Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Salah Paham


__ADS_3

"Kak. Apa Kakak mau minum atau makan sesuatu?" tanya Nina yang saat ini sudah naik ke atas tempat tidur. Meski awalnya ragu, namun wanita itu nyatanya harus tetap berada di sana karena statusnya sebagai seorang istri.


Malu dan gugup tentu saja ia rasakan. Namun, tanggung jawab menjadi istri shalihah harus menguatkan nyali serta mampu mengalahkan rasa malunya.


"Tidak! Lebih baik kita beristirahat. Kamu pasti sangat lelah karena menjalani pesta ini selama seharian penuh," ujar Nizam.


Bukan berniat sok tak peduli atas perhatian gadis yang kini sudah menjadi wanita halalnya. Namun, berbagai pertanyaan masih menari-nari serta menyumpal benak Nizam.


Ia tentunya tak percaya, jika wanita yang selama ini mencairkan kebekuan hatinya, menjadi satu-satunya yang mampu membuat Nizam jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Ia sungguh tak percaya dengan takdir ini kalau memgingat usia Nina.


Masih terekam jelas percakapannya dengan Zizi waktu dulu, yang menganggap usia adiknya itu masih kecil serta meremehkannya. Bagi Nizam, usinya yang sudah sangat dewasa bagi gadis seusia Nina, dan itu sangatlah tidak pantas dilihat!


Bahkan, dirinya dulu dengan tegas menolak mentah-mentah usaha sang adik dalam menjodohkannya dengan anak SMA.


Namun sekarang, hatinya malah terjerat pada Nina yang juga berusia tidak jauh dari Zizi. Bagai manusia yang menjilat ludahnya sendiri akibat perkataan itu. Sebenarnya, Nizam malu jika seandainya Zizi masih mengingat hal itu. Semoga adik usilnya itu terus lupa, kalau tidak, habislah dia!


Nizam masih tak percaya akan fakta serta kenyataan ini. Meski di dalam hatinya sangat, sangat berbahagia atas takdir yang Allah berikan kepadanya.


Ternyata, doa yang terselip di antara keraguan diijabah oleh Allah tanpa ia bayangkan sekalipun. Padahal, di saat Nizam mengambil keputusan atas pilihan sang orang tua dalam menjodohkan dengan anak temannya tersebut, ia sudah pasrah seratus persen. Ia siap mencoba lembaran baru dengan wanita yang sama sekali tidak ia kenal. Mungkin, itu lebih baik daripada melihat kedua orang tuanya yang terus kecewa terhadapnya. Dan ia berniat melupakan cinta terpendam pada Nina waktu itu


Namun, siapa yang dapat menebak takdir? Yang kini malah seakan mempermainkan dirinya kali ini. Ia kini menikah dengan wanita yang selama ini didambakannya. Ternyata, teman orang tuanya selama ini adalah keluarga Pak Anwar. Keluarga yang akhir-akhir ini mulai dekat dengan dirinya.


Tapi, masalah besar itu sekarang menjadi beban pikiran Nizam. Yaitu, apakah Nina juga tahu, jika pria yang dijodohkan orang tua mereka itu adalah dirinya?


Nizam penasaran, tetapi ragu untuk menanyakan hal tersebut. Mengingat, keadaan canggung masih menjadi jarak di antara mereka berdua.


Nizam mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tamaran, membuat kamar itu terlihat redup dengan pandangan remang-remang.


Seharusnya, malam ini adalah malam sepesial yang penuh sejarah bagi pasangan yang baru menikah. Tapi, tidak dengan Nina dan Nizam yang sama-sama larut dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


Nina sejak tadi berusaha keras menormalkan detak jantungnya yang berpacu tak sesuai ritme, dikarenakan benaknya pun juga masih tak habis pikir dengan kenyataan.


Jadi, selama ini ia begitu dekat dengan Nizam. Tetapi jarak ketidaktahuan di antara merekalah yang menjadi penyebabnya.


"Ehem!" Suara Nizam terdengar mendominasi setelah beberapa menit berlalu.


"Nin," seru Nizam.


"Iya, Kak," sahutnya, masih diam dengan posisi miring seperti sebelumnya.


Tempat di sebelah Nina terasa bergerak dan membuatnya semakin deg-degan tak karuan. Apa yang akan suminya lakukan? Apa dia meminta haknya sebagai seorang suami sekaranng? Pikiran Nina malah berlarian ke mana-mana.


Bukannya tidak mau, tetapi ia masih belum siap menerima kedaan ini yang begitu mengejutkan.


