi serta sudah mengenakan piyama yang lembut dan nyaman. Zizi lalu keluar kamar untuk menemui Nizam.


Tanpa mengetuk pintu, Zizi membuka kamar Nizam dengan perlahan seraya melongok kan kepala untuk melihat situasi di dalam sana. Zizi mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Namun, sang kakak tidak terlihat tanda-tanda keberadaannya. Hingga suara suara pintu terbuka yang berasal dari kamar mandi mengalihkan fokus matanya.


"Hehehe, Kakak baru selesai mandi ya?" Dengan senyum manisnya Zizi menyapa kakaknya dengan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ia tanyakan. Tapi untuk berbasa-basi tentunya Zizi akan melakukannya, bukan?


"Sudah sembuh kamu dari kesurupan Dek?" Goda Nizam pada Zizi yang mengangsur tubuhnya untuk masuk dan merebahkan di ranjang Nizam. Gadis itu menatap langit kamar serta terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Kak, gimana kalau Kak Melisa menolak perjodohan ini?" Tanya Zizi yang masih menatap langit-langit kamar tanpa melihat Nizam yang heran memandang Zizi yang sepertinya dialah orang paling gundah atas kabar yang belum bisa di pastikan itu. Bahkan dia tidak merespon godaan Nizam sebelumnya.


"Kenapa malah kamu yang sangat sedih Dek, seakan-akan kamulah orang yang mau di jodohkan dengan Melisa?" goda Nizam lagi agar adiknya tersebut tidak terlalu memikirkan sesuatu yang seharusnya dialah orang yang sangat galau saat ini.


"His, Kakak ini ya, di ajak bicara serius malah bercanda terus dari tadi!" Zizi memutar bola mata kesal seraya menarik tubuhnya untuk duduk tegak bersila menghadap Nizam yang mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil yang sedari tadi ia kalungkan di leher.


"Habisnya, kamu itu terlalu memikirkan sesuatu yang belum tentu benar, bukan?" sahut Nizam dengan handuk yang tiba-tiba ia lemparkan ke Muka Zizi yang sedari tadi bermuka masam, Walau sebenarnya, apa yang di fikirkan Zizi itu juga ada di benak Nizam, laki-laki itu berusaha bersikap tenang seolah-olah itu tidak menjadi beban.

__ADS_1


"Kalau memang Melisa menolak, mungkin dia memang bukan jodoh kakak, Dek! Jadi, kamu tidak usah ikutan pusing mengenai masalah ini." Lanjut Nizam


"Tapi Kak, aku kan ingin Kakak cepat mempunyai pasangan, agar Kakak tidak ada alasan lagi untuk menjalin hubungan sama Si Beni itu." Suara Zizi masih dengan nada yang was-was jikalau kakaknya itu diam-diam berhubungan dengan Beni.


"Kakak tegaskan sekali lagi ya! Dan ingat ini baik-baik. Kakak sudah berjanji pada mama dan papa serta diri kakak sendiri, bahwa kakak tidak akan melakukan kesalahan itu lagi. Cukup kakak menjadi bodoh sebelum kakak sadar bahwa hubungan kakak dengan Beni itu sebuah kutukan! Apapun yang terjadi kakak akan berusaha menjadi anak serta kakak yang bisa di banggakan. Jadi, sekarang kamu kembali ke kamarmu, istirahat lah." ucap Nizam panjang lebar meyakinkan sang adik yang begitu mencemaskannya.


"Iya, iya. Zizi percaya!" cetus Zizi mengakhiri topik yang membuat Nizam sedikit bersedih mengingat kesalahannya.


"Aku belum makan malam kak," lirih Zizi mengalihkan pembicaraan. "Kita turun bareng aja ya Kak? Sekalin makan malam bersama mama dan papa." Ajak Zizi seraya turun dari ranjang dan menarik tangan Nizam supaya berjalan untuk mengimbanginya.


