Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Kecelakaan Kecil


__ADS_3

Ya, pria yang datang ke kafe itu adalah Nizam. Ia sangat terburu-buru karena nomor yang sejak tadi dihubungi tidak meresponnya. Mungkin saja tunangannya itu kesal karena telah lama menunggu, apalagi ia sempat mengabaikan pesan terakhirnya. Dan itu sangat di makluminya.


Tapi, Nizam dibuat lupa semuanya saat wajah gadis yang selalu mengganggu dalam setiap aktivitas itu berdiri nyata di hadapannya. Nizam merasa gugup seperti orang yang sedang ketahuan melakukan kesalahan.


Sebenarnya sah-sah saja jika ia mau melakukan apa pun, karena Nina bukanlah siapa-siapa baginya, itu alibi Nizam saat ini. Tapi, hati yang seakan sudah terjerat kepada gadis tersebut membuatnya salah tingkah.


Nizam berusaha mengubah ekspresi terkejutnya dengan bersikap datar seperti biasanya. "Ehm, aku ada janji sama teman di sini, tapi sepertinya dia belum datang." seakan tahu apa yang saat ini dipikirkan oleh Nina.


"Apa Kakak mau menunggu di atas seperti biasanya?" Nina yang sudah faham di mana Nizam memilih tempat yang biasa ia tempati jika berkunjung ke kafe tersebut.


"Tidak usah. Aku masih ingin memastikan dulu, apakah teman aku datang atau tidak?" seraya mengawasi sekeliling, Nizam menjawab pertanyaan Nina.


Nizam mengedarkan pandangannya serta menghubungi secara berulang-ulang nomor tunangannya. Nada itu berdering tapi sengaja tak diangkat. Apa dia benar-benar sengaja?


Ini adalah pertemuan mereka untuk yang pertamakali, dan Nizam tidak berniat untuk ingkar janji. Wanita itu saja yang tak sabar menanti. Pikir Nizam yang juga ikut kesal dengan perempuan yang sudah jadi tunangannya itu. Wanita memang sama, suka ngambek. Pikirannya.


Tunggu, tunggu. Kenapa ia baru sadar sesuatu! Kenapa sekarang dia dan tunangannya mengadakan pertemuan di kafe Santuy? Nizam menoleh ke arah Nina yang sejak tadi memperhatikannya.


Nizam buru-buru mematikan panggilannya karena merasa sudah lelah dengan berulangkali mencoba namun tetap saja tidak ada respons. Nizam menaruh handphone di saku celananya dan segera duduk di salah satu kursi yang berderet rapi di dekat kasir.


"Aku pesan Cappucino panas seperti biasanya. Sedikit gula." pinta Nizam yang berusaha mengendalikan perasaannya. Kenapa ia baru sadar bahwa dia mengadakan pertemuan di kafe Santuy.

__ADS_1


Seandainya benar-benar terjadi, bukankah gadis di depannya ini akan mengetahuinya? Tapi, apakah dia akan peduli? Bukankah Nina juga memiliki laki-laki spesial di hatinya!?


Pemikiran yang sepihak selalu membuat Nizam tak berdaya. Mungkin ini waktu yang tepat untuk menentukan sikap dengan secara logika. Ia sudah memiliki seorang tunangan, pasti lambat laun ia akan bersama pasangannya. Dan semua orang pasti akan tau, begitu pun dengan Nina.


Jika memang ia tidak bisa mendapatkan Nina, bukankah ia juga berhadak hidup dengan siapa saja. Kenapa ia jadi takut pada dirinya sendiri yang mengutamakan perasaan seseorang yang telah melumpuhkan hatinya, padahal dia dengan jelas mengatakan bahwa ada seseorang yang sangat spesial di hatinya. Dan itu bukanlah dirinya.


Sungguh, Nizam merasa bodoh. Ini perasaan pertamanya kepada lawan jenis. Dan ia tidak punya pengalaman khusus seperti Hendra yang memang sudah ahli dalam bidang urusan percintaan dengan kaum Hawa.


Nina yang menegerti dengan apa yang diinginkan Nizam melangkah pergi untuk memberitahukan Bartender yang bertugas membuatkan minuman yang dipesan Nizam. Nina kembali lagi setelah pesanan yang diminta oleh Nizam siap untuk disajikan.


