
Untuk sepersekian detik mereka berdua saling meyelami mata masing-masing, tidak ada kata yang terucap, hanya suara TV yang mendominasi ruangan tersebut.Hingga Nina sadar dengan keadaan yang membuat jantungnya terasa mau keluar dari rongga dadanya itu.
"Maaf Kak!" cuma kata itu yang keluar dari mulut Nina sembari menegakkan tubuhnya yang masih kelimpungan, Nina berusaha berdiri dan melepaskan tubuhnya dari dekapan Nizam yang sungguh membuatnya bergetar hebat. Ini pengalaman pertamanya berada begitu dekat dengan tubuh yang saling menempel dengan seorang laki-laki selain ayahnya.
"Heem," terdengar suara Nizam yang merespon kata maaf dari Nina dengan hanya berdehem tersebut. Nizam hanya mengikuti pergerakan Nina yang ingin merenggangkan tubuhnya dari dekapannya, tapi Nizam masih berjaga-jaga dengan kondisi Nina yang masih belum sepenuhnya bisa berdiri.
Nizam yang tak kalah kalang kabutnya dengan perasaannya Nina, berusaha menormalkan raut wajahnya yang memanas dari tadi karna menahan gejolak rasa baru yang hadir di dalam sanubarinya itu.
Dengan perlahan keduanya saling menjauhkan tubuh mereka masing-masing, "Sekali lagi saya minta maaf Kak," lirih Nina tanpa berani menatap wajah Nizam.
"Tidak apa-apa! Ya sudah, terima ini karna saya harus pergi sekarang juga," terang Nizam seraya menyodorkan uang yang tadi sempat ia pungut karna terjatuh akibat tangannya menangkap tubuh gadis di depannya tersebut.
"Tidak usah Kak, terimakasih. Sebagai pelayan, ini memang sudah kewajiban Nina melayani Kakak sebagai tamu di Caffe kami!" tolak Nina yang masih mengabaikan uang yang Nizam pengang. Nina bukannya tidak mau menerima tips dari Nizam, tapi jauh di dalam hatinya ada rasa gengsi yang berbaur dengan rasa malu, karna sebelumnya ia sungguh tidak iklas menemani sang pelanggan tersebut.
"Kalau kamu tidak mau menerima uang ini, saya akan merasa sangat kecewa." tegas Nizam lalu menyerahkan uang tersebut ke telapak tangan Nina seraya mengarahkan jemari Nina untuk menggenggamnya. "Saya tidak suka di tolak," lanjut Nizam lagi, lalu berjalan keluar dari ruangan VVIP tersebut.
Nina hanya diam terpaku menatap kepergian Nizam sambil mengusap dada, seakan-akan menenangkan detakan jantung yang sedari tadi bertalu-talu. Lalu ia menyimpan lembaran uang itu ke dalam saku celananya sambil tersenyum tipis. Ada rasa senang dalam hatinya karna mendapatkan rezeki lebih malam ini. Dan itu langsung mengingatkan Nina terhadap ayah dan ibunya.
Nizam yang turun dengan tergesa-gesa menuju ke arah kasir. Setelah menyelesaikan pembayarannya, Nizam langsung melesat ke parkiran, yang disitu sudah ada sang adik beserta teman-temannya, wajah Zizi yang sudah di tekuk seperti kertas lipat itu langsung cerocos ketika melihat wajah orang yang sedari tadi ia tunggu-tunggu!
"Kakak selalu bikin aku nunggu terus deh, berangkat nunggu, pulangpun nunggu lagi. Katanya tadi di telepon mau nunggu di parkiran,tapi malah Zizi duluan yang nyampek sini Kak!" protes Zizi dengan bibir yang masih manyun
__ADS_1
"Iya, iya. Kakak minta maaf Dek," Nizam yang tidak ingin berdebat dengan adiknya itu mengalah, daripada malah panjang nantinya. Apalagi memang ia yang salah karna sudah membuat adiknya tersebut menunggu.
Sedangkan Reyna dan Mita mengabaikan ocehan Zizi yang bagi mereka tidak penting, mereka berdua fokus terhadap laki-laki di depannya yang bagaikan pangeran dari Timur Tengah tersebut, keduanya takjub dengan ketampanan Nizam yang sungguh-sungguh sempurna bagi anak ABG tersebut.
