Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Nina Sadar


__ADS_3

Tanpa berkata, Nizam memeluk mamanya. "Maafin Nizam, Ma. Kalau selama ini belum bisa membuat Mama bahagia," ucap Nizam sungguh-sungguh.


"Pernikahanmu ini sudah menjadi kebahagiaan yang tiada tara bagi Mama. Mama harap, kau dan Nina menjadi pasangan yang sakinah mawadah warahmah. Dan hanya maut yang memisahkan."


"Amin...," sahut Arif, Nizam, dan Bu Zainiyah secara bersamaan.


"Mama, kepalaku pusing," suara Nina yang tiba-tiba terdengar, mengalihkan perhatian tiga orang yang berada tidak jauh dari ranjang. Nina memegangi kepalanya yang terasa berat. Nina masih tidak menyadari apa yang baru saja terjadi.


"Iya, Sayang. Jangan banyak bergerak dulu. Istirahatlah." Bu Zainiyah langsung menghampiri Nina yang terlihat ingin menegakkan tubuh. Namun, kepalanya yang pusing membuatnya lemah dan Bu Zainiyah membantu Nina bersandar dengan tambahan bantal yang ia susun rapi.


"Apa yang kau rasakan, Kakak ipar?" tanya Arif menekannya kata 'kakak ipar' sembari tersenyum tipis penuh godaan.


Nina yang asing dengan suara itu berusah menemui wajah sang pemilik suara yang berdiri di sebelah kanan ranjangnya. Mata Nina tiba-tiba membola saat menatap wajah Arif. Rasa pusing yang ia rasakan tadi sirna entah ke mana.


Bukan wajah Arif yang membuatnya syok, tapi sosok pria yang sangat ia kenal sedang berdiri di sebelah Arif dengan wajah tak terbaca. "Kak Nizam," seru Nina tertahan.


Iris mata Nina menuju Bu Zainiyah, dan kembali lagi menemui Arif dan Nizam. Mata itu seakan bertanya, apa maksud dengan semua ini. Setelah beberapa saat, Nina mengumpulkan beberapa kejadian sebelum ia pingsan dan mengingat semuanya, bahwa hari ini adalah hari pernikahannya dengan putra Bu Zainiyah yang belum ia kenal sama sekali.


Pikirannya mulai bekerja, ternyata yang dimaksud putra dari keluarga Al-gazali adalah Nizam. Orang yang selama ini sangat berjasa besar pada keluarganya. Jadi selama ini? orang yang telah melamar dan mengucapkan ijab beberapa menit yang lalu adalah pria yang sudah lama menempati ruang di hatinya.

__ADS_1


Nina masih tidak bisa mempercayai semuanya. Ia butuh penjelasan yang mampu meyakinkan keraguan akan rasa penasarannya. "Ma, apa ini? Apa benar Kak Nizam adalah suamiku? Jadi, orang yang selama ini Mama maksud sebagai anak adalah Kak Nizam? Tapi, bagaimana bisa! Bukankah Kak Nizam sudah memiliki tunangan?!"


Pertanyaan itu hanya ada dalam batin Nina. Karena tidak mungkin Nina memiliki keberanian sebesar itu untuk bertanya sesuatu yang menurutnya sangat memalukan. Jadi, Nina hanya bisa diam menunggu salah satu dari tiga orang di depannya ini menjelaskan kepadanya.


"Minum dulu," Bu Zainiyah mengambilkan air di atas nakas dan menyerahkan pada Nina. Dengan beberapa teguk, air itu sudah habis diminum, karena rasanya kerongkongannya mengering seketika.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Bu Zainiyah.


"Sedikit pusing, Ma. Apa yang telah terjadi?" tanya Nina hati-hati. Cuma itu yang bisa ia ucapkan, bibirnya terlalu kelu untuk menanyakan sesuatu yang masih terus berkecamuk dalam benaknya.


"Kau jatuh tak sadarkan diri setelah akad nikah dilakukan. Sepertinya perutmu kosong, jadi itu membuat tubuhmu lemas karena kurang tenaga. Arif sudah memeriksamu, dan dia bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Cukup istrirahat, tapi kau harus makan dulu Sayang."


Nina merasa sangat canggung, berada dalam satu kamar dengan Nizam. Suaminya itu hanya diam, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya semenjak ia sadarkan diri. Arif hanya menikmati keadaan canggung itu dengan senang hati. Jarang-jarang ia menyaksikan Nizam dalam mati kutu seperti ini.


"Zam, istrimu sangat cantik. Ternyata benar, wanita akan jauh lebih cantik jika dia sudah menikah. Siapkan staminamu untuk menjadi suami kuat untuk nanti malam," goda Arif dengan bisikannya.


Nizam tidak menjawab, tapi bola mata yang mendelik sudah menjadi jawaban bagi Arif, bahwa saudaranya itu sedang kesal dan tidak mau bercanda. Bukannya diam, Arif malah mengulum senyum dan semakin menggoda Nizam. Jika selama ini ia terkenal pendiam, tapi tidak untuk saat ini. Ia madih ingin terus menggoda Nizam.


"Nizam, keluarlah. Temui tamu-tamu yang lain, tidak enak jika kau terlalu lama di sini. Temani papamu, katakan juga bahwa menantunya sudah siuman dan sekarang sudah baik-baik saja," titah Bu Zainiyah yang masih menyuapi Nina.

__ADS_1


"Baik, Ma," sahut Nizam dan beranjak berdiri dengan menarik tangan Arif agar mengikutinya. Nizam sudah tidak sabar ingin menghajar Arif. Apa dia tidak tahu bahwa selama di kamar barusan ia sangat teramat gerogi hingga Nizam tak berani menatap wajah Nina.


Baru saja Nizam menutup pintu kamar, Arif tertawa terbahak-bahak. Sejak dari tadi ia menahan untuk tidak tertawa karena menghormati Nina dan juga Bu Zainiyah. Tapi tidak untuk sekarang, rasanya ia sangat puas melihat raut wajah Nizam yang tegang, gerogi, dan itu membuat Arif tidak bisa menahan tawanya.


"Lihatlah wajahmu, seperti anak gadis yang ditinggal pergi pacarnya. Ayolah, Zam. Ini adalah hari keberuntunganmu. Menikah dengan wanita ingin kau miliki. Seharusnya kau bahagia." Arif tak henti-henti mengolok Nizam selama menuju ke tempat pesta.


Nizam memukul punggung Arif sedikit keras. Namun, itu tak membuat Arif berhenti meledeknya. "Jika mulutmu tidak bisa diam, aku lakban pakai kaos kaki," degus Nizam yang mulai cegah dengan semua yang keluar dari mulut Arif.


Dua pria tampan itu berjalan menuju tempat acara dan setelah sampai di sana keduanya langsung disambut beberapa orang yang sedari tadi menunggu kabar mempelai wanita yang pingsan dan mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


"Nizam, bagaimana keadaan istrimu?" tanya Pak Alkaf khawatir.


"Iya, Kak. Bagaimana kondisi Kak Nina saat ini? Apa dia baik-baik saja?" tanya Zizie antusias. Dia tidak menyangka jika kakak iparnya adalah orang yang tempo dulu pernah datang ke rumahnya serta memberikan kesan yang sampai saat ini masih ia ingat.


"Nina baik-baik saja, Om. Dia hanya kelelahan. Cukup istirahat maka semuanya akan aman," jawab Arif mewakili Nizam yang rasanya masih sulit mengeluarkan suara.


"Hai, Zam! Bagaimana kejutan dari kita? Aeru nggak?" Hendra yang tiba-tiba datang menepuk bahu Nizam dengan senyum jailnya. Sedangkan Pak Alkaf dan Zizie hanya tertawa melihat reaksi Nizam yang sepertinya masih syok dwngan kenyataan. Masalahnya adalah, Pak Alkaf dan adiknya itu juga mengetahui bahwa dirinya memang menaruh hati pada Nina jauh sebelum pertunangan itu terjadi.


Siapa lagi biang keladi yang membocorkan rahasianya itu jika bukan Arif dan Hendra. Rasanya Nizam tidak punya muka meski perasaan yang selama ini ia sembunyikan diketahui keluarganya sendiri.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2