Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Hanya Melisa Yang Memutuskan


__ADS_3

Dengan langkah gontai Nizam menuju kearah adiknya sesaat setelah menutup mobil serta membawa barang yang perlu ia bawa ke kamar pribadinya. Zizi yang sedari tadi hanya senyam-senyum sambil bergelayut santai pada pegangan pintu namun tubuhnya tetap berdiri dan tidak menghampiri Nizam yang berjalan mendekat ke arahnya.


Nizam jadi gemas dan ingin menjitak dahi adiknya tersebut yang tersenyum penuh tanda tanya, hingga ia tidak sabar untuk bertanya. Apa gerangan yang membuat adiknya itu gila mendadak di tengah suasana hujan yang mendera, tiba-tiba ide usil terlintas dalan fikirannya.


"Jangan bilang kau kesurupan ya Dek, hujan-hujan begini senyam-senyum penuh misteri!" Ledek Nizam dengan senyum seraya berusaha mendorong pintu sebelahnya, karna satu pintu sebelahnya lagi penuh terisi penuh oleh tubuh Zizi yang sepertinya tidak mau pergi dari sana, yang mungki sedang menikmati suasana gilanya, itu menurut Nizam.


"Hais, Kakak ini ya! memang rumah ini angker, hingga kesurupan itu terjadi padaku!" Zizi merengut kesal seraya mengikuti langkah kaki Nizam menuju ke ruang keluarga, yang sebelumnya dia sudah menutup pintu karna hawa dingin yang mulai terasa menyergap ke dalam tubuh.


"Aku mendapatkan kabar bahagia, Kak. Makanya aku senang dan bawaannya ingin selalu tersenyum, hehehe." lanjut Zizi menjelaskan, karna ia tidak terima di katain kesurupan oleh kakaknya tersebut.


"Memang kabar apa yang membuatmu senang?" Tanya Nizam penasaran sambil memberikan barang-barangnya kepada pembatu yang baru saja keluar dari arah dapur.


"Bi, tolong taruh di kamar atas ya," pinta Nizam yang langsung mendapat anggukan dari sang asisten rumahnya tersebut.


Sebelum Zizi sempat menjawab pertanyaan Nizam, kedua orang tuanya keluar dari arah kabar yang terletak di lantai bawah.


"Zam, kau sudah pulang Nak?" Tanya Bu Zainiyah seraya menduduki kursi yang di susul oleh suaminya. "Iya Ma, ini baru mau duduk." Nizam menjawab seraya mengikuti sang ayah yang juga duduk di sebelahnya. Jangan tanya soal Zizi yang sedari tadi tersenyum tiada henti hingga Nizam mengernyit bingung atas tingkah adiknya tersebut.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Zizi seperti itu, sejak kedatangan orang tuanya tadi siang yang menceritakan pokok masalah tentang perjodohan Nizam dan anak sahabat mamanya itu di setujui. Zizi merasa bahagia dan tidak ingin berhenti tersenyum mewakili suasana hatinya yang gembira. Namun, Pak Alkaf dan Bu Zainiyah tidak menjelaskan secara detail tentang apa yang di perbincangkan tadi bersama keluarga Pak Anton. Mereka berfikir, Nizamlah orang pertama yang harus mereka beri tau.


Sebelum Nizam bertanya tentang senyuman Zizi yang menurutnya aneh, suara Pak Alkaf tiba-tiba mendahului untuk mengawali pembicaraan yang serius tersebut.


"Zam, tadi papa dan mama sudah membicarakan perihal perjodohan itu kepada Anton dan Indah, mereka menyetujui perjodohan ini. Tapi ....!" Pak Alkaf menjeda ucapannya seraya meneliti reaksi Nizam diam tanpa ekspresi.


"Tapi apa, Pa?" Celetuk Zizi menjadi orang pertama yang tidak sabar mendengarnya. Sedangkan Nizam saja masih diam tanpa berkata-kata.


" Zi, diam. Biar kakakmu yang bersuara dalam hal ini," Bu Zainiyah menarik tangan anak gadisnya mengisyaratkan jangan ikut campur sebelum papanya selesai bicara.


