Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Shock


__ADS_3

Nizam menghentikan mobil, dia diam dan melihat sekelilingnya, di sana tidak ada rumah hanya ada sebuah gang yang cukup di masuki satu mobil itupun dengan jalan yang masih berantakan.


" Rumah saya masih beberapa meter ke dalam, dan tidak seberapa jauh dari sini." kata Nina seakan menjawab isi pikiran Nizam sekarang.


" Berhenti mengucapkan kata saya, Anda dan sebagianya. berucaplah seperti Zizi kepadaku karna aku terlalu risih dengan kata-kata itu." tegas Nizam yang masih dengan muka datarnya.


" Kenapa ada manusia seperti ini, Maksudnya sih baik kali ya, tapi sikapnya itu yang membuat ku tidak mengerti. Kenapa ada orng yang sedingin ini, huffffff." gumam hati Zizi yang tidak bisa mengartikan sikap Nizam.


" Baik " Jawab Nina sambil membuka handle pintu, Namun sekilas kemudian menoleh ke arah Nizam yang masih fokus dengan tatapan ke depan.


" Terimakasih Kak sudah mengantarkan Nina pulang, Hati-hati dijalan Assalamu'alaikum."


Ucap Nina seraya membuka pintu dan menutup nya.


Nina berlalu dari mobil Nizam menuju gang rumahnya serta berjalan secara perlahan tanpa menoleh lagi ke belakang.


Pandangannya fokus ke depan menyusuri jalan bebatuan yang selalu ia tapaki setiap hari, Nina ingin cepat-cepat sampai ke rumah agar Ayah dan Ibunya tidak kepikiran.


Sedangkan Nizam yang hanya menjawab Salam Nina dalam hati diam seribu bahasa.


Dia menyatukan kedua tangan di atas kemudi dan menjatuhkan mukanya di atas setir bundar itu.


" Aaaaaarrrgggg"


Kenapa sikap ini sukar ku taklukkan, kenapa hati dan tindakan ini tidak bisa aq selaraskan." Geram Nizam pada dirinya sendiri yang tidak mampu bersikap baik kepada wanita yang mampu mengganggu fikirannya akhir-akhir ini. Namun ia terlalu gengsi untuk menunjukkan nya , apalagi pembawaan sikap dinginya yang dari orok sukar untuk ia rubah kecuali terhadap Mama dan Adiknya.


Nizam memajukan mobil sedikit kedepan,


dia mensejajarkan mobil ke arah gang yang Nina lalui, guna menjangkau arah pandang nya untuk melihat pergerakan Nina dan memastikan kalau wanita yang dia antar sampai ke tujuan.


Benar saja, dari jauh Nizam bisa melihat Nina masih berjalan dengan gontai dan akhirnya berbelok ke kiri menuju sebuah rumah yang ia yakini itu rumahnya.


Nizam berlalu pergi serta melajukan mobilnya memecahkan jalanan ibu kota yang sedikit lengang.


Beberapa menit kemudian dia sampai ke Restaurant yang bernuansa timur tengah itu,


Nizam memarkirkan mobil yang biasa dia tempati sebagai seseorang yang memiliki tempat itu.


Semua pelayan Resto yang mengetahui kedatang Boss besarnya langsung menunduk hormat sebagai tanda penyambutan.

__ADS_1


" Selamat malam Tuan Nizam." Sapa pelayan membukakan pintu untuk majikannya.


Nizam berhenti sejenak setelah pintu itu di tutup, seraya bertanya kepada pelayan yang bertugas menyambut para pelanggan.


" Apa Hendra sama Arif sudah datang mbak?" tanyak Nizam penuh wibawa pada pelayan yang berjenis kelamin wanita itu.


" Sudah tuan, mereka menunggu anda di tempat biasanya." Jawab pelayan sambil menunjukkan arah yang ia maksudkan.


" Baiklah." suara Nizam yang mengakhiri percakapan nya.


Nizam melangkah masuk ke dalam ruangan itu menuju ke tempat teman-teman nya berada.


Aroma rempah-rempah yang tercipta dari masakan khas Arab itu membuat Nizam tidak tahan untuk menikmatinya, perutnya yang sedari tadi di tahan sudah tidak mampu membayangkan betapa lezatnya Nasi kebuli beserta pelengkanya itu.


Hingga membuat dia berjalan agak lebar agar bisa cepat menyantap sajian yang sudah ada di benaknya.


Nizam membuka pintu dan mengucapkan salam kepada ke dua temannya, Arif dan hendra berdiri bersamaan untuk menyambut Nizam yang baru datang.


" Hai bro, Apa kabar?" Suara keduanya bersamaan sambil merangkul bahu Nizam.


