
Bu Zainiyah tidak bisa berbuat apa-apa saat Nizam kekeh ingin pernikahannya dimajukan. Sudah berulang kali ia menanyakan apa alasannya, tapi Nizam hanya memberikan satu alasan. Yaitu ingin segera memiliki istri.
Setelah memikirkan matang-matang. Bu Zainiyah berembuk kepada sang suami, akhirnya Ia dan juga Pak alkaf memutuskan untuk segera memberitahukan jadwal pernikahan dimajukan menjadi lusa kepada keluarga Pak Anwar.
Bu Zainiyah juga butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya. Meskipun acaranya tidak mewah, tapi ia ingin yang terbaik untuk pernikahan anak pertamanya tersebut. Keluarga Pak Anwar memang yang meminta untuk tidak mengadakan acara besar-besaran, cukup sederhana namun bermakna.
Hari itu, semua persiapan sudah sempurna. Taman hotel bintang lima disulap menjadi taman bunga pun terlihat sangat indah. Berbagai wangi dari jenis bunga pun semerbak memenuhi penciuman yang hadir di sana. Pernikahan yang dilakukan outdoor itu berkesan simple tapi elegan. Kursi-kursi putih yang sudah dihiasi pun menjadi pelengkap di sana.
Untaian kain pemanis juga tak luput sebagai pelengkap dekorasinya. Kursi tunggal yang hanya cukup untuk dua orang menjadi pemandangan yang sangat mencolok. Karena itu memang simbol sebagai kursi pengantin di pesta tersebut. Tidak banyak yang diundang oleh Keluarga Al-gazali. Cuma meliputi kerabat terdekat dan keluarga besar saja.
Apalagi Nizam, dia sama sekali tak mengundang siapa-siapa. Kecuali Arif dan Hendra. Nizam yang saat ini ditemani Arif dan Hendra sudah berada di sebuah kamar hotel yang berbeda dengan calon pengantin wanita. Nizam yang terlihat sangat tampan dan gagah semakin berkarisma dengan baju pengantin yang ia kenakan.
Tuksedo yang berwarna navy itu senada dengan celananya saat ini. Kemeja putih di dalamnya serta dasi kupu-kupu turut memperkuat aura Nizam yang berkali-kali Lipat. Rambutnya yang gondrong diikat rapi ke belakang. Minyak rambut yang sangat mengkilap juga tak luput dari tangan-tangan profesional yang merias Nizam.
Di kamar itu hanya ada dirinya, Arif serta Hendra. Setelah orang make up yang sedari tadi membantunya berhias pergi. Kedua sahabatnya itu tak henti-hentinya menggodanya sampai rasanya ia ingin menendang mereka berdua dari dalam sana.
"Wah, ternyata dari kita ada juga yang laku. Selamat mengangkhiri masa tua sobat." Hendra berkata sambil tertawa. Ingin rasanya menutup mulut Hendra dengan lakban agar bisa diam.
"Zam, jangan lupa ya, nanti ceritakan malam pertamu sama kita. Kita kan juga butuh wawasan untuk menghadapi malam pertama kita kelak," ledek Hendra lagi. Arif hanya tersenyum tiada henti.
Dibandingkan Hendra, Arif memang sedikit pendiam. Tapi juga sering usil kepada Nizam. "Yang ada di pikiranmu hanya soal itu-itu saja." jutek Nizam tanpa melihat Hendra.
__ADS_1
"Kita kan ingin tau kemampuan singa jantan yang terkenal paling galak di antara kita. Iya ngak, Rif?" lanjut Hendra seraya melirik Arif, meminta persetujuan dengan wajah tengilnya.
"Yup, benar! Aku jadi penasaran, bagaimana jika nanti kau mengetahui calon istrimu seperti apa. Selama ini kan, kau selalu mengabaikan pertemuan dengan calon istrimu. Bahkan Nizam memilih pekerjaannya saat acara pertunangan itu dilakukan. Seandainya aku yang menjadi dirimu, aku akan menunda semua pekerjaan demi pujaan hati."
Akhirnya Arif pun bersuara. Dia tidak tahan ingin menggoda Nizam juga. Tapi naas, sepertinya dia salah bicara. Pandangannya menemui Nizam yang seketika menatapnya tajam. "Apa maksudmu dengan pujaan hati?" tanya Nizam penasaran dengan kata-kata terakhir Arif.