"Anton dan Indah memang setuju. Namun keputusan ada pada Melisa, Zam! karna ini menyangkut masa depan Melisa. Jadi kita harus menunggu Melisa pulang baru kita akan menanyakan langsung kepada dia!" Tutur Pak Alkaf yang masih sedikit resah. Pak Alkaf sudah pasrah akan keputusan Melisa, apapun itu.


"Kapan Melisa datang, Pa?" tanya Nizam seraya melemaskan punggung nya ke sandaran sofa yang sedikit membantu rasa pegal di area punggung nya.


"Mungkin lusa dia sudah datang, nanti Indah pasti bilang sama papa kalau Melisa sudah datang." Pak Alkaf mencoba membaca wajah Nizam yang datar dengan tubuh yang setengah merosot menyandarkan tubuhnya. Tapi ia sulit menebaknya.


"Apa Mama sama Papa yakin, kalau Melisa bakal menerima ku, Pa? Papa tidak menutupi apapun soal aku terhadap Om Anton, kan?" desah Nizam setelah menanyakan sesutu yang sudah jelas orang tuanya tersebut juga tidak tau jawabannya.

__ADS_1


"Tentu, papa sama mama tidak menutupi semuanya, Nak. Bahkan Papa tidak pernah berniat untuk berbohong sedikutpun terhadap Anton. Papa ingun semua di mulai dengan kejujuran dan keterbukaan, agar hasil baik yang akan kita dapatkan, walaupun mungkin kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan." Ungkap Pak Alkaf menyakinkan Nizam, bahwasanya ia sudah berlaku sesuai keinginan Nizam.


"Ya sudah, Nizam ke kamar dulu Pa, Ma. Nanti kabari aku kabar selanjutnya!" Dengan menggerakkan tubuh untuk berdiri Nizam melangkah ke arah tangga yang membawanya menuju kamar untuk merebahkan tubuhnya.


Tapi, sebelum ia benar-benar meninggalkan papa dan mamanya serta sang adik yang terlihat muram setelah mendengar secara detail permasalahan yang sebelumnya menjadi sumber kebahagiaan nya hingga kesurupan setang senyam-senyum menurut Nizam. Dasar anak itu, belum tau yang sebenarnya sudah bahagia duluan. Kecewa kan, karna angannya tidak semua benar. Zizi, Zizi. sungguh adik yang mengemaskan.


"Pa, kalau Papa dan Mama menemui Melisa, Nizam akan ikut. Nizam juga perlu bicara dengannya!" Setelah berkata Nizam langsung naik ke lantai atas dengan langkah tubuh yang tidak bersemangat.


"Baiklah, Nak!" Kini Bu Zainiyah yang menjawab sedikit keras karna Nizam sudah agak jauh melangkah. Namun masih terdengar samar di telinga Nizam.


" Ma, Pa. Aku pikir sudah berjalan mulus saat tadi siang Mama bilang kalau Tante Indah dan Om Anton menyetujui perjodohan ini." Akhirnya Zizi tidak sabar untuk bertanya, karena sejak tadi dia hanya diam setelah mamanya itu menegurnya.


"Zi, kalau seandainya kakak mu laki-laki normal tanpa kelainan, mungkin kata mulus yang kau ucapkan tadi akan terlaksana. Kamu tau sendiri kan keadaan kakakmu bagaimana! Jadi Mama dan Papa sangat memaklumi sikap Tante Indah untuk menyerahkan semua keputusan terhadap Melisa. Sekalipun kakakmu normal, memang seharusnya sikap orang tua seperti Tante Indah, yang menyerahkan semua keputusan kepada anaknya. Karna menikah itu tujuan hidup seorang anak, jadi mereka juga punya hak penuh untuk memutuskan hidup mereka bersama siapa, bukan hanya kita sebagai orang tua! Tugas kita sebagai orang tua hanya mengarahkan saja, Zi!" Nasehat Bu Zainiyah menjelaskan kepada anak gadisnya itu berharap Zizi bisa mengerti.


Zizi akhirnya mulai membenarkan apa yang di ucapkan Mamanya setelah ia mencerna dengan baik apa makna yang terkandung dari nasehat sang mama tercinta.


"Sudah sana, mandi. Sudah jam segini bajumu masih yang tadi pagi. Pasti belum mandi kan? Bau asem." desak mamanya menyuruh Zizi agar membersihkan dirinya sebelum malam tiba.

__ADS_1


__ADS_2