*****


Tak terasa waktu itu sudah tiba, di mana Melisa yang di nantikan orang tuanya datang kembali ke tanah air tercinta. Pagi itu, Pak Anton dan Bu Indah tergesa-gesa menaiki mobil menuju bandara untuk menjemput Melisa. Kisar waktu empat puluh lima menit meteka sampai ke Bandar. Setelah satu jam menunggu sang anak. Namun belum juga ada tanda-tanda kedatangan penumpang dari jalur yang memang di khususkan untuk jadwal kedatangan.


Pak Anton mondar-mandir sambil terus melihat jam tangan yang di rasa sangatlah lamban. Bukannya tanpa alasan ia bersikap seperti itu. Sebab, tadi pagi di saat dirinya melihat info dari televisi yang menyiarkan bahwa telah terjadi kecelakaan pesawat dalam penerbangan hari ini menuju Jakarta. Meskipun berita itu belum bisa memastikan pesawat apa yang sudah mengalami kecelakaan, tapi Pak Anton dan Bu Indah sudah di buat was-was dan gelisah atas pemikiran buruk yang tertuju terhadap anak mereka. Mengingat Melisa juga melakukan penerbangan di jam yang sama dengan pesawat yang di kabarkan kecelakaan tersebut.

__ADS_1


Bu Indah terlihat resah memikirkan mungkin hal buruk terjadi pada anak semata wayangnya itu, mereka terus melafalkan doa dalam hati dan juga terkadang sedikit keras terdengar sebagai ungkapan rasa yang terus merongrong rasa khawatirnya. Hingga segerombolan orang datang dari arah yang sedari tadi menjadi pusat sepasang suami istri itu, yang mampu mengalihkan pandangan mereka.


Bu Indah dan suaminya langsung berhambur menuju tempat kedatangan penumpang yang di batesi besi panjang sebagai jarak pembatas, mata mereka serasa terus gelisah mencari Melisa di antara kerumunan orang yang berdesakan ingin cepat keluar dari bandara tersebut. Apalagi suasana panik yang lebih mencekam terjadi di saat beberapa mobil ambulan datang dengan suara serine yang menakutkan.


Ya, pesawat yang di kabarkan mengalami kebocoran di area bahan bakar itu sudah mendarat di bandara yang semakin membuat semua awak kapal beserta penumpang kalang kabut menyelamatkan diri masing-masing karna takut terjadi sesuatu yang mungkin lebih buruk. Semua petugas yang menangani kejadian itu bekerja sangat sigap dengan mendatangkan para medis pada waktu yang tepat.


Para dokter dan perawat yang keluar dari mobil ambulan langsung berlari menuju jalan darurat yang sudah di sediakan pihak maskapai. Mereka berjalan tergesa-gesa ingin segera memberikan pertolongan pada penumpang yang telah mengalami kecelakaan. Hingga saat salah satu dokter yang berlari di antara para perawatan yang juga terburu-buru itu tiba-tiba jatuh tersungkur di saat tubuhnya menabrak seorang gadis yang kerepotan membawa koper beserta bawaannya yang lain.


Karna dalam keadaan panik, dokter beserta gadis tersebut tidak fokus dengan jalan yang mereka lalui. "Maaf Nona!" Dokter itu meminta maaf seraya membantu memungut tas gadis itu yang jatuh akibat tabrakan tadi.


"Tidak apa-apa, Dok! Saya juga tadi juga kurang konsentrasi, saya juga minta Maaf," sahut gadis itu yang menerima tas yang di sodorkan sang dokter lalu menaruh ke atas koper. Dari pakaian yang di kenakan laki-laki di depannya, gadis itu sudah bisa menebak kalau dia adalah seorang Dokter.


"Baiklah, permisi Nona!" Lanjut dokter itu dengan senyum tipisnya seraya menyusul para perawat yang sudah agak jauh di depan sana.


"Ternyata, cowok Indonesia juga cakep-cakep. Dokter Arif. Nama yang bagus juga." Melisa tersenyum di saat tadi dia sempat membaca nama yang tersemat di dada dokter yang telah menabraknya.

__ADS_1


Melisa lalu berjalan sedikit di percepat mengingat peristiwa yang terjadi di bandara barusan, dan itu akan membuat orang tuanya cemas kalau dirinya tidak cepat-cepat mendatangi mereka.


__ADS_2