
Nizam meraih kunci mobil yang tadi ia letakkan di meja ruang tamu, tanpa menghiraukan kedua perempuan yang masih diam itu langsung keluar menuju garasi.
Sedang kan Zizi yang melihat tindakan Kakaknya langsung bersuara.
" Yesss" sambil tersenyum gembira
Karna usahanya berhasil.
" Ayo kak Nin" ajak Zizi sambil menarik tangan Nina lalu keluar mengikuti Nizam yang sudah siap di dalam mobil dengan mesin yang sudah menyala.
Nina hanya bisa diam dan menuruti Zizi yang dominan lebih menunjukkan sikap sebagai adik daripada teman sebayanya.
Zizi membukakan pintu mobil depan, namun Nina menolak dengan alasan tidak enak kalau duduk bersama Nizam. Zizi hanya bisa pasrah setelah berdebat begitu lama dengan Nina.
" Apakah kalian sudah selesai berdebatnya?" suara Nizam yang terdengar agak keras menghentikan keduanya.
Setelah berpamitan dan cipika cipiki Nina langsung masuk ke dalam mobil di bagian belakang.
" Dek Kakak tinggal dulu ya, jangan kemana-mana tunggu Papa sama Mama pulang awas kelayapan lagi." perintah Nizam kepada Zizi yang di sahutinya dengan anggukan kepala oleh Zizi.
" Tunggu Kak." Ucap Zizi mendekat ke arah Nizam lalu berbisik.
" Kakak hutang penjelasan sama Zizi soal kata-kata Kak Nina tadi yang di Caffe, Ok boss." jelas Zizi lalu melangkah agak menjauh dari mobil Kakaknya.
" Daaa Kakak" suara Zizi sambil melambaikan tangan melepas kepergian keduanya sampai tak terlihat karna kejauhan.
" Semoga saja ini awal yang baik buat kakak, setidaknya kakak sudah mau berdekatan sama spesis wanita, Mama sama Papa harus tau ini , mereka psti senang mendengarnya"
Gumam Zizi dalam hati yang tersenyum bahagia dengan kemajuan Kakaknya, lalu beranjak pergi ke dalam menuju kamar nya untuk mengistirhat kan tubuh lelahnya.
Di dalam mobil
Kedua manusia itu sama-sama terdiam dalam pemikiran masing-masing.
Nina yang duduk di belakang kemudi duduk dengan canggung menatap ke luar jendela di sampingnya, dia tidak berani menatap ke depan yang sejurus bisa melihat wajah tampan itu dari spion yg terletak di bagian atas di tengah-tengah mobil.
" Duh sampai kapan aku berada di suasana seperti ini sih, jantung tolong berhenti sejak jangan kau selalu berdisco seperti ini. biarkan aku tenang sejenak" guman Nina dalam hatinya yang selalu jantungan pabila bertemu dengan laki-laki di depannya.
Apalagi di posisi mereka yang hanya berdua seperti ini membuat debaran yang di miliki Nina meningkat drastis.
Hening...
" Di mana alamat rumahmu?" tanya Nizam dengan suara datarnya yang mampu memecah kesunyian.
" Di jalan XXX tuan!"
Jawab Nina agak terbata karna kaget dengan suara yang tiba-tiba mengagetkan lamunannya.
Nizam tiba-tiba menepikan mobilnya dan berhenti, yang sontak membuat Nina menegang
.
__ADS_1
Fikiran buruk yang tiba-tiba datang menyelimuti benaknya langsung reflek membuat ia mampu bersuara.
" Maaf apa yang terjadi tuan, kenapa anda berhenti di tempat sepi seperti ini?"
Ujar Nina dengan hati deg deg kan, sambil merotasikan bola matanya menyapu ke semua arah di sekitar yang terlihat sangat sunyi dengan jalan yang hanya di terangi lampu seadanya.
" Jangan berpikiran aneh, aku bukan pria yang seburuk itu." ucap Nizam seakan mengerti dengan isi fikiran Nina.
Nina langsung diam karna lontaran kata Nizam yang menohok hatinya.
" Apakah aku setua itu hingga kau memanggilku tuan, apakah aku juga terlihat seperti bapak-bapak?" Ujar Nizam yang terlihat tidak suka dengan panggilan yang di berikan gadis di belakangnya.
" Maaf kan saya, saya juga tidak tau harus memanggil anda dengan sebutan apa?" saut Nina dengan kepala menunduk.
" Pindah ke depan."
Suara itu membuat Nina mengangkat kepalanya cepat.