" Baik mennn" jawab Nizam sambil mengepalkan jemarinya yang di ikuti keduanya serta menyatukan kepalan itu ke masing-masing tangan sebagai salam persahabatan mereka.


Lalu mereka duduk memposisikan diri masing-masing.


" Iya sih, gue sibuk ngurus cabang di beberapa kota Hen, sejak kejadian itu hanya kesibukan kerja yang gue lakukan agar bisa mengalihkan semuanya dan belajar keluar dari Zona panas ini".


Saut Nizam sambil meraih perlengkapan makan dan menaruh beberapa menu di piringnya yang sudah siap di atas meja.


Di sana sudah ada Nasi kebuli, kebab gulai kambing, Nasi tomat dan menu andalan lainnya.


" Gitu dong Zam, kenapa dari dulu tidak loe coba seperti itu." timpal Arif yang mendukung usaha sahabatnya menuju kesembuhan.


Arif yang sejatinya masih saudara sepupu sama Nizam tidak tabu lagi dengan apa yg terjadi di keluarga Al-Gazali.


Tidak ada rahasia di antara tiga sahabat itu.


Dan kejadian di hotel waktu dulu sudah ia ketahui dari hendra.


" Sudahlah Rif jangan bahas itu lagi, tugas loe cuma mensupport dan membantu gue." seloroh Nizam sambil menyuapkan sendok yang sudah terisi makanan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


" Aku suka dengan kemajuan loesekarang bro, kalian tidak tau saja betapa nikmatnya bercinta dengan kaum hawa, nanti kalau kalian sudah merasakannya pasti ketagihan hahahahaaa."


Ujar Hendra yang diiringi gelak tawanya.


Hendra yang memiliki sifat palyboy namun masih ada batasan dalam kegiatan fisik, dan kata-kata yang ia lontar kan hanya bualan dan candaan semata agar terlihat keren di mata para sahabatnya.


" Huuuuu, kayak loe pernah aja" Nizam dan Arif menonyor kepala Hendra bersamaan.


" Gelar saja Playboy dan suka gonta ganti pacar. tapi sampai sekarang gak laku-laku, apa bedanya sama kita-kita. Iya gak Zam?" ledek Arif yang mendapat respon dua jempol dari Nizam yang di arahkan pada keduanya tanda ia sangat setuju.


" Masih pilih-pilih Bro, cari yang pas di hati dan kalo bisa cari daun muda biar gue tidak terlihat tua meski sudah kepala tiga, Iya gak?" canda Hendra sambil menaik turunkan kan kedua alisnya".


Hendra yang memang terkenal humoris darivpada Nizam dan Arif selalu saja bisa menghidupkan suasa nina tampak lebih rame.


" Halah alasan saja loe hen, bilang saja tidak laku, kalau gue sama arif kan memang sibuk kerja di tambah lagi gue yang seperti ini."


Ujar Nizam sambil menghabiskan sisa makannya.


" Benar tu Zam Mulut aja koar koar tapi kenyataan Zonk. hahahaaa," gelak tawa ketiganya menggema di ruangan itu mendengar perkataan Arif yang 100% benar.


Mereka bertiga bercekrama dan bertukar obrolan tentang pekerjaan dan sebagainya.


Arif yang pusing dengan segudang pasiennya, Hendra yang sibuk dengan pabrik textil warisan keluarnya dan Nizam yang juga di repotkan oleh pembukaan cabang-cabang Resto yang semakin menjamur di dalam maupun luar Kota.


" Loe mah enak Zam masih ada randy yang menghandle semuanya sebagai orang yg bisa di andalkan.Lah kalau kita siapa hayo,Iya gak Rif?" ujar Hendra.


" Betul sekali tu hen".


" Gue mau nanyak sama loe Rif, sebagai doktet loe pasti faham," tanyak Nizam di tengah-tengah obrolan mereka.


" Nanyak apaan sih Zam serius amat." timpal arif sambil menyesap jus jeruk di depannya.


" Kalau jantung kita berdebar di saat kita bertemu dengan seorang wanita itu sakit atau Normal gak sih?" tanya Nizam santai sambil memainkan benda pipih di tangannya.


" What's." suara keduanya yang shock mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Nizam.


Bersambung......


Hai....Apa kabar semuanya, semoga kalian semua selalu di berikan kesehatan dan kesejahteraan aminnn🤲

__ADS_1


Selalu setia sama karya fahad ya, dan jangan lupa like, rite, vote serta commetnya ya...biar fahad tambah semangat dalam menulis.


SALAM HANGAT DARI FAHAD🤗


__ADS_2