
Nizam berjalan mondar-mandir karna panggilannya belum di respon,
" Hallo Kak," Jawab seseorang di seberang sana yang tak lain adalah Zizi adiknya.
" Kamu pulang jam berapa Dek?" tanya Nizam.
" Tiga puluh menit lagi jemput Zizi ya," saut Zizi di seberang.
" Ok, tunggu Kakak di luar, Ya sudah Kakak tutup dulu telpon nya."
" Assalamu'alaikum...." ucap Nizam seraya mematikan sambungan telponnya.
Masih tiga puluh menit lagi gumam Nizam sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya.
Lalu Nizam meraih Cappucino yang berada di atas meja makan dan membawanya ke sofa yang berada di ujung ruangan. Nizam melektak kan minuman panas itu di meja yang di hiasi oleh bunga mawar yang masih segar dan harum semerbak.
Nizam menduduk kan tubuhnya dengan santai di sofa tersebut sambil menyenderkan badannya ke badan sofa guna menikmati hawa sejuk yang tercipta dari AC di dalam ruangan itu.
Nizam meraih remot yang terletak di meja lalu menyalakan televisi, di raihnya Cappucino yang sudah tidak terlalu panas itu.
Sambil melihat acara tivi Nizam menikmati Cappucino itu hingga tersisa sedikit.
Entah sudah beberapa menit Nizam menikmati waktu santainya di ruangan itu hingga getaran hape yang dia taruh di saku celana pendeknya bergetar tanda ada telepon masuk. Dengan gerakan lambat Nizam meraih benda tipis itu, di lihatnya siapa yang menelpon.
Ternyata Zizi calling, sontak Nizam duduk tegak seraya melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan tiga puluh menit lebih dari terakhir dia menerima pemberitahuan dari Zizi sebelumnya. Dengan terburu-buru Nizam keluar ruangan itu dan mengabaikan panggilan adiknya.
Nizam menuruni anak tangga dengan langkah panjangnya menuju ke arah kasir. Sesampainya di kasir Nizam di sambut oleh sang meneger tampan itu, siapa lagi kalau bukan Aldo.
" Silahkan tuan, apa yang bisa kami bantu kembali?" tanya Aldo pada Nizam dengan ramah.
" Saya sudah selesai dan mau membayar semuanya." jawab Nizam menyodorkan kartu warna hitamnya kepada Aldo.
Aldo yang sudah faham tentang kartu yang sering di gunakan orang kaya itu cuma bisa tersenyum tipis, menandakan dia bisa menganalisa bahwa yang berdiri di depannya bukan lah orang sembarangan. Aldo meraih kartu itu lalu memproses transaksi pembayaran itu dengan cepat.
" Ini Tuan." ucap Aldo menyerahkan kartu kredit itu kepada Nizam.
" Terimakasih telah berkunjung ke *C*affe kami,
Semoga pelayanan kami memuaskan anda." ujar Aldo lagi kepada Nizam.
" Sama-sama," jawab Nizam datar sambil meraih kartu yang di sodorkan Aldo dan berlalu pergi dari depan kasir.
Dengan terburu-buru Nizam melangkah kan kakinya keluar dari caffe santuy itu, sambil memasukkan kartu kreditnya dengan asal ke dalam dompet, tanpa ia sadari ada barang lain yang terjatuh dari dompet itu.
Dengan cepat Nizam masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karna dia tidak mau adiknya menunggu lama.
*****
__ADS_1
Sedangkan Nina yang masih sibuk melayani pengunjung caffe, tiba-tiba di kagetkan oleh Icha yang menepuk bahunya.
" Hai cantik," sapa Icha serta melihat sahabatnya itu yang lagi membersihkan meja pengunjung yang baru beranjak pergi.
" Ada apa Kak?" tanya Nina yang baru selesai dengan pekerjaan nya.
" Tadi kamu di perintah kan Pak Aldo membersihkan ruangan VVIP yang barusan di pakek tamu yang katamu kayak tembok itu,"
terang Icha pada Nina.
" Ooo, dia sudah pulang Kak?" tanyak Nina.
" Sudah, baru saja keluar tuh." saut Icha cepat.
" Ya sudah Nin, Kakak tinggal dulu ya ada pekerjaan lain soalnya, Maaf tidak bisa bantuin kamu di atas." kata Icha menjelaskan pada Nina.
" Nggak papa kak, santai saja." jawab Nina sambil berlalu pergi bersamaan dengan Icha.
Nina melangkah pergi ke arah dapur untuk membawa beberapa barang kotor yang harus di cucinya.Namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena dia merasakan kakinya menginjak sesuatu yang mengganjal di bawah sepatunya.