" Saya tuan?" tunjuk Nina kepada dirinya sendiri meyakinkan.
" Memang ada penumpang lain selain kamu?"
Suara Nizam yang sedikit meninggi membuat Nina menciut dan gelisah sambil melihat ke arah kanan dan kiri yang terlihat sepi menakutkan.
" Apakah kau mau aku terlihat seperti supirmu? Ujar Nizam sedikit geram karna wanita di belakang tidak merespon perintahnya.
" Bukan seperti itu tuan, tapi saya takut kalo harus turun dari mobil, bolehkan saya lewat sebelah sini?" tunjuk Nina ke arah celah yang ada di tengah-tengah kursi kemudi dan penumpang.
Nina yang mengerti langsung beranjak dari duduk seraya membungkuk menyetarakan badannya dengan kondisi mobil.
Nina memajukan tubuhnya setengah berjongkok untuk sampai ke kursi depan yang membuat rambutnya yang sedari tadi tergerai secara tidak sengaja jatuh di pundak Nizam seiring gerakan tubuh yang terus beranjak ke arah kursi.
Sedangkan Nizam yang juga tidak sengaja telah menikmati sensasi wangi rambut serta aroma tubuh yang ia hirup beberapa detik yang lalu, mampu membuat aliran darahnya berdesir aneh, bulu kuduknya terasa meremang merasan getaran aneh yang menjalar dalam tubuhnya, degupan jantung yang sudah tidak normal membuat dia makin mengeram dalam hati terhadap rasa yang belum bisa ia mengerti.
" Maaf tuan apakah kita bisa pergi sekarang?"
Tanya Nina memberanikan diri memecah kecanggungan yang ada, yang membuat Nizam menormalkan raut wajahnya yang terlihat memanas karna rasa yang baru saja terjadi.
" Bisakah kau tidak menyebut kata Tuan lagi?"
Kata-kata Nizam yang terucap penuh
dengan penekanan.
" Terus saya harus memanggil anda apa?"
Sejenak Nizam berfikir seraya memusatkan arah pandangnya ke depan.
" Panggil Namaku saja," kata Nizam Namun masih dengan wajah datar tak bergeming.
" Tidak tidak, itu terdengar tidak sopan." sambung Nina dengan cepat.
__ADS_1
" Apa saya panggil om saja?" tawar Nina sambil melihat ke arah di sampingnya.
" Tadi kau memanggilku bapak-bapak, sekarang Om-om, apa kau sengaja meledek ku karna umur ku sdh hmpir kepala tiga?"
Sambung Nizam melihat ke samping dengan sedikit kesal karna ocehan Nina yang selalu membuat dia naik darah.
Beberapa detik mereka bersitatap, keduanya menyelami isi mata masing-masing yang akhirnya di buyarkan oleh dering ponsel Nizam yang berbunyi tanda sebuah pesan telah masuk.
📩 Arif...
Zam kita berdua sudah sampai di Restomu ,
jam brapa kamu sampai?
📩 Nizam...
Tunggu aku lima belas menit lagi, aku sudah di jalan.
Setelah membalas pesan dari sahabatnya Nizam langsung memasukkan alat komunikasi itu ke dalam saku celananya.
" Panggil aku seperti Zizi memanggilku." perintah Nizam lalu melajukan mobilnya ke arah jalan yang sudah sepi itu.
" Tapiii." suara Nina yang protes tiba-tiba terhenti di saat Nizam menyela kata-kata yang belum selesai.
" Tidak ada tapi-tapian atau tawar menawar, pilihanku cuma ada dua." tegas Nizam lagi.
Nina hanya menunduk patuh dan berucap
" Baiklah saya pilih opsi ke dua."
Keheningan itu tercipta kembali. sepanjang jalan menuju rumah Nina keduanya hanya diam.
Nina yang ingin cepat-cepat sampai ke rumahnya karna tidak tahan dengan suasana yang menegangkan baginya, ia hanya bisa pasrah menikmati laju mobil yang membawanya.
" Emmm, berhenti di gang depan dekat halte."
Nina memberanikan diri untuk berucap.
Nizam hanya diam tak menjawab dengan sorot mata yang tetap fokus ke depan.
" Stop di sini saja tuan, Ups." spontan Nina menutup mulutnya karna sadar dengan kesalahannya.
BERSAMBUNG......
Maaf ya...Up nya telat Kakak2 😍
Selalu selalu setia di sini ya🤗
Semoga semuanya selalu sehat aminn🤲
Salam Hangat Dari Fahad😊
__ADS_1