Hendra menendang pelan kaki Arif. Arif yang merasa sudah keceplosan buru-buru mengalihkan percakapan. "Maksud aku, bukankah seorang istri akan menjadi pujaan hati suaminya. Oh iya, apakah setelah menikah kau akan tinggal di rumah besar?"
"Entahlah," jawabnya datar. Nizam merasa kedua sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi itu tidak penting sekarang. Yang harus ia pikirkan adalah mengahadapi moments sakral yang sebentar lagi akan ia lakukan.
Entah kenapa ia merasa deg-degan dengan pernikahannya ini. Padahal ia sendiri yang meminta untuk segera menikah. Meskipun wanita yang akan menjadi istrinya nanti tidak penting baginya, ada rasa gugup yang menyelinap saat membayangkan dirinya menjadi seorang suami kelak.
Hendra dan Arif sesaat terdiam saat menangkap raut gugup di wajah Nizam. "Tenang, semuanya akan berjalan lancar." Arif menepuk pundak Nizam, menyalurkan sebuah dukungan.
"Iya, Zam. Ini juga akan terjadi pada kita berdua. Nikmatilah detik-detik kegugupanmu, karena kau tidak akan lagi merasakan perasaan yang seperti ini." Hendra menimpali yang langsung mendapat lirikan tajam dari Nizam.
"Sejak kapan kau menjadi puitis?" tanya Nizam merasa cegah dengan setiap kata yang keluar dari mulut Hendra yang penuh dengan gurauan.
Hendra tertawa pelan. Sahabatnya itu suka emosi jika sedang gugup. "Semua laki-laki akan berada di posisimu saat ini. Tak terkecuali kita. Jadi santai saja, jangan tegang. Tegangnya saat bersama kakak ipar saja."
Seketika bantal kecil melayang ke arah Hendra karena Nizam tidak tahan lagi mendengar ocehan ngawur sahabatnya. Arif dan Hendra tertawa terpingkal-pingkal melihat Nizam yang terliat kesal. Senang sekali rasanya mengerjai Nizam sampai dia emosi jiwa.
__ADS_1
Ketiganya tiba-tiba berhenti bicara saat terdengar suara pintu diketuk."Kakak, apa kau sudah siap? Acara akan segera dimulai. Kakak disuruh segera turun!" suara adiknya yang seakan memekakkan telinga itu terdengar sangat nyaring.
"Masuk, Zie! Kakakmu sudah siap kok." sahut Hendra dari dalam.
Pintu mengayun lebar ynag disusul oleh tubuh gadis mungil yang cantik dengan gaun berlengan pendek. "Hai, Kakakku yang pada jomblo. Ups, salah.Sebentar lagi Kakakku yang ini tidak akan jomblo lagi."
Zizie yang langsung bergelayut manja di lengan Nizam dengan senyum lebarnya. "Enak saja jomblo. Kakak sudah punya kekasih. Tinggal kawinnya saja belom. Arif tuh yang jomblo sejati." Hendra tak terima dengan ejekan gadis tengil di depannya.
"Kau itu kawinnya sudah berkali-kali, nikahnya saja yang belum." Arif membalas Hendra
"Enak saja, aku pria baik-baik ya. Meskipun aku playboy, tapi pantang bagiku berbuat itu sebelum halal." tak terima dengan tuduhan Arif yang seakan meremehkan harga dirinya.
"Sudah, sudah! Kalian ini kalau bertemu pasti ribut. Sudah tahu kita jarang bertemu, giliran bertemu selalu berdebat." pungkas Nizam menengahi.
Ya, mereka bertiga memang seperti itu. Sering berdebat, sama-sama merasa benar dan tak ketinggalan jiwa-jiwa usil yang kerap sekali timbul jika mereka bersama. Dan justru itu yang membuat mereka solid sampai sekarang."
"Tau nih, Kak Hendra sama Kak Arif. Sama-sama jomblo juga masih berantem," Zizie lngsung menghambur keluar setelah mengatakan itu dengan terbahak karena puas. Jika dirinya masih di situ, pasti sahabat dari kakaknya itu tidak akan tinggal diam.
"Turun sekarang, Kak. Ditunggu kakak ipar." lanjut Zizie yang suara hilang dari pendengaran.
Nizam dan Hendra beserta Arif pergi meninggalkan kamar tersebut. Ketiganya menuju meja ijab kabul yang sudah tersedia. Para tamu undangan yang sudah tiba duduk di tempatnya masing-masing. Pak penghulu pun sudah duduk manis menunggu kedatangan Nizam.
__ADS_1