Nina menaruh barang yang ada di tangannya ke meja sebelah, lalu melihat sesuatu di bawah sana. Di raihnya benda itu sambil memerhatikan tulisan yang tertera di sana.
Surat ijin mengemudi ( SIM ) yang beratas Namakan Nizam Al-ghazali, umur 29 tahun.
itu lah sekilas data yang Nina baca, dan di situ juga terdapat alamat lengkap pemiliknya.
" Inikan orang yang berada di ruang VVIP tadi, orang yang sama yang kutemui saat menolong Kakek Mukti kan." ucap Nina bicara pada dirinya sendiri.
" Jadi Nama lengkapnya Nizam Al-Ghazali, Nama yang bagus sih, Umurnya sudah dewasa juga ternyata. tapi kenapa masih terlihat muda ya. Orangnya juga sangat tampan tapi sayang sikapnya dingin. Coba dia ramah sopan lemah lembut dalam berucap mungkin aku bisa berkhayal memiliki pasangan seperti dia"
Monolog Nina yang berandai-andai di dalam hatinya.
" Kenapa aku memikirkan orang ini ya, lagi pula dia kan pantesnya menjadi omku," ucap Nina pelan seraya menepuk dahinya sendiri merutuki kebodohannya yang berfikir terlalu jauh tentang orang yang belum ia kenal.
Nina pun bergegas dari tempat itu serta mengambil barang yang tadi ia letakkan di atas meja. yang sebelumnya sudah menyimpan SIM yang ia temukan di dalam saku bajunya.
****
Di sekolah Zizi sudah ramai para siswa yang berlalu-lalang keluar masuk gedung itu.
" Kakak mana sih, lama banget."
Gerutu gadis itu yang duduk santai menunggu kakaknya di kursi, yang berada di bawah pohon terletak di halaman sekolahnya.
Tak lama kemudian terdegar klakson mobil yang berulang kali berbunyi. Zizi melihat ke seberang jalan dan bergegas menuju mobil yang sudah ia kenali itu.
Dengan langkah agak berlari Zizi menghampiri mobil kakaknya yang sudah terparkir sempurna di bahu jalan namun masih dengan mesin yang menyala. Zizi membuka pintu mobil dengan cepat dan menutupnya sedikit keras, lalu mendudukkan tubuhnya dengan kasar. Sehingga menimbulkan guncangan pada mobil yang ia tumpangi.
__ADS_1
" Kakak tu ya selalu seperti ini, berangkat telat, jemput pun telat." jelas Zizi dengan wajah kesalnya terhadap kakak nya.
" Iya maaf Dek, Kakak salah." saut Nizam memelas agar bisa meluluhkan hati adiknya yang lagi kesal itu.
Zizi tetap diam dengan wajah yang sudah di tekuk serta bibir yang mengerucut, tanda masih dengan mode ngambeknya.
" Ya sudah, Tuan putri mau apa biar Kakak kabulkan, yang penting tidak marah lagi sama Kakak." rayu Nizam kepada adik nya.
" Hemmmm, apa ya?" guman Zizi seraya berfikir untuk memanfaatkan keadaan tersebut.
" Baik," kalo begitu besok temani Zi ke pesta ulang tahun teman Zi yang di adakan di Caffe.
Sontak Nizam terperanjat di belakang kemudinya, Masak dia harus kumpul-kumpul bersama anak SMA. membayangkan saja sudah geli apalagi berbaur sama anak-anak belia itu.
" Memang gak ada pilihan lain ya Dek," rengek Nizam mengiba agar adiknya memberikan pilihan yang lebih masuk akal baginya.
"Nggak ada Kak," jawab Zizi yang masih bermuka masam.
" Nge mall, shoping, atau apa gitu Dek." tawar Nizam kepada Zizi.
" Kalo Kakak gak mau, Zi bakal ngambek seterusnya sama Kakak." ancam Zizi.
" Huffffff."
Terdengar helaan nafas yang panjang dari mulut Nizam, tanda bahwa dia menyerah terhadap adik bungsunya itu.
" Ok deh Kakak turuti mau kamu." ujar Nizam lemas karna sudah terjebak dengan ucapannya sendiri.
" Nah gitu dong Kak, makanya jangan suka menawarkan sesuatu yang belum tentu Kakak bisa." ledek Zizi sambil mentoel lengan Kakak satu-satunya itu.
.
.
.
.
.Bersambung....
******
Hai .... maap ya, Up nya agak siangan
karna Fahad masih ada urusan di RL.
Jangan lupa dukung karya aku dengan selalu like, coment vote serta bintang limanya ya kak. karna dukungan kalian semangat buat Fahad. Terimakasihhh😊🤗
__ADS_1
Salam hangat dari Fahad🤗