"Bolehkah aku bicara?" Pada akhirnya Nina berbalik, menghadap sosok yang telah duduk di sebelahnya.


Gadis itu pun menarik tubuhnya untuk duduk , supaya bisa sejajar dengan Nizam yang terlihat bingung.


Sekamar dengan seorang pria membuatnya salah tingkah dan tak nyaman. Padahal Nizam adalah suaminya, dan kecanggungan itu memang tidak bisa terelakkan oleh keduanya.


"Emm ... sejak kapan kamu memakai hijab?" Entah kenapa pertanyaan konyol itu berada diurutan pertama. Padahal semestinya, ia menanyakan sesuatu yang paling penting. Yaitu, apakah Nina tahu jika pria yang dijodohkan dengan gadis di depannya ini, adalah dirinya?


Meskipun keterkejutan tadi siang sudah menunjukkan, jika Nina sama terkejutnya dengan dirinya, entah kenapa Nizam masih penasaran akan hal itu sebelum mennayakan langsung pada yang bersangkutan.


"Hah!" Nina terlihat mengernyit. Dia berpikir jika Nizam akan menanyakan sesuatu yang serius.


"Emm, sejak hari ini Kak. Nina sudah berjanji pada diri Nina sendiri, jika seandainya Nina memiliki suami, Nina akan belajar menggunakan hijab dan itu sudah Nina lakukan tadi pagi. Doakan Nina istiqomah," ujarnya pelan.


"Ya!" Jawaban yang singkat.

__ADS_1


Hening.


"Nin, apa sebelumnya kamu tau, jika pria yang dijodohkan oleh orang tuamu adalah aku?"


Jedaaarrr


Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dan Nina yang sama-sama penasaran akan hal ini memiliki kesempatan bertanya balik.


Nina menggeleng sebagai jawaban. " Apa Kakak juga tau, jika akulah calon istri Kak Nizam?"


Kini, giliran Nizam yang menggeleng. Ternyata, keduanya dipertemukan di atas pelaminan tanpa unsur kesengajaan dan itu membuat mereka tak percaya.


"Jadi, calon Kakak yang Kak Nizam maksud pilihan orang tua Kakak, adalah Nina?" Bertanya dengan menunjukkan dirinya sendiri.


Nizam mengangguk dengan membunag muka di saat tatapan keduanya bertemu, hatinya tidak kuat untuk menatap mnik mata itu lebih lama. Ia takut tenggelam. Apalagi, mereka kini berada di dalam satu kamar dan terlalu dekat begini.


Kecanggungan panjang itu pun kembali menerjang keduanya, sama-sama membisu tnapa tahu apa yang harus mereka ucapkan


Perasaan saling suka dan pada akhirnya menjadi cinta itu membuat Nizam dan juga Nina salah tingkah.


Tetapi, baik Nizam dan Nina memiliki pemikiran sendiri terhadap pasangannya.


"Apa kamu tidak terpaksa menerima perjodohan ini?" tanya Nizam lagi, ingin menggali lebih dalam keseriusan Nina dalam menjalani rumahtangga.


Nizam.masih mengingat, jika gadis di depannya ini sempat memiliki perasaan pada seorang laki-laki yang sepertinya tidk kesampaian. Dan, mungkin Nina sekarang terpaksa menikh dengannya.


"Tidak, Kak! Karena sejak awal bapak mengatakan perjodohan ini yang datang dari orang tua Kakak, Nina mencoba ikhlas. Orang tua Kakak sudah berjasa besar akan kelangsungan ekonomi keluarga Nina, jadi mana mungkin Nina mengecewakan mereka. Sekalipun Nina tidak tahu seperti apa putra mereka, Nina yakin jika pria itu laki-laki yng baik seperti orang tuanya."


Ungkapan Nina sungguh-sungguh dengan perasaannya selama ini, sekalipun waktu itu telh menyerah atas perasaan cintanya pada Nizam yang hanya akn ia jadikn kenangan.

__ADS_1


Namun, Nizam yang mendengar setiap kata yang terlontar dari Nina malah berpikir lain. Ia merasa Nina mau menikah dengannya lantaran rasa balas budi terhadap papa dan mamanya. Nizam bergeming seraya melihat lekat Nina saat ini.


Entah kenapa ungkapan itu seakan menyadarkan dirinya tentang satu hal, yaitu perasaannya yang bertepuk sebelah tangan. Padahal, mereka sama-sama salah paham.


__ADS_2