Nizam yang sadar dengan kelakuan sahabat dari adiknya itu bingung, dengan bola mata yang terus bergantian memandangi Reyna dan Mita, sehingga Zizi yang melihat kebigungan kakaknya itu mengikuti pergerakan mata Nizam. Dan secara reflek Zizi menepuk bahu kedua sahabatnya itu secara bersamaan, karna melihat kehaluan para sahabatnya yang mulai eror semenjak bertemu dengan kakak tampannya.
"Kalian kenapa sih pada bengong? sudah tau aku lagi kesel, malah senyam-senyum sendiri. Nggak jelas!" ungkap Zizi.
"Yaelahh Zi, kita kan lagi menikmati pemandangan indah, mubazir tahu, kalau di abaikan!" Cetus Reyna yang pandangannya masih fokus terhadap Nizam.
"Sudah malam Zi, ayo kita pulang?" ajak Nizam
"Reyn, Mit. aku pulang duluan ya? Kalian kan sudah di tunggu sopir sedari tadi, pergi sana gih!" usir Zizi. mereka bertiga memang selalu apa adanya, tidak ada di antara mereka yang menjaga image. Tutur kata mereka sering ceplas-ceplos, jadi tidak heran kalau Zizi kadang suka ngomong sekenanya. Tapi mereka sudah biasa dengan hal tersebut.
Nizam hanya tersenyum menanggapi keduanya, yang mendapatkan respon konyol dari kedua ABG itu dengan berjikrak sambil berpelukan karna mendapatkan senyuman dari si Pangeran tampan malam ini.
Akhirnya mereka berpisah di parkiran, dan pulang ke rumah masing-masing. Mengingat waktu sudah larut, Nizam melajukan mobilnya dengan kecepatan maximal, karna jalan raya yang sudah mulai sepi.
Di Caffe. Nina dan Icha baru baju mengganti pakaian mereka dengan baju yang mereka pakek tadi pas berangkat kerja, dan memasukkan seragam kerjanya ke tas yang tiap hari mereka bawa untuk di cuci dirumah. Karna di Caffe tersebut memang wajib memakai seragam yang di sediakan untuk para karyawannya.
"Nin cepetan yuk? Pak Aldo mungkin sudah lama nunggu kita di bawah," ajak Icha yang sudah memberitahukan Nina, perihal ajakan bosnya itu untuk mengantarkan mereka pulang.
__ADS_1
Nina yang memang sudah selesai, lalu menuju keluar dari dari ruang ganti tersebut yang di susul oleh Icha sesaat setelah Icha menggantungkan seragam yang ia pakek barusan ke tempat yang di sudah di sediakan, Icha memutuskan tidak membawa pulang seragamnya tersebut karna dirasa baju itu masih bersih.
Keduanya menghampiri Aldo yang sedang duduk di meja deket pintu keluar yang memang masih terbuka, karna pelayan yang shif malam belum sepenuhnya pulang.
"Maaf Pak, sudah nunggu lama," ucap Icha yang gugup sekaligus senang dalam hati. "Nggak papa. Ini siapa duluan yang saya antarkan pulang, Nina apa Icha duluan?" tanya Aldo yang memang belum tau rute jalan yang akan di tuju untuk mengantarkan kedua gadis di depannya tersebut.
"Saya dulu Pak, karna rumah saya lebih dekat daripada Kak Icha," sahut Nina. "Ok kalau begitu," lanjut Aldo seraya berdiri dan keluar menuju parkiran yang di ikuti oleh Nina dan Icha.
Nina yang memang tidak punya perasaan apa-apa terhadap Aldo berjalan dengan santai, malah yang jadi fikirannya adalah Nizam. Beda dengan Icha, di setiap langkahnya terasa cepat karna bersama seorang yang ia damba. sorot matanya tidak lepas dari tubuh tegap laki-laki di depannya yang berjalan semakin mendekat ke arah mobil yang akan membawa mereka bertiga.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Tolong kritikan kalian atau apapun tentang tulisan saya, yang mungkin saja keluhan kalin atau kritikan kalian bisa memperbaiki cerita saya yang sungguh masih ecek-ecek ini. meskipun pembaca saya cuma beberapa biji tapi saya ingin memberi yang terbaik dengan belajar menulis melalui keluh kesah kalian terhadap karya ini, selain( Minta Up setiap hari🤭🏃) canda heheeee