"Ini, Kak. Silahkan." Nina menaruh gelas yang berisi minuman panas itu dengan tangan yang bergetar karena menahan perasaannya sendiri. Meskipun sudah beberapakali bertemu, tapi ia selalu dibuat deg-degan jika berada di dekat laki-laki yang sejak semalam ada dalam benaknya.


Sontak tangan Nina yang terkejut menghempas kuat telapak tanganya sendiri, berharap rasa panas itu hilang. Namun, air itu sudah berhasil membasahi sebagian kulit Nina dan langsung membuat permukaan kulitnya memerah.


Nina berteriak kecil serta meringis menahan panas dan rasa perih yang menjalar di permukaan tangannya. Ia langsung meniup kulitnya ynag diiringi oleh desisan yang terus terdengar karena menahan perih yang mulai menyerang.


Nizam yang saat itu sangat terkesiap dengan kejadian yang begitu cepat dan tidak sempat menolong Nina. Dengan gerakan secepat kilat Nizam membawa Nina mendekati wastafel yang berada di ujung ruangan.


Dengan sigap Nizam meraih tangan Nina dan nenyalakan kran untuk mengguyurkan air pada kulit Nina yang terkena air panas barusan. Nina hanya mengaduh pelan saat kulit tangannya itu terkena siraman air dingin. Rasa panas yang semula ia rasakan berangsur pudar namun berganti dengan rasa nyeri dan pedih.


Kepanikan sangat tampak di raut wajah Nizam saat melihat Nina sedang mengalami kecelakaan kecil tersebut. Hatinya yang mendadak kebas saat wanita yang ia cintai itu merasakan kesakitan.

__ADS_1


Nina juga dibuat tidak percaya dengan apa yang dilakukan Nizam kepadanya. Padahal air panas yang mengenai kulitnya itu tidak seberapa parah, meskipun tetap saja rasa sakit dan pedih itu terasa.


Kekhawatiran itu jelas bisa ia baca. Dan itu membuat Nina merasa berbunga-bunga. Namun, saat ia menyadari bahwa dirinya sudah memiliki calon suami, Nina menarik tangannya dan mencoba menjauh dari tubuh Nizam yang sedari tadi sangat dekat dengannya bahkan tubuh mereka hampir menempel.


Nizam yang menyadari itu langsung meminta maaf dan mematikan kran serta merapikan jas untuk mengalihkan tampamgnya yang panik. Ia jadi merasa Nina ingin menghindarinya.


"Maafkan aku. Tadi aku panik, dan itu akan aku lakukan kepada siapa saja yang ada di hadapanku. Termasuk dirimu." mencoba mencari alasan yang tepat agar Nina tidak menyadari perhatian yang benar-benar ia lakukan untuk Nina.


"Nggak apa-apa, Kak. Nina malah berterima kasih karena Kakak langsung bertindak untuk menyiram kulit Nina dengan air. Kalau tidak, kulit Nina pasti melepuh." sembari meniup punggung tangan yang memerah, Nina menanggapi ucapan Nizam.


"Kulitmu harus diberi salep, biar tidak semakin parah. Apa di sini ada kotak obat," tanya Nizam lalu berjalan menuju meja kasir, dan kebetulan di sana ada karyawan yang lain. Nizam meminta salep untuk kulit Nina yang semakin terlihat memerah. Untung saja tidak sampai melepuh.


Kasir yang sekigus juga tean Nina itu meirik Ke arah Nizam yang sangat terlihat perhatian kepada Nina. Wanita yag sekitar umur 25 tahun itu tersenyum simpul menatap wajah tampan yang terlihat dingin tapi bersikap hangat tersebut.


Nizam mengambil salep yang diberikan kasir itu dan mengajak Nina duduk serta mengoleskan salep tersebut. Dengan sangat hati-hati Nizam meratakan salep yang terasa dingin itu ke semua kulit yang memerah dengan sesekali meniupnya.


Nina tercengang melihat kenyataan yang terjadi. Baru kali ini ia dan Nizam berinteraksi sampai menyentuh satu sama lain. Jangan lagi ditanya soal jantung yang sedari tadi bertalu-talu bagainkan gendang. Nina sampai lupa pada sebuah pertemuan yang seharusnya ia perhatikan dan menunggu tunangannya itu.


